Samarinda en omgeving (Samarinda dan sekitarnya). zuider- en Oosterafdeling van Borneo (Bagian timur dan selatan Kalimantan). Sumber : nederlandsekrijgsmacht

Vierkante paal Samarinda yang luasnya Cuma 1 Pal di Zaman Hindia Belanda

MASUKNYA Pemerintah Hindia Belanda ditandai dengan penguasaan terhadap lebih kurang 1 paal persegi kota Samarinda dengan dikukuhkannya wilayah ini sebagai Rechtsreeks gouverment berstuugebeid atau vierkante paal gebid sejak tahun 1846 yang secara langsung berada di bawah kekuasaan Gubernemen.

Dari catatan seorang pelancong kelahiran Kopenhagen, Denmark dan berkewarganegaraan Norwegia, bernama Carl Alfred Bock yang sedang mengadakan perjalanan ke pedalaman  Kutai dan sempat singgah di kota Samarinda pada tahun 1879, menyebutkan kota Samarinda pada waktu itu sebagai sebuah kota kecil berpenduduk di bawah 10.000 jiwa. {Baca Juga : Carl Alfred Bock : Minggu, 20 Juli 1879, Saya memulai perjalanan dari Samarinda dengan dua perahu ke Tangaroeng;

Vierkante paal Samarinda pada waktu itu, sesuai dengan nama yang diberikan hanya seluas 1 paal, yaitu kira-kira meliputi di sebelah timur atau Ilir sejak dari tepi masuk Sungai Karang Mumus ke arah Barat atau hulu Teluk Lerong. Sedangkan dari tepi Sungai Mahakam ke arah utara sejauh lebih kurang 1 km.  Di luar batas vierkante pal tersebut sepenuhnya masih merupakan wilayah dan di bawah kekuasaan Kerajaan Kutai, termasuk wilayah Samarinda Seberang.

Keterangan ini dapat dijumpai di dalam buku : Kutai, Perbendaharaan Kebudayaan Kalimantan Timur, terbitan pemerintah Daerah Kabupaten Kutai.

Di Bab I dikutipkan sebagai berikut :

Kekalahan dalam pertempuran ini membawa akibat diadakannya perundingan antara Sultan Aji Muhammad Salehuddin dengan Weddik sebagai utusan Pemerintah Belanda. Hasil dari perundingan ini ialah ditanda tanganinya sebuah kontrak pada tanggal 11 Oktober 1844, di mana Sultan Aji Muhammad Salehuddin mengakui Gubermen Hindia Belanda dan tunduk kepada Residen Kalimantan Selatan dan Timur yang berkeddukan di Banjarmasin. Dengan adanya traktaat ini, maka mulai tahun 1846 ditempatkan seirang Asisten Residen di Samarinda, yang bernama H, Van De Wall.

Dengan ditempatkannya Asisten Residen dalam Daerah Vierkante-paal Samarinda pada tahun 1846 sejak saat itu pula Samarinda menjadi ibukota afdeling Kutai dan Pasir dalam wilayah Residentie Zuid en oost Borneo, yang pusatnya berkedudukan di Banjarmasin.

Sejak saat itu, penduduk di dalam wilayah Vierkante paal Samarinda tidak lagi diperlakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan hukum/adat Kerajaan Kutai. Misalnya seseorang berbuat sesuatu pelanggaran hukum atas kejahatan, maka perkaranya akan diajukan dan diadili oleh magistraat atau landraad.

Berbeda dengan penduduk yang berada di luar wilayah vierkante paal seperti  penduduk di Kampung Selili, Sungai Pinang dan Karang Asam, perkaranya akan diajukan ke Kerapatan Kecil atau Kerapatan Besar dari Kerajaan Kutai yang berkedudukan di Samarinda Seberang.

Samarinda en omgeving (Samarinda dan sekitarnya). zuider- en Oosterafdeling van Borneo (Bagian timur dan selatan Kalimantan). Sumber : nederlandsekrijgsmacht

***

Jepang mulai menguasai wilayah Indonesia, termasuk wilayah Kalimantan Timur setelah berhasil menghancurkan pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pear Harbour Kepulauan Hawai pada tanggal 8 Desember 1945. 

Saat perang dunia ke II, Tentara Jepang memperluas kekuasaannya hingga ke wilayah asia Tenggara, termasuk wilayah Indonesia. Pada tanggal 9 Maret 1942,  Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dengan ditandatanganinya piagam penyerahan tanpa syarat oleh letnan Jenderal Ter Porten dan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenbuang Stachouwer di hadapan Panglima Tertinggi Jepang di suatu tempat di Jawa Barat.

Setelah menguasai wilayah-wilayah pesisir pantai termasuk wilayah Kalimantan Timur kala itu, tercatat pada tanggal 3 Pebruari 1942 tentara Jepang mulai masuk dan menguasai Samarinda.   

Di masa penguasaan Jepang, sebutan vierkante paal Samarinda masih tetap dipertahankan.  Wilayah ini tidak termasuk wilayah Kerajaan Kutai. Kerajaan Kutai tidak mempunyai kewenangan di atas wilayah seluas 1 paal tersebut. Pejabat tertinggi Jepang yang ditempatkan di Samarinda selama pendudukan Jepang berpangkat Ken Kanrikan, yang kurang lbih setingkat dengan jabatan Asisten Residen pada masa Hindia Belanda.

***

Penguasaan Jepang berakhir, saat dikalahkan tentara Amerika dan sekutunya dalam perang dunia ke II, pertengahan Agustus 1945. Beberapa bulan kemudian, pihak Belanda ingin kembali mengambil alih wilayah kekuasaannya. Belanda melalui NICA yang tergabung di dalam negara sekutu melucuti persenjataan Jepang. Termasuk di Kalimntan Timur

Pada tanggal 1 Januari 1946, Belanda kemudian menjadikan Kalimantan Timur sebagai ke karesidenan (Residentie). Ibukotannya di Samarinda. Residen yang ditunjuk bernama F.P Heckman.

Sejak tanggal 1 Januari 1946 itu pula daerah vierkante paal Samarinda dikembalikan dan masuk wilayah Kerajaan Kutai.  Statusnya sama dengan daerah Samarinda Seberang, yang telah masuk wilayah  Kerajaan Kutai sejak adanya daerah vierkante paal Samarinda. *

______________________________________________________________________________________

Catatan Kaki :

  • Paal atau pal (bahasa Inggris: milestone) atau  Pal atau tonggak penanda jarak (bahasa Inggris: milestone) adalah rangkaian tonggak yang dipasang di median jalan atau pinggir jalan untuk menunjukkan seberapa jauh suatu ruas jalan telah ditempuh. Pal umumnya berbentuk batu yang dilengkapi penanda angka jarak tempuh beserta penanda nama daerah yang diukur. Pal dipasang antara satu tonggak dengan tonggak yang lain berdasarkan ukuran panjang jalan yang dipakai, misalnya dalam kilometer atau mil. adalah satuan dasar panjang yang digunakan saat kolonial Belanda. Belanda memperkenalkan istilah paal (latin: palas ’bentuk panjang’), yakni tonggak penanda titik ruas jalan atau luas bidang lahan.  Pal atau tonggak penanda jarak (bahasa Inggris: milestone) adalah rangkaian tonggak yang dipasang di median jalan atau pinggir jalan untuk menunjukkan seberapa jauh suatu ruas jalan telah ditempuh. Pal umumnya berbentuk batu yang dilengkapi penanda angka jarak tempuh beserta penanda nama daerah yang diukur. Pal dipasang antara satu tonggak dengan tonggak yang lain berdasarkan ukuran panjang jalan yang dipakai, misalnya dalam kilometer atau mil. Sumber pal

Seorang pejabat kolonial, CW Wormser, yang pernah bertugas di Magelang pada 1914, melukiskan kegiatan penduduk Desa Muntilan Kidul yang setiap hari pasaran berjalan ”. . . tien paal, dat is vijfteen kilometer,” menuju pasar kota.

Dari apa yang disebutkan CW Wrmser itu berarti 10 pal setara dengan 15 kilometer; atau 1 sama dengan 1.500 meter sesuai ketetapan pemerintah waktu itu. Namun, konversi pal berbeda-beda: di Jawa 1 pal setara dengan 1.507 meter, di Sumatra 1.852 meter. Perbedaan ukuran itu diduga terkait dengan permainan jual-beli tanah seiring dengan berbiaknya perkebunan besar di kedua wilayah tersebut.

  • Afdeling (Bahasa Belanda:Afdeeling) adalah sebuah wilayah administratif pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda setingkat Kabupaten. Administratornya dipegang oleh seorang asisten residen. Afdeling merupakan bagian dari suatu karesidenan. Suatu afdeling dapat terdiri dari beberapa onderafdeling (setingkat kawedanan yang diperintah seorang wedana bangsa belanda yang disebut Controleur) dan landschap yang dikepalai oleh seorang bumiputera yang disebut hoofd atau kepala.

*Tulisan ini masih memerlukan penambahan,  pengembangan data-data tertulis, serta masih diperlukan verifikasi, pencocokan data-data tertulis dengan banyak sumber referensi. Diperlukan selain interprestasi logis, juga kajian deskriptif secara mendetail ditambah ketelitian yang melibatkan akademis, agar dapat mengupas peristiwa-peristwa klausal secara jelas.

Editor : Akhmad Zailani

31 views

Tinggalkan Balasan

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: