Een fietstaxi te Samarinda/becak di Samarinda (1937). sumber foto : digitalcollections.universiteitleiden

Samarinda Bebas Becak & Bemo

Een fietstaxi te Samarinda/becak di Samarinda (1937). sumber foto : digitalcollections.universiteitleiden

KALTIM Ampunku.com

ORANG –orang dari luar daerah yang mengunjungi Samarinda di Kalimantan Timur, tidak akan menjumpai sebuah juapun becak sebagai alat angkutan umum.

Ini tidak berarti bahwa kota yang terletak di pinggir sungai Mahakam ini, sebelumnya tidak pernah mengenal jenis kendaraan beroda-tiga itu. Sejak sekitar pertengahan tahun tiga puluhan. Becak sebagai alat angkutan penumpang sudah ber-operasi di Samarinda. Yang pada waktu itu masih merupakan sebuah kota kecil dengan berpenduduk kurang-lebih 30.000 jiwa.

Bahkan sampai pertengahan tahun lima-puluhan, jenis kendaraan yang di kalangan penduduk setempat lazim disebut “roda-tiga” (sesuai dengan jumlah rodanya) itu, merupakan alat angkutan umum/penumpang yang vital untuk kota Samarinda.

Dan meskipun sejak waktu itu jumlah kendaraan beroda empat (bermotor) dari berbagai jenis (juga yang ditaksikan) dari tahun ke tahun bertambah banyak, namun roda tiga juga semakin jumlahnya.

Sejak sekitar 60-an, jalan–jalan di Samarinda didominir oleh jenis alat angkutan penumpang yang digerakkan oleh tenaga manusia itu.

Becak yang mangkal di Jl Imm Bonjol/foto istimewa

Tetapi justru kenyataan inilah yang menyebabkan sering terjadinya kecelakaan lalu lintas, di kota ingin tidak jarang diantaranya bahkan sampai mengorbankan jiwa. Dan umumnya korban-korban kecelakaan lalu lintas itu terdiri dari penumpang becak disebabkan ugal-ugalnya abang-abang becak dialam mengemudikan kendaraannya. Kondisi jalan yang umumnya masih sempit-sempit juga merupakan sebab dari sering terjadinya kecelakaan lalu lintas tersebut.

Untuk membatasi sekecil mungkin terjadinya kecelakaan lalu lintas. Terutama berdasarkan pertimbangan bahwa pada zaman Indonesia merdeka sekarang ini tidak sepantasnya terdapat alat-alat angkut penumpang yang digerakkan oleh tenaga manusia (yang note bene terdiri dari manusia Indonesia), maka Pemda Kotamadya Samarinda melalui H. Moch Kadrie Oening sebagai Walikotanya, sejak awal tahun 1974 secara bertahap mengambil kebjaksanaan  menghapus becak-becak dari Samarinda.

Sebagai tahap pertama, berbagai jalan tertentu dalam kota ditetapkan sebagai “ Daerah Bebas Becak” (DBB). Pemasukan becak baru ke Samarinda  maupun meproduksinya di tempat, sementara itu dilarang sejak 1 Januari 1974 itu.

Dapat diterangkan, pada waktu itu jumlah becak di Samarinda mencapai lebih dari 1.500 buah, satu jumlah yang sebenarnya sudah terlampau banyak untuk kota ini, meskipun arealnya sudah diperluas.

Enam bulan kemudian, yakni sejak 1 Juli 1974, menyusul tahap sejak yang menetapkan bahwa becak-becak hanya diperbolehkan beroperasi di belakang dan pinggir kota saja. Selanjutnya sejak awal tahun 1975, sebagai tindakan tahap ketiga dan terakhir dari Walikota Moch. Kadrie Uning dalam “menghapus” becak tersebut, ditetapkan bahwa seluruh Samarinda dijadikan DBB. Tidak saja seluruh kota Samarinda sebagai ibukota Kaltim tetapi juga  meliputi seluruh Kotamadya.

Dalam melaksanakan keputusannya yang “drastic”menghapuskan becak dari Kotamadya Samarinda itu., tidak berarti Walikota Samarinda itu, tidak berarti Walikota H.M. Kadrie  Oening tidak mendapat “tantangan”. Reaksi dari pihak pengendara becak dan  juga para pemiliknya (juragan-juragan becak ) cukup koras, lebih-lebih terhadap tindakan tahap ketiga , yang memutuskan ditetapkannya seluruh Kotamadya Samarinda sebagai DBB itu.

Beberapa hari menjelang tibanya 1 Januari 1975, lebih dari 500 abang becak yang  sebagian besar terdiri dari orang-orang yang berasal dari Sulawesi, berdemonstrasi menuju Balaikota, menutut pembatalan – setidaknya penundaan – pelaksanaan keputusan yang merupakan “vonnis kematian “ bagi becak di Samarinda itu. Nama Walikota M. Kadrie Oening tetap dengan keputusan yang telah dikeluarkannya itu.

            Dapat ditambahkan, kini bukan saja becak, tetapi juga kendaraan bermotor beroda tiga, seperti : bemo, helicak, sudah tidak ada lagi .

Pernah sebagai pengganti ”becak” yang sudah dihapuskan itu, seorang pengusaha angkutan mendatangkan beberapa buah bemo sebagai percobaan. Tetapi entah apa sebabnya, masyarakat Samarinda nampaknya kurang bergairah menaikinya, sehingga bemo tersebut saja akhirnya lenyap dari jalan-jalan di ibukota Kaltim ini.

Samarinda, 17 Oktober 1978

Penulis : Oemar Dahlan

Editor : Akhmad Zailani

 

21 views

Tinggalkan Balasan

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: