KALTIM Ampunku.com

            Orang dari luar daerah (Kalimantan Timur) yang berkunjung ke Samarinda sebagai Ibukota propinsi ini, tidak akan menjumpai sebuah juapun kendaraan ber-roda 3, baik yang bergenjot dengan kaki yakni becak maupun yang bermotor, seperti bemo helicak atau bajaj.Tidak saja di jalan-jalan dipusat kota atau jalan-jalan protokol tetapi juga di jalan-jalan pinggiran kota, atau di gang-gang yang tidak dapat dilalui kendaraan ber-roda 4, alat angkutan penumpang yang rodanya 3 itu tidak tampak.

            Sebab memang angkutan umum di Samarinda hanya terdiri dari kendaraan roda-4, yang sebagian besar terdiri dari jenis cold (bis kecil). Dan sejak beberapa tahun belakangan ini tampil juga sebagai kendaraan yang membawa penumpang, ialah apa yang dikenal dengan nama ojek, yakni sepeda motor. Tentu saja kendaraan roda 2 yang dioperasikan untuk mencari uang ini hanya dapat mengangkut seorang penumpang saja, paling banyak 2 kalau anak-anaknya, atau seorang diantara anaknya.

            Namun ini tidak berarti bahwa Samarinda dalam sejarah tidak pernah mengenal kendaraan roda 3 sebagai alat angkutan umum. Sampai akhir tahun 1974 di Ibukota Kaltim ini terdapat angkutan penumpang yang terdiri dari kendaraan roda 3 itu. Namun hanya terdiri dari 1 jenis dan jenis ini ialah yang untuk menjalankannya memerlukan tenaga manusia tegasnya yang digenjot dengan kaki yakni becak. Di kalangan penduduk setempat lebih dikenal dengan sebutan roda 3.

            Perlu diterangkan, becak ini sudah ada di Samarinda sejak sekitar pertengahan tahun 30-an tegasnya masih jaman penjajahan Belanda. Bahkan pada waktu itu, sampai awal tahun 50-an (yakni sesudah Indonesia merdeka) boleh dikatakan becak inilah yang merupakan satu-satunya jenis angkutan umum di Samarinda.

            Sesudah memasuki tahun 50-an becak sudah mulai disaingi oleh kendaraan roda 4 sebagai alat angkutan umum, yang kian tahun kian bertambah jumlahnya baik bis kecil maupun sedan yang ditaksikan. Namun ini tidak berarti menghambat perkembangan jenis kendaraan yang bergenjot dengan kaki itu. Bahkan kian tahun kian bertambah juga jumlahnya, yang jauh melebihi jumlah angkutan penumpang ber-roda 4. Jumlahnya sudah mencapai lebih 1000 buah, sebelum memasuki tahun 70-an.

            Sehingga selama belasan tahun di masa lampau, tepat kalau Samarinda mendapat julukan sebagai “Kota Becak”, sebab seluruh jalan dari Jalan protokol sampai gang-gang yang sempit di kota ini boleh dikatakan setiap harinya didominasi oleh roda 3 tersebut.

            Tidak perlu diterangkan lagi, kecelakaan lalu lintas yang banyak terjadi di Samarinda pada waktu itu yang ada kalanya sampai meminta korban jiwa manusia, umumnya terdiri dari penumpang becak sebagian besar disebabkan oleh becak yang dijalankan seenaknya oleh pengemudinya , yang banyak diantaranya tidak memiliki Surat Izin Mengemudi-kan Becak.

            Hal ini menjadi perhatian serius dari Pemerintah Daerah Kotamadya Samarinda (yang dibentuk awal 1960) sewaktu M Kadrie Oening menjadi Walikotamadya sejak akhir tahun 1967. Semula tindakannya terbatas kepada hanya membatasi jumlah becak, dengan tidak memperkenankan lagi pemasukan becak-becak baru di Samarinda. Dan sementara itu bengkel-bengkel becak di Samarinda yang sudah habis izin kerjanya tidak lagi diperpanjang, di amping tidk lagi memberi izin bagi pembukaan bengkel-bengkel yang baru. Dengan demikian jumlah becak dari bulan ke bulan kian berkurang.

            Sungguhpun demikian, sampai awal tahun 70-an jumlah becak di Samarinda masih ribuan buah banyaknya, dan oleh karenanya kecelakaan lalu lintas yang sebagian besarnya disebabkan oleh kecerobohan abang-abang becak itu masih sering terjadi.

            Berdasarkan jumlah pertimbangan bahwa usaha mencari nafkah dengan cara mendorong penumpang sekuat tenaga adalah bertentangan dengan jiwa dan semangat yang terkandung dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab khususnya  dan Pancasila umumnya, maka Pemda Kotamadya Samarinda akhirnya memutuskan untuk menghapuskan alat angkutan umum yang masih digerakkan tenaga manusia itu. Penghapusan tersebut tidak sekaligus, melainkan dilakukan secara bertahap, sesudah selama beberapa tahun sebelumnya secara tidak langsung jumlah becak dikurangi, dengan cara tidak memperpanjang izin bengkel-bengkel becak yang sudah habis dan tidak memberi izin lagi bagi pembuka bengkel becak yang baru oleh Pemerintah setempat, sebagaimana diterangkan diatas.

            Demikianlah sebagai tahap pertama sejak 1 Agustus 1974, jalan-jalan tertentu dalam kota ditetapkan sebagai Daerah Bebas Becak (DBB), yang berlangsung selama 2 bulan sampai dengan 30 September. Dan sebagai tahap ke-2 sejak 1 Oktober 1974 ditetapkan hanya jalan-jalan dipinggir dan belakang kota yang dapat dijalani “Roda 3” itu. Selanjutnya sebagai tahap ketiga dan terakhir dengan Surat Keputusan Walikotamadya Samarinda No.150 tahun 1974, ditetapkan bahwa sejak 1 Januari 1975, seluruh wilayah Kotamadya Samarinda dinyatakan sebagai DBB.

            Berdasarkan Surat Keputusan Walikotamadya Samarinda No. 150 tahun 1974 ditetapkan bahwa 1 Januari 1975 seluruh wilayah Kotamadya Samarinda dinytakan sebagai Daerah Bebas Becak (DBB)

Penetapan yang meliputi selruuh wilayah Kotamadya Samarinda ini dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan dialihkannya Daerah Operasi Becak tersebut dari Kota Samarinda ke Kecamatan-Kecamatan yang termasuk dalam wilayah Daerah Kota Samarinda, yang sebelumnya tidak pernah berkenalan dengan jenis alat angkutan umum  yang ber-roda 3 itu.

            Dalam usahanya menghapuskan becak itu tidak berarti Pemda Kotamadya Samarinda tidak mendapat tantangan dari pihak para juragan becak disamping para pengendaranya sendiri (abang-abang becak). Bahkan pada minggu-minggu menjelang penghapusan becak dari seluruh wilayah Kotamadya Samarinda kantor Walikota (Balaikota) pernah didemonstrasi oleh ratusan abang becak (banyak diantaranya yang didalangi para juragan becak) yang menurut setidak-tidaknya penundaan saat dimulainya penghapusan becak itu.

Bemo. Foto ist

            Namun Walikota M Kadrie Oening (yang pada waktu itu menjalani masa jabatannya yang ke-2) yang terkenal dengan tindakannya yang tegas, tidak bias ditawar-tawar lagi dengan apa yang sudah diputuskannya.

Seorang pengusaha sempat mendatangkan beberapa buah bemo sebagai pengganti becak di Samarinda. Namun masyarakat Samarinda tidak menyukainya. Sempat beroperasi beberapa bulan, bemo akhirnya juga tidak tampak di jalan-jalan kota Samarinda

            Demikianlah sejak 1 Januari 1975 yakni lebih 10 tahun lalu tidak terlihat sebuah juapun lagi becak di Samarinda, yang sejak zaman penjajahan Belanda dulu sudah berkenalan dengan kendaraan roda-3 itu. Pernah sebagai pengganti becak itu seorang wiraswasta mencoba mendatangkan beberapa buah bemo di Samarinda. Namun rupanya masyarakat Samarinda tidak menggemarinya, sehingga sesudah sempat beroperasi beberapa bulan, akhirnya lenyap entah kemana.

            Sehingga, tidak saja yang masih digenjot dengan kaki, tetapi juga dengan menggunakan motor apapun jenisnya, kendaraan yang ber-roda 3 tidak sebuah juapun terdapat di Ibukota Kaltim ini, sejak 10 tahun yang lampau.

            Tetapi sebagaimana telah diuraikan di atas sejak beberapa tahun belakangan ini di Samarinda bermunculan ojek, yakni sepeda motor yang dimanfaatkan sebagai alat angkutan penumpang, disamping bis dan jenis kendaraan roda empat lainnya. Jumlah kendaraan roda 2 yang ditaksikan ini kini sudah mencapai ratusan buah dan mempunyai “terminal” tersendiri yang tersebar di beberapa tempat dalam kota.

Samarinda, 31 Mei 1985

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan