Kalangan Pers Ikut Berjuang 1922 – 1942

Buku l H.A Moeis Hassan, Ikut mengukir Sejarah. penerbit Yayasan Bina Ruhui Rahayu Jakarta, 1994/ foto Akhmad Zailani
Buku l H.A Moeis Hassan, Ikut mengukir Sejarah. penerbit Yayasan Bina Ruhui Rahayu Jakarta, 1994/ foto Akhmad Zailani

SUMBER tulisan ini dari buku berjudul H.A Moeis Hassan, Ikut mengukir Sejarah. penerbit Yayasan Bina Ruhui Rahayu Jakarta, 1994. Isi buku 265 halaman ini ditulis H.A Moeis Hasan (sebagian merupakan hasil penuturan kepada H. Eddy Yurnaidi, wartawan majalah “Amanah”). Ada beberapa tokoh nasional dan daerah yang memberikan sambutan dalam buku (buku autobiografi, kata Ketua I Yayasan Bina Ruhui Rahayu (YBRR) H.A Rustam Effendie, yang dimuat dalam sekapur sirih dari penerbit). Selain Gubernur Kaltim kala itu, H.M Ardans SH, juga ada sambutan mantan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Letnan Jenderal TNI (Purn) H. Mashudi. Juga ada sambutan Eni Karim, mantan Pembantu Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dan H Oemar Dachlan, wartawan 5 zaman, penulis sekaligus pelaku berbagai peristiwa bersejarah di Kaltim. Di pengantar sajian bagian halaman buku, H.A Moeis Hassan menyebutkan penulisan bukunya itu dikaitkan dengan peringatan 50 tahun pernikahan dirinya bersama Hj Fatimah (9 September 1994 – 1994).

Masa Penjajahan

Kaltimampunku.com- SEJARAH pers di Kalimantan Timur, khususnya di Samarinda dimulai sekitar tahun 1922 – 1923. Hal ini ditandai dengan terbitnya Mingguan (dulu istilahnya weekblad) “Persatoean, majalah berhaluan Islam ini pada mulanya terbit 10 hari sekali dan sempat dua kali berganti nama, pertama “Bendahara Borneo”, kemudian “Sorak” atau “Soeara Rakyat Kecil”.

Oemar Dachlan, wartawan 5 zaman, yang berkiprah di dunia pers mulai zaman penjajahan hingga reformasi. Tampak Oemar Dachlan menulis berita dengan mesin ketik. Foto ist.

Dari namanya saja sudah dapat diperkirakan bahwa mingguan ini bersikap progresif, memperjuangkan nasib rakyat kecil. Sayang usianya tidak lama. Direktur/pemimpin Redaksi Mingguan “Persatoean” Maharadja Sajuti Lubis, selain berprofesi sebagai wartawan juga propagandis ulung dari Perhimpunan Sarekat Islam.

Dalam pidato-pidatonya, Sajoeti Loebis sering mengeritik pemerintah Belanda dengan kata-kata yang tajam diucapkan secara berapi-api. Demikian pula tulisan-tulisan para wartawan yang dimuat mingguan Persatoean, sangat kritis dan tajam. Karena itu pelbagai pers-delict sering dikenakan kepada wartawan di Samarinda. Pers-delict adalah senjata ampuh dari penguasa.

Pada bulan Juli 1929, M Sajoeti Loebis harus meringkuk dalam penjara Cipinang Jakarta, selama 5 bulan. Ia divonis oleh sidang Landraad Samarinda dengan hukuman 2 tahun 4 bulan penjara dan harus dijalani di penjara Cipinang. Tetapi dalam putusan banding pada sidang pengadilan yang lebih tinggi di Surabaya, putusan itu diubah menjadi 5 bulan saja.

Setelah menjalani hukuman, Sajoeti Loebis menetap di Yogyakarta. 13 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 4 Oktober 1943, dia meninggal dunia di kota tersebut.

Editor : Akhmad Zailani

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan