oleh : Drs. HM. Aini SH, MBA

Tulisan ini berasal dari buku berjudul : Perjuangan Merah Putih Sanga Sanga Kalimantan Timur. Buku bersampul merah putih ini berjumlah 55 halaman. Di bagian sampul depan, Drs H. Mohd Aini SH, MBA sebagai penyusun dan editor. Buku ini dicetak Bhimex Samarinda. Di bagian depan buku, selain ada Kata Pengantar HM Aini, juga ada Sambutan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai, Drs H. Syaukani HR, sambutan Danrem 091/Aji Suryanata Kesuma kolonel infTri Subagio dan sambutan gubernur Kalimantan Timur H. Suwarna Abdul Fatah. Dalam bukunya HM Aini juga menyertakan 5 lampiran dan satu surat keputusan tentang penyerahan estafet nilai semangat pejuangan eksponen BPRI tentang perebutan kota minyak Sanga Sanga tanggal 27 Januari 1947. Di dalam surat Drs HM Aini SH MBA sebagai Ketua Umum, dengan didampingi 3 ketua, yaitu Drs HM Atmyns, Drs H Hasan Nuntji dan Drs H Idris Said.

Pendahuluan

Salah satu kota yang mempunyai sejarah penting di Kalimantan Timur, berada di wilayah pantai Kutai adalah kota Sanga Sanga yang dikenl dengan Peristiwa Merah Putih.

Muara Sanga Sanga tempo doeloe. Koleksi Foto Tropen Museum.

Peristiwa Merah Putih Sanga Sanga yang merupakan puncak perjuangan rakyat Kalimantan Timur menentang penjajajah, dar catatan, tulisan mengenai sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Timur dalam menentang penjajah terlihat sejak adanya kolonial Belanda atau bangsa asing yang datang menapakkan kakinya di Bumi Kalimntan Timur, dengan maksud ingin menguasai rakyat Kalimantan Timur.

Seperti kita ketahui pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan peristiwa besar dalam sejarah bangsa Indonesia dengan diproklamasinya Kemerdekaan Indonesia, telah terpantau oleh pejuang-pejuang rakyat Kalimantan Timur khususnya Sanga Sanga.

Kota Sanga Sanga ini dikenal dengan sebutan Kota Minya pernah munul sebagai kota penting di Kalimantan Timur, yang menurut ceritanya saat itu pada 1431 sebelum masehi, hingga masuknya tentara sekutu, penduduk kota Sanga sanga sudah mencapai lebih dari 20.000 jiwa dibanding dengan kota Samarinda saat itu masih di bawah jumlah tersebut.

Seiring dengan perkembangan kota Sanga sanga, maka kegiatan kaum pergerakan juga turut berhembus, bahkan organisasi tertua di Indonesia seperti Sarikat Islam, Budi Utomo, Muhamadiyah dan Nu sudah dikenal di Samarinda.

Pada Desember 1943 di Sanga Sanga berdiri perkumpulan yang bernama Ksatria, yakni perkumpulan pemuda Jawa. Tujuan didirikannya untuk memperkuat persaudaraan, memperkokoh rasa kesetiakawanan (kemanusiaan) dan berganti nama menjadi BPPD (Badan Penolong Perantau Djawa). Selain dari suku Djawa, beberapa suku lain ikut bergabung.

Tanggal 22 Oktober 1945 terjadi pertama kali pengibaran bendera merah putih di lapangan markas BPPD di Sep-Sep Sanga Sanga dan selama pemerintahan tentara Sekutu (Australia) saat itu rakyat diberi kebebasan melakukan upacara, yang berhubungan kemerdekaan Indonesia.

Namun setelah tentara Sekutu (Australia) mulai ditarik di Sanga Sanga, tentara Belanda (NICA) mulai tindakan keras dan melarang penggunaan dan pengibaran bendera merah putih, bahkan pimpinan BPPD ditangkap oleh Belanda.

Setelah itu BPPD lebur dan berubah menjadi BPRI (Barisan Pembela Rakyt Indonesia (BPRI), yang merupakan kesatuan aksi kelaskaran di bawah Bung Tomo, yang bermarkas di Surabaya. Sanga Sanga di bawah pimpinan Soekasmono, mengadakan gerakan bawah tanah untuk menghancurkan kolonial Belanda. Keberadaan BPRI merupakan penggerak perjuangan dengan menggunakan potensi seluruh masyarakat. BPRI berhasil membentuk 19 kelompokyang tersebar di wilayah Kecamatan Sanga Sanga, Bentuas, Sanga Sanga Seberang, Anggana, Handil, Samarinda dan Kutai Lama.

Sebelum terjadinya peristiwa besar dalam sejarah perjuangan fisik di Kalimantan Timur, telah terjadi peristiwa sebelumnya yang dilakukan oleh para pejuang, seperti : pembakaran penampungan minya mentah Distrik VI, pencurian senjata oleh pejuang yang bekerja pada pemerintah Belanda.

Aksi yang dilakukan para pejuang kita tidak lah berjalan mulus. Karena selalu diawasi oleh spionase Belanda (PID), sehingga pada hari H, perebutan kekuasaan pada 25 Desember 1946 mengalami kegagalan dan tentara Belanda melakukan penggeledahan dan penangkapan.

Direncanakan lagi pada tanggal 28 januari 1947, namun Belanda mencium gerakan perjuangan merah putih dan akhirnya ditetapkan dan dimajukan menjadi tanggal 27 Januari 1947 pada pukul 05.00. Gerakan dimulai dengan menguasai tangsi KNIL. Selama proses perebutan kekuasaan, diadakan keramaian serentak, berupa hiburan di setiap kampung.

Sejak saat itu pula bendera merah putih sempat berkibar selama tiga hari. Para pejung telah berhasil mengambil alih kekuasaan dan menguasai wwilayah Sanga Sanga.

Dengan sejarah perjuangan yang heroik itu kota Sanga Sanga diberi gelar sebagai kota Merah Putih untuk diwujudkan menjadi Kota Wisata Juang di Kalimantan Timur.

Dalam mewujudkan Sanga Sanga menjadi Kota Wisata Juang di Kalimantan Timur, maka pemerintah daerah telah merencanakan dibangunnya Monumen Palagan Merah Putih serta Museum Perjuangan, dan tempat-tempat pertahanan serta Taman Makam Pahlawan Wadah Batuah sebagai makam para Pejuang Merah Putih Sanga Sanga.

Di Makam Wadah batuah terbaring 72 pahlawan/syuhada dan masih banyak lagi pejuang yang meninggal tak tahu di mana tempatnya. Doa kami menyertai para pahlawan. Beristirahatlah dengan tenang karena tugas dan baktimu telah kau berikan dengan darah dan air mata serta pengorban yang besar bagimu bagi bangsa dan negara. “Untukmulah bangsaku, kami berjuang dan mati” demi kemerdekaan dan kejayaan bangsa kami. Bersambung.

Penulis/penyusun : Drs HM.Aini SH, MBA

Editor : Akhmad Zailani

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan