Berikut ini catatan garis besar sejarah pers nasional dari masa ke masa.



SEBELUM PROKLAMASI


TONGGAK-TONGGAK PERJUANGAN

Lahirnya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 merupakan tonggak kebangkitan nasional karena berhasil merangsang ide-ide pergerakan modern dan langkah-langkah nyata dalam rangka mewujudkan  kemerdekaan tanah air.

Namun demikian, kelahiran Boedi Oetomo adalah bagian dari satu mata rantai perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah dalam berbagai bentuknya sejak abad ke-16. Aceh, Banten, Jepara, Mataram, Makasar, Ternate, dan banyak lagi, tercatat sebagai pejuang-pejuang terdahulu yang mengangkat senjata melawan kaum penjajah. Pada abad-abad berikutnya, perlawanan dilanjutkan oleh pemimpin-pemimpin seperti Teuku Umar, Sisingamangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pattimura, dan lain-lain pahlawan bangsa.

Pencetus gagasan Boedi Oetomo adalah dr. Wahidin Sudirohusodo, redaktur majalah berkala Retno Dhoemilah sejak tahun 1901, sementara pendirinya adalah dr. Soetomo.

Tokoh-tokoh Boedi Oetomo lainnya adalah dr. Tjipto Mangunkusumo, dr. Radjiman Wediodiningrat dan dr. Danudirdja Setiabudhi (Douwes Dekker). Pada awal kelahirannya Boedi Oetomo secara formal memusatkan diri pada masalah kebudayaan dan pendidikan.

Diner te Solo ter gelegenheid van de verjaardag van dr Radjiman Wediodipoero (midden, aan het hoofd van de tafel).1918. Makan malam di Solo pada hari ulang tahun Dr. Radjiman Wediodipoero (tengah, di ujung meja). Sumber foto Universiteit Leiden, Belanda.

Hugo Douwes Dekker met zijn vrouw Aleida Elisabeth Douwes Dekker-Jolles, hun zoon Jan J. Marits en dochter Eva Louise te Palembang 1904. Sumber foto Universiteit Leiden, Belanda.

Anggotanya pun terbatas di pulau Jawa dan Madura. Tetapi, setiap pergerakan yang menetapkan program mencapai kemajuan bangsanya tidaklah dapat dilepaskan dari cita-cita politik. Tjipto Mangunkusumo adalah seorang yang menampilkan aspirasi politik itu.

Dalam kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta bulan Oktober 1908, Tjipto mendesak transformasi Boedi Oetomo menjadi partai politik dan meluaskan kegiatannya ke seluruh Indonesia. Dan memang, Boedi Oetomo kemudian mampu melebarkan sayap.

Baca Juga : Horas Siregar, Wartawan Pejuang Setelah 2 Kali di Penjara Belanda akhirnya Diusir dari Kaltim

Di Jakarta pada tahun 1909, Raden Mas Tirtohadisurjo membentuk Sarekat Dagang Islamijah. Dua tahun kemudian Tirtohadisurjo bersama H. Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam di Surakarta. Pada tahun 1912, Sarekat Dagang Islam diubah menjadi Sarekat Islam di bawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, dan lain-lain.  Berbagai partai politik dan organisasi masyarakat menyusul didirikan.

Tahun 1912, Tjipto, Douwes Dekker dan Suwardi Surjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) membentuk partai politik Indonesia pertama, bernama Indische Partij, dengan tujuan menggalang kesadaran nasionalisme dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia (waktu itu masih disebut Indies atau Indische). Organisasi masyarakat yang berdiri kemudian antara lain Sarekat Ambon, Jong Java, Pasundan, Jong Minahasa, Sarekat Sumatra, Pakempalan Politik Katolik Jawi dan sebagainya.  

Tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan, selain yang sudah disebut di atas, adalah Abdul Muis,  G.S.S.J. Ratulangi, M.H. Thamrin, Semaun, Mohammad Hatta,  Sukiman,  Sukarno, Ahmad Subardjo, H. Baginda Dahlan Abdullah, Sartono, dan banyak lagi.

Organisasi-organisasi yang mereka dirikan menunjukkan secara nyata semakin meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa dan tanah air.

Gerakan-gerakan untuk menggunakan bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, membina kecerdasan rakyat, dan menumbuhkan solidaritas serta kebersamaan dalam kegiatan perekonomian, adalah contoh-contoh kongkrit  semakin tingginya kesadaran politik masyarakat Indonesia.

Kesadaran itu memerlukan wadah dan sarana pembinaan serta penyaluran aspirasi. Untuk itu mereka membentuk berbagai klub diskusi dan organisasi politik, sekolah-sekolah sebagai pusat pendidikan, dan juga forum komunikasi baik langsung mau pun tidak langsung.

Puncak kesadaran itu adalah Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 yang mencetuskan Sumpah Pemuda, memproklamasikan kesepakatan mereka sebagai satu bangsa dalam satu tanah air dengan  satu bahasa persatuan: Indonesia.


MEDIA PERGERAKAN


Surat kabar atau majalah adalah sarana komunikasi yang utama untuk memantapkan kebangkitan nasional dalam rangka mencapai cita-cita perjuangan. Karena itu, dalam jangka waktu yang relatif pendek, di awal tahun 1920, telah tercatat sebanyak 400 penerbitan dalam berbagai corak di banyak kota  di seluruh Indonesia.

Pendiri Sarekat Dagang Islamijah, Tirtohadisurjo, menjadi redaktur dan penerbit Medan Prijaji di Bandung hampir bersamaan dengan lahirnya Boedi Oetomo.

Pada bulan Juli 1909, di Jakarta diterbitkan mingguan Boemipoetera yang dipimpin Sutan Mohammad Salim. Inilah salah satu penerbitan pertama yang menampilkan wajah dan warna nasional Indonesia, di depan mata penjajah.

Di Medan pada tahun 1910 telah terbit surat kabar nasional bernama Pewarta Deli, dipimpin Dja Endar Muda, yang sebelumnya adalah pemimpin redaksi Pertja Barat di Padang pada tahun 1903.

Pewarta Deli diterbitkan dan dicetak oleh perusahaan pribumi bernama Sjarikat Tapanuli di kota Medan. Pemimpin redaksinya kemudian adalah Djamaluddin Adinegoro.

Juga di Medan, pada bulan November 1916, terbit koran pertama yang memakai kata “merdeka”, yakni Benih Merdeka, di bawah pemimpin redaksi Mohamad Samin, tokoh Sarekat Islam di kota itu. Direktur surat kabar tersebut adalah T. Radja Sabaruddin, ketua Sarekat Islam Cabang Medan. Diterbitkan oleh perusahaan percetakan Setia Bangsa, Benih Merdeka memakai semboyan “Organ oentoek menoentoet keadilan dan kemerdekaan.”

Dalam daftar redaksi surat kabar tersebut terdapat nama-nama Mohammad Junus, R.K. Mangunatmodjo, Abdul Muis (waktu itu anggota pimpinan Sarekat Islam pusat), A. Ramli, dan Parada Harahap. Parada Harahap pernah menerbitkan koran di kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara bagian selatan., bernama Sinar Merdeka, dan pada tahun 1918 menjadi pemimpin redaksi majalah karyawan/pegawai perkebunan bernama De Cranie. Parada kemudian juga menerbitkan koran bernama Perempoean Bergerak di mana berkerja redaktur wanita seperti T.A. Subariah, Butet Sutijah, Siti Rohana, dan isterinya sendiri Setiaman.

Pada tahun 1920-an, jumlah surat kabar meningkat pesat. Di kota Bandung terbit Sora Mardika (1920), Sipatahoenan (1923), dan Soeara Ra’jat Mardika (1931).

Penerbitan lain di Medan adalah Matahari Indonesia dengan redaktur Iwa Kusumasumantri  pada tahun 1928 (tahun 1945 diangkat menjadi menteri sosial RI, 1953 menjadi menteri pertahanan) dan Sinar Deli di bawah pimpinan Mangaradja Ihutan serta Hasanul Arifin, dengan dibantu wartawan B.M. Diah, Ani Idrus, dan lain-lain.

Hamka dan M. Yunan  Nasution mengasuh Pedoman Masjarakat yang semula dipimpin H. Asbiran Ya’kub (1935).

Sebelumnya telah terbit majalah  Pandji Islam (1934) dengan pemimpin redaksi Zainal Abidin Ahmad.

KORAN REVOLUSI SOEARA KALIMANTAN 22 OKTOBER 1948

Di Banjarmasin terbit antara lain surat kabar Soeara Kalimantan (1930), pertama kali nama “Kalimantan” digunakan untuk surat kabar. Pemimpin redaksinya adalah Adnan Abdul Hamidhan.

Di Palembang, Mas Arga dan Bratanata memimpin penerbitan bernama Pertja Selatan, Hambali Usman mangasuh Langkah Pemoeda, dan A.K. Gani (menteri perekonomian RI 1946) menerbitkan Obor Rakjat.

Di Jakarta, Parada Harahap memimpin Bintang Timoer. Di samping itu, terbit pula Pemandangan (1930), Neratja di bawah pimpinan Abdul Muis dan Agus Salim (menteri muda luar negeri RI 1946, menlu 1947-1949); Kebangoenan, organ Gerakan Rakyat Indonesia (1938) dengan redaktur Sanusi Pane, Mohammad Yamin (menteri kehakiman 1951, menteri pendidikan 1953, menteri penerangan 1962) dan Amir Sjarifuddin (menteri penerangan 1945, menteri pertahanan 1946, perdana menteri 1947). 

Di Surabaya pada tahun 1929 terbit surat kabar Sin Tit Po dipimpin Liem Koen Hian, aktivis politik pendukung kemerdekaan Indonesia. Liem menempatkan korannya berlawanan haluan dengan koran-koran Cina lainnya yang masih terikat pada nasionalisme Cina atau yang menyokong pemerintahan kolonial Belanda. Tetapi, Liem sendiri meninggal sebagai seorang komunis dan warga negara asing Cina.

Di kota Samarinda pada tahun 1928 terbit koran bernama Perasaan Kita, diasuh seorang tokoh Sarekat Islam, R.S. Maharadja Sajuthi Lubis.  Sajuthi kemudian pindah ke Jawa dan memimpin organ partai Islam Indonesia bernama Islam Bergerak.

Baca Juga : Horas Siregar Berjuang dari Kalsel ke Kaltim, Dipenjara dan Diusir Belanda Pindah ke Sulteng

Di Pontianak tercatat surat kabar bernama Borneo Barat Bergerak. Pada masa pergerakan, dua penerbitan yang terkenal di kalangan pejuang-pejuang politik nasional adalah Fikiran Rakj’at yang terbit di Bandung dan Daulat Rakyat yang terbit di Jakarta.

Surat Kabar Borneo Barat Bergerak (BBB) menjadi pionir munculnya media pers di masa kolonial Belanda di Kalbar. Koran ini terbit pada 1 Oktober 1919.Foto ist

Ir Sukarno (presiden RI pertama) menyajikan tulisan-tulisan menentang penjajahan melalui surat kabar Fikiran Rakj’at.  Muhammad Hatta (wakil presiden RI pertama) banyak menulis di Daulat Rakjat, terutama tentang isu-isu ekonomi. Daulat Rakjat adalah organ resmi Klub Pendidikan Nasional   Indonesia. 

Nama-nama surat kabar dan wartawan serta penulis surat kabar yang tercantum di sini merupakan sebagian dari nama-nama media maupun mereka yang berkecimpung di bidang pers.

Pada tahun 1920-an dan seterusnya, kaum pergerakan yang bergaris keras disebut ‘non-kooperator’ atau ‘golongan sini’. Pertentangan timbul antara mereka dengan golongan yang dinamakan ‘kooperator’ atau ‘golongan sana’ (Belanda dan pro-Belanda).

Pada akhirnya kedua pihak bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan, kendati cara-cara yang mereka tempuh berbeda.

Penerbitan-penerbitan yang mencerminkan suara kaum ‘non-koperator’ menghadapi pengekangan-pengekangan polisi kolonial. Dan karena kebanyakan dari wartawan atau penulis surat kabar ‘non-kooperator’ tersebut adalah juga para aktivis pergerakan, maka kebanyakan dari mereka mengalami penahanan bahkan pengasingan. Tjipto Mangunkusumo, Sukarno, Iwa Kusumasumantri, Rasuna Said, dan lain-lain, serta nama-nama kurang dikenal waktu itu seperti I.F.M. Salim dan Abdul Karim Ms, termasuk di antara mereka yang menderita hukuman penjara atau pembuangan ke Digul atau tempat-tempat pengasingan kolonial lainnya.

Tetapi, Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 yang mencetuskan Sumpah Pemuda justeru semakin membulatkan tekad kaum pergerakan, termasuk pejuang-pejuang pers.

Meluasnya penyebaran ide-ide kemerdekaan melalui media cetak memaksa penjajah untuk melembagakan pengekangannya.

Pada pertengahan September 1931, Belanda memberlakukan Persbreidel Ordonnantie. Surat kabar-surat kabar pergerakan mulai saat itu menghadapi ranjau pemberangusan oleh penguasa kolonial, dan banyak wartawan serta penulis yang pernah dihukum pemerintah kolonial Belanda karena berita atau pikiran mereka dalam pers. (Baca juga sebelumnya : Sekilas Sejarah Pers Indonesia, Lahirnya PWI dan SPS)

Penulis : Tribuana Said

Editor : Akhmad Zailani

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan