Sekilas Sejarah Pers Nasional , Wadah Persatuan Wartawan

Kaltimampunku.com

Seperti masjarakat pergerakan politik lainnya, para wartawan tidak ketinggalan membentuk perkumpulan sendiri sebagai wadah persatuan dan advokasi pers nasional.

Organisasi wartawan Indonesia pertama didirikan bagi kepentingan perjuangan dan profesi adalah Inlandsche Joernalisten Bond (IJB). Dasar dan tujuan IJB yang dibentuk tahun 1924 itu adalah:

          “Melalui penyatuan semua wartawan pribumi di Indonesia
          berperan serta dalam kekuatan perjuangan demi kepentingan
          nasional dan mempertahankan wartawan”.

Perintisnya adalah pemimpin redaksi berkala Sarotomo, yang terbit di kota Surakarta dan tokoh Sarekat Islam bernama Sumarko Kartodikromo.

Sumarko meninggal di Digul pada tahun 1932. Empat tahun kemudian, IJB berdiri pula di kota Medan atas prakarsa R.K. Mangunatmodjo, Mohammad Junus, dan lain-lain.

Pada tahun 1919, bertempat di Gedung Boedi Oetomo Medan, IJB diubah menjadi Inlandsche & Chinesche Journalisten Bond dengan ketua Mohammad Joenoes dan sekretaris Parada Harahap.

Tjipto Mangunkusumo, waktu itu redaktur majalah Panggoegah bersama Ki Hadjar Dewantara (menteri pendidikan  1945), memimpin Indische Journalisten Bond.

Di Semarang, pada tahun 1931, berdiri Persatoean Kaoem Journalis. Pengurusnya adalah Saerun sebagai ketua, Wigjadisastera (dari kantor berita Het Indonesische Pers Agentschaap, Bogor) sebagai wakil ketua, Parada Harahap (Bintang Timoer, Jakarta) sebagai sekretaris, dan anggota-anggota pengurus lainnya terdiri Bakri Suraatmadja, R.M.S. Kusumodirdjo (Darmo Kanda, Surakarta), Sujitno (Sin Tit Po, Surabaya), dan Mohammad Junus (Bahagia, Semarang).

Pada akhir Desember 1933, bertepatan dengan rencana penyelenggaraan Kongres Indonesia Raja kedua, yang ternyata dilarang oleh polisi kolonial, di Surakarta sejumlah wartawan Indonesia mengadakan rapat untuk membentuk Persatoean Djoernalis Indonesia (PERDI).

Sejak itu hingga masa pendudukan militer Jepang, PERDI sempat mengadakan kongres di Bandung, Jakarta dan Kaliurang/Yogyakarta.

Para tokoh PERDI waktu itu antara lain adalah Sutopo Wonobojo, Sudarjo Tjokrosisworo, M. Tabrani, Sjamsuddin Sutan Makmur, Parada Harahap, Sutomo, Saerun, dan lain-lain. Azas perjuangan PERDI adalah:

              “…Menegakkan kedoedoekan pers Indonesia sebagai terompet
              perjoeangan.”

Para pendiri PERDI menegaskan bahwa wartawan

              ”mempoenjai kewadjiban soetji terhadap tanah air dan bangsa.
              Sebagai pembawa pikiran oemoem foengsi wartawan haroes
              terikat dengan kebangsaannja, bekerdja demi kepentingan
              bangsa dan persatuan bangsa. Dengan lahirnja PERDI,
              wartawan Indonesia mengarahkan diri mendjadi pendoekoeng
              tjita-tjita dan perjoeangan bangsa Indonesia.”

Berdirinya PERDI dengan azas perjuangannya tersebut menunjukkan bahwa wartawan Indonesia tidak mundur terhadap usaha pengekangan oleh pihak penjajah.

Di antara tokoh-tokoh lain dan anggota PERDI tercatat nama-nama W.R. Supratman (pencipta lagu Indonesia Raya), Mohammad Yamin, A.M. Sipahutar, Sumanang dan Adam Malik. Sipahutar dan Adam Malik adalah pendiri kantor berita nasional Antara pada tanggal 13 Desember 1937.

Peranan kantor berita Antara di masa pergerakan waktu itu diwujudkan melalui penyiaran berita-berita menyokong pergerakan nasional mencapai Indonesia merdeka.

Karena itu, pihak penjajah tidak jarang melancarkan penggerebekan terhadap kantor-kantor Antara dan menjebloskan wartawan-wartawannya ke dalam penjara. (Baca Sebelumnya : Sejarah Pers Indonesia Tonggak Perjuangan Media Pergerakan)

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan