Kaltimampunku.com

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

NAMA Wali Katum sudah tidak asing lagi bagi warga Kalimantan, khususnya bagi warga Kalimantan Selatan. Nama asli Wali Katum adalah Muhammad Ramli bin Anang Katutut. Nama saat masa kecil Artum Ali.

Ada yang unik dari Wali Katum. Beliau hidup apa adanya. Tidak bekerja. Makan, hanya bila ada makanan. Tapi bila tidak ada Wali Katum berpuasa. Kegiatan sehari-hari hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Walaupun hidup apa adanya. Wali Katum tidak pernah mengeluh sama sekali. Dia selalu bersyukur. Dia tidak pernah meminta-minta kepada orang lain.

Beliau juga suka menyendiri dan selalu menutup diri dari orang lain. Karena itulah masyarakat memanggilnya Wali Katum. Katum dalam bahasa Arab artinya sembunyi.

Wali Katum selalu membaca Al Qur’an. Seakan Al Qur’an tak terpisahkan dengan dirinya. Kecuali ke kamar mandi atau ke toilet. Bahkan saat bepergian pun selalu Al Qur’an selalu dibawa. Beliau selalu menyempatkan waktu untuk membaca Al Qur’an. Karena sering dibaca Al-Qur’an milik Wali Katum t tidak lagi persegi empat,  melainkan berbentuk lonjong karena sisi-sisinya sudah rusak lantaran sering dibaca.

Di dalam komplek ini terdapat 3 buah makam : 
1. Makam Wali Katum
2. Isteri Wali Katum yang bernama Shaimah binti Manshur
3. Anak Wali Katum yang bernama Siti Aisyah



Wali Katum, isteri dan anak





Makam Wali Katum yang berkelambu kuning dan makam isteri beliau


Makam Wali Katum


Kamar Khalwat Wali Katum


Menurut Gusti Sulaiman bin Gusti H. Hasan, yang kini berusia 95 tahun tinggal di Banyiur Dalam, Basirih Banjarmasin, ada beberapa keganjilan (khawariqul ‘adat) dari “Wali Katum”, begitu pula dengan bapaknya Gusti Anang Katutut.   

Sepupu Wali Katum

             Gusti Sulaiman bin Gusti Hasan atau ‘Guru Tuha’ kawan dekat dari Tuan Guru Abdussamad Kampung Melayu Sungai Bilu, Banjarmasin. Keduanya selama 7 tahun menuntut ilmu di Mekah. Gusti Hasan adalah kakak dari Gusti Anang Katutut, ayah dari Muhammad Ramli atau Wali Katum. Dengan demikian maka, Gusti Sulaiman bin Gusti H. Hasan adalah memiliki hubungan keluarga sebagai sepupu sekali dengan” Wali Katum” atau Gusti Muhammad Ramli bin Gusti Anang Katutut.   

Diriwayatkan pernah suatu hari serombongan orang bermobil datang untuk mengundang dan menjemput Gusti Anang Katutut (ayah Wali Katum), namun beliau tidak mau naik mobil dan mempersilahkan tamu yang menjemputnya lebih dahulu pulang. Nanti beliau akan menyusul. Beliau naik sepeda butut yang tempat duduknya hanya dililitkan kain supaya bisa duduk di atas sepeda butut tersebut.    

Alangkah terkejutnya rombongan yang ingin mengundang beliau, ternyata ayah Wali Katum sudah tiba lebih dahulu dan sedang menyandarkan sepeda bututnya di depan rumah yang ingin mengundang tersebut Padahal sewaktu berangkat tadi rombongan yang mengundang lebih dahulu dan cepat karena menggunakan mobil.          

Selanjutnya diriwayatkan pula oleh Gusti Sulaiman bin Gusti H. Hasan, bahwa tempo dahulu pada musim haji, seseorang jama’ah haji dari Hulu Sungai melihat seorang pria di Mekah yang berjalan beriringan, namun sambil berinting-inting atau jalan berjingkat-jingkat tanpa terompah (maklum zaman dulu tidak ada sandal jepit). Lalu jama’ah haji tersebut bertanya pada pria yang berjingkat, apakah sedang kepanasan kaki berjalan di padang pasir, namun pria itu menjawab :” Tidak”. Kemudian ditanyakan siapa namanya dan tinggal dimana, Pria misterius itu menyebutkan namanya Muhammad Ramli dan alamatnya di Tebu Darat, Hulu Sungai Tengah.      Karena merasa kasihan oleh jama,ah haji itu ketika melewati pasar dibelikanlah “Sepasang Terompah”, namun setelah menerima terompah tersebut, pria berjingkat-jingkat tadi menghilang begitu saja.

Setelah selesai menunaikan ibadah haji dan pulang ke kampung halaman, jama’ah haji tadi teringat dan ingin pergi menemui Muhammad Ramli, di Tebu Darat. Tapi menurut penduduk kampung Tebu Darat, bahwa tidak ada warganya yang naik haji tahun ini. Tapi kalau orang yang bernama Muhammad Ramli memang ada, tapi tidak pergi haji, namun hanya berkhalwat di gubuk persawahan.

Merasa penasaran sang jama’ah haji itu lalu minta bawakan ke gubuk Muhammad Ramli tersebut. Dan ternyata memang beliau lah yang bertemu dengannya di Mekah, sedangkan “sepasang terompah” terlihat ada digantungkan di dinding rumah / Gubuk Muhammad Ramli.    

Sejak saat itulah masyarakat baru mengetahui, bahwa Muhammad Ramli adalah seorang Wali Allah SWT, sehingga beliau diberi gelar “Wali Katum” atau wali yang tersembunyi.    

Gusti Muhammad Ramli atau Wali Katum wafat tanggal 24 Juni 1982 M bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1402 H pada usia sekitar 70 tahun.     Makam Wali Katum terletak di desa Tabu Darat kecamatan Labuan Amas Selatan kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan.


Ada pula masyarakat menceritakan. Suatu hari ada beberapa orang tamu berkunjung kerumah beliau, kebetulan dipekarangan samping rumah wali katum ada pohon durian yg sedang berbuah lebat. setelah cukup lama berbincang dirumah, saat tamu tersebut mau pulang dan berada dipekarangan rumah, salah seorang tamu tersebut bertanya kepada Wali Katum : “adakah buah durian yg sudah matang?” tanya nya sambil melihat keatas pohon durian. Wali Katum tersenyum kemudian memandangi keatas pohon durian tersebut dan memandangi buah durian satu persatu, dan tiba-tiba jatuhlah satu biji buah durian yg kulitnya berwarna agak kekuningan. “Nah.. ini yg matang…” jawab Wali Katum sambil tersenyum dan memberikan buah tersebut buat tamunya. begitulah salah satu karomah yg diberikan oleh Allah SWT kepada beliau.
Demikian cerita dari Datuk saya semasa beliau masih hidup.

Makam keramat Wali Katum selalu dizirahi masyarakat. Tidak hanya masyarakat Kalimantan Selatan tapi dari luar Kalimantan. Setiap tahun dilakukan haul Wali Katum.

HAUL

MINGGU, 28 April 2019. ribuan jamaah dari berbagai daerah di Kalsel dan daerah-daerah lainnya di Kalimantan berdatangan ke Desa Tabu Darat, Kecamatan Labuan Amas Selatan (LAS), Kabupaten Hulu Sungai Tengah . Mereka ingin mengikuti haul Wali Katum di 28 Sya’ban. Sudah 38 tahun yang lalu Wali Katum wafat. Di ekitaran kubah Wali Katum sesat jamaah.

Bahkan hingga Senin, 29 April, kendaraan roda dua dan roda empat masih terlihat memadati halaman makam Wali Katum.

Mengapa Wali Katum begitu dimuliakan, hingga 38 tahun kewafatannya, makamnya masih dikunjungi dan didoakan?

Penulis Manakib Wali Katum, M Isa Ansari kepada apahabar.com mengungkapkan, Wali Katum yang bernama asli Muhammad Ramli bin Anang Katutut adalah seorang yang suka berkhalwat, menyendiri di sebuah gubuk yang tidak berpintu.

Itulah sebabnya beliau di kemudian hari bergelar Wali Katum. Kata “Katum” diambil dari bahasa Arab yang berarti “Sembunyi.

”Diceritakan, Isa Ansari, Wali Katum yang nama kecilnya Artum Ali itu sejak kecil dikenal ganjil. Orang mengira dia seorang pemalas, meski fisiknya tidak lemah.

“Di mata masyarakat, beliau dikenal pemalas. (padahal sebenarnya, red) Beliau menghabiskan waktu untuk Allah SWT,” ujarnya pada apahabar.com, Senin (29/4).

Sementara itu, salah satu keturunan Wali Katum bernama M Khulaifi menceritakan, Wali Katum adalah sosok penuntut ilmu yang suka membantu hal-hal yang terkait keagamaan. Meskipun, beliau tinggal menyendiri jauh dari pemukiman warga.

“Seperti membersihkan masjid, pesantren, menuntut ilmu agama, Wali Katum ikut serta,” ujar Khulaifi.

Selain itu, Wali Katum dikenal sebagai seorang yang hidup sederhana dan tidak mengeluh. Kehidupannya yang sederhana tidak membuatnya menjadi peminta-minta, beliau tidak ingin menyusahkan orang.

“Yang susah ditiru dari kebiasaan beliau adalah ke manapun selalu membawa Alquran untuk dibaca,” ujarnya.

Dari peninggalan Wali Katum yang tersisa, adalah tajau tempat minum serta Alquran dan kitab-kitab yang dipelajari beliau.

“Bentuk kitabnya) lonjong karena sisinya sudah aus,” katanya sambil menunjukan tempat penyimpanan kitab-kita Wali Katum.

Wali Katum dipercayai memiliki banyak karomah (keramat) yang disaksikan banyak orang. Di antaranya; terlihat di Makkah saat musim haji padahal beliau tidak punya harta dan tinggal di gubuk. Gubuk reotnya mampu menampung sebanyak apa pun murid yang datang, minyak tanah yang tak habis dijadikan bahan bakar, kasyaf, dan banyak lagi yang lainnya.

Kobaran api saat meludeskan rumah Niah di Desa Jaranih, Kecamatan Pandawan, HST, Sabtu (27/4) subuh.

Bahkan saat terjadi kebakaran foto Wali Katum di sampul buku manaqib (sejarah) tidak terbakar. Padahal benda-benda yang lainnya habis terbakar. Kebakarannya terjadi Sabtu 27 April 2019 sekitar pukul 04.25 wita di rumah warga bernama Saniah di Desa Jaranih Kecamatan Pandawan.

Foto Wali Katum yang hanya bagian pinggirnya saja yang terbakar, yang ditemukan di tengah puing-puing rumah yang terbakar ist

Rumah Saniah yang terbuat dari kayu itu seluruhnya hangus terbakar, namun foto wali Katum masih utuh dan hanya sisi-sisinya saja yang terbakar.

“Kejadian tersebut membuktikan bahwa wali Katum bukan orang biasa dan mengisyaratkan kepada kita semua warga Bumi Murakata untuk mengenangnya dan berhadir pada haulan ke-38 di Desa Tabudarat,” kata Warga Barabai, H Dillah.

Cerita lainnya. mengenai cuaca yang mendadak menjadi cerah. Padahal hari sebelumnya, pagi hari, Minggu 28 April 2019 hujan turun hingga gerimis sampai sore..

Namun, ketika menjelang gelap, sekitar pukul 16.30 Wita saat jamaah mulai berdatangan ke acara haul, cuaca menjadi cerah, bahkan sempat terlihat matahari berwarna kuning begitu indah, seakan menyapa para jamaah yang mulai membeludak berdatangan.

Suasana di sana pun begitu nyaman, tidak panas dan tidak pula dingin. Hingga tidak mengganggu berlangsungnya haul yang saat itu diisi tausiah oleh KH Asmuni atau Guru Danau dan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah di Kalimantan.

“Padahal, pada hari Sabtu itu hujan dari pagi begitu lebat dan sampai malam harinya masih gerimis. Berlanjut lagi keesokan harinya pada Minggu juga hujan dan gerimis di Kabupaten HST,” ungkap H Dillah.

Namun, sekitar pukul 17.00 wita ketika Dia berangkat bersama jamaah lainnya ke haul wali Katum, cuaca sudah berubah menjadi cerah dan pihaknya pun tidak kehujanan.

“Semoga kejadian seperti ini menjadi hikmah bagi kita semua untuk selalu mencintai para ulama dan para wali,” harapnya.

Dari isi manaqib, Wali Katum atau KH Muhammad Ramli mempunyai nama kecil bernama Artum Ali, wafat pada tanggal 24 Juni 1982 M atau bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1402 H pada usia sekitar 70 tahun. Kata Katum diambil dari bahasa Arab yang berarti sembunyi.

Wali Katum juga suka berkhalwat dan uzlah, selama 30 tahun dan waktu khalwat itu, beliau sekeluarga makan cuma satu genggam beras perhari.

Namun, bila ada orang yg memberi beliau lebih dari itu dia menolak dan punya pakaian hanya beberapa saja.
Rumahnya hanya berdinding daun rumbia dan berlantai pelepah rumbia.

Sebagian dari karomah beliau diantaranya, mampu mengetahui barang yang tercecer, tidak kering minyak pada lampu duduk di rumahnya walaupun menyala dari malam hingga siang.Dia juga mampu mengetahui keadaan orang yang berkunjung, bahkan diceritakan bisa ke mana saja dalam sekejap. wallahu’alam bishawab.

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan