Masjid Jami Samarinda 1901

Masjid DJami Samarinda Sudah Ada Sebelum Tahun 1901?

Kaltimampunku.com

Sebelum adanya masjid Raya Darussalam Samarinda, di pinggiran Sungai Mahakam, di dekat Pasar Pagi ada masjid yang bernama Masjid Djami. Selanjutnya Masjid Djami dibongkar, dibangun masjid baru yang bernama Masjid Raya Darussalam di seberang jalan tidak jauh dari lokasi Masjid Djami. Masjid Djami di pinggir sungai Mahakam maupun Masjid Raya Darussalam, yang berada di Jalan K.H. Abdullah Marisie, Kelurahan Pasar Pagi . Samarinda Kota, dibangun oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat Samarinda yang berasal dari Banjar. Di antara tokoh, dulu disebut penghoeloe, dimakamkan di samping kanan masjid Raya Darussalam.

Ini ada beberapa foto bahari masjid Djami Samarinda koleksi foto digital dari Universiteit Leiden, Belanda. Ada 2 foto diperkirakan sekitar tahun 1901, tiga foto lainnya foto lainnya diperkirakan tahun 1930, 1935 dan 1937.

Samarinda met links een moskee . Published 1901.Koleksi Digital Universiteit Leiden, Belanda
Samarinda, Oost-Borneo, met uitzicht op de moskee 1901. Koleksi Digital Universiteit Leiden, Belanda.
Moskee te Samarinda 1935. Koleksi Digital Universiteit Leiden, Belanda
Moskee te Samarinda 1937. Koleksi Digital Universiteit Leiden, Belanda.

Tokoh yang sangat berperan dalam pembangunan masjid Djami adalah Kiai Haji (KH) Djainal Abidin Al Banjary bin Surgi Datau, yang bergelar Kiai Haji Mas Temenggung. Kiai Djainal adalah penghoeloe atau Qodi yang pertama di Samarinda. Sehingga beliau juga disebut Temenggung Mas Penghulu.

Makam KHDjainal ini berada di samping kanan masjid Raya Darussalam. Di sebelah makam kiai Djainal, makam putera beliau yang bernama Kyai Haji (KH) Mohammad Chalid. Kyai Mohammad Cholid menjadi penghoeloe (qodi) kedua, menggantikan ayahnya.

Makam ayah dan anak ini sudah ada sebelum masjid Raya Darussalam dibangun. Mereka berdua adalah tokoh-tokoh agama yang sangat berperan besar dalam penyebaran dan pengembangan agama Islam di Kalimantan Timur, terutama di Samarinda dan sekitarnya. Makam keduanya tidak dibongkar, saat pembangunan masjid Raya Darussalam sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa kedua tokoh agama tersebut.

Selain kedua makam tokoh ulama besar tersebut, di sampingnya ada pula makam KH Abdullah Marisie, yang juga ulama besar dan terkenal. KH Abdullah Marisie adalah juga seorang penghoeloe di Samarinda. Makamulama besar lainnya KH. Abdoel Rasjid Aboel Hasan, H Mochamad Thayib bin Anang Dedet dan KH. Djapar Sabran bin Sabran (Kelahiran Amuntai 1920). Saat ini makam para ulama tersebut sedang dilakukan pemugaran oleh Pemerintah Kota Samarinda..

Penulis/editor : Akhmad Zailani

19 views

Tinggalkan Balasan

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: