Oleh : Rama Dira

LAKI-LAKI itu bernama Justus van Maurik . Ia telah kembali ke Amsterdam setelah sebulan melakukan perjalanan wisata di Batavia. Meski perjalanan itu telah berlalu, ia tak segera bisa melupakan seseorang dalam sebuah kejadian penuh kesan, di negeri jauh itu. Dialah Tjoe Boen Tjiang, pemuda yang telah mati di suatu pagi, di tiang gantungan depan Stadhuis.

Waktu itu, meski lelah menghadiri pesta dansa hingga larut malam atas undangan Gubernur Jenderal van der Wijck di societeit de Harmonie, ia sudah bangun pukul lima subuh akibat bunyi terompet kavaleri dan derap kaki kuda yang datang dari arah jalan Molevliet Oos ] di depan hotel Wisse, tempatnya menginap.

Setelah kesadarannya mengutuh, suara-suara itu sayup-sayup menghilang digantikanoleh dengusan trem uap yang datang dari arah Kramat. Pukul setengah enam, ia bukan jendela bagian depan. Menyadari tamu hotel itu sudah bangun, seorang jongos yang tidur di depan kamar itu langsung berteriak padanya.

“Mari, Meneer! Zeven uur hangen (mari tuan! jam tujuh digantung). Ada baiknya Meneer ikut menyaksikannya.”

Ia teringat pembicaraan di societiet tadi malam. Pagi ini memang akan dihukum gantung seorang pemuda Tionghoa yang terbukti bersalah karena telah membunuh majikannya sebulan lalu. Kabar mengenai eksekusi itu telah menyebar di seluruh Batavia.

Pada mulanya, Maurik enggan mengiyakan ajakan sang jongos sebab pagi itu Batavia dingin bukan main. Apalagi lantai ubin merah di kamar hotel itu serasa memagut-magut kedua tapak kakinya. Ia berubah pikiran, setelah menimbang betapa pengalaman menyaksikan langsun eksekusi itu bisa menjadi cerita menarik jika dituangkan dalam catatan perjalanan ata diceritakan pada kawan-kawan.

Maurik memutuskan tidak mengguyur tubuhnya dengan air. Pikirnya,mandi tidak perlu dilakukan, sebab tak baik untuk kesehatansebagaimana dinyatakan oleh seorang dokter baru-baru ini. Ia akhirnya hanya mencuci muka sekenanya. Lalu ia kenakan jas dan celana panjang putih. Tak ketinggalan, topi dan tongkat kayunya ia bawa serta.

Mendadak hotel itu sepi. Tampaknya, hukuman gantung mengandung magnet tersendiri bagi penghuni Batavia, hingga semua orang berduyun-duyun untuk menyaksikannya. Setelah mengunci pintu kamar, Maurik menuju ke dapur hotel mencari Oeri, sang jongos yang mengajaknya tadi. Ia menemukan Oeri sudah siap dengan payungnya. Mereka berdua bersama beberapa jongos lain menuju Stadhuis dengan menaiki trem uap yang dipenuhsesaki orang-orang yang juga menuju ke tempat sama. Lima belas menit waktu yang mereka butuhkan untuk tiba di Stadhuis.

Turun dari trem, mereka langsung menginjakkan kaki di lapangan depan Stadhuis yang sudah dibanjiri manusi, seakan semua penghuni batavia tumpah di sana. Semuanya hadir di sana. Ada pribumi,Tionghoa, Arab, Eropa, Keling sampai Peranakan. Laki-laki, perempuan, tua,muda, sampai bocah bocah. Dari kejauhan mereka bisa melihat, persis di depan pintu masuk gedung itu, telah disiapkan mimbar penggantungan.

Setelah berjejalan, Maurik dan Oeri berhasil mendapatkan gundukan tanah yang agak tinggi di depan. Meskipun masih setengah jam menjelang eksekusi, lapangan itu sudah begitu sesak.

Lima belas menit berlalu. Tjoe Boen Tjiang yang digandeng oleh dua orang pembantu algojo, muncul dari dalam melalui pintu masuk. Di belakang mereka beberapa orang pejabat pengadilan, jaksa, kontrolir, asisten residen, residen memasang tampang serius.

Tjoe Boen Tjiang mengenakan baju dan celana panjang yang seluruhnya putih. Kakinya tak menggunakan alas. Sementara, rambut panjangnya tak dikepang, dibiarkan tergerai.Hanya seutas pita merah kecil yang diikatkan di ujungnya.

Tiba di pinggir mimbar penggantungan, ikatan tali di lengan Boen Tjiang dilepaskan.Salah seorang pembantu algojo mendekati, berbisik di telinganya. Maurik menebak,bisikan itu pastinya adalah pertanyaan mengenai permintaan terakhir si pemuda sebagai terhukum. Benar saja, setelah mendengarkan bisikan balasan dari Boen Tjiang, pembantu algojo bergegas ke belakang kemudian datang lagi dengan membawa sebatang cerutu yang sudah dinyalakan. Suatu hal aneh bagi Maurik setelah mengetahui pemuda itu mengajukan permintaan terakhir hanya berupa kesempatan menghisap sebatang cerutu.

Dalam perjalanan tadi, Maurik yang bisa sedikit bahasa Melayu dengan baik, sempat mendengar para penumpang yang saling menebak apa kira-kira yang akan menjadi permintaan terakhir Tjoe Boen Tjiang. Ada yang mengira kalau ia akan meminta menu lengkap masakan yang paling lezat di Batavia. Adapula yang meyakini kalau ia akan memintanndiperbolehkan bercinta terlebih dulu dengan seorang pelacur dari Rumah Mawar Betina milik Babah Can, tentunya dengan Kimiko,pelacur pemilik kecantikan yang melampaui wanita baik-baik. Yang terakhir ini membuat trem uap itu riuh dalam tawa. Namun, tak seorang pun bisa menebak dengan tepat apa yang diinginkan BoenTjiang. Termasuk Maurik yang diam-diam meyakini kalau Boen Tjiang akan menangis terkencing-kencing sambil menghiba, meminta agar hukumannya ditangguhkan karena ia masih muda hingga belum siap berhadapan dengan kematian.

Meski dipenuhi ratusan manusia, lapangan itu mendadak sepi. Suasana mencekam tiba-tiba menyebar di pagi berkabut itu setelah genderang pertama berbunyi beberapa menit menjelang pukul tujuh tepat. Seorang jaksa maju ke mimbar. Ia membacakan vonis dengan suara yang terdengar sangat datar sehingga pembacaan yang hanya memakan waktu beberapa menit itu terasa lama.

Sementara jaksa membacakan vonis, Boen Tjiang tetap tenang, terus mengisap dalam-dalam cerutu terakhirnya, kemudian mengembuskan asap-asap yang bergulung-gulung. Sesekali ia hanya memandang pada penonton, ke arah kanan dan kiri. .Ketenangan luar biasa pemuda itu membuat Maurikkagum luar biasa.

Pembacaan vonis usai, pembantu algojo mengambil dengan paksa cerutu yang masih ingin dihisap oleh Boen Tjiang. Serta merta wajah Boen Tjiang menampakkan ekspresi keterkejutan. Ia memberi isyarat pada pembantu algojo itu, memohon untuk diperbolehkan menghabiskan sebatang cerutu itu terlebih dulu. Permintaan terakhirnya kali ini tak digubris. Sisa cerutu yang masih panjang itu langsung diempaskannya ke tanah.

Sesaat kemudian, seorang algojo pribumi mendekati, membelenggu kembali kedua tangan Boen Tjiang ke belakang lantas mengandeng lengan kanannya menaiki mimbar penggantungan. Sebelum berdiri tepat di atas pintu yang ada di lantai penggantungan, ia diminta jaksa untuk mengakui perbuatannya. Jaksa menganjurkan kepada yang hadir agar tidak mengikuti jejak Boen Tjiang. Kesempatan itu digunakan Boen Tjiang sebaik-baiknya.I a berdiri dengan tenang, berani, tegar, tanpa rasa takut dan gentar sedikit pun. Setengah berteriak, lantang ia mengajukan pengakuannya ;

“Saya telah melakukan perbuatan yang tak dibenarkan Tuhan. Saya telah membunuh majikan saya hanya gara-gara sakit hati setelah ia tak mau memberi saya sebatang cerutu. Saya menyesal.Dengan lapang dada, saya siap menerima kematian sebagai hukuman yang setimpal untuk perbuatan saya.”

Mendadak kerumunan manusia bergemuruh, menanggapi pengakuan terakhir BoenTjiang. Tanggapan yang tersebar di tengah kerumunan itu entahlah, tak bisa diperkirakan Maurik. Mungkin ada yang tetap membenci Tjiang karena telah membunuh secara kejam. Mungkin juga ada yang pada mulanya membenci tap ikemudian berubah menjadi simpati pada detik-detik terakhir setelah Tjiang terlihat tetap tenang dengan pengakuan yang tak dibuat-buat dan tegar menerima hukuman yang setimpal dengan kesalahannya. Mungkin juga, ada yang tidak tahu harus memberi penilaian apa.

Oeri berbisik pada Maurik, “Di Batavia, orang-orang Belanda percaya selain dengan minum arak, menghisap cerutu adalah cara menghalau gejala kolera. Kabarnya, Boen Tjiang mengidap gejala kolera. Ia sudah putus asa mencari obat untuk menyembuhkan penyakitnya itu sehingga pada akhirnya ia meminta sebatang cerutu pada majikannya, yang orang Belanda itu tapi tak diberi.”

Maurik mengangguk-angguk. Telah terjawab pula keheranannya akan permintaan Boen Tjiang pada permintaan pada sebatangg cerutu terakhir itu.

Tepat pukul tujuh. Sang algojo mengarahkan Tjiang menuju garis kotak dari kapur putih sebagai penanda di mana kedua kaki Tjiang harus diinjakkan. Suasana semakin hening, seakan setiap dari ribuan manusia di lapangan terbuka itu menahan napasnya. Algojo dan pembantunnya mendekat. Sementara itu, kalung tali gantungan menganga menakutkan. Boen Tjiang memiringkan kepalanya agak ke kiri supaya kalung tali gantungan mudah dimasukkan. Setelah kepala Boen Tjiang dimasukkan pada kalung gantungan, dengan cepat sang algojo menarik tali dengan sentakan.

Genderang kembali berbunyi, kali ini panjang. Saat itu juga daun pintu di lantai menjeblak terbuka. Dua orang yang sudah bersiap di lobang lantai, menarik kaki BoenTjiang. Tali gantungan mencekik leher putih kurus pemuda itu. Dengusan napasnya tertahan, mengerikan. Wajahnya tiba-tiba menjadi merah darah, kemudian menjadi merah kebiruan, yang berakhir menjadi merah pucat. Matanya melotot, lidahnya terjulur keluar, mulutnya berbusa dan celana panjangnya basah.

Beberapa perempuan menunduk, tidak berani menyaksikan keadaan seorang anak manusia yang tengah dijemput ajal itu. Sungguh mengenaskan memang, tapi seperti ditarik oleh suatu kekuatan gaib entah dari mana, Maurik tetap memakukan matanya menyaksikan tahap-tahapan eksekusi itu. Bahkan, matanya bertatapan langsung dengan sepasang mata terakhir Boen Tjiang yang seperti ingin mengatakan sesuatu. Algojo segera menyarungkan kain cita putih pada kepala Boen Tjiang untukmenyembunyikan mimik terakhir wajah pemuda itu.

Tubuh Boen Tjiang berkelojot beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar tak bergerak lagi. Algojo membuka penutup kepala itu. Ia kemudian memberi tanda pada para pejabat bahwa tubuh si terpidana benar-benar telah tak bernyawa.

Kerumunan manusia pun bubar. Tapi Maurik yang ditemani Oeri masih berdiri di sana. Setelah lapangan sepi dan tubuh tak bernyawa Boen Tjiang sudah dibawa dengan kereta kuda, Oeri mendekati Maurik.

“Meneer, matahari mulai terik. Mari kita kembali ke Wisse”

Suara pelan serupa bisikan dari jongos itu menyadarkan Maurik dari lamunan anehnya, lamunan yang membawanya pada bayang-bayang terakhir pemuda itu.

Seperti waktu berangkat, mereka kembali menaiki trem uap, pulang menuju Hotel Wisse.

Malam itu, ia tak bisa tidur. Tatapan terakhir laki-laki itu terus mengikuti hingga merasuk ke dalam mimpi siang harinya. Mulanya, ia menganggap hal itu biasa karena baru kali ini menyaksikan hukuman gantung secara langsung. Tapi, selang seminggu kemudian pelototan mata yang seolah berbicara dari pemuda Tionghoa itu terus mengikuti. Dalam tidurnya, selalu hadir mimpi-mimpi yang sama : pemuda BoenTjiang yang tak lagi bernyawa, dengan leher bergelantung pada tali yang terikat di balok melintang, bergoyang perlahan ke kanan ke kiri, tertiup angin lembut. Ia tersadar, sesuatu terjadi padanya : ia tak bisa melupakan Tjoe Boen Tjiang.

Akhirnya, rencana liburannya di Batavia ia percepat. Harapannya, dengan meninggalkan Batavia, ia bisa melupakan laki-laki itu. Pagi itu juga ia meminta Oeri memesankan tiket kapal menuju Amsterdam.

***

HARAPANNYA tak terwujud. Meninggalkan Batavia bukanlah cara yang jitu untuk mengakhiri kehadiran bayang-bayang menjelang ajal Tjoe Boen Tjaing.Ia masih terus mengingatnya. Ia masih terus diserang insomnia. Untuk sementara waktu, usaha dagangnya dikendalikan oleh sang istri. Istrinya tak kunjung mengerti apa yang membuat sang suami berubah menjadi seorang pendiam yang tak lagi riang dan selaludidera insomnia kala malam.

Sore itu, Maurik ingin menghabiskan waktu di beranda dengan menatap keindahan senja di Amsterdam. Senja datang, tapi ia tak bisa menikmati keindahannya. Tatapan sepasang mata menjelang kematian itu terus menghalangi pandangannya.

Dari arah belakang, ia mendengar langkah bergegas salah seorang dari pelayannya.

“Meneer, saya menemukan ini di saku jas putih Meneer waktu saya akan mencuci.”

Maurik mengambil sebatang cerutu itu dari tangan pelayannya. Ya, Tuhan. Mengapaaku begitu pelupa. Ini cerutu terakhir yang belum habis dihisap Tjoe Boen Tjiang. Iat erdiam sekejap. Ia mengingat kembali saat lapangan Stadhuis sepi. Ia menuju ke tanah samping tiang penggantungan kemudian memungut lantas memasukkan ke saku jas putihnya sisa cerutu terakhir milik Tjoe Boen Tjiang.

“Jangan diambil, Meneer. ”

Ia mengabaikan larangan Oeri. Baginya, laki-laki itu tak akan tahu kalau benda-benda semacam ini adalah suatu yang bisa dijadikan cinderamata berharga. Setibanya di Amsterdam, sambil menceritakan secara detail hukum gantung Tjoe Boen Tjiang kepada teman-teman, ia akan menunjukkan pula cerutu terakhir milik pemuda itu.

Setelah tersadar dari lamunan, ia segera meminta pelayannya untuk mengambilkan geretan. Sisa cerutu terakhir milik Tjoen Boen Tjiang itu segera disulutnya. Dihisapnya dalam-dalam, diembuskan asapnya bergulung-gulung seperti ketika Boen Tjiang menghisap cerutu terakhir itu. Ia terus menghisapnya hingga habis tak tersisa.

Malam itu, insomnia tak lagi menyerang. Dalam mimpinya, pemuda Tjoe BoenTjiang hadir. Sambil tersenyum, ia berujar pada Maurik, “Terima kasih telah menghabiskan cerutu itu untukku.”

Pemuda itu lantas memberikan sekotak cerutu baru yang masih utuh kepadanya.”Terimalah…”

Vertuoso, Jogja, 8 Maret 2006

Catatan

Justus van Maurik adalah tokoh nyata yang pernah berwisata ke Batavia dan mencatat perjalanannya (termasuk saat ia menyaksikan huuman gantung Tjoe Boen Tjiang) dalam sebuah buku yang berjudul ” Indrukken van een Totok”. Beberapa deskirpsi dalam cerpen ini didasarkan pada saduran Intisari dalam salah satu edisi khususnya atas sekelumit bagian dari catatan perjalanan tersebut.

Editor : Akhmad Zailani

Cerpen ini sebelumnya sudah dimuat di Suara Merdeka 07 September 2006.

Cerpen ini telah direvisi oleh Rama Dira sendiri. Ada beberapa kata dan kalimat diganti oleh Rama Dira. Ada kalimat yang berbeda seperti yang sudah dimuat di koran Suara Merdeka, 30 April 2006. Banyak kalimat di cerpen ini yang berbeda dengan yang sudah beredar di beberapa blog dan media online. Namun pada dasarny, a tentu saja isi ceritanya tetap sama. Cerpen yang sudah direvisi dimuat dalam buku Kucing Kiyoko kumpulan cerita pendek Rama Dira, penerbit Tuk Padas cetakan 1 Agustus 2011. Cerpen ini juga diberi catatan di akhir cerita. Saya ini saya ketik ulang, agar bisa dinikmati pembaca, dan sekaligus untuk mengenang Rama Dira yang telah pergi untuk selama-lamanya. Rama Dira meningggal dibunuh seorang kuli bangunan yang mengamuk karena terganggu jiwanya ketika menuju masjid, yang tidak jauh dari kantornya, Selasa, 17 Juli 2018 (Akhmad Zailani)

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan