WALI ALLAH Ta’ala

Wali bentuk jamaknya adalah Aulia’. Wali Allah atau Waliyullāh, dalam bahasa Arab berarti adalah ‘seseorang yang dipercaya’ atau ‘pelindung’, makna secara umum menjadi ‘Teman Allah’ dalam kalimat walīyu ‘llāh. Al Qur’an menjelaskan Waliallah memiliki arti orang yang beriman dan bertakwa. sebagaimana firman Allah:

“Ingatlah sesungguh wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yg beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus 10:62 – Al-Furqan dalam kitab Majmu’atut Tauhid hal. 339).


Dari Abu Hurairah ia berkata: telah bersabda Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam:  “Sesungguhnya Allah telah berfirman: Barangsiapa yang memusuhi Waliku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang kepadanya, dan tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepadaKu pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan dariKu pasti Aku akan melindunginya”. Bagi orang indonesia, khususnya di tanah jawa pasti tidak asing dengan istilah Wali Songo, mereka adalah beberapa wali yang tergabung dalam majlis para wali yang berjumlah sembilan orang pada setiap masanya, mereka mengemban tugas untuk berdakwah dan membimbing manusia untuk lebih mengenal Allah. Oleh karenanya, Allah memberikan keistimewaan yang berupa karomah atau ma’unah.
Setiap orang pasti berhasrat untuk bisa dipilih Allah untuk menjadi wali Allah, namun tak semua orang sanggup untuk menjalani tahapan menjadi wali Allah.
Syaikh Abu Hasan Assyadzily rah.a. pernah ditanya muridnya, ” Apakah syarat yang harus diperbuat oleh seseorang yang ingin menjadi Waliyullah,?”

Beliau menjawab,” Seseorang yang ingin menjadi Waliyullah harus benar dalam syariatnya, meliputi 12 (dua belas) tanda:

1. Makrifatullah (mengenal Allah ) dalam tauhid maupun keimanan yang kuat kepada Allah

2. Benar- benar menjaga semua perintah Allah

3, Berpegang teguh dengan sunnah Rosulullah

4. Selalu dalam keadaan suci (dawamul wudlu’)

5. Rela terhadap ketetapan Allah dalam suka maupun duka

6. Meyaikini semua janji Allah

7. Memutuskan harapan kepada makhluk (hanya berharap pada Allah)

8. Tabah dan sabar menanggung penderitaan dan gangguan orang lain

9. Rajin mentaati perintah Allah

10. Berkasih sayang terhadap semua makhluk Allah

11. Bersikap tawadlu’ (merendahkan diri) pada orang yang lebih tua maupun lebih muda

12. Selalu menyadari bahwa Syathan adalah musuh utama manusia, sedang sarang syaithan itu dalam hawa nafsu manusia dan selalu berbisik untuk mempengaruhi manusia berbuat maksiat.

Itulah 12 syarat yang harus dipenuhi orang yang ingin diangkat menjadi wali Allah. Mudah-mudahan sebelum mati Allah menjadikan kita sebagai wali-Nya Amiiin.

Menjadi orang Sholeh dan Bertakwa

Di dalam Buku “Taqwa menurut Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi” dituliskan untuk menjadi orang yang sholeh dan bertakwa kepada Allah SWT, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Ini bagian dari cuplikan tulisannya :

“Barang siapa yang bertaqwa pada Allah, Allah beri jalan keluar dari kesusahan dan akan beri rezeki sekira-kira tidak terduga-duga”

“Barang siapa yang bertaqwa pada Allah, Allah akan permudah segala urusannya” [Q.S. At-Talaq : 4]

“Allah menjadi pemimpin (pembela) orang yang bertaqwa”
[Q.S. Al Jasiah : 19]

Dalam ayat yang lain :

“Sesungguhnya amal ibadah yang diterima dari orang yang bertaqwa”

“Dan jika ada penduduk sebuah kampung itu beriman dan bertaqwa, maka akan Allah bukakan berkat dari pintu langit dan bumi”
[Q.S. Al-A’raf : 96]

Allah akan buka pintu berkat dari langit dan bumi, maka sudah tentu kehidupan orang bertaqwa akan aman damai, berkasih sayang, mesra, selamat sejahtera, tidak ada gangguan, penuh harmoni dan indah, di dunia sudah dapat Syurga dan pastilah di Akhirat akan dapat Syurga yang kekal abadi.

Banyak ayat yang memberitahu bahwa setelah seseorang atau satu bangsa itu menjadi orang yang bertaqwa, baru mendapat pembelaan dari Allah. Kalau hanya sekedar Islam tidak ada jaminan dan pembelaan dari Allah di dunia maupun di Akhirat. Inilah yang terjadi kepada seluruh umat Islam di dunia hari ini. Rata-rata umat Islam sebagai seorang muslim tetapi tidak menjadi orang yang bertaqwa. Sebab itu tidak ada pembelaan dari Allah. Bila tidak ada pembelaan dari Allah, coba kita lihat apa yang terjadi. Hidup tidak bersatu padu, musuh menekan, menghina, menderita, menjadi hamba orang, susah dan tersingkir di mana-mana. Jumlah banyak tapi tidak bergun laksana buih di laut.

Jadi sekedar menjadi seorang Islam saja jangan merasa selamat sebab masih belum ada jaminan dan pembelaan dari Allah. Oleh karena itu kita mesti menjadi orang bertaqwa baru jaminan dan pembelaan ALLAH akan didapati baik di dunia maupun di Akhirat. Oleh itu kita mesti berusaha bersungguh-sungguh dalam hidup ini untuk memiliki sifat taqwa. Lebih-lebih lagi bagi mereka yang bercita-cita membangunkan Islam, perlu berusaha menjadikan diri mereka orang yang bertaqwa.

Orang Islam yang mempunyai cita-cita perjuangan bukan saja ingin memperbaiki dirinya tetapi juga ingin memperbaiki masyarakat. Untuk itu, dia mesti faham bagaimana memperbaiki dirinya sendiri dan bagaimana untuk memperbaiki masyarakat.

Untuk memperbaiki diri agar menjadi orang yang soleh atau orang yang bertaqwa, 8 syarat perlu ditempuh :

1. Dapat Petunjuk dari Allah

Di sinilah modal utama ke arah taqwa, yaitu Allah beri hidayah dengan cara mengetuk pintu hatinya. Dia senang dengan Islam, sayang dengan Islam, suka dengan Islam, dan terbuka hatinya untuk Islam. Sebut saja Islam terasa indah dan senang. Rasa terhibur walaupun dia tidak tahu apa itu Islam. Firman Allah :

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi-Nya petunjuk, maka dilapangkan hatinya untuk menerima Islam”
[Q.S. Al An’am : 125]

2. Faham Tentang Islam
Faham tentang Islam. Bukan tahu tenatng Islam. inilah yang dimaksud oleh sabda Rasulullah SAW :

“Barang siapa yang Allah hendak jadikan dia orang baik, maka dia akan diberi faham tentang Islam”

Kalau begitu sekiranya sekedar diajar atau diberitahu, tidak ada jaminan seseorang itu menjadi baik. Tetapi kalau diberi “faham” itulah tanda seseorang itu akan membuat perubahan. Sebab bila dikatakan “diberi faham”, akan jatuh ke hati. Tetapi kalau hanya “diberitahu” hanya diakal saja. Akhirnya jadi mental exercise. Pintar mengatakan tentang Islam, hanya berputar di akal tidak di hati. Bila hanya bertapak di akal, ceramahnya hebat, dapat menulis dsb. Tetapi kalau tidak bertapak di hati, bukan menjadi keyakinan hidupnya. Artinya tidak menghayati ilmunya. Kalau begitu ilmu yang ada di otaknya tidak mendorong untuk memperbaiki diri. Tidak mendorong untuk memperjuangkannya. Ilmu itu tidak mendorong untuk menuntun hidupnya. Tetapi kalau sampai di hati barulah akan berkesan pada dirinya.

Namun perlu diingat, kalau hati terbuka untuk menerima Islam, tetapi ilmunya tidak ada, maka seseorang itu tidak akan dapat berbuat. Beramal tanpa ilmu, tertolak. Ada ilmu tetapi tidak diamalkan, laksana pohon tidak berbuah.

Jadi kefahaman tentang Islam ini perlu ada. Memahami Islam secara syumul, secara lengkap, bukannya secara sebagian-sebagian. Memahami Islam yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Memahami Islam sebagai cara hidup, atau dengan kata-kata lain, memahami Islam sebagai agama akidah, ajaran ibadah, dakwah, ukhuwah, jihad, jamaah, amrun bil ma’ruf wanahyu a’nil mungkar, tarbiah, pendidikan, ekonomi, daulah Islamiah, antara bangsa dan hinggalah ke alam sejagat.

Untuk mendapatkan kefahaman, mesti ada jalan, ada usaha dan ada caranya. Tidak dapat faham begitu saja. Mesti melahirkan sebab, seperti dengan belajar, membaca, menelaah, muzakarah, bertanya dan sebagainya. Jadi lapang dada menerima Islam saja tidak cukup. Mesti disertai kefahaman, kemudian berbuat dan bertindak berdasarkan kefahaman itu.

3. Yakin

Apa saja ilmu yang kita ketahui dan fahami perlu kita yakini terutamanya dalam soal-soal aqidah; keyakinan kepada Allah, kepada Rasul, kepada malaikat dan sebagainya. Keyakinan itu mesti kental, jangan syak, waham atau zan.Jangan jadikan ilmu Islam itu seperti ilmu-ilmu sekuler yang lain. Umpamanya sewaktu kita belajar ilmu ideologi, ilmu ekonomi, ilmu politik dan ilmu alam. Kadang-kadang hati kecil kita bertanya “Iya kah ? Betulkah ?” sudah belajar teori ekonomi, tapi hati kecil berkata “Eh, kalau aku buat ini, bisa dapat untung tidak ya?”

4. Melaksanakan

Setelah kita mengetahui, faham dan yakin dengan ilmu-ilmu Islam, kita mesti bertindak dan mengamalkannya. Perintah fardhu dan sunnat mesti dilaksanakan; perintah haram dan makruh mesti ditinggalkan. Manakala yang sunat kita laksanakan sejauh yang termampu.

5. Bermujahadah

Walaupun hati sudah terbuka, rindu dan suka dengan Islam, sudah faham Islam dan yakin dengan yang difahami itu, tapi bila hendak bertindak, masya-Allah, rupanya bukan musuh lahir, seperti Yahudi dan Nasrani yang menghalang, tapi musuh dalam diri kita, yaitu nafsu. Nafsu itulah yang lebih jahat dari syaitan. Setan tidak dapat mempengaruhi sesorang kalau tidak meniti di atas nafsu. Dengan kata-kata yang lain, nafsu adalah jalan raya untuk setan. Kalau nafsu dibiarkan, akan membesar, maka semakin luaslah jalan raya setan. Kalaulah nafsu dapat diperangi, maka tertutuplah jalan setan dan tidak dapat mempengaruhi jiwa kita. Sedangkan nafsu ini sebagaimana yang digambarkan oleh Allah sangat jahat.

“Sesungguhnya hawa nafsu itu sangat membawa pada kejahatan”

Jadi seseorang itu mesti sanggup melawan hawa nafsu. Kalau tidak banyak ajaran Islam yang terabai, banyak perintah Allah dilalaikan. Bila tidak dapat melawan hawa nafsu, banyak larangan Allah yang akan dibuat. Jadi hanya dengan melakukan mujahadatunnafsi, barulah ajaran Islam itu dapat kita amalkan sungguh-sungguh dan barulah maksiat lahir dan batin dapat kita tinggalkan, karena nafsu yang sangat menghalang itu sudah tidak ada lagi. Nafsu itu sudah kita didik, sudah kita kalahkan, dan sudah menjadi tawanan kita.

6. Istiqamah Beramal

Beramal jangan bermusim, jangan ada turun naiknya. Kalau sudah beribadah, mesti terus beribadah. Kalau sudah berukhuwah, terus berukhuwah. Kalau tinggalkan maksiat, terus tinggalkan. Jangan sekali buat sekali tinggalkan. Begitu juga kalau berjuang, berdakwah dan sebagainya, hendaklah berjuang dan berdakwah terus. Jangan kadang-kadang beribadah, kadang-kadang tidak, kadang-kadang berdakwah, kadang-kadang tidak. Jadi mesti mengamalkan baik perintah suruh dibuat secara istiqamah maupun perintah larangan itu ditinggalkan secara istiqomah juga. Dengan kata lain, beramal hendaklah secara tetap, secara rajin dan terus menerus. Ini yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW :

“Sebaik-baik amalan itu, yang dibuat secara istiqamah sekalipun sedikit”.

Apa yang dimaksudkan sedikit? jika tidak diuraikan, nanti ada mereka yang ambil kesempatan dengan berkata: “yang penting istiqamah, tetap Allah terima walaupun sedikit. Kalau begitu saya akan shalat saja sampai mati. Puasa, naik haji, berkorban dan sebagainya tak perlu dibuat”. Sebenarnya sedikit yang dimaksudkan oleh Rasulullah ialah amalan-amalan yang fardhu sudah ditunaikan. Yang fardhu ain selesai, kemudian ditambah pula dengan amalan yang sunat. Istiqamah amalan yang sunat, amalan wajib memang tidak dapat ditinggalkan.

Amalan yang istiqamah akan membuat kesan pada roh atau hati seseorang. Laksana titisan air, walaupun kecil dan lembut tapi jika ia meniti sepanjang masa, lama-kelamaan batu akan lekuk. Sebaliknya, air banjir yang datang setahun sekali atau dua tiga tahun sekali, walaupun besar tetapi tidak dapat melekukkan batu. Tegasnya, amalan sunat yang istiqamah sangat memberi kesan pada hati. Kesannya dapat dilihat pada gerak-gerik, membuahkan akhlak yang mulia. Sebaliknya amalan sunat yang dibuat walaupun banyak tetapi tidak secara istiqamah, tidak memberi bekas pada jiwa.

7. Ada Pemimpin yang Memimpin (Guru Mursyid)

Dapat memimpin baik di bidang ilmu, akal atau hati. Baik yang lahir maupun yang batin dan dalam semua hal hingga hidup kita ini dapat tertuju kepada Allah.

Dalam Islam, pemimpin yang dapat memimpin hidup kita itulah yang dikatakan mursyid. Asalnya dari perkataan ‘mursyidun’ maknanya orang yang memimpin. Setiap orang wajib ada pemimpin yang memimpin dirinya, baik dia ulama atau tidak, hafiz atau tidak, pakar Islam atau tidak, mualim atau tidak.

Orang yang memimpin (mursyidun) tidak sama dengan mua’llim. Juga tidak sama dengan ustad dan guru. Sebab mu’alim itu hanya memberi ilmu. Mereka hanya memandang luar. Tetapi mursyid yang dapat memimpin. Allah memberi padanya ilmu-ilmu yang luar biasa. Ada ilmu lahir dan batin. Bukan saja dia dapat memimpin akal, tetapi juga hati (roh) juga dipimpinnya. Walaupun mursyid itu seorang yang tidak hafal quran dan hadis. Sebab itu sebagaimana hebat alim seseorang itu, dia mesti punya pemimpin.

Memang guru pemimpin itu susah dicari. Apalagi di jaman sekarang yang sudah jauh dari Rasulullah. Orang yang jadi mursyid hanya dalam hitungan jari saja. Sebab itu mursyid kurang popular dan jarang disebut dalam kehidupan sehari-hari. Imam Ghazali r.h. berkata:

“Untuk mencari seorang mursyid, laksana mencari belerang merah”

Begitulah susahnya untuk mencari mursyid. Sebab itu pimpinan sudah tidak ada lagi di kalangan umat Islam hari ini. Maka berjuang pun hanya main-main akal, beribadah sesuka hati, bertindak sembrono, tidak diukur secara ilmu lagi. Jadi perlu ada guru yang mursyid, yang dapat memimpin ilmu dan amalan kita, yang memimpin lahir dan batin kita. Guru mursyid ini menjadi tempat kita merujuk walau dalam hal keci sekalipun.

Tetapi di sinilah banyak yang tidak faham termasuk alim ulama. Sebagiannya berkata “kalau kita sudah berguru ke satu tempat, jangan lagi berguru di tempat lain”. Ini satu fahaman yang salah. Sebenarnya guru mursyid yang tidak banyak, seorang saja. Tapi kalau guru sumber ilmu, lebih banyak lebih baik karena lebih banyak saluran untuk dapat ilmu. Imam Ghazali r.h. ada 1000 orang gurunya.

Guru pimpinan, tempat rujuk dalam semua hal hanya seorang saja. Dalam hal apapun mesti dirujuk kepadanya termasuk dalam hal yang mubah. Walaupun mubah, tetapi untuk dapat berkat mesti bertanya kepadanya. Lebih-lebih lagi kalau sudah menjadi arahannya wajib ditaati. Setiap arahannya sudah menjadi wajib arahdi, sebab mentaati pemimpin adalah wajib. Di sinilah kebanyakan kesalahan pejuang sekarang. Mereka sudah memiliki jemaah, tetapi bila ada masalah dalam jemaah dia rujuk pada ‘ulama luar jemaah’ atau dukun.

Jadi setiap orang yang ingin membaiki dirinya mesti ada mursyid yang akan memimpinnya, sekalipun dia ulama, alim, hafaz Al Quran dan pakar hadis. Kenapa ? Dalam ajaran Islam ini, ada ilmu yang datang dari akal, dan ada yang dari hati; ada lahir ada batin; ada yang tersurat dan ada yang tersirat. Kalau seseorang itu diberi ilmu yang tersurat, belum tentu dia akan diberi ilmu yang tersirat. Bukan semua muhaddisin akan diberi ilmu-ilmu hati. Oleh itu, walau ulama pakar sekalipun, mesti ada guru yang memimpinnya. Di sinilah banyak orang salah faham, terutama para ulama. Hati mereka berkata, “Saya sudah jadi ulama, alim, sudah mengajar profesor, sudah menjadi dosen, mengapa perlu pimpinan ? Saya dapat pimpin diri saya sendiri. Buat apa bersandar kepada orang lain ?” Sebab mereka merasa mereka banyak ilmu dan dapat pimpin diri sendiri. Lebih-lebih lagi mereka tidak mau dipimpin oleh guru yang mursyid.

Orang yang dapat memimpin ataupun mursyid, hanyalah orang yang pintu hatinya terbuka, yaitu yang mempunyai basyirah. Bukan sekedar akal saja terbuka. Banyak orang yang akalnya terbuka, hingga dapat menangkap ilmu, tapi orang yang hatinya terbuka tidak banyak. Mursyid itu ialah orang yang hatinya terbuka luas dan dapat memimpin orang lain. Dia tidak semestinya lebih alim daripada orang yang dipimpinnya. Imam Hambali umpamanya, dia tidak disebut ahli tasawuf sebab dia tidak mengarang kitab tasawuf, sebaliknya hanya mengarang kitab ilmu-ilmu lahir. Tetapi yang sebenarnya dia juga alim ilmu batin (karena semua Imam mahzab itu adalah mursyid dan pakar tasawuf). Dia tahu dan mengamalkannya. Menurut riwayat, Imam Hambali selalu merujuk kepada ulama-ulama, menziarahi bisyru al khafi, sering menziarahi ahli-ahli sufi di ujung negeri Baghdad.

Jadi setiap orang mesti mencari seorang guru mursyid untuk memimpin dirinya walaupun dia alim. Lahir dan batinnya perlu diserahkan kepada guru mursyid.

8. Berdoa Kepada Allah

Usaha kita tidak memberi bekas walaupun usaha itu diperintahkan oleh Allah. Kita sudah belajar, tetapi ilmu itu sebenarnya tidak memberi bekas. Kita bermujahadah, tetapi usaha kita membaiki diri itu tidak memberi bekas. Mursyid kita tidak memberi bekas walaupun kita disuruh mencari mursyid. Yang memberi bekas hanyalah Allah. Allah-lah yang menghitamputihkan nasib kita. Begitulah keyakinan kita. Sebab itu kita mesti selalu panjatkan doa kepada Allah agar Allah senantiasa memberikan hidayah dan taufik kepada kita.

Oleh karena yang muatsir hanyalah Allah, jadi tujuh hal yang diperkatakan diatas tidak muatsir, walaupun diperintah. Dia tidak memberi bekas. Sebab itulah mesti bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah. Bila Allah beri hidayah dan taufiq semua masalah selesai. Tidak ada masalah yang sulit. Yang besar jadi kecil, yang kecil lebih lagilah jadi terlalu kecil.

Begitulah teori ilmiahnya, 8 syarat yang ditempuh oleh seseorang itu agar ia menjadi orang soleh atau menjadi orang yang bertaqwa. Bila kita menjadi orang yang bertaqwa barulah kita akan dapat ganjaran dari Allah dunia dan Akhirat. Jadi sebelum kita menjadi orang yang bertaqwa selagi itulah Allah tidak akan bantu dan bela kita serta tiada jaminan daripada Allah SWT.

4 EMPAT TANDA MENJADI WALI ALLAH

1. Memiliki Pengetahuan Makrifat. Makrifat merupakan pengetahuan dan pengenalan akan Allah. Cara syariat umum mengetahui dan mengenal Allah melalui kumpulan dan penjelasan2 tentang Allah yg didapat melalui alQuran dan hadis dan dari buku2 para ulama. Ditingkat wali makrifat merupakan pemahaman batin tentang Allah, yg didapat melalui kedekatan dan keterhubungan dg Allah, hasil dari ibadah yg panjang dan dalam pada Allah. Kedekatan dg Allah menjadikan ilham2 mengalir kedalam jiwa para wali yg memberikan pemahaman yg dalam tentang Allah. Maka makrifat para wali adalah hasil ilham dari pengalaman langsung dg Allah, dan pemahaman langsung pada Allah.

2. Merasa Terhubung Dengan Allah Terus Menerus. Para wali merasa terhubung dg Allah terus menerus baik ketika dlm ibadah maupun ketika berada diluar ibadah. Kondisi jiwa para wali yg terhubung dg Allah terus menerus ini menjadi salah satu tanda para wali. Setiap saat jiwa para wali bersama Allah, dlm zikir yg permanen, terus menerus mengingat Allah, dan mengagungkan Allah. Berbeda dg orang2 tingkat syariat

hidupnya sebagian untuk dunia dan sebagian untuk akhirat. Para wali hidupnya sepenuhnya untuk Allah, beribadah pada Allah. Para wali hidupnya terhimpun dlm doa, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah Tuhan Semesta Alam.

3. Memberikan Berkah Dari Kehadirannya. Berada didekat wali dpt berpengaruh pada jiwa orang2 beriman. Ada ketenangan yg mengalir dari diri para wali yg menyebar kesekitarnya. Ini berasal dari jiwanya yg terhubung dg cahaya Allah. Jiwa wali yg terhubung dg Allah inilah yg memancarkan cahaya energi yg memberikan ketenangan dan kedamaian. Dan di tingkat wali tertentu dpt menaikkan spiritual, menaikkan iman dan rasa dekat kita pada Allah. Dalam alQuran dijelaskan, siapa yg memasuki makam Ibrahim akan aman Qs 3:47. Bekas tapak kaki Nabi Ibrahim saja dapat memberikan rasa aman. Para wali dirinya juga memberikan rasa aman, memberikan berkah dan karomahnya menolong dan doanya makbul memberikan manfaat.

4. Dapat Membimbing Menuju Allah. Ulama2 syariat [tingkat rukun islam] dpt memberikan pengetahuan bagi orang2 islam dlm beribadah pada Allah. Para wali disamping dpt memberikan pengetahuan, dpt membimbing jiwa orang2 beriman untuk mendekat dan sampai pada Allah. Para wali dikenal Alim, yaitu pemilik pengetahuan dan amal saleh, mereka juga guru mursyid dan sang pembimbing yg dpt mengantarkan orang2 beriman sampai pada Allah. Ulama syariat sampai pada Allah dg ingatan dan pengetahuannya, sdg para wali sampai pada Allah dg jiwanya. Para wali dpt menaikkan jiwa orang2 beriman menjadi bertakwa, bertawakal, ridha, ikhlas, mencintai Allah dan dicintai oleh Allah.

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan