WALI Katum sangat sederhana dalam berpakaian dan tempat tinggal, pada masa beliau masih belum mashur kewaliannya. Beliau hidup dalam sangat kekurangan. Baju yang sering beliau pakai, kaos putih 555, yang biasa dipakai untuk kaos dalam (baju lapisan). Wali Katum juga sering memakai sarung, yang juga itu itu terus setiap harinya. Kain sarung yang mudah dikenali dan dipotong sebagian kecil ujung itu lah, yang mengingatkan sepasang suami istri dari Kapuh Hulu Sungai Selatan mengaku bertemu dengan Wali Katum di Mekkah.

Sejak masih muda hingga berubah tangga dengan istrinya Saimah Mansur, Wali Katum sudah gemar akan ilmu agama.

Para ulama menyatakan bahwa syarat seorang wali itu adalah alim orangnya, karena dikatakan matazallah min wali jahil wala ta … al amah. Artinya Allah Ta ala, menjadikan seorang wali dari orang jahil dan jikalau Allah menjadikan si orang jahil itu wali, Allah akan ajari dulu ia ilmu. Itu syaratnyauntuk jadi wali.

Baca Juga : 85 Tingkatan, Pangkat dan Jumlah Wali Allah Ta’ala

Tanda tanda kewalian sudah nampak saat beliau berkumpul dengan istri dan anak-anak beliau. Ketika beliau sangat asik mempelajari ilmu pengetahuan agama, khususnya hakekat. Beliau pada anggota tubuhnya tunduk pada syariat, sembayang, puasa, beribadah, menjauhi yang haram-haram, melaksanakan yang diperintah Allah, menjauhi apa-apa yang dilarang Allah, berdzikir, bershalawat, amar ma’ruf nahi mungkar, karena seorang wali itu zahirnya tunduk pada syariat. Artinya, orang yang suka melakukan perbuatan maksiat, melanggar syariat, itu tidak akan masuk dalam golongan wali Allah subhanahu wata’ala.

Lalu pada batin hati beliau tenggelam dalam cahaya hakikat (halul fana), zahirnya syariat tetapi hatinya penuh dengan cahaya hakikat, kegembiraan dengan taat kepada Allah Subhanahu wa’ala. Bukan dengan makanan enak-neak, bukan dengan rezeki yang melimpah ruah, bukan dengan bertemunya dengan orang yang dicintai, bukan dengan berhasilnya usaha. Tetapi kegembiraan, bila bisa taat kepada Allah dan senang dengan zikrullah, selalu berzikir, hati yang selalu ingat dengan Allah subhanahu wata’ala serta hatinya hanya berpegang kepada Allah subhanahu wata’ala.

Karena begitu asiknya Wali Katumd alam beribadah, menuntut ilmu, mutala’ah kitab-kitab dan tenggelamnya beliau dalam hakikat, maka Wali Katum tidak bekerja lagi mencari nafkah untuk diri sendiri maupun untuk istri dan anak-anak beliau.

Ayah Wali Katum membantu memberikan nafkah kepada anak-anak dan istri Wali Katum. ” Bila ada kekurangan biaya ambil haja ka sini”, kata ayah Wali Katum, Katutut kepada menantunya Saimah binti Mansur.

Artinya, ayah Wali Katum mengerti dengan kondisi anaknya, yang tidak bekerja lagi, dan cukup sibuk dengan pekerjaannya beribadah dan menuntut ilmu. Ayah Wali Katum bersedia menanggung keperluan rumah tangga Wali Katum. Rumah ayah Wali Katum di desa Mahang, jaraknya sekitar 3 kilometer dari rumah Wali Katum atau kubah makamnya saat ini.

Wali Katum rajin beribadah dan terus menuntut ilmu agama. Kegembiraan, bila bisa taat kepada Allah dan senang dengan zikrullah, selalu berzikir, hati yang selalu ingat dengan Allah subhanahu wata’ala serta hatinya hanya berpegang kepada Allah subhanahu wata’ala.

Karena keadaannya yang suka menuntut ilmu dan menyendiri, Artum Ali meminta kepada ayahnya, untuk dibangunkan sebuah rampa atau gubuk di tanah palidangan milik ayahnya di Sungai Bubus. Wali Katum ingin lebih khusus dalam beribadah, khalwat dan uzlah. Lebih kurang 5 tahun Artum Ali bertempat tinggal di gubuknya. Di awal-awal istrinya kadang-kadang menjenguk bersama anak-anak. Hingga akhirnya, Artum Ali bercerai karena tinggal di gubuk di Sungai Bubus itu. Walaupun akhirnya kembali rujuk.

Di gubuk itulah, awal mula Artum ali membina diri, dalam kesendirian khalwat, uzlah dan tafakkur kepada Allah Subhanahu Wata ‘ala.

Taffakur adalah renungan. Disebutkan dalam sunah bahwa renungan sesaat lebih baik daripada ibadahmu setahun. Anjuran untuk berpikir, merenung, memeriksa dan mengambil pelajaran dapat diketahui dari ayat-ayat dan kabar-kabar karena ia adalah kunci pembuka cahaya-cahaya dan awal datangnya pertolongan serta penjaring ilmu.

Baca juga : Sifat-Sifat dan Ciri Wali Allah Ta’ala

***

Setelah kurang lebih 5 tahun Artum Ali bertempat tinggal di Sungai Bubus, akhirnya beliau pindah ke Desa Tabudarat, di belakang madrasah yang sekarang ini menjadi Taman Pendidikan Al Qur’an.

Atap rumah Artum ali renggang, bolong-bolong. Dinding rumah terbuat dari daun rumbia. Keluar masuk rumah, lewat bawah atau kolong rumah, karena tidak ada pintu. Kelambu tempat tidur berdampingan dengan dapur untuk memasak. Sambil rebahan, Artum Ali sambil memasak dengan menggunakan pelepah daun nyiur (undayang), pelepah pisang yang masih hijau. Apanya kadang menyala, kadang padam. Tapi nasinya tetap masak. Padahal yang jadi pancinya tempurung, kadang rimpang (panci tebal tapi sudah rusak). Anak-anak kecil senang masuk ke rumah Artum Ali, karena gubuk beliau berdampingan dengan madrasah.

Suatu hari saat madrasah diperbaiki, hujan turun dengan lebat. Para tukang numpang berteduh di pondok Wali Artum. Anehnya, tidak kehujanan. Padahal atapnya renggang dan sudah bolong-bolong.

Baca Sebelumnya RIWAYAT HIDUP WALI KATUM, SEDIKIT MAKAN, SEDIKIT BICARA, SEDIKIT TIDUR BANYAK BERIBADAH

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan