Mengenal Rohana Kudus, Wartawan Perempuan Pertama yang Jadi Pahlawan Nasional

Demi mewadahi pemikiran perempuan dan memperjuangkan nasib kaumnya, ia mendirikan Soenting Melajoe.

Rohana Kudus. (Betaria Sarulina/Historia).

ROHANA Kudus, wartawan perempuan pertama Indonesia, ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat (8/11/ 2019). Keputusan ini didapat dari hasil pertemuan antara Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan dengan Presiden Joko Widodo pada Rabu (6/11/2019). Rapat tersebut membahas tentang usulan calon Pahlawan Nasional 2019 yang terdapat dalam Surat Menteri Sosial Rl nomor: 23/MS/A/09/2019 tanggal 9 September 2019.

Penetapan ini menjadi kabar baik untuk Pemerintah Sumatera Barat yang sudah mengusulkan nama Rohana Kudus sebagai pahlawan nasional sejak 2018. Rohana Kudus atau Sitti Rohana merupakan perempuan pejuang asal Sumatera Barat. Ia lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, pada 20 Desember 1884. Ayahnya, Moehammad Rasjad Maharadja Sutan seorang Hoofd Djaksa (Kepala Jaksa) di pemerintah Hindia Belanda, sedangkan ibunya bernama Kiam.

Baca Juga : Adinegoro, Penulis Buku Perjalanan Wartawan Pertama

Rohana tumbuh dalam keluarga moderat yang gemar membaca. Sejak kecil ia punya kesempatan untuk mengakses bacaan lewat buku, majalah, dan suratkabar yang dibeli ayahnya. Kegemaran membaca ayahnya ditularkan pada Rohana. Meski tak mengenyam bangku sekolah formal, atas didikan ayahnya, di usia lima tahun Rohana sudah mengenal abjad latin, Arab, dan Arab Melayu.

Ketika Rohana berusia enam tahun, ayahnya pindah tugas ke Alahan Panjang sebagai juru tulis. Di sana ia bertetangga dengan Jaksa Alahan Panjang Lebi Jaro Nan Sutan. Lantaran tak punya anak, pasangan Sutan dan Adiesa menganggap Rohana sebagai anak sendiri. Adiesa sering memanggil Rohana untuk main di rumahnya. Di sana, Rohana tak semata main tapi juga diajari baca-tulis-hitung.

Setelah dua tahun diajari Adiesa, Rohana bisa menulis dalam huruf Arab, Arab Melayu, dan latin. Ia juga sudah bisa berbahasa Belanda di usia 8 tahun.

Untuk memperdalam kemampuan Rohana, ayahnya berlangganan buku dongeng anak terbitan Medan, Berita Ketjil. Terkadang sang ayah juga membelikan buku cerita terbitan Singapura atau mendapat oleh-oleh buku anak dari rekannya yang pegawai Belanda. Buku-buku itulah yang dilahap Rohana kecil.

Menulis untuk Membela Nasib Perempuan

Rohana amat peduli dengan nasib perempuan. Ketidaktersediaan sekolah untuk pribumi putri mendorong Rohana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia, sekolah kaum putri yang mengajarkan keterampilan.

Rohana tak berhenti berjuang hanya dengan mendirikan sekolah. Lewat diskusi dengan suaminya, Abdul Kudus, Rohana menceritakan keinginannya untuk memperluas perjuangan. “Kalaupun hanya mengajar, yang bertambah pintar hanya murid-murid saya saja. Saya ingin sekali berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan kaum perempuan di daerah lain sehingga bisa membantu lebih banyak lagi,” kata Rohana pada suaminya, seperti ditulis Fitriyanti dalam Rohana Kudus, Wartawan Perempuan Pertama Indonesia.

Setelah diskusi itu, Rohana mengirim surat kepada Datuk Sutan Maharadja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe, di Padang. Rohana menyampaikan keinginannya agar perempuan diberi kesempatan mendapat pendidikan sama seperti lelaki. Ia juga mengusulkan agar Oetoesan Melajoe memberi ruang pada tulisan perempuan.

Maharadja merupakan wartawan senior yang bijaksana dan kebapakan. Ia amat tersentuh membaca surat Rohana. Lantaran itu pula ia rela ke Koto Gadang untuk menemui perempuan cerdas yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal itu.

Baca Juga : Dilarang Sultan Kutai ke Tring, Carl Bock Dihadiahi Tengkorak oleh Kepala Suku Dayak Pemakan Manusia

Dalam pertemuan itu, Rohana menyampaikan bahwa idenya tidak sebatas pemberian ruang bagi tulisan perempuan di Oetoesan Melajoe, melainkan juga menerbitkan surat kabar yang dikhususkan untuk perempuan. Namun, Rohana tidak bisa mengurus itu seorang diri karena tidak bisa meninggalkan Sekolah Kerajinan Amai Setia.

Sekolah Kerajinan Amai Setia yang didirikan Rohana Kudus. (Repro Rohana Kudus, Srikandi Indonesia).

Maharadja lantas mengusulkan agar anaknya, Ratna Juwita Zubaidah, yang akan mengurus keperluan di Padang. Usulan pembagian tugas ini disetujui karena dianggap cukup adil. Rohana dan Ratna Juwita akan sama-sama menulis. Sementara Ratna Juwita mengurus keperluan redaksi di Padang, Rohana mencarikan kontributor untuk mengisi rubrik-rubrik dalam suratkabar mereka.

Maka, terbitlah Soenting Melajoe. Kata “Sunting” dipilih karena berarti perempuan dan “Melayu” mewakili nama wilayah mereka. Singkatnya, surat kabar ini diperuntukan bagi perempuan di seluruh tanah Melayu.

Soenting Melajoe terbit pertama 10 Juli 1912. Surat kabar ini terbit seminggu sekali dengan panjang 4 halaman. Biaya langganannya mencapai f1.80 per tahun atau f0.45 per triwulan. Persebaran Soenting Melajoe tak hanya di hampir seluruh Minangkabau dan Sumatera, namun juga menjaungkau Malaka dan Singapura karena disirkulasikan bersama Oetoesan Melajoe. Oleh karena itu, ada pula biaya langganan untuk wilayah di luar Hindia Belanda, yakni f2.60 per tahun.

Tulisan yang dimuat Soenting Melajoe beragam. Selain berita terjemahan dari bahasa Belanda yang dikerjakan Rohana, koran ini juga menyajikan sejarah, tulisan para kontributor, hingga puisi.

Adanya wadah untuk menampung pikiran perempuan itu membuat Rohana semangat mengajak kawan-kawan dan muridnya untuk menulis di Soenting Melajoe. Di antara yang mengirim tulisannya, ada istri Wiria Atmadja dengan tulisan tentang obat sakit kolera pada terbitan tanggal 5 Oktober 1912. Lain waktu, pada Kamis 30 Januari 1913, Soenting Melajoe memuat puisi salah satu murid Rohana.

Rohana dan Ratna Juwita sudah barang tentu menulis di setiap edisi. Pada Sabtu, 7 Agustus 1912, lewat artikel berjudul “Perhiasan Pakaian”, Rohana membahas keterampilan perempuan Minangkabau dalam menjahit dan merangkai manik-manik atau hiasan untuk pakaian. Ia menyoroti beberapa jenis keahlian tidak diturunkan sempurna dari nenek ke anak cucu mereka. Padahal, menurut Rohana, jika keahlian itu diturukan dengan baik dan ditekuni, hasilnya bisa mendatangkan keuntungan finansial bagi perempuan. Intinya, Rohana mengajak para perempuan untuk berbisnis dengan modal keterampilan menghias baju.

Rohana bersama murid-muridnya (kiri). Rohana di usia senja (kanan). (Repro Rohana Kudus, Srikandi Indonesia).

“Sayang sekali kepandaian kita itu tidak dimajukan terus dan tidak dihikmatkan supaya kian lama bertambah halus dan bersih perbuatannya sampai boleh menjadi barang perniagaan seperti di bangsa lain,” tulis Rohana dalam artikel itu.  

Adanya Soenting Melajoe membuat Rohana menjadi lebih sibuk. Disiplin mengatur waktu pun ia terapkan agar semua kegiatannya bisa berjalan lancar. Seperti ditulis Tamar Djaja dalam Rohana Kudus, Srikandi Indonesia, dalam sehari Rohana akan mengajar selama dua jam di sekolahnya, dua jam pula ia sempatkan untuk mengurus perkumpulan perempuan, dan malamnya ia fokuskan untuk menulis artikel di Soenting Melajoe.

Baca Juga :Lahirnya Pers Islam di Indonesia

Kiprah Rohana dalam bidang jurnalistik tak terbatas pada penerbitan Soenting Melajoe. Ketika pindah ke Medan tahun 1920, ia berpartner dengan Satiman Parada Harahap untuk memimpin redaksi Perempuan Bergerak. Sekembalinya ke Minangkabau pada 1924, Rohana diangkat menjadi redaktur di suratkabar Radio, harian yang diterbitkan Cinta Melayu di Padang.

Tulisan-tulisan Rohana kebanyakan berisi ajakan pada kaum perempuan agar lebih maju. Ia pun mengkritik praktik pergundikan yang dilakukan orang-orang Belanda kepada perempuan Indonesia, pekerjaan tak manusiawi di Perkebunan Deli, dan permainan para mandor yang menjebak buruh-buruh perempuan dalam prostitusi.

“Aku ingin berbuat lebih banyak lagi untuk menolong kaum perempuan,” kata Rohana.

Perjuangan Rohana dalam Pendidikan Kaumnya

Kepeduliannya pada pendidikan perempuan sudah ada sejak Rohana masih belia. Landasan baginya untuk terus mengajar dan memajukan kaum perempuan.

Bangunan sekolah Kerajinan Amai Setia. Sumber: Rohana Kudus, Srikandi Indonesia.

KENDATI masih berusia delapan tahun, sebagai gadis tertua Sitti Rohana (Kudus) mendapat tugas menjaga dua adiknya, Ratna dan Ruskan. Rohana tak merasa terbebani. Sembari menjaga, Rohana biasa menjalankan hobinya membaca dan menulis.

Terkadang, Rohana membacakan cerita pada dua adiknya itu di teras rumah. Orang-orang yang lewat pun menyaksikan Rohana dengan perasaan heran sekaligus kagum. Kala itu di Simpang Tonang Tolu, Pasaman, Minangkabau, amat jarang anak perempuan bisa membaca dan menulis, terlebih huruf latin. Alhasil, anak-anak lain ikut berkumpul di rumah Rohana untuk mendengarkan kisah yang ia bacakan.

Keluarga Rohana merupakan pendatang di Simpang Tonang Tolu. Mereka mulai tinggal di sana pada 1892. Kampung halaman keluarga Rohana berada di Koto Gadang. Profesi ayahnya, Moehammad Rasjad Maharadja Sutan, sebagai Hoofd Djaksa (Kepala Jaksa) di pemerintah Hindia Belandalah yang membuat keluarga itu sering pindah mengikuti kepindahan tugas Sutan.

Baca Juga : Apakah Benar Orang Dayak adalah Pemburu Kepala serta Memiliki Ekor

Dua tahun sebelum tinggal di Simpang Tonang Tolu, Rohana dan keluarga tinggal di Alahan Panjang. Di sana, Rohana punya ibu angkat bernama Adiesa yang gemar mengajarinya berbahasa Belanda, membaca, dan menulis.

Keresahan akan minimnya akses pendidikan untuk anak-anak perempuan sudah dirasakan Rohana sejak kecil. “Ayah, mengapa hanya anak laki-laki yang diperbolehkan sekolah? Kapan ada sekolah untuk anak perempuan di sini? Kapan saya bisa sekolah?” tanya Rohana kecil.

Beruntung, ayah Rohana bisa memahami kesedihan anaknya dengan cara rutin menyuplai bacaan anak di samping berlangganan koran dan majalah. Dari koleksi bacaan itulah Rohana menambah pengetahuannya.

Alhasil, meski tak pernah merasakan bangku sekolah formal, Rohana beruntung karena ayah, ibu, dan orang-orang sekitarnya mengajarkan kemampuan baca-tulis-hitung dan keterampilan lain seperti menjahit dan menyulam.

Rohana pun tak pelit berbagi ilmu. Ia senang sekali ketika teman-teman sebayanya menyimak apa yang ia baca. Di antara tetangga Rohana yang suka mendengarkan ceritanya, ada pula yang tertarik belajar membaca dan menulis. Mereka minta dituliskan nama masing-masing di telapak tangannya. Begitu melihat tulisan namanya, anak-anak perempuan itu amat gembira dan mencoba menghafal goresan di tangannya.

Kadang, Rohana membawa buku bacaan atau majalah langganan ayahnya ke teras rumah. Di sanalah ia akan bersenang-senang bersama teman-temannya. Membacakan cerita lucu dengan lantang sambil mengajari mereka cara membaca. Dari situlah Rohana mulai mengajari teman-teman dan tetangganya baca-tulis.

“Ayah, saya punya cita-cita. Saya ingin melakukan sesuatu untuk mengubah perlakuan tidak adil pada perempuan terutama di bidang pendidikan dan pekerjaan,” kata Rohana kecil seperti dikutip Fitriyanti dalam Wartawan Perempuan Pertama Indonesia: Rohana Kudus.

Setelah beberapa tahun di Simpang Tonang Talu, Rohana kembali ke kampung halamannya pada 1901. Kala itu usianya 17 tahun dan ibunya, Kiam, sudah empat tahun meninggal ketika melahirkan anak paling kecil. Ayah Rohana lantas menikah lagi dengan Asiah, adik Kiam.

Di Koto Gadang, Rohana tinggal di rumah neneknya, Tuo Tarimin, dan ibu tiri sekaligus bibinya. Di rumah itu tinggal pula adik neneknya, Tuo Sini, yang amat dekat dengan Rohana. Kedua neneknya inilah yang mengajari Rohana menjahit, menyulam, dan menganyam.

Membangun Amai Setia

Di kampung halamannya, keinginan Rohana untuk memajukan pendidikan kembali tumbuh. Ia pun membuka kelas kecil di salah satu kamar di rumah neneknya. Selain tulis-menulis, kegiatan lain yang diajarkan Rohana ialah menjahit, menyulam, merenda, dan menenun. Mulanya, murid Rohana hanya tetangga-tetangga perempuan sebayanya. Lambat laun, yang datang makin beragam, tak terkecuali ibu-ibu dan anak-anak lelaki yang tak sekolah.

Makin bannyaknya murid membuat Rohana berpikir untuk membuka sekolah. Untuk mewujudkan keinginan itu, Rohana menjaring dukungan dari para tokoh perempuan setempat. Ia lantas meminta bantuan Ratna Puti, istri seorang jaksa. Lewat bantuan Ratna Puti, sekira 60 perempuan yang terdiri dari istri para pemuka adat, agama, dan pejabat daerah (para Bundo Kanduang) berhasil diundang dalam pertemuan perempuan Koto Gadang. Dalam pertemuan itu, Rohana mengutarakan pentingnya membuka sekolah bagi anak perempuan di Koto Gadang untuk menyiapkan mereka menjadi orang yang mandiri.

“Khususnya bagi perempuan dari kalangan tidak mampu. Apabila perempuan bisa mencari nafkah untuk diri sendiri, paling tidak, kaum perempuan tidak akan bergantung pada orang lain. Hidup terus berjalan, masalah selalu ada. Kita tidak bisa diam dan hanya menangis,” kata Rohana dalam pertemuan tersebut.

Pidato itu menggugah hati para Bundo Kanduang. Alhasil, mereka sepakat membentuk perkumpulan Kerajinan Amai Setia (KAS) pada 11 Februari 1911. Perkumpulan ini selanjutnya mendirikan sekolah kepandaian putri, mengajarkan baca-tulis huruf Arab, Arab-Melayu, dan latin. Rohana duduk sebagai presiden perkumpulan KAS dan sebagai direktris perguruan itu. Peresmian sekolah KAS disambut baik masyarakat dan beberapa orang Belanda dari jawatan pendidikan.

Baca Juga : Wali Katum

Namun, sekolah KAS tak punya bangunan sendiri. Lokasi kelas masih di rumah nenek Rohana meski muridnya sudah bertambah banyak. Ruangan itupun menjadi sesak. Sementara, untuk membangun sekolah KAS Rohana tak punya uang. Ia lalu meminta bantuan pemerintah untuk membuat lotere, “permainan” yang sering dipilih pemerintah kolonial untuk mengumpulkan uang dari warganya.

Setelah mengajukan rekes (surat permohonan), Rohana mendapat izin pemerintah untuk mengadakan lotere. Dikisahkan Tamar Djaja dalam Rohana Kudus, Srikandi Indonesia, uang yang berhasil dikumpulkan dari permainan lotere itu mencapai 10.000 gulden. Hasil lotere itulah yang digunakan Rohana untuk membangun gedung sekolah KAS.

Pada 1917, Rohana yang sudah menikah dengan Abdul Kudus pindah ke Bukittinggi. Dengan dukungan suaminya, Rohana mendirikan Rohana School di rumah kontrakannya. Kerier mengajarnya terus berlanjut. Ketika berada di Medan, serikat kaum guru di sana memintanya menjadi guru Sekolah Dharma dengan gaji 50 gulden. Upah itu cukup tinggi mengingat gaji sebesar itu biasanya diterima oleh guru lulusan kweekschool.

Di tempat barunya ini, Rohana terus menyebarkan pemikirannya bahwa perempuan harus mandiri dan berdaya. “Perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik, tidak untuk ditakut-takuti, dibodoh-bodohi, apalagi dianiaya,” kata Rohana.

Tulisan ini juga sudah diterbitkan historia

Penulis : Nur Janti

Editor : Akhmad Zailani

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan