PENDAHULUAN

Di Pedalaman Borneo. Perjalanan dari Pontianak ke Samarinda 1894 , oleh Dr. Anton W. Nieuwenhuis, penyingkatan teks oleh Drs. Jan B. Avé, diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh Ny. T. Slamet dan Ny. P. G. Katoppo, kata pengantar oleh Prof. Dr. Koentjaraningrat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama & Borneo Research Council, 266 p., 62 foto; pp. xiii-xxii [Edisi pertama: In Centraal Borneo , Leiden: Brill, 1900, 2 jilid].

Dr Anton Willem Nieuwenhuis. Dr Anton Willem Nieuwenhuis (sumber Eigen Haard, 1902)

Sejarah eksplorasi kolonial di Borneo  

Pada abad ke-19 mulai tahap baru dalam sejarah kolonial, yang berakar pada situasi yang telah berkembang di pertengahan abad ke-18 ketika Inggris dan Belanda, dengan menggunakan kekerasan atau intimidasi, berhasil mendapat kedudukan di Borneo. Beberapa petualang, seperti Alexander Hare di Banjarmasin (1812), James Erskine Murray di Kutai (1844), James Brooke (1842) dan Robert Burns (1848) di Sarawak, berupaya mendirikan kerajaan bagi dirinya sendiri, yang satu lebih berhasil daripada yang lain. Lain lagi, seperti Müller (1825) dan Dalton (1828), menjelajahi Borneo atas nama negara mereka.

Walaupun Belanda sampai saat itu mengacuhkan Borneo demi pulau-pulau lain yang lebih menguntungkan, sukses James Brooke di Sarawak membangkitkan minat baru. Di bagian selatan, pada tahun 1840-an, Belanda memaksa para sultan di pesisir menandatangani perjanjian niaga, kemudian membuat mereka mengakui perwalian pemerintah Belanda. Maka eksplorasi-eksplorasi pertama ke pedalaman dapat dimulai dengan sungguh-sungguh: Schwaner di Barito, van Lijnden, Veth, dan von Kessel di Kapuas, Weddik di Mahakam.

Menjelang pertengahan abad ke-19, Belanda telah berhasil menguasai daerah-daerah pesisir dan perdagangan di muara semua sungai besar. Tentara mereka terpaksa melakukan intervensi terhadap sultan-sultan yang memberontak, seperti dalam Perang Banjarmasin (1859-1863), kemudian dalam Perang Wangkang (setelah 1870), serta terhadap suku-suku yang bersikap bermusuhan di hulu-hulu sungai, seperti suku Ot Danum dan Tebidah (di tahun 1890-an).

Sementara, Rajah Brooke dapat memperluas wilayahnya dengan merugikan Sultan Brunei, dan juga dapat menguasai daerah pedalamannya dengan menaklukkan orang Kayan yang perkasa (Ekspedisi Besar Kayan tahun 1863) dan beberapa kelompok suku Iban (antara 1868 dan 1919). Di Sabah, Inggris menetap di Labuan pada tahun 1846. Di tahun 1860-an, Spencer St. John menjelajahi daerah Sungai Limbang dan mendaki Gunung Kinabalu, yang merupakan gunung tertinggi di antara Pegunungan Himalaya dan Irian. British North Borneo Chartered Company, yang mengambilalih kekuasaan di Sabah pada tahun 1881, terpaksa memerangi beberapa pemberontak – antara lain, Mat Salleh yang kesohor. Penemuan minyak bumi dan batubara pada tahun 1880-an di Borneo mengawali integrasinya di dunia luas.

Penguasaan niaga saja ternyata tidak lagi cukup, dan kekuatan-kekuatan kolonial sekarang membutuhkan penguasaan teritorial yang sesungguhnya, yang berdasarkan struktur-struktur administratif dan militer. Dalam rangka baru inilah ekspedisi-ekspedisi besar dilakukan, pada perempat akhir abad ke-19, dengan tujuan wilayah-wilayah yang sampai saat itu masih merupakan “daerah putih di peta”: daerah Rejang Hulu (Hugh Low, di tahun 1880-an), Baram Hulu (Charles Hose, antara 1884 dan 1907), Mahakam (Tromp, di tahun 1880-an), dan Kapuas Hulu (Nieuwenhuis, mulai 1893 dan seterusnya).


Anton Willem Nieuwenhuis in Borneo 1902
Sumber : Eigen Haard 1902 . Author nvt

Dasawarsa terakhir abad ke-19 juga menandai penghentian semua konflik bersenjata yang besar. Penting disebut juga, tahun 1894 diadakan perdamaian akbar Tumbang Anoi, di Sungai Kahayan Hulu, di mana para wakil dari tigapuluh suku Dayak sempat berkumpul dari Mei sampai dengan Juli 1894. Eksplorasi lebih lanjut lalu menyusul pada tahun-tahun pertama abad yang baru – oleh Knappert di kawasan Mahakam, Enthoven di Kapuas Hulu, Stolk di Sungai Busang, van Walchren di Apokayan – dan seterusnya sehingga, di tahun 1930-an, seluruh pedalaman Borneo telah jatuh di bawah kekuasaan sebenarnya dari kekuatan-kekuatan kolonial, terkecuali Kesultanan Brunei yang sudah sangat menciut.

Wilayah perbatasan antara Kapuas dan Mahakam merupakan salah satu wilayah yang paling terpencil di Borneo. Di sebelah timur, daerah Mahakam Hulu, yang terisolasi oleh jeram- jeram yang sangat berbahaya, di mana suku Kayan-Mahakam, suku Busang (termasuk sub-suku Uma’ Suling dan lain-lain), serta suku Long-Gelat (sebuah sub-suku dari Modang) menempati dataran-dataran yang subur, sedangkan suku Aoheng mendiami daerah berbukit-bukit. Di sebelah barat, daerah Kapuas Hulu, dengan kota niaga kecil Putussibau dikelilingi oleh desa-desa Senganan (orang Islam), Taman, dan Kayan dan, lebih ke hulu lagi, dua desa kecil Aoheng dan Semukung. Di antara keduanya, sebuah barisan pegunungan yang besar mencapai ketinggian hampir 2000 M didiami oleh suku nomad Bukat (atau Bukot) dan Kereho (atau Punan Keriau) serta suku semi-nomad Hovongan (atau Punan Bungan). Orang asing pertama yang mencapai dan melintasi barisan pegunungan ini adalah Mayor Müller, pada tahun 1825, tetapi ia tidak sempat menceritakan pengalamannya.

Nasib malang Mayor Müller  

Georg Müller, seorang perwira zeni dari tentara Napoleon I, sesudah Waterloo masuk dalam pamong praja Hindia Belanda. Mewakili pemerintah kolonial ia membuka hubungan resmi dengan sultan-sultan di pesisir timur Borneo.

Pada tahun 1825, kendatipun Sultan Kutai enggan membiarkan tentara Belanda memasuki wilayahnya, Müller memudiki Sungai Mahakam dengan belasan serdadu Jawa. Hanya satu serdadu Jawa yang dapat mencapai pesisir barat.

Berita kematian Müller menyulut kontroversi yang berlangsung sampai di tahun 1850-an (van Kessel 1849-55, van Lijnden & Groll 1851, Veth 1854-56, Hageman 1855), dan dihidupkan kembali sewaktu-waktu setiap kali informasi “baru” timbul (Molengraaff 1895b, Nieuwenhuis 1898 dan 1900, Enthoven 1903).

Sampai tahun 1950-an pengunjung-pengunjung daerah itu masih juga menanyakan nasib Müller (Helbig 1941, Ivanoff 1955). Sampai hari ini hal-hal sekitar kematian Müller belum juga terpecahkan.

Memang, daerah ini tetap merupakan terra incognita sampai 1894. Namun diperkirakan Müller telah mencapai kawasan Kapuas Hulu dan dibunuh sekitar pertengahan November 1825 di Sungai Bungan, mungkin di jeram Bakang, di mana ia harus membuat sampan guna menghiliri Sungai Kapuas – pada saat itu ia berada hanya beberapa hari pelayaran dari tempat yang aman. Sangat mungkin bahwa pembunuhan Müller merupakan perintah dari Sultan Kutai — disampaikan melalui satu suku ke yang berikut sepanjang Mahakam — dan akhirnya dilakukan oleh sebuah  suku setempat, barangkali suku Aoheng menurut dugaan Nieuwenhuis.

Karena Müller dibunuh di pengaliran Sungai Kapuas, maka dengan sendirinya Sultan tidak dapat dituding sebagai pihak yang bertanggungjawab. Bagaimanapun, ketika ekspedisi Nieuwenhuis berhasil melintasi daerah perbatasan hampir 70 tahun kemudian – pada hari nasional Perancis tahun 1894 -barisan pegunungan ini diberi nama Pegunungan Müller. Mari kita bicarakan Dr. Nieuwenhuis sekarang.

A. W. Nieuwenhuis  

Anton Willem Nieuwenhuis lahir pada tanggal 22 Mei 1864 di Papendrecht, Belanda. Ia belajar ilmu kedokteran pada Universitas Kerajaan Leiden dari 1883 sampai 1889. Pada tahun 1890 ia meraih gelar Ph.D. dalam ilmu kedokteran pada Universitas Albert-Ludwigs di Freiburg-im-Breisgau, Jerman, dengan tesis berjudul ” Ueber haematoma scroti “.

Ia masuk Angkatan Bersenjata pada tahun 1890 dan, pada tahun 1892, ditempatkan di Sambas, Borneo Barat, sebagai perwira kedokteran berdinas pada Tentara Hindia Belanda. Residen Borneo Barat, S.W. Tromp – yang berpengalaman dan sudah pernah melakukan perjalanan di Borneo Timur – memprakarsai tahap-tahap awal eksplorasi ilmiah Borneo.

Sesudah pertimbangan panjang lebar oleh komisi ilmiahnya (  Indisch Comite , yang bertindak sebagai badan penasehat),  Maatschappij tot bevordering van het natuurkundig onderzoek der Nederlandsche Kolonien  (Maskapai untuk Memajukan Penelitian Alam di Koloni-Koloni Belanda) di Amsterdam memutuskan untuk mengorganisir ekspedisi pertama. Tujuan utamanya adalah eksplorasi ilmiah Borneo Tengah, terutama daerah udik Sungai Kapuas dan cabang-cabangnya.

Ekspedisi Pertama (1893-94)  

Ekspedisi multidisipliner pertama ini (1893-94) beranggotakan Johann Büttikofer, kurator Museum Nasional untuk Pengetahuan Alam di Leiden, untuk bidang zoologi; H. Hallier, asisten pada Herbarium Kebun Raya di Buitenzorg (Bogor), untuk bidang botani; G.A.F. Molengraaff, untuk bidang geologi; dan Nieuwenhuis, untuk antropologi fisik dan etnografi, serta sebagai dokter.

Ekspedisi dimulai pada bulan Nopember 1893 dan dari markas ekspedisi di Semitau, di mana semua anggota akhirnya berkumpul pada tanggal 26 Pebruari 1894, berangkat menuju Sungai Mandai. Nieuwenhuis dan Büttikofer berdiam dari Maret sampai Mei 1894 di hulu Sungai Mandai, di desa Nanga Raun (yang kemudian menjadi kesohor sebagai rumah panjang terpanjang di Kalimantan Barat), di tengah suku Dayak Ulu Air (sebuah cabang dari suku Ot Danum yang sebenarnya menamakan dirinya sendiri Orung Da’an). Sementara itu, Molengraaff melakukan penelitian geologi. Lalu Nieuwenhuis dan Molengraaff kembali ke Putussibau untuk mempersiapkan perjalanan ke Mahakam.

Kontrolir Kapuas Hulu, van Velthuysen, ditunjuk untuk memimpin ekspedisi yang, di samping Nieuwenhuis dan Molengraaff, terdiri dari 19 prajurit Hindia Belanda, 5 kuli Melayu, 8 orang Iban Batang-Lupar selaku pembantu khusus Kontrolir, dan 85 orang Dayak Kayan dari Sungai Mendalam sebagai awak perahu dan pemikul barang. Mereka berangkat dari Putussibau dengan 24 sampan pada tanggal 15 Juni 1894.

Mereka melintasi perbatasan memasuki kawasan Mahakam pada tanggal 14 Juli – pertama kali seorang Eropa melakukan hal itu sejak tahun 1825. Tetapi situasi politik regional tidak banyak berubah sejak zaman Müller. Suku-suku di Mahakam sedang mengadakan persiapan-persiapan bersikap bermusuhan untuk menyambut mereka, begitulah berita yang disampaikan oleh seorang kurir Dayak yang baru kembali dari Mahakam, dan pada tanggal 15 Juli Kontrolir memutuskan untuk kembali. Ekspedisi tiba kembali di Putussibau pada tanggal 22 Juli.

Molengraaff dan Nieuwenhuis kemudian berpisah. Molengraaff menuju ke selatan, menyeberangi pegunungan ke Sungai Samba, dan memudiki Sungai Katingan (sekarang di Kalimantan Tengah), mengadakan pengamatan-pengamatan geologi dan etnografi dan tiba di Banjarmasin bulan Oktober 1894. Sementara, Nieuwenhuis berdiam di tengah suku Kayan di desa Tanjung Karang di Sungai Mendalam selama dua bulan (Agustus-September 1894). Ia menganggap suku Kayan sebagai kunci ke Mahakam Hulu, sebab mereka mempunyai hubungan dengan orang Kayan lain di situ, dan ia minta mereka janjikan akan membawanya melintasi perbatasan. Mereka menyatakan bersedia, dengan syarat ia tidak membawa pengawalan bersenjata.

Ekspedisi Kedua (1896-1897)

Pada tahun 1894 terjadi perang Lombok dan Nieuwenhuis ditempatkan di sana sebagai dokter tentara. Ia kembali ke Batavia pada tahun 1895 dan berlayar ke Pontianak dalam bulan Pebruari 1896. Ekspedisi kedua diorganisir, dengan tujuan-tujuan yang sama.

Ekspedisi kedua (1896-97) dipimpin oleh Nieuwenhuis dan beranggotakan F. van Berchtold untuk koleksi-koleksi zoologi; Jan Demmeni, fotografer; Midan, koki dan pembantu pribadi Nieuwenhuis; serta dua orang Sunda dari Buitenzorg, Jaheri dan Lahidin, bertanggung  jawab atas koleksi dan spesimen botanik. Nieuwenhuis kembali berdiam di Tanjung Karang, dari tanggal 7 April sampai 15 Juni untuk lebih menguasai bahasa Kayan dan belajar Busang, yaitu bahasa perantara di Mahakam Hulu. Demmeni tiba bulan Mei, dan langsung mulai mengambil foto (direproduksi dalam buku  In Centraal Borneo ).

Ekspedisi berangkat pada tanggal 3 Juli 1896 dari Putussibau, dengan duabelas sampan dan limapuluh awak perahu dari suku Kayan. Mengikuti jalan setapak sebelah selatan, mereka menelusuri Sungai Bungan dan Bulit, menunggu beberapa waktu di situ guna memeriksa ada tidaknya kerusuhan di Mahakam, lalu turun ke Sungai Penane dan Kaso di sebelah timur.

Rombongan mula-mula berdiam di tempat suku Pnihing – yang sebenarnya menamakan dirinya sendiri Aoheng – kemudian di tempat suku Kayan-Mahakam. Seluruhnya selama delapan bulan mereka menetap di Mahakam Hulu.

Suku Kayan dari Mendalam dan kepala mereka Akam Igau memegang peranan sangat penting dalam kelancaran ekspedisi. Jelas bahwa, tanpa bantuan Akam, Nieuwenhuis tidak pernah akan berhasil. Di seberang perbatasan, peran Kwing (atau Koeng) Irang, kepala suku Kayan-Mahakam, juga tidak dapat diremehkan.

Sesungguhnya Nieuwenhuis baru saja terjun ditengah-tengah situasi yang cukup kemelut, baik dari segi politik maupun ekonomi, di mana pihak-pihak setempat perlu memanfaatkannya sebagai sarana politik baru yang tersedia bagi mereka. Suku-suku merdeka di Mahakam Hulu terjepit di antara Kesultanan Kutai dan suku Iban dari Sarawak.

Sultan Kutai sedang berusaha agar mereka mengakui kekuasaannya dan memaksa mereka berdagang dengan dia; dan suku Iban – terutama setelah serangan masal mereka terhadap wilayah Mahakam Hulu tahun 1885, yang menghancurkan semua desa Aoheng dan kampung besar Koeng Irang – merupakan ancaman yang selalu terbayang. Koeng, kepala suku yang paling berpengaruh di Mahakam Hulu, berjuang keras agar daerahnya tetap bebas dari Kutai, yang telah menyebabkan suku-suku di wilayah hilir Mahakam banyak menderita karena campur-tangannya. Belare’, salah satu kepala Aoheng penting yang sedang bersaing untuk menempati kedudukan terkemuka, telah memihak pada Sultan Kutai, yang ingin mematahkan perlawanan Koeng Irang; sementara Paron, seorang kepala Aoheng lainnya, telah bersumpah setia kepada Sultan Banjarmasin.

Mungkin sekali, Belare’, karena memihak kepada Kutai, sempat mendalangi keresahan yang mencegah ekspedisi pertama memasuki wilayah Mahakam pada tahun 1894. Yang memungkinkan ekspedisi kedua sukses adalah Koeng Irang, karena ia segera menyadari bahwa Belanda kuat dan bisa merupakan kartu terupnya dalam persaingan politik lokal. Ia minta supaya Nieuwenhuis mengajukan petisi “atas nama semua suku Mahakam” kepada pemerintah Belanda agar langsung mengambilalih kekuasaan atas daerahnya. Tentu saja hal itu sangat menggembirakan Nieuwenhuis.    

Perjalanan menghiliri Sungai Mahakam berakhir pada tanggal 5 Juni 1897, ketika keenam anggota ekspedisi meninggalkan Samarinda dengan tujuan Surabaya dan Batavia. Sekembalinya di Batavia, Nieuwenhuis ikut berunding dengan para pejabat pemerintah dan meyakinkan mereka untuk membiayai ekspedisi ketiga, untuk meneliti cara dan sarana untuk memperluas pemerintahan Belanda sampai ke wilayah Mahakam Hulu dan Kayan Hulu agar membentuk kedamaian dan keamanan.

Ekspedisi Ketiga (1898-1900)  

Ekspedisi ketiga (1898-1900) dengan demikian terutama mempunyai maksud politik. Namun, tujuan etno-sosiologi dan medik yang sama juga dipertahankan. Kali inipun ekspedisi dipimpin oleh Nieuwenhuis dengan anggota Jan Demmeni; J.P.J. Barth, seorang kontrolir kelas satu, yang telah mempelajari bahasa Busang; H.W. Bier, seorang topografer; Midan, koki Nieuwenhuis; Sekarang dan Hamza, dua pegawai Jawa dari Kebun Raya Buitenzorg, untuk koleksi botani; dan Doris, seorang ahli taksidermi berasal dari Jawa, untuk koleksi zoologi.

Kali ini Nieuwenhuis membawa pengawal bersenjata terdiri dari 5 orang serdadu Hindia-Belanda untuk menghadapi gerombolan-gerombolan berkelana suku Iban yang mungkin ada. Ia telah melakukan perjalanan khusus ke Singapura untuk membeli manik-manik kaca dan gelang-gelang gading, yang tidak dapat diperoleh di Jawa. Sekali lagi ia memutuskan untuk pergi dari Barat ke Timur, karena ia tahu bahwa Sultan Kutai, yang ingin memperluas pengar-uhnya ke pedalaman, akan usahakan untuk menghalanginya jika ia mencoba mulai dari Timur.

Ekspedisi berangkat dari Pontianak pada tanggal 24 Mei 1898 dengan tujuan Putussibau, di mana mereka tiba bulan Juni. Tetapi karena orang Kayan di Mendalam sibuk dengan kegiatan-kegiatan pertanian mereka, ekspedisi baru dapat meninggalkan Putussibau pada tanggal 18 Agustus, dengan 25 sampan dan dilengkapi oleh Akam Igau dan 110 orang, kebanyakan Kayan dan beberapa Bukat, Beketan, dan Punan. Rombongan tanggal 15 September tiba di Pangkalan Howong (atau Huvung), titik tolak jalan setapak utara, dari Sungai Mecai, sebuah cabang Sungai Bungan, ke Sungai Huvung di Mahakam. Di situ mereka kehabisan makanan: “rumus beras” meleset dan mereka harus mengandalkan sagu. Untuk lebih memperburuk keadaan, Demmeni terserang malaria. Sesudah melakukan pekerjaan topografi singkat di daerah perbatasan, rombongan menuju desa Aoheng terdekat, di mana mereka tiba pada tanggal 24 September 1898.

Nieuwenhuis beserta rombongannya berdiam selama delapan bulan di wilayah Mahakam Hulu, mempelajari adat-istiadat serta bahasa-bahasa penduduk setempat, fauna dan flora, dan mendaki gunung-gunung untuk disurvai. Antara hasil lain, terdapat peta daerah itu – sampai 1993 ini masih yang terbaik – dan kamus Busang-Belanda karya Barth. Koleksi kerajinan rakyat juga dikumpulkan, sekarang berada di  Rijksmuseum voor Volkenkunde  di Leiden. (Perlu juga disebutkan koleksi yang dikumpulkan oleh Lumholtz dari daerah yang sama, sekarang di Oslo, Norwegia).

Tidak diketahui oleh Nieuwenhuis pada saat itu bahwa Belare’, kepala suku Aoheng itu, telah memutuskan – bahkan mencoba dua kali – untuk membunuhnya, barangkali atas perintah Sultan Kutai. Hal ini dilaporkan kemudian oleh Lumholtz, yang mengunjungi daerah ini tahun 1916. Untung saja Koeng Irang, yang tetap berusaha mendapatkan bantuan Belanda melawan Kutai dan sekutunya, berhasil menggagalkan usaha Belare’. Namun nyaris saja Nieuwenhuis mengalami nasib yang sama seperti Georg Müller.

Ekspedisi akhirnya menghiliri Mahakam dan mencapai Samarinda pada tanggal 9 Juni 1899. Barth beserta para pengawal, dan kedua kolektor tanaman, diberangkatkan lebih dahulu ke Jawa. Contoh-contoh tanaman dikirim ke Buitenzorg, dan koleksi fauna ke Museum di Leiden. Tidak lama kemudian, pada tanggal 17 Juni, Nieuwenhuis berangkat lagi menuju desa Long Blu’u, pemukiman Koeng Irang, ditemani oleh Bier, Demmeni, Doris, Midan, lima serdadu Melayu, dan empat pembantu Melayu.

Dari situ ia mengorganisir perjalanan survai ke sumber Mahakam dan ke Lasan Tuyan (sebuah sela gunung di perbatasan Sarawak), mulai tanggal 30 September. Dalam perjalanan pulang dari situ, salah satu sampan terbalik di tengah  jeram, untung hanya mengakibatkan kerugian material.

Perjalanan Nieuwenhuis ke Apokayan, yang telah dijadwalkan untuk tahun 1900, ternyata merupakan usaha yang rumit dan berkepanjangan. Sebagai wakil pemerintah kolonial Belanda ia melakukan kunjungan resmi kepada Sultan Kutai, yang menyatakan berkeberatan terhadap bagian kedua itu dari ekspedisinya.

Dari Oktober 1899 sampai April 1900, Nieuwenhuis menantikan pembicaraan lanjutan dengan Kutai untuk mencapai hasil yang memuaskan, tetapi Sultan bertekad untuk memanfaatkan bermacam-macam alasan untuk menghalangi perluasan pemerintahan Belanda sampai ke Borneo Tengah. Lagi pula, karena suku-suku di Mahakam Hulu dan suku Kenyah di Apokayan sedang bermusuhan, maka ternyata sulit sekali mendapatkan pemandu untuk memudiki Sungai Boh sampai ke dataran Apokayan.

Dalam bulan Mei 1900, Nieuwenhuis menempatkan rombongannya di kamp perintis di Long Boh, di mana kemudian Bier dan Demmeni bergabung. Setelah terjadi pertengkaran, Bier diperintahkan pulang. Namun Nieuwenhuis masih harus menunggu tiga bulan lagi. Akhirnya, bulan Juni, ada telegram: Wilayah Mahakam Hulu secara resmi telah ditempatkan di bawah pemerintahan Belanda, dan Barth akan ditugaskan di desa Long Iram sebagai kontrolir.

Pada tanggal 6 Agustus, ekspedisi akhirnya bertolak dari Long Boh dengan Koeng Irang, hanya untuk menghadapi kekurangan beras sekali lagi di dalam perjalanan. Sehingga pernyataan Smythies yang memuji Nieuwenhuis sebagai “seorang penjelajah yang efisien dan sukses” perlu dipertanyakan, karena kekurangan beras merupakan masalah yang sangat berat bagi suatu ekspedisi, yang pasti mengakibatkan situasi yang gawat.

Ekspedisi berdiam selama dua bulan di wilayah Apokayan. Banyak data dikumpulkan tentang orang Kenyah dan sejarah mereka. Karena sering diusik oleh serbuan suku Iban dari Sarawak, orang Kenyah sangat responsif terhadap tawaran Nieuwenhuis untuk mendapat perlindungan Belanda, namun mereka cemas bahwa hal itu akan menimbulkan amarah Rajah Brooke, dan mereka minta agar Nieuwenhuis menulis surat kepadanya. Rajah menjawab bahwa, karena Nieuwenhuis sudah berada di sana, ia tidak lagi ada urusan dengan Apokayan.

Ekspedisi memulai perjalanan kembali ke hilir Sungai Boh pada tanggal 4 Nopember 1900, tiba di Long Iram pada tanggal 3 Desember, dan di Batavia tanggal 31 Desember 1900. Kemudian Nieuwenhuis diangkat menjadi penasehat pemerintah untuk urusan Borneo.

Beberapa tahun kemudian (1903), seorang kontrolir lain, E.W.F. van Walchren, memudiki Sungai Berau sampai di Apokayan, di mana ia berdiam enam bulan – ia kembali lagi tahun 1906 untuk menyelesaikan perseteruan antar suku Kenyah.

Dalam tahun 1906 terdengar kabar bahwa Nieuwenhuis akan kembali ke Apokayan, namun Kapten L.S. Fischer lah yang datang (Juni sampai Oktober 1907), mungkin untuk mempersiapkan pos perintis militer pemerintah yang akan didirikan di Long Nawang.

Akhir Riwayat Sang Dokter

Sementara itu, Nieuwenhuis, yang selama perjalanan-perjalanannya tetap sehat wal’afiat, dalam tahun 1904 diangkat sebagai guru besar geografi dan etnologi (  Land- en Volkenkunde ) Hindia Belanda pada Universitas Kerajaan (  Rijksuniversiteit  ) Leiden, Fakultas Kesusastraan dan Filsafat (  Letteren en Wetenschappen ).

Pidatonya pada upacara pengukuhan, pada tanggal 4 Mei 1904, berjudul “Keadaan hidup bangsa-bangsa pada tingkat peradaban tinggi dan rendah”. Ia  juga menjadi editor dari majalah ilmiah terkemuka yang diterbitkan di Leiden, yaitu  Internationales Archiv für Ethnographie .

Di kemudian hari, barisan pegunungan antara Sungai Baleh di Sarawak dan Kapuas Hulu diberi nama Pegunungan Nieuwenhuis. Setelah karir akademik yang panjang sebagai pakar tentang Indonesia, Nieuwenhuis memutuskan untuk pensiun pada bulan Mei 1934. Kedudukannya diganti dalam tahun 1935 oleh J.P.B. de Josselin de Jong.

Nieuwenhuis meninggal di Leiden pada tanggal 21 September 1953, meninggalkan sejumlah besar karya ilmiah. Ketika menulis obituarinya, Bertling mengakui peranan perintisnya yang penting di bidang antropologi Indonesia, dan Smythies tidak segan-segan menamakannya “Dr. Livingstone-nya Borneo”.

Tiga Ekspedisi: Ekor dan Hasil  

Ekspedisi-ekspedisi Nieuwenhuis memenuhi tujuan-tujuan politiknya yang berjangka panjang dengan menghasilkan pendirian  pax neerlandica  di wilayah-wilayah ini yang diusik oleh perang dan pengayauan. Lagi pula para kontrolir, begitu mereka ditugaskan pada lokasi-lokasi di hulu sungai, mulai mengawasi kegiatan-kegiatan niaga dan memastikan bahwa suku-suku Dayak tidak ditipu secara sistematis dalam kegiatan barter mereka dengan pedagang-pedagang Melayu dan Cina. Belanda, dalam hal itu, sangat banyak mengikuti contoh yang diberikan pemerintahan Rajah Brooke di Sarawak.

Ekspedisi-ekspedisi ini menghasilkan peta-peta akurat dari daerah-daerah yang sampai saat itu belum pernah dikunjungi orang luar (termasuk pengaitan topografi pertama antara Borneo Barat dan Borneo Timur serta survai wilayah Mahakam: “daerah putih di peta” sudah tidak putih lagi), kajian-kajian linguistik (kamus Busang dari Barth), dan khasanah informasi etnografi dan sejarah mengenai suku-suku Dayak setempat.

Ekspedisi-ekspedisi itu juga mengumpulkan koleksi-koleksi zoologi dan botani yang penting; 1.500 kulit dari 209 spesies burung, 659 spesimen ikan (termasuk 51 spesies baru) dikirim ke Museum di Leiden; sekitar 2.000 spesimen tanaman dikirim ke Herbarium Buitenzorg; sejumlah contoh batu-batuan disimpan di Universitas Utrecht. Suatu spesies bulbul yang langka, tertangkap di Apokayan pada tahun 1900, diberi nama Nieuwenhuis. Sejumlah besar terbitan ilmiah didasarkan pada pengamatan dan koleksi ekspedisi-ekspedisi itu.

Pengamatan medik Nieuwenhuis, yang dimuat dalam beberapa karya tulis ilmiah, menunjukkan bahwa wabah cacar dan kolera, yang menyebar mulai dari pesisir ke arah udik, cukup lazim, sering meniadakan seperempat sampai sepertiga penduduk dari kampung yang tertular. Malaria dan sifilis kronis sangat lazim di wilayah Kapuas, Mahakam dan Apokayan. Pengamatan-pengamatan tersebut menarik perhatian pemerintah, yang tidak lama kemudian mendirikan stasiun-stasiun medis dengan dokter-dokter keliling di wilayah-wilayah itu.

Etnografinya Nieuwenhuis  

Melalui tulisan-tulisannya, Nieuwenhuis berjuang dengan bersikeras agar dihilangkannya pendapat umum bahwa orang Dayak hanyalah pengayau yang kejam. Ia berkali- kali menekankan bahwa “orang Dayak yang disebut haus darah, liar, dan pengayau itu, pada dasarnya adalah penduduk bumi ini yang paling lembut, cinta damai dan cemas”.

Namun, jelas bahwa tugas yang ditentukannya sendiri untuk membebaskan suku-suku di Borneo Tengah dari “sesuatu yang lebih parah dari kekafiran”, seperti dicatat oleh Smythies, tidaklah menyangkut perbudakan – walaupun memang ada budak dan mereka kadang-kadang dikorbankan – melainkan pengayauan kronis antar suku.

Bagaimanapun, Nieuwenhuis termasuk perintis yang mempopulerkan orang Dayak di kalangan ilmiah internasional. Atas dasar pengalamannya, Nieuwenhuis mengusulkan sebuah klasifikasi kelompok-kelompok etnis di Borneo Tengah yang, menurut Smythies, nyaris tidak dapat diterima lagi saat ini.

Namun, pernyataan Smythies jelas mencerminkan prasangka Sarawak yang umum nampak pada beberapa usaha – yang lebih baru – untuk mengklasifikasikan kelompok-kelompok etnis Borneo. Riset akhir-akhir ini, dengan jangkauan yang lebih luas, mungkin sekali akan menunjukkan bahwa pendapat Nieuwenhuis dalam hal ini tidak terlalu jauh meleset dari kenyataan.

Sejumlah pernyataan Nieuwenhuis tentang suku Kayan serta organisasi sosialnya, adat-istiadatnya, agamanya, kebudayaan materialnya, dan sejarahnya pernah dipertanyakan oleh Pastor A.J. Ding Ngo, yang juga orang Kayan dan sangat akrab dengan tradisi Kayan.

Memang bisa saja, karena masalah bahasa saja atau masalah lain, Nieuwenhuis salah memahami para informannya (atau sengaja dibohongi); atau, sebaliknya, bisa saja selama berdiam dengan orang Kayan pada tahun 1894 dan sesudah itu, ia mendapat data-data yang menentukan dari para informannya yang sudah lanjut usia, yang mungkin tidak diteruskan kepada generasi Pastor Ding. Tentu saja hal ini tidak dapat saya putuskan.

Akan tetapi perihal Aoheng, perlu dicatat bahwa sejumlah nama tempat dan orang tidak disalin dengan benar. Mungkin sekali, kemampuan linguistik Nieuwenhuis tidak sebaik Barth – dan kemampuan Barth tidak juga begitu hebat. Nieuwenhuis dapat berbicara sedikit bahasa Busang – dialek Uma’ Suling, bahasa perantara Mahakam Hulu – yang ia menggunakan dalam hubungannya dengan orang Aoheng dan, karena itu memakai versi Kayan dari nama-nama Aoheng.

Di samping itu, data Nieuwenhuis tentang suku Aoheng juga menunjukkan beberapa kekeliruan kecil. Misalnya, orang Aoheng yang berdiam di Kapuas Hulu berasal dari wilayah Mahakam, bukan sebaliknya.

Namun, secara keseluruhannya, sumbangan Nieuwenhuis boleh dikatakan luar biasa. Data-datanya termasuk yang paling berharga yang pernah dikumpulkan di pedalaman Borneo oleh seorang penjelajah, dan tetap merupakan sumber utama, dan dapat diandalkan, bagi informasi etnografi dan historis tentang suku-suku di daerah-daerah yang dikunjunginya.

Sayang sekali, pendekatan teoritis Nieuwenhuis jelas berbau periode awal antropologi, ketika lingkungan ilmiah masih didominasi oleh evolutionisme. “Animisme” dipandang sebagai tahap primitif pada suatu skala peradaban yang dianggap mempunyai nilai universal. Baik pendekatan yang didukung oleh aliran sosiologi Durkheim maupun aliran fungsionalis berikutnya tidak begitu dipertimbangkan dalam karya Nieuwenhuis (lihat, misalnya, 1911 dan 1917).

Dua Buku:  In Centraal Borneo  dan Quer durch Borneo  

 In Centraal Borneo  (ICB, 1900), ditulis dalam bahasa Belanda, dan Quer durch Borneo  (QDB, 1904-07), dalam bahasa Jerman, merupakan dua hasil utama dari ekspedisi-ekspedisi   Nieuwenhuis ke Borneo. Dalam beberapa hal, kedua-duanya merupakan buku yang berbeda, walaupun meliputi suku-suku dan subyek-subyek yang sama. ICB mengisahkan kediaman Nieuwenhuis di daerah Mendalam (Agustus sampai September 1894) dan di Mahakam Hulu (Agustus 1896 sampai Maret 1897) dan ditulis pada bulan Mei 1898, sedangkan QDB melaporkan ketiga ekspedisi semuanya.

ICB terdiri dari dua jilid yang mencakup sekitar 700 halaman, sedangkan QDB, juga dua  jilid, mencapai lebih dari 1.000 halaman. QDB juga mengandung 170 halaman foto hitam-putih yang indah, ditambah 18 halaman foto (diwarnai dengan tangan) dari benda-benda koleksi etnografi. ICB adalah buku “populer”, dimaksudkan untuk umum. QDB, berkat sentuhan Dr. M. Nieuwenhuis-von Üxküll-Güldenbandt, isteri sang penjelajah, lebih bersifat “ilmiah”, dengan laporan etnografi lengkap tentang adat-istiadat dan kebudayaan material suku-suku di Borneo Tengah. QDB, dalam kata-kata Smythies, adalah “sungguh-sungguh suatu karya monumental”.

Karya itu sayang sekali ternyata terlampau monumental bagi terjemahan dalam Bahasa Indonesia ini, dan kami memilih ICB berbahasa Belanda yang lebih ringkas. Kami juga terpaksa memutuskan untuk meringkaskan karya itu menjadi versi yang lebih singkat lagi dan lebih mudah dibaca.

Akan tetapi, foto-foto yang menyertai teks diseleksi dari persediaan luas di arsip foto tentang ekspedisi-ekspedisi Nieuwenhuis di Museum Etnografi Leiden. Kebanyakan di antaranya dibuat oleh Jan Demmeni – dan beberapa belum pernah diterbitkan sebelumnya – dan beberapa lagi, agaknya, dibuat oleh Nieuwenhuis sendiri.

Foto-foto Demmeni termasuk yang terbaik dari zaman dia. Ketrampilannya belum lama ini diakui dan dipuji dalam buku yang mengabadikan karyanya dan berjudul  Indonesia, Glimpses of the Past   (1990). Perlengkapannya, yang diuraikan secara panjang lebar oleh Nieuwenhuis dalam tulisan-tulisannya, mencakup lensa Zeiss yang dipasang pada peti kayu berukuran 13 x 18 cm, dan film-film dengan kecepatan tinggi (untuk masa itu) termasuk film-film pertama dari jenis ini yang dipasarkan dan kemudian menggeser kedudukan plat kaca.

Foto-foto berusia 100 tahun yang disajikan di sini merupakan kesaksian visual tak terhingga nilainya, sebagai penghormatan terhadap kebesaran dan keindahan suku-suku Dayak merdeka zaman dahulu dan kebudayaan mereka.

Jakarta, Desember 1993.

v

KEPUSTAKAAN — BIBLIOGRAPHY

On A. W. Nieuwenhuis’ expeditions  

Karya tentang ekspedisi-ekspedisi

Oleh A. W. Nieuwenhuis — By Nieuwenhuis himself

1898 “La récente expédition scientifique dans l’île de Bornéo”, Tijdschrift v. Ind. Taal-,  Land- en Volkenkunde, Batav. Gen. (TBG ), 40 (5-6): 508-541.

1900a  In Centraal Borneo. Reis van Pontianak naar Samarinda , Leiden: Brill, 2 vol. (I: viii + 308 p.; II: viii + 369 + xvi p.).

1900b “Tweede reis van Pontianak naar Samarinda in 1898 en 1899”, Tijdschrift v. h. Kon.  Ned. Aardrijkskundig Gen. (TNAG) , 2de Ser., XVII: 177-204, 411-435.

1901a “Mededeelingen over eene commissie-reis naar Centraal-Borneo”, TNAG , 18: 383-393.

1901b “Mededeelingen over het vervolg der commissie-reis naar Centraal-Borneo”, TNAG , 18: 1013-1073.

1901c “Algemeene beschouwingen en gevolgtrekkingen naar aanleiding van de commissie-reis naar Centraal-Borneo van Mei 1898 tot December 1900”, TNAG , 18: 1074-1121.

1904-07 Quer durch Borneo. Ergebnisse seiner Reisen in den Jahren 1894, 1896-97 und 1898-1900 , Leiden: Brill, 2 vol. (I: 1904, xv + 493 + 97 photo pl. + 2 maps; II: 1907, xiii + 559 + 73 photo pl. + 18 color pl.).

Oleh angggota ekspedisi lainnya — By other expedition members

Büttikofer, J. & G.A.F. Molengraaff 1894-1895 “Toch naar de Boven Kapoeas op het eiland Borneo”, TNAG , 11: 289-292, 432-438, 642-643, 749-751, 858-859, 965-972, 1008-1012; 12: 113-133.

Molengraaff, G.A.F. 1895a “De Nederlandsche expeditie naar Centraal-Borneo in 1894”, in  Handelingen van het 5de Nederlandsche Natuur- en Geneeskundig Congres, Amsterdam,  April 1895 , Haarlem: Kleynenberg, pp. 498-506.

Molengraaff, G.A.F. 1895b “Die niederländische Expedition nach Zentral Borneo in den Jahren 1893 und 1894”, Petermanns Mittheilungen , 41: 201-208.

Molengraaff, G.A.F. 1900  Borneo Expeditie: Geologische Verkenningstochten in Centraal  Borneo (1893-1894) , Leiden: Brill; Amsterdam: Gerlings.

Molengraaff, G.A.F. 1902  Borneo Expedition: Geological Explorations in Central Borneo (1893-1894) , Leiden: Brill; London: Kegan Paul, Trench, Trubner & Co.

Oleh penulis lain-lain — By other writers

Anonymous 1896 “Expeditie door Centraal-Borneo”, TNAG , 13: 399-400. Anonymous 1896-97 “Dr. Nieuwenhuis’ tocht dwars door Borneo”, TNAG , 13: 533-542; 14: 142-147, 618-628.

Anonymous 1897-1902 “Dr. Nieuwenhuis’ reis door Borneo”,  De Indische Mercuur  , 20: 108, 210, 458, 493; 22: 66; 24: 10, 62-63; 25: 357.

Hubrecht, A.A.W. 1894 “Eene nederlandsche expeditie naar Midden Borneo”,  De Indisch Gids , 16: 441-442.

Dokumen-dokumen dari Arsip — Archives documents

Arsip Nieuwenhuis di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda: termasuk catatan pribadi, catatan etnografi, daftar-daftar kata (l.k. 1700 kata bahasa Kayan), catatan tentang adat, pengamatan iklim dan medis, surat-surat.

— The Nieuwenhuis Archive at the Leiden University Library includes personal and ethnographic notes, wordlists, notes on customary law, climate, medicine.

Arsip Departemen Kolonial, Den Haag: lima laporan bulanan ( verbaals ) oleh Nieuwenhuis;  juga sejumlah laporan oleh Kontrolir Barth di Boven-Mahakam.

— The Archives of the Ministry of Colonies, The Hague, hold five monthly reports by Nieuwenhuis and reports by Controleur Barth in the upper Mahakam.  

Karya Nieuwenhuis tentang Borneo

 Nieuwenhuis’ published works on Borneo

1902 “Een schets van de bevolking in Centraal-Borneo”, Tijdschrift voor Geschiedenis,  Land- en Volkenkunde , 17: 179-208.

1903a “Influence of changed conditions of life on the physical and psychical development of Central Borneo”, Proceedings of the Koninklijk Akademie van Wetenschappen te Amsterdam, Section of Science , 5: 525-540.

1903b  Anthropometrische Untersuchungen bei den Dajak  , Haarlem.

1906 “Die medicinischen Verhältnisse unter den Bahau- und Kenja-Dajaks auf Borneo”,  Janus , 11: 108-118, 145-163.

1907 “De woning der Dajaks”,  Het Huis Oud en Nieuw , pp. 357-392.

1925 “Kunst van Borneo in de verzameling W.O.J. Nieuwenkamp”,  Nederlandsch- Indië Oud en Nieuw , 10 (3): 67-92.

1928 “Ten years of hygiene and ethnology in primitive Borneo (1891-1901)”, in The effect of Western influence on native civilizations in the Malay archipelago , B.J.O. Schrieke (ed.), Batavia: Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, pp. 10-33.

1936-37 “Het dagelijksch bestaan van Dajakstammen in onafhankelijke streken”, Tropisch  Nederland  , 9: 125-128, 143-144, 157-160, 168-173, 189-192, 205-208, 221-224, 237-240, 251-256.  

Karya umum Nieuwenhuis tentang Indonesia  

Nieuwenhuis’ general works on Indonesia

1911  Animisme, spiritisme en feticisme onder de volken van de Nederlandsch-Indischen  Archipel , Baarn: Hollandia, 44 p.

1917  Die Wurzeln der Animismus; Eine Studie über die Anfänge der naiven Religion, nach den unter primitiven Malaien beobachteten Erscheinungen , Leiden: Brill, 87 p.

1952 “Der Fetischismus im Indischen Archipel und seine psychologische Bedeutung”,  Archiv  für Religionwissenschaft  , 23: 265-277.  

Karya lain-lain yang relevan

Other works of relevance

Barth, J.P.J. 1910  Boesangsch-Nederlandsch Woordenboek  , Batavia: Landsdrukkerij, 343 p.

Bertling, C.T. 1953 “In memoriam A.W. Nieuwenhuis”, TNAG , 70: 421-2.

Lumholtz, C. 1920 Through Central Borneo , London: T.F. Unwin, 2 vol.

Smythies, B.E. 1955 “Dr. A. W. Nieuwenhuis – `A Borneo Livingstone'”, The Sarawak  Museum Journal , 6: 493-509.

Penulis: Bernard Sellato
Editor: Akhmad zailani

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan