Tato Dayak Ma’anyan, Antara Ada dan Tiada?!

“Tato tidak dipraktekkan” (Het tatoeëren is niet in gebruik):  Letnan C. Bangert, (Bangert, 1857 dalam Indische Taal Land-en Volkenkunde (IX) 1860: 152-153).


Munculnya gairah pencarian atas kemungkinan adanya tato Dayak Ma’anyan merupakan akibat semangat kedaerahan dan persatuan Dayak di Kalimantan. Generalisasi Dayak, termasuk Ma’anyan yang “dipukul rata” berarti juga membuka kemungkinan Ma’anyan dianggap memiliki sejarah tradisi tato. Kemungkinan besar Dayak Ma’anyan tidak mempraktekkan tato sebagai keharusan dan adat-istiadat mereka. Meskipun tidak ditemukan informasi sejarah tato Dayak Ma’anyan, dewasa ini ada segelintir generasi muda Ma’anyan mencoba “menciptakan” motif-motif tato tertentu yang bernuansa tradisional dengan motif-motif ukiran yang umumnya ditemukan di Kalimantan. Motif-motif baru hasil cross culture tersebut kemudian memberikan warna kontribusi bagi tato Dayak Ma’anyan. Di sisi lain upaya anak-anak Ma’anyan tersebut patut dihargai, kreatifitas dan sumbangsih yang diberikan memperlihatkan bahwa mereka menaruh perhatian pada sesuatu yang tidak ada, tetapi dapat diciptakan menjadi ada.


1.      DAYAK

Kata Dayak pertama kali muncul pada tahun 1757 dalam tulisan J.D. van HohendorffRadicale Beschrijving vanBanjermassing yang dipakai untuk menyebut orang-orang liar di pegunungan (1862: 188). Tampaknya, kata ini dipungutnya begitu saja dari cara orang-orang pantai menyebut orang pedalaman. 

J.A.Crawfurd dalam bukunya A Decriptive Dictionary of The Indian Islands and Adjacent Cauntries (1856: 127) menyatakan bahwa istilah Dyak digunakan oleh orang-orang Melayu untuk menunjukan ras liar yang tinggal di Sumatra, Sulawesi dan terutama di Kalimantan.

Beberapa penulis menyatakan istilah Dayak kemungkinan berasal dari bahasa Melayu aja yang artinya penduduk pedalaman (boven beteekent) atau penduduk asli (native) (Adriani, 1912: 2; Schärer, 1946/1963:1; King, 1993:30).

Penamaan ini terus dipakai hingga kini seperti yang dilaporkan oleh Tania Li (2000: 25) bahwa pada masa kini, dalam administrasi resmi pemerintahan di Sulawesi, tetap menggunakan kata Dayak untuk menyebut suku-suku terasing-terkebelakang yang ada di wilayah pemerintahan mereka.

Orang-orang Melayu pendatang menggunakan istilah Dayak secara general untuk menyebut penduduk pulau Kalimantan yang tidak beragama Islam. Dikemudian hari, dikotomi etnis berdasarkan paham religius yang berasal dari orang Melayu ini dipakai begitu saja oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan administrasi kependudukan, yaitu penduduk non muslim (Kristen atau Kaharingan) dikategorikan sebagai suku Dayak dan penduduk Muslim disebutnya sebagai suku Banjar (Mallinckrodt, 1928: I, 9).[1]

Pada awal abad 20, ketika semangat nasionalisme berhembus kuat di kepulauan nusantara yang ditandai dengan kebangkitan rasa kebangsaan. Kelompok terdidik Dayak, yang pada waktu itu sudah menduduki beberapa posisi di pemerintahan Belanda, tidak luput dari semangat ini. Mereka dengan sadar mengadopsi kata Dayak dan membangun kebanggaan diri menjadi orang Dayak.

Pada tahun 1919 mereka mendirikan satu organisasi sosial politik berbasis etnis yang bernama Pakat Dayak atau Sarekat Dayak. Sejak saat itu, nama Dayak dipakai oleh orang Dayak sendiri sebagai nama generik untuk mempersatukan semua suku-suku di Kalimantan yang bukan Melayu atau Banjar. Identitas Dayak dipakai untuk memperjuangkan hak-hak sosial-politik, dibawa masuk ke pentas perjuangan politik nasional, sejajar dengan identitas lain. Sebelum Perang Dunia Kedua, sudah tampak ada sepuluh organisasi yang memakai nama Dayak. Untuk membedakan diri dari suku-suku Dayak lainnya, misalnya Ngaju, Dusun, Lawangan, atau Ot Danum maka kata Dayak dijadikan prefiks, sehingga menjadi Dayak Ma’anyan. Begitu juga dengan suku-suku lain. Dengan demikian muncul penamaan baru yaitu Dayak Ma’anyan. Identitas ini dipakai hingga kini. Terminologi Dayak Ma’anyan telah diadopsi, dipakai dalam kehidupan sehari-hari oleh orang Ma’anyan.[2]

Baca Juga : Tatto Dayak Ngaju


2.      DAYAK MA’ANYAN

Sebelumnya, orang Ma’anyan tidak dikenal dengan istilah Dayak Ma’anyan atau Ma’anyan, seperti sekarang ini, melainkan dikategorikan masuk ke dalam Dayak Ngaju.

Sekitar pertengahan abad 16, dalam literatur-literatur awal yang ditulis pada masa-masa awal kesultanan Islam Banjarmasin, misalnya Hikajat Banjar (Ras, 1968: 196; Hall, 1995: 489), Orang Ma’anyan juga disebut Biaju. Terminologi Biaju dipakai untuk menyebut nama sekelompok masyarakat, sungai, wilayah dan pola hidup (Ras, 1968: 336).

Terminologi Biaju berasal dari bahasa orang Bakumpai, dengan mengacu kepada kata bi dan aju, yang artinya dari hulu atau dari udik. Di kemudian hari, istilah ini dipungut begitu saja oleh orang Melayu Banjar untuk menyebut semua orang pedalaman hulu sungai yang tidak beragama Islam. Istilah ini kemudian diperkenalkan kepada para pedagang dari Cina, Inggris, Portugis yang berlabuh di pelabuhan Banjarmasin. Karena itu dalam catatan pelayaran para pedagang Cina, Portugis dan Inggris dapat ditemukan kata Biaju yang merujuk pada suku di pedalaman yang bukan orang Banjar dan tidak beragama Islam (Groeneveldt, 1880; Beckman 1718). Dalam Hikayat Cina Dinasti Ming (1368-1643), yakni catatan pelayaran para pedagang Cina ketika berlabuh di Banjarmasin, disebutkan tentang orang Beaju, yang dalam lafal Hokkian (Fujian) ditulis Be-oa-jiu( Groeneveldt 1876:106-107). 

Daniel Beeckman, seorang pelaut Inggris, Ketika mengunjungi Banjarmasin pada tahun 1718 (Beeckman, 1973: 43) melaporkan bahwa penduduk Banjarmasin saat itu terdiri dari orang Melayu atau Banjar dan orang Byajo. 

Dari catatan Beckman tampak bahwa pada abad ke-18 telah terjadi pembedaan antara Biaju dan Banjar. Ciri utama yang membedakan adalah bahasa dan agama. Orang Biaju tidak berbahasa Banjar dan tidak beragama Islam.[3]

Selanjutnya pada masa awal pemerintah kolonial Belanda di Banjarmasin, istilah Biaju dipungut begitu saja dan dipakai sebagai istilah teknis dalam tata administrasi kependudukan dan laporan-laporan. Karena itu dalam literatur-literatur dan arsip-arsip Belanda sebelum abad 19, istilah Biaju dipakai sebagai istilah generik atau kolektif. Biaju dipakai dalam pengertian Dayak secara umum, yang dipukul rata sebagai Ngaju, karena itu kata Ngaju, dalam literatur-literatur tersebut, juga bisa berarti orang Ma’anyan dan Bukit (Ave, 1972:185).[4] 

Generalisasi semacam ini tampak dari pembagian suku yang dipakai oleh Tjilik Riwut (1958). Karena memakai sumber-sumber sebelum Perang Dunia Kedua yang memang cenderung pada generalisasi (1958: 190, bdk. Nila Riwut 2003: 64-65), ia memasukkan suku Dayak Ma’anyan, Lawangan dan Dusun sebagai bagian dari Dayak Ngaju. Bahkan orang Dayak Meratus (yang terdapat di Tapin, Amandit, Labuan Amas, Alai, Pitap dan Balangan), Dayak Pasir yang terdapat di Kalimantan Timur, orang Dayak Tumon di sungai Lamandau, Batang Kawa dan Bulik, juga dimasukkannya sebagai bagian dari suku Dayak Ngaju. (1958: 184, bdk. 2003: 63).[5]

Hal serupa juga dapat dilihat dari laporan mengenai sketsa pulau Kalimantan pada tahun 1812 oleh J. Hunt dalam laporan Kapten The Hon. Henry Keppel. Ia menyebut orang-orang yang berada di Banjarmasin sebagai Biajus (Biaju).[6] 

Kamus Hindia Belanda dan laporan Geografis – Statistik pada tahun 1861 juga menyebut orang-orang Dayak di bagian Selatan dan pesisir Barat didefinisikan sebagai Beadjoe (Biaju).[7]

Selain istilah Biaju (Ngaju), istilah Dusun juga dipergunakan untuk merujuk orang Ma’anyan. Di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Sungai Barito disebut juga sungai Dusun, meskipun nama Barito lebih tua karena telah disebutkan dalam keropak Jawa kuno, Negarakertagama (1365).[8] 

Istilah Dusun banyak digunakan sebagai rujukan untuk daerah Hulu Barito, terutama daerah yang didiami oleh kelompok-kelompok etnis Dayak Ma’anyan, Lawangan, serta Siang dan Murung, dan pada umumnya disebut dengan Dusun Timur, Dusun Hilir, Dusun Tengah dan Dusun Hulu.[9]

Penggolongan dan penyebutan Dusun tersebut juga tampak dalam laporan Sersan F. J. Hartman, mengenai deskripsi Banjarmasin (Banjareesche) dan sekitarnya  pada tahun 1790. Dalam perjalanannya ke daerah Muara Teweh melalui sungai Barito ia bertemu dengan orang Ma’anyan dan suku lainnya. Hartman mempergunakan istilah Doesonners (orang Dusun), untuk merujuk penduduk yang mendiami daerah di sekitar sungai Patai (Pattij), Karau (Karrouw), Siong (Siongsche), Mantellat, Benangin. Sedangkan daerahnya disebut sebagai Doesonsche (Dusun). Istilah tersebut juga digunakan untuk menyebut penduduk yang mendiami daerah kampung Daya (Daja), Sangarasi-Jaar (Simpar Wassie), Mangkatip, Dayu, Balawa (Blawa), Karau (Karrauw), Poeloe Wanie, Trusan (Troessan), Buntok (Boendoek) , Muara Teweh (Morro Tewe) dan sekitarnya.[10]

Penggunaan istilah Ma’anyan sebenarnya sudah mulai dikenal dan dipergunakan pada tahun 1843-1847, tetapi agaknya istilah tersebut masih belum populer saat itu. Hal itu tampak dalam laporan penelitian Dr. Carl Anton Ludwig Maria Schwaner di sekitar sungai Barito dan beberapa sungai besar di Timur dan Selatan pulau Kalimantan. Schwaner juga mencatat kampung-kampung penduduk yang ditemuinya di wilayah sungai Patai, Siong, Karau dan sekitarnya. Ia menyebut Orang (atau OloMenja͜än, untuk merujuk penduduk Daijaksche (Dayak) yang berada di sekitar sungai Pattai (Patai), Siong dan Karrau (Karau). Menurutnya orang-orang di daerah sungai Patai dan Karau juga menyebut diri mereka sendiri dengan istilah Menja-an. Schwaner melaporkan Orang (atau Olo) Menja͜än, menempati daerah yang lebih rendah dari sungai Pattai dan Karrau menyebut diri mereka Menja-an, sedangkan bagian yang lebih tinggi di sekitar daerah sungai ini dihuni oleh orang Lawangan (Lewangan). Berdasarkan penampilan, bahasa, dan adat-istiadat mereka terdapat perbedaan dengan suku-suku Dayak (Daijaksche) lainnya. Umumnya mereka dan penduduk di daerah sungai Barito dan anak-anak sungai lainnya lebih lemah lembut dan damai-tidak suka berperang.[11]

Hal serupa tampak dalam laporan Letnan C. Bangert, (Bangert, 1857 dalam Indische Taal Land- en Volkenkunde (IX) 1860: 156, 173, 181, 216) dalam perjalannya ke daerah Dusun Hilir (Doessoen Ilir) bagian dalam pada tahun 1857,  juga menyinggung istilah Men-jaan. Selain istilah tersebut ia juga lebih sering mempergunakan istilah Sihongers, Pattijers, Duijoes, Karauw dan Djankongs, untuk merujukorang-orang Ma’anyan di sekitar sungai Telang, Siong, Patai/ Sirau, Paku Karau dan sekitarnya.[12]

Mengenai asal-usul istilah Ma’anyan, masih belum ditemukan kepastiannya. Sutopo Ukit Bae dkk menyatakan ada beberapa pendapat mengenai asal kata Maanyan, yaitu: Menurut Ma’an Wada (tokoh Ma’ayan Paju Sapuluh), kata Ma’anyan berasal dari gabungan kata Ma yang artinya menggunakan adat, dan Anyan yang adalah nama raja terakhir dari kerajaan Nansarunai. Dengan demikian, arti kata Maanyan itu adalah sekelompok masyarakat yang menggunakan adat Kerajaan Nansarunai (Ethnic State?). Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa Maanyan merupakan gabungan kata Ma yang dapat diartikan paman atau bapak, dan Anyan yang adalah pemimpin suku sewaktu berimigrasi dari daratan Cina, sehingga arti kata Ma’anyan adalah Bapak Anyan. Sedangkan pendapat lainnya menyatakan bahwa kata Ma’anyan itu berasal dari sebutan orang Biaju (Dayak Ngaju) ketika melihat orang-orang di kampung Tane Karangan Anyan itu selalu membakar kemenyan dalam setiap ritual adatnya. Karena itu mereka menyebutnya Oloh Manyan. Pendapat yang berbeda juga dikemukakan dalam buku Proyek Penelitian Sejarah dan Kebudayaan Daerah Kalimantan Tengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1977 – 1978. Dalam buku ini dinyatakan bahwa pengertian Maanyan itu berasal dari kata Ma yang artinya menuju, dan anyan yang artinya tanah datar. Jadi arti Maanyan itu adalah menuju atau pergi ke tanah datar.[13]

Menurut sejumlah peneliti dan tokoh Ma’anyan yang mencoba mendekati sejarah orang Ma’anyan bersumber dari data tanuhuien menurut sudut pandang sejarah modern, nama-nama perkampungan dalam tanuhuien merupakan penunjukkan secara mitologis terhadap perjalanan panjang kelompok migran dari Asia Kecil, yang merupakan cikal-bakal orang Ma’anyan. Dalam perjalanan panjang kelompok masyarakat tersebut singgah di berbagai tempat di Asia Tenggara, wilayah Nusantara dan akhirnya masuk ke Kalimantan Selatan.[14] 

Pembentukkan perkampungan Lilikumeah merupakan sejarah cikal-bakal kelompok orang Ma’anyan yang sudah berada si Kalimantan Selatan, demikian juga selanjutnya tempat-tempat lainnya dalam tanuhuien. Lilikumeah berada di KayutangiWatang Helang Ranu adalah Babirik atau Danau PanggangGunung Madu Dupa adalah Banjarbaru atau Gunung ApamGunung Madu Manyan adalah Gunung Keramaian, sementara Nansarunai terletak di Amuntai atau Banua Lawas.[15] 

Selain tempat-tempat tersebut, ada beberapa tempat lainnya di Kalimantan Selatan yang pernah didiami oleh orang Ma’anyan, antara lain daerah Tabalong (Waruken, Pangelak dan Dusun Deyah), daerah Hulu Sungai Utara (Halong, Pintap, Gunung Riwut), daerah Hulu Sungai Selatan (Loksado), dan daerah Hulu Sungai Tengah (Labuhan). Dalam perkembangan selanjutnya terjadi lagi perpindahan penduduk ke daerah Barito Timur dan sekitarnya sekarang ini. [16]


3.      TIDAK ADA TATO

Salah satu laporan lawas mengenai informasi tidak adanya praktek tato di kalangan orang Ma’anyan dapat ditemukan dalam laporan Letnan C. Bangert, dalam perjalannya ke daerah Dusun Hilir (Doessoen Ilir) bagian dalam pada tahun 1857 (Bangert, 1857 dalam Indische Taal Land- en Volkenkunde (IX) 1860: 156, 173, 181, 216). C. Banggert adalah seorang pejabat pemerintah Belanda, berpengkat letnan satu untuk wilayah Bakumpai dan Dusun Hilir yang berkedudukan di Marabahan. C. Bangert, juga merupakan pengurus sipil dari daerah Bakumpai yang memuat laporan perjalanan inspeksi dari Telang, Patai (dan Sirau), Dayu dan daerah di sungai Paku Karau pada sekitar tanggal 5-6 Juli 1857. C. Bangert juga adalah seorang Letnan pertama infanteri yang kemudian meninggal dalam suatu kerusuhan di Lontontoeor, pada tanggal 26 Desember 1859.[17]

Letnan C. Bangert, (Bangert, 1857 dalam Indische Taal Land- en Volkenkunde (IX) 1860: 156, 173, 181, 216) dalam perjalannya ke daerah orang-orang Ma’anyan di sekitar sungai Siong, melaorkan bahwa orang Dayak Ma’anyan di Siong memiliki banyak perbedaan dengan orang Dayak di Pulau Petak, baik dari penampilan, bahasa, adat dan tradisi. Orang Siong bertubuh biasa-biasa dan merupakan pekerja keras. Perempuan juga pekerja keras, seakan-akan mereka sebagai laki-laki, anak-anak juga demikian. Meskipun demikian menurutnya banyak ditemui orang-orang yang bertubuh relatif gemuk. Sebagian besar juga merupakan orang-orang tua. Sementara umumnya rupa laki-laki umumnya lebih elok dari perempuan. Pekerjaan orang Ma’anyan di Siong adalah berladang, sebagai penghasil padi. Mereka juga membuat jukung (perahu). Jukung-jukung tersebut  konon terkenal akan kualitasnya sehingga layak dijual di Martapura, Banjarmasin. Menurut Bangert, ratusan buah jukung dijual setiap tahunnya.

Menurutnya tato tidak dipraktekan (Het tatoeëren is niet in gebruik)[18] di kalangan orang Siong (Ma’anyan di Siong). Para laki-laki selalu dipersenjatai dengan parang, sumpit dan tombak dan para perempuan juga demikian, kerap terlihat membawa tombak ketika mereka melakukan perjalanan ke ladang. Kekayaan yang dimiliki berupa gong, baki, mangkuk dan barang pecah belah lainnya. Gong sangat banyak terlihat di sana.

Bangert pernah melihat di beberapa rumah ada sekitar 200-an gong yang disandingkan bersama-sama. Apabila dinilai yang terbesar bernilai 100 Gulden, dan yang terkecil 6 sampai 8 Gulden. Gong dipasang dan digantung berjejer, ketika dibunyikan akan membentuk tangga nada tertentu secara harmonik. Orang-orang Ma’anyan di Siong menurut  Bangert bukan pengayau – headhunter.

Adat mereka pada umumnya sama dengan orang-orang Dayak kebanyakan, namun menurut Bangert lebih halus dan manusiawi. Tidak pernah ada perang yang terjadi selama beberapa generasi. Sementara kepala suku mereka haruslah seorang yang sudah tua dan merupakan penerus dari generasi yang dipilih sebelumnya (dinasti).[19]

Memang laporan Bangert hanya meliputi sekelompok kecil kelompok Ma’anyan, yakni kelompok Paju Epat yang diwakili kampung Siong, tetapi paling tidak dari laporannya ini memberikan secercah titik terang informasi bahwa orang Ma’anyan tidak bertato. Di sisi lain, dari laporannya tersebut juga memberikan tantangan kepada para pencari kemungkinan  tato Ma’anyan untuk memperluas cakrawala pencariannya terlepas dari salah satu kelompok Ma’anyan atau beberapa desa Ma’anyan saja. Apabila orang Ma’anyan tidak mempraktekkan tradisi tato dalam adat-istiadatnya, bagaimana dengan suku-suku Dayak lainnya yang bertetangga dan berkerabat dengan orang Ma’anyan? Dayak Meratus di Kalimantan Selatan juga umumnya diketahui tidak mempraktekkan tato. Salah satu informasi lawas yang mendukung pernyataan tersebut adalah Carl Alfred Bock, dalam bukunya The Head-Huntees of  Borneo: A Narrative of Travel Up The Mahakkam and Down The Barito Also Joueneyings in Sumatra, vol. 2.[20]

Carl Alfred Bock, naturalis dan pelancong Norwegia kelahiran Kopenhagen, Denmark, pernah melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada 1879 selama enam bulan. Misinya di Kalimantan merupakan titah dari Gubernur Jenderal Johan van Lansberge untuk melaporkan keberadaan suku-suku Dayak dan menghimpun spesimen sejarah alam untuk beberapa museum di Belanda.

Hasil penjelajahannya di Samarinda-Tenggarong-Banjarmasin dan pedalaman Kalimantan, Bock menulis buku berjudul The Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881, lengkap dengan 37 litografi dan ilustrasi. Bock dalam catatannya telah berjumpa Dayak Long Wai, Dayak Long Wahou, Dayak Modang, Dayak Punan, “Orang Bukkit” dari Amontai, dan Dayak Tring. Orang Dayak Meratus, yang disebut Bock sebagai Orang Bukkit, juga menurutnya tidak mempraktekkan tato.[21] 

Selain Dayak Meratus, laporan Bock juga memuat informasi mengenai Dayak Tanjoengs (Tanjung/Tunjung ?) dan Benoa (Benuaq ?) yang juga tidak mempraktekkan tato sebagai keharusan. 

Menurut  Carl Bock, dalam bukunya The Head-Huntees of  Borneo, orang Tanjoengs (Tanjung/Tunjung ?) tidak mempraktekan tato sebagai suatu keharusan atau kebiasaan, hanya ditemukan seorang dengan pola + (tanda tambah) pada bagian lengannya. Sedangkan pada orang Benoa (Benuaq ?) kebanyakan laki-lakinya semuanya memiliki tato dengan tanda kecil  berbentuk ͡  ·͡    (berupa dua buah gundukan atau lengkungan seperti busur dengan titik di tengahnya), baik itu di bagian kening, lengan atau kaki.[22]

Orang Dayak Ma’anyan tidak mempraktekkan tato sebagai keharusan dan adat-istiadat mereka. Kemungkinan juga berkaitan dengan tidak adanya tradisi “ngayau” atau memotong kepala, atau karena berbagai sebab lainnya. Akan tetapi tato tetap dikenal oleh orang Ma’anyan, mereka menyebutnya “tutang.” Kemungkinan hal tersebut disebabkan mereka mendengar atau melihat tato suku-suku lain. Hal ini menjadi salah satu proses cross culture lintas suku-daerah yang tidak terelakkan. Perjalanan hidup menuntut perjalanan keluar-masuk daerah lain, begitupun sebaliknya.   Meskipun tidak ditemukan informasi sejarah tato Dayak Ma’anyan, dewasa ini ada segelintir generasi muda Ma’anyan yang mencoba “menciptakan” motif-motif tato tertentu yang bernuansa tradisional dengan motif-motif ukiran dan keperkasaan kisah mitologi yang umumnya ditemukan di Kalimantan. Motif-motif baru hasil cross culture dan globalisasi tersebut kemudian memberikan warna kontribusi tersendiri. Di sisi lain upaya tersebut patut dihargai, kreatifitas dan sumbangsih yang diberikan memperlihatkan bahwa mereka menaruh perhatian pada sesuatu yang tidak ada, tetapi dapat diciptakan menjadi ada, meskipun dengan muatan nuansa yang berbeda dan diberi arti tersendiri serta milik sendiri sekaligus baru!

Custom Tattoo tradisional Dayak Ma’anyan “Para’ Mangis” (bagian bawah buah manggis – biasa untuk tebak-tebakkan buah manggis),  Milik Peno Vijarawan Manggu (dgn izin ybs)
https://m.facebook.com/vijarawanp.otodidax

 (Bandingkan motif custom di atas dengan sepasang motif tattoo bahu laki-laki Dayak yang pada umumnya berbentuk bunga/kelopak bunga atau bintang dengan spiral atau lingkaran di tengahnya – mata aso/ tali nyawa) – dari berbagai sumber

 (Bandingkan motif custom di atas dengan sepasang motif tattoo bahu laki-laki Dayak yang pada umumnya berbentuk bunga/kelopak bunga atau bintang dengan spiral atau lingkaran di tengahnya – mata aso/ tali nyawa) – dari berbagai sumber

Bliang scene am Pattaij By by Heinrich von Gaffron 1845. Royal Institute of Linguistics and Anthropology in Leiden by J.H. Moronier – ‘s – Gravenhege : Nijhoff, 1967 – p.29

Een Bilianfeest der Dayakkers van soengie Pattay by C. A. L. M. Schwaner, Borneo volume 2 – Beschrijving van het stroomgebied van den Barito en reizen langs eenige voorname rivieren van het Zuid-Oostelijk gedeelte van dat eiland. Van het Gouvernement van Nederl: Indie gedaanin de Jaren 1843-1847. (Uitgegeven van wege het Koninklijke Instituut vor de taal-land en volkenkunde van Nêer: Indië.  Te Amsterdam, nij P.N. Van Kampen. 1854)

Acient people playing a ritual ethnic dance in a big dark illuminated by torches. Dayak welcome fest to western people Borneo By by Lancon after Schwaner published on Le Touur du Monde Paris 1862

Ilustrasi Wadian dari daerah sungai Patai (salah satu kelompok Ma’anyan Kampung Sapuluh

Innere eines Daijakker Hauses am Karrau by Heinrich von Gaffron 1845. Royal Institute of Linguistics and Anthropology in Leiden by J.H. Moronier – ‘s – Gravenhege : Nijhoff, 1967 – p.29

Native Dayak people acient daily life in a hut. They get relaxing in a low indoor light. By Lancon after Duch colonies iconographic atlas published on Le Touur du Monde Paris 1862

Eene Dayaksvhe woning van binnen by C. A. L. M. Schwaner, Borneo volume 2
Dayak di daerah sungai Karau (umumnya Dayak Dusun, Ma’anyan, Lawangan – DUSMALA)


Eisenschmelze in den Doesson by Heinrich von Gaffron 1845. Royal Institute of Linguistics and Anthropology in Leiden by J.H. Moronier – ‘s – Gravenhege : Nijhoff, 1967 – p.30

Acient naked tribal people making a hut. Old illustration depicting Dayak people working in a forge  Borneo By by Lancon after Schwaner published on Le Touur du Monde Paris 1862


Eene Dayaksche ijzersmelteru aan de Barito by C. A. L. M. Schwaner, Borneo volume 1  Sumber:  C.A.L.M. Shwaner, Borneo  vol. 1 – Beschrijving van het stroomgebied van den Barito en reizen langs eenige voorname rivieren van het Zuid-Oostelijk gedeelte van dat eiland, (Koninklijke Instituut vor de taal-land en volkenkunde van Nêer: Indië.  Te Amsterdam, nij P.N. Van Kampen. 1853)

Orang Dayak di daerah sungai Barito sebagai pandai besi (blacksmith)


Sumber: Henry Ling Roth – The Natives of Sarawak and British North Borneo, London: Truslove & Hanson (1896), Vol. II

Tato orang Benoa (Benuaq ?) dan Tato orang Tanjoengs (Tanjung/Tunjung ?)



Tulisan C. Bangert (1857), dalam Verslag der reis in de binnenwaarts gelegene streken van Doessoen Ilir, (Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (IX), 1860)

Tulisan C. Bangert (1857), dalam Verslag der reis in de binnenwaarts gelegene streken van Doessoen Ilir, (Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (IX), 1860)

Informasi tentang C.Bangert dalam W.A. VAN REES – De Bandjermasinsche Krijg Van 1859-1863 Vol. 2, (_,1865,), 402.

Cover buku Schwaner – Borneo Vol.1 C.A.L.M. Schwaner – Borneo vol. 1- Beschrijving van het stroomgebied van den Barito en reizen langs eenige voorname rivieren van het Zuid-Oostelijk gedeelte van dat eiland. Van het Gouvernement van Nederl: Indie gedaanin de Jaren 1843-1847. (Uitgegeven van wege het Koninklijke Instituut vor de taal-land en volkenkunde van Nêer: Indië.  Te Amsterdam, nij P.N. Van Kampen. 1853)

Schwaner menyebut Ma’anyan sebagai Menja-an C.A.L.M. Schwaner – Borneo vol. 1- Beschrijving van het stroomgebied van den Barito en reizen langs eenige voorname rivieren van het Zuid-Oostelijk gedeelte van dat eiland. Van het Gouvernement van Nederl: Indie gedaanin de Jaren 1843-1847. (Uitgegeven van wege het Koninklijke Instituut vor de taal-land en volkenkunde van Nêer: Indië.  Te Amsterdam, nij P.N. Van Kampen. 1853), vii, 99-102



Acient Borneo natives celebrating an exorcism indoor in a dark hut. Old illustration of Ot Danum people rite in Borneo By by Lancon after Schwaner published on Le Touur du Monde Paris 1862

Een Bilianfeest ter genezing eener zieke vrouwin de Doessoen by C. A. L. M. Schwaner, Borneo volume 2  Sumber:  C.A.L.M. Shwaner, Borneo  vol. 2 – Beschrijving van het stroomgebied van den Barito en reizen langs eenige voorname rivieren van het Zuid-Oostelijk gedeelte van dat eiland, (Koninklijke Instituut vor de taal-land en volkenkunde van Nêer: Indië.  Te Amsterdam, nij P.N. Van Kampen. 1854)

Ilustrasi Wadian Dusun yang sedang mengadakan ritual penyembuhan seorang perempuan sakit di daerah Dayak Dusun

Wadian Bawo orang Dayak Dusun, yang kemudian diadopsi oleh orang Dayak Ma’anyan. Wadian juga tidak bertato, namun umumnya membuat tanda tambah (+), tanda titik (.), atau tanda sama dengan (=) pada tubuhnya dengan menggunakan kapur sirih. Makna tanda-tanda tersebut patut dikaji lebih dalam lagi. Sumber: Tropenmuseum

Sumber: Henry Ling Roth – The Natives of Sarawak and British North Borneo, London: Truslove & Hanson (1896), Vol. II





Salah seorang tetua Ma’anyan di Tamiang Layang (Albert Blantan?) Sumber: Mission 21

Orang Ma’anyan yang baru dibaptis tahun 1930-an. Sumber: Hadi Saputra Miter, Amirue dan Roh Kudus: Sejarah Perjumpaan Ulun Ma’anyan dengan Kekristenan, (Kalimantan Timur: Yayasan Rumah Sastra Korrie Layun Rampan (YRSKLR), 2015), 1
Anak-anak Ma’anyan pada sebuah sekolah tua di Bamban. Sumber: M 21


 A_service_in_Tameanglajang 1920

 Some_of_the_newly_baptised_in_Tameanglajang 1920

 The_cattle_belonging_to_the_mission_station_Tameanglajang 1920

Christian_school_Tamjanglajang_1925

Wedding_in_Maanjanland_Photograph_Trostel_Tamianglajang

The_old_mission_house_in_Tameanglajang_in_Maanjanland 1920

Sumber : Mission 21



Dua Perempuan muuda Ma’anyan di Tanjung (?) (Sumber: Tropenmuseum) Ada keraguan penulis mengenai informasi ini, karena anting (lebih tepatnya pierching besar) yang tidak umum ditemukan pada orang Ma’anyan

Gambar yang berasal dari internet yang umumnya menyatakan sebagai “Orang Ma’anyan tempo dulu” namun tidak ada bukti atau sumber valid yang menguatkannya. Keraguan penulis juga mengingat anting besar yang dikenakan seorang anak pada gambar tidak umum ditemukan pada orang Ma’anyan. Sumber: Google

Gambar dari www.mytribalworld.com yang menduga sebagai orang M’anyan. Namun aksesoris yang digunakan tidak memperkuat dugaan tersebut, malah lebih mengarah kepada orang Dayak Ngaju. Lihat pada bagian bawah aksesoris yang digunakan.

Orang Dayak Ngaju. Sumber: Carl Lumholtz, Through Central Borneo – An Account of Two Years Travel in The Land of The Head-Hunters Between The Years 1913 and 1917, (New York: Charle Scribner’s Songs, 1920), Volume 2,
Orang Dayak Ngaju. Sumber: Mission 21



Cover buku Carl Bock – The Headhunter of Borneo Vol. 2.

Informasi Dayak “Bukkit” tidak bertato dari buku Carl Bock – The Headhunter of Borneo Vol. 2.


Ilustrasi Orang “Bukkit” (Dayak Meratus) tanpa tato, dari buku Carl Bock – The Headhunter of Borneo Vol. 2.

Catatan Carl Bock tentang kemungkinan tato DyaksTandjoeng dan Benoa (Tanjung/ Tunjung dan Benuaq?) Sumber:  Carl Bock, The Head-Huntees of  Borneo, 130, 137-139.


Orang Ma’anyan di Beto H. Sundermann, Unter den Dajakken auf Beto Tameanglajang; Gründung der Station Beto 1899)





[1] Marko Mahin, Kaharingan-Dinamika Agama Dayak di Kalimantan Tengah, Depok: Disertasi Doktoral Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia, 2009, 132-137

[2] Ibid, 136-138

[3] Ibid, 129

[4] Ibid, 131

[5] Ibid, 132

[6] J. Hunt, E sq. In Captain The Hon. Henry Keppel, R.N, Sketch of Borneo, or Pulo Kalamantan, – The Expedition to Borneo of H M S Dido Vol.2, (New York: Harper & Brothers Publishing, Franklin Square, 1855), 381-382. [7] _, Aardrijkskundig en Statistisch Woordenboek van Nederlandsch Indie 1 bewerkt naar de jongste en beste berigten. A-J (Amsterdam, P. N. Van Kampen, 1861) 253-254

[8] Daerah-daerah taklukan Majapahit disebutkan: Negara-negara di pulau Tanjungnegara: Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Ungga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut. Kadandangan, Landa, Samadang dan Tirem tak terlupakan. Sedu, Barune, Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei. Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura. Di Hujung Medini, Pahang yang disebut paling dahulu. Berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun. Lih.http://kidemang.com/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=28&Itemid=697 5

[9] Pendapat tersebut didasarkan dari tulisan H.E.D. Engelhard, De Afdeling Doessonlanden: Zuider en Ooster-Afdeling van Borneo (Jurnal Colonial Netherland Indies, 1901). 181-222. Lih. Hadi Saputra Miter, Amirue dan Roh Kudus – Sejarah Perjumpaan Ulun Ma’anyan Dengan Kekristenan, (Kalimantan Timur: Yayasan Rumah Sastra Korrie Layun Rampan (YRSKLR), 2015), 1-2 [10] F. J. Hartman, Journaal Van Een Tocht Naar de Banjersche Bovenlanden in 1790 (Kronijk van Het Historisch Genootschap, Utrecht, Kemink En Zoon, 1864), 367-369

[11] Lih. C.A.L.M. Schwaner – Borneo vol. 1- Beschrijving van het stroomgebied van den Barito en reizen langs eenige voorname rivieren van het Zuid-Oostelijk gedeelte van dat eiland. Van het Gouvernement van Nederl: Indie gedaanin de Jaren 1843-1847. (Uitgegeven van wege het Koninklijke Instituut vor de taal-land en volkenkunde van Nêer: Indië.  Te Amsterdam, nij P.N. Van Kampen. 1853), vii, 99-102

[12] C. Bangert (1857), Verslag der reis in de binnenwaarts gelegene streken van Doessoen Ilir, (Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (IX), 1860), 156, 173, 181, 216 C. Banggert adalah seorang pejabat pemerintah Belanda, berpengkat letnan satu, untuk wilayah Bakumpai dan Dusun Hilir yang berkedudukan di Marabahan. C. Bangert, juga merupakan pengurus sipil dari daerah Bakumpai yang memuat laporan perjalanan inspeksi dari Telang, Patai (atau Sirau), Dayu dan sungai Paku Karau pada sekitar tanggal 5-6 Juli 1857. C. Bangert juga adalah seorang Letnan pertama infanteri yang kemudian meninggal dalam suatu kerusuhan di Lontontoeor, pada tanggal 26 Desember 1859. lih. Alfred Bacon Hudson, Padju Epat: The Ethnography And Social Structure Of A Ma’anjan Dayak Group In Southeastern Borneo (Michigan USA: University Microfilm 1967), 553, dan W.A. VAN REES – De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 met portretten Vol. 2, (_,1865,), 402.

[13] Rama Tulus P, Agama Sebagai Identitas Sosial – Studi Sosiologis Agama Terhadap Komunitas Ma’anyan, Salatiga: Disertasi Doktoral Universitas Kristen Satya Wancana, 2010, 79

[14]  Bdk. Keloso S. Ugak, Mengembangkan Konsep Anugerah Untuk Membangun Teologi yang Rekonsiliatif di dalam masyarakat Dayak, (disampaikan dalam orasi Dies Natalis STT GKE ke-81), Februari 2013, 23 [15]  Ibid

[16]  Ibid, 24-25

[17]  lih. Alfred Bacon Hudson, Padju Epat: The Ethnography And Social Structure Of A Ma’anjan Dayak Group In Southeastern Borneo (Michigan USA: University Microfilm 1967), 553, dan W.A. VAN REES – De Bandjermasinsche Krijg Van 1859-1863 Vol. 2, (_,1865,), 402.

[18]  Bangert, 1857 dalam Indische Taal Land-en Volkenkunde (IX) 1860: 152-153

[19] C. Bangert (1857), Verslag der reis in de binnenwaarts gelegene streken van Doessoen Ilir, (Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (IX), 1860), 156, 173, 181, 216

[20] Carl Bock, The Head-Huntees of  Borneo: a Narrative of Travel Up The Mahakkam and Down The Barito also Joueneyings in Sumatra, vol. 2, (London: Sampson Low, Marston, Searle, Rivington,1882), 67, 130, 139.

[21] Carl Bock, The Head-Huntees of  Borneo, 244

[22] Carl Bock, The Head-Huntees of  Borneo: a Narrative of Travel Up The Mahakkam and Down The Barito also Joueneyings in Sumatra, vol. 2, (London: Sampson Low, Marston, Searle, Rivington,1882), 67, 130, 139.

Penulis: Metusalakh Rizky Nayar
Editor: Akhmad Zailani
”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan