HASIL DAN PEMBAHASAN

1.   Upacara Erau

Erau dalam bahasa daerah Kutai, berasal dari kata eroh  yang artinya ramai, riuh, rebut, suasana yang penuh dengan suka cita. Upacara Erau awalnya dilakukan hanya untuk penobatan raja atau sultan selama 40 hari 41 malam, 24 hari 25 malam, 14 hari 15 malam, dan 7 hari 8 malam bergantung kesiapan dan kondisi kemakmuran masyarakat pada saat itu.

Upacara Adat Erau sudah dikenal sejak raja pertama Kutai Kartanegara, Aji Betara Agung Dewa Sakti pada tahun 1300 s.d. 1325 di Jahitan Layar Kutai Lama.

Acara tersebut dimeriahkan berbagai kesenian, upacara-upacara adat, olahraga tradisional, dan perlombaan ketangkasan. Pada perayaan tersebut, raja atau sultan beserta kerabat keratin lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat yang hadir dengan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, sebagai tanda terima kasih atas pengabdian rakyatnya.

Penghelatan Erau bukan berarti menghidupkan kembali kultur tradisional yang berbau feodal dari Kesultanan Kutai. Namun, pergelaran Erau merupakan salah satu dari kebhinnekaan Indonesia yang ada. Feodalisme bisa hilang dan musnah karena kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, budaya, dan kultur yang menyatu dalam kehidupan bangsa harus tetap abadi.

Erau sebagai salah satu kekayaan bangsa maka tidak akan hilang begitu saja. Hal itu dapat dilihat dengan adanya kegotong-royongan yang sejak ratusan tahun lalu berakar dalam Erau. Kegotong-royongan tersebut nampak pada kesediaan suku-suku Dayak yang ada di pedalaman maupun persekutuan yang ada di pantai datang ke Tenggarong atau Kutai Lama.

Banyak budaya dan kulur ditampilkan, seperti perkawinan adat setiap suku baik Dayak Modang, Dayak Bahau, Dayak Kenyah, maupun Kutai. Selain itu, upacara pengobatan seperti Belian Sentiyu dan Belian Bawo, suku Bawo serta olah raga tradisional seperti behempas, belogo, maupun begasing yang merupakan permainan suku-suku pantai, yang banyak dilakukan oleh puak-puak melayu. Sultan dalam upacara Erau, biasanya juga memberikan anugerah gelar, pemberian tanda-tanda kehormatan, dan anugerah terhadap mereka yang berjasa terhadap negeri.

Hal ini menunjukkan bahwa Erau di samping mengandung falsafah kerakyatan, demokrasi, juga merupakan falsafah kemuliaan dan rasa terima kasih negeri terhadap semua warga masyarakat. Erau sendiri terdapat dua macam yakni:

(1) Erau Batu Samban.

(2) Erau Biasa yang disebut Erau Tepong Tawar.

Erau  Batu Samban  berlangsung selama 21 hari dan 21 malam. Pada Erau tersebut, raja yang bersangkutan dua kali dipelas, yakni pelas pertama dilakukan berayun papan dan pelas kedua dilakukan di dekat Pinang Ayu ( Tombak Sangkoh Piatu). Tombak ini adalah tombak pusaka yang dipergunakan oleh Aji Betara Agung Dewa Sakti untuk berburu. Sepanjang yang diketahui, Erau Batu Samban sejak Betara Agung Dewa Sakti sampai sekararang hanya satu kali saja diadakan (Rachim, 2011).

Erau   Biasa  atau Erau Tepong Tawar dilaksanakan 14 hari dan 14 malam yang kemudian dipersingkat waktunya menjadi 7 hari 7 malam. Pada Erau tersebut, raja yang bersangkutan hanya dipelas satu kali saja, yakni di dekat Pinang Ayu (Tombak Sangkoh Piatu). Tempat peristiwa berpelas tersebut dilaksanakan di istana atau keraton.

Sekitar tahun 1565, dua orang ulama yakni Ri Bandang dan Tunggang Parangan sampai ke Kutai. Raja-raja Kutai Kartanegara memeluk agama Islam sejak itu dan akhirnya raja berganti predikat Sultan. Namun, Erau tetap dilaksanakan sebagai warisan adat leluhur (Rachim, 2011).

2.   Kisah Erau Balik Delapan

Perayaan Erau di Balikpapan bulan Februari 2012 bukan tanpa maksud, bukan begitu saja muncul di tengah kemajemukan masyarakat Kota Balikpapan. Namun, perayaan Erau yang diusung dengan nama Erau Balik Delapan membawa kisah tentang asal mula Balikpapan melalui kegiatan budaya.

Erau di Balikpapan menurut Bapak A. Rahim, HKA, Kepala Adat Kutai atau Ketua Umum Pengurus Dewan Adat Wilayah Balikpapan secara lisan dikatakan bahwa Erau Balik Delapan yang dirayakan Februari tahun ini merupakan tonggak sejarah asal mula Kota Balikpapan setelah kurang lebih 500 tahun sekitar abad ke-13 lalu.

Erau terakhir dilaksanakan di kota ini pada masa Aji Betara Agung Dewa Sakti diturunkan dari Kahyangan ke Bumi. Hal tersebut diceritakan dalam legenda asal mula nama Balikpapan yang dirangkum oleh Lembaga Adat Kutai Balikpapan di mulai pada Zaman Batu Muda Neolitikum Masehi, yakni: Sanghiyang Ario Banga mempunyai seorang anak laki-laki bernama Aji Betara Agung Dewa Sakti.

Aji Betara Agung Dewa Sakti diturunkan dari Jangkat / Kahyangan kebumi, maka disebutlah Dewa Kemanusan yaitu pada abad 13 Masehi. Di abad 13 inilah termaktub asal mulanya nama Balikpapan.

Al kisah Pricerita, pada suatu hari dikala itu datanglah delapan (8) ekor Naga yang mencari kemala yang hilang sewaktu mereka bermain-main di tengah samudra.

Kedelapan ekor Naga ini tidak diketahui dari mana asal negerinya. Naga asing itu melihat ada cahaya gemerlap dari arah pulau Kalimantan. Kedelapan Naga itu dengan beringasnya langsung berenang menuju Pulau Kalimantan karena cahaya yang mereka lihat itu disangkanya Kemala mereka yang hilang sewaktu mereka bermain-main di tengah samudra.

Setibanya mereka di tengah laut yang mendekati Pulau Kalimantan, mereka berenang terus dan menghampiri cahaya yang mereka lihat tadi sampai mendekati muara sungai Mahakam.

Kedelapan ekor Naga itu melihat di muara Sungai Mahakam dipagari / dikitari oleh cahaya Pelangi dan dijaga dua ekor Naga yang bermahkota. Dengan kesalnya, kedelapan ekor Naga tadi berenang berputar-putar di muara sungai Mahakam sehingga menimbulkan gelombang air menggunung anak besarnya.

Melihat keadaan seperti itu marahlah dua ekor Naga yang menjaga muara Sungai Mahakam sehingga diserangnya delapan ekor Naga asing itu dan terjadilah pertarungan yang sangat dahsyat.

Pertarungan terjadi selama tiga hari tiga malam, dan kedelapan ekor Naga asing itu merasa kewalahan, lalu terdesak menghadapi dua ekor Naga penjaga muara Sungai Mahakam. Kedelapan ekor Naga asing itu mundur dan terus mundur sambil mengadakan perlawanan ala kadarnya atau seadanya saja sampai di tengah laut Balikpapan (pada saat itu belum bernama teluk / laut Balikpapan).

Di tengah-tengah laut itulah kedelapan ekor Naga asing tersebut berbalik melarikan diri menuju ke arah samudra. Adapun Kemala yang mereka cari itu, timbul tenggelam dalam keadaan ketakutan dan pada akhirnya terdampar di pinggir pantai berubah ujud menjadi sebuah pulau kecil yang disebut Pulau Tokong.

Dalam bahasa Kutai, Tokong itu berarti halus / kecil. Sebagai contoh, ayam kate, orang Kutai menyebutnya “ mano tokong” (ayam kecil).

Setelah terusirnya delapan ekor Naga asing itu, datanglah Aji Betara Agung Dewa Sakti dengan beberapa punggawanya melihat-lihat di mana tempat pertarungan dan di mana tempat berbaliknya kedelapan ekor Naga asing itu.

Setelah Aji Betara Agung Dewa Sakti mengetahui dimana tempat kedelapan ekor Naga asing itu berbalik menuju arah samudra, di tempat atau di tengah laut itu lah dinamai oleh Aji Betara Agung Dewa Sakti dengan sebutan laut Balik Delapan.

Kemudian Aji Betara Agung Dewa Sakti pergi menuju pantai di mana Kemala itu terdampar yang telah berubah ujud menjadi Pulau Kecil atau Pulau Tokong.

Aji Betara Agung Dewa Sakti langsung menghambur wija kuning atauberas kuning serta membakar dupa laki bini. Di saat itulah Pulau Jelmaan atau Pulau Kecil itu diberi nama Pulau Tokong atauTukung.

Aji Betara Agung Dewa Sakti langsung bersemedi dan menciptakan seekor ikan yang besarnya tiada terkira untuk menjaga perairan dimana Pulau Tokong (Tukung) itu berada.

Naga merupakan salah satu makhluk fiktif dalam kisah nyata, namun sangat dipercaya ada dalam kisah-kisah legenda. Begitu pun cerita naga yang dikisahkan dalam asal mula Balikpapan.

Kisah asal usul Balikpapan yang melibatkan Aji Betara Agung Dewa Sakti secara otomatis juga melibatkan hal-hal yang berkaitan dengan kerabat Kutai lainnya. Hal itu dikarenakan Aji Betara Agung Dewa Sakti merupakan raja pertama Kerajaan Kutai Kartanegara di Jaitan Layar pada waktu itu.

Cerita tentang naga sendiri sudah diperkenalkan melalui Sejarah Kerajaan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang disusun oleh Sultan Adji Mohammad Parikesit, Sultan Kutai , yang dibantu oleh Bapak Hafizds, yang disusun kembali oleh Adji Pangeran Hario Atmo Kesumo.

Cerita naga tersebut dimulai di Hulu Dusun yang merupakan permulaan kisah lahirnya Puti Junjung Buya atau Putri Karang Melenu. Pada saat itu dikisahkan suami istri Petinggi Hulu Dusun sangat besar hasratnya untuk mempunyai anak, mereka mengepuyakan segala cara, namun tiada diperoleh anak yang diinginkan.

Sampai pada suatu ketika, mereka kehabisan kayu bakar. Petinggi pun mencari kayu, namun tiada kayu diperolehnya. Oleh karena itu, diruntuhkannya kasau laki lalu dipotong-potongnya dan dibelahnya.

Sewaktu membelah kasau tersebut, didapati seekor anak sawah, kemudian dibawanyalah pulang. Anak sawah yang diperolehnya tersebut diasuhnya seperti anak bayi. Lama-kelamaan anak sawah tersebut menjadi besar yang berubah wujud menjadi naga. Karena perubahan tersebut, kedua suami istri itu menjadi takut. Sampai suatu ketika, mereka diberi mimpi oleh seorang anak perempuan yang parasnya tiada tara untuk membuatkan tangga bagi naga tersebut dapat turun dari rumah.

Setelah dibuatkan tangga tersebut, turunlah naga dengan diiringi kedua suami istri menuju ke tepian lalu masuk ke dalam air. Sesampai di air, maka ia pun berenang tujuh kali ke hulu dan tujuh kali ke hilir, terus menuju ke tepian batu, kemudian beredar tiga kali ke kiri, tiga kali ke kanan, kemudian ia pun tenggelam.

Setelah itu, datanglah angin ribut, topan kilat, guruh petir dan halilintar yang memecahkan anak gendang telinga. Tiada berapa lama setelah kejadian tersebut, pelangi membentang sukma, buyah pun mengumpul menyatu, maka sesaklah Sungai Mahakam karenanya.

Dari buyah yang menggunung itu pun terdengar suara anak bayi. Bayi tersebut bercahaya disaput oleh awan dan dipayungi oleh mega serta dibelit oleh ketari (pelangi) dua laki bini dan teja pun membangunlah serta bertiup angin sepoi-sepoi basah antara ada dengan tiada serta hujan pun rintik-rintik dan bunga pun berkembang memenuhi pinggir pantai. Jabang bayi itu berjenis kelamin perempuan berbaring di atas gong papar yang dijunjung oleh naga-naga dan Lembu Suana yang berpijak di atas batu.

Pada kelanjutannya, bayi perempuan tersebut dikenal sebagai Putri Junjung Buya atau Putri Karang Melenu.

Lembu Suana merupakan makhluk dalam mitos yang dipercaya sebagai tunggangan Aji Betara Agung Dewa Sakti dan Puteri Karang Melenu yang gerakannya sangat cepat seperti kilat.

Lembu Suana memiliki cirri-ciri bergading, berbelalai dengan wajah seperti gajah, bertaring seperti macan, bersurai seperti kuda, tubuhnya seperti tubuh kuda bersayap, bertaji seperti gurda, berekor seperti naga, dan bersisik sepanjang tubuhnya.

Jadi, keberadaan naga Kutai tersebut dalam legenda sudah ada mulai munculnya Putri Karang Melenu di Sungai Mahakam. Sampai sekarang, kepercayaan adanya naga yang menjaga Sungai Mahakam dan sekaligus menjaga daerah Kutai dan sekitarnya sebagai legenda terus hidup pada masyarakat Kalimantan Timur khususnya masyarakat asli yaitu Kutai dan Dayak.

Kisah naga asing yang datang ke Pulau Kalimantan tersebut memang belum dapat dipastikan legendanya. Namun, jika ditarik benang merah dari cerita Sejarah Kerajaan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang disusun oleh Sultan Adji Mohammad Parikesit halaman 12, diceritakan masa remaja Adji Betara Agung Dewa Sakti setelah dua tahun dieraukan. Ia kedatangan Raja Cina satu wangkang  (perahu besar) yang mengajaknya menyabung ayam dengan taruhan wangkang , isi, serta orangnya menjadi taruhannya jika Raja Cina tersebut kalah. Namun, Jika Raja Cina menang, Adji Betara Agung Dewa Sakti menjadi budak Raja Cina.

Kesepakatan pun diambil oleh Adji Betara Agung Dewa Sakti. Tetapi, dalam pelaksanaan permainan tersebut, Raja Cina berbuat curang. Ketika ayamnya kalah, ia meminta waktu kepada Aji Betara Agung Dewa Sakti, namun diam-diam ia menyuruh anak buahnya segera menjahit layar mereka yang sobek untuk segera pulang ke negaranya.

Setelah selesai dan siap kapalnya, Raja Cina dan anak buahnya berlayar. Kira-kira sampai di Laut Sangku Lirang yang pada waktu itu belum bernama Sangku Lirang, kapal tersebut kandas. Hal itu dikarenakan kutuk Aji Betara Agung Dewa Sakti bersangkutan dengan kelicikan Raja Cina tersebut.

Seketika itu, Raja Cina dan anak buahnya lari berpencar-pencar, ada yang ke utara, ada yang ke selatan, ada yang ke barat dan menjadi basab. Mereka akhirnya berdiam dan mendirikan kampung di perbatasan Kutai dengan Berau.

Berdasarkan kutipan cerita tersebut, dapat ditarik benang merah bahwa Raja Cina yang tidak dapat kembali ke negerinya inilah yang diperkirakan membawa delapan ekor naga asing datang ke Pulau Kalimantan. Mereka datang untuk mencari rajanya yang tidak kembali dan melihat tanda berupa cahaya gemerlap dari Pulau Kalimantan yang kebetulan adalah Wilayah Kutai Lama.

Namun, sesampainya di muara Sungai Mahakam, mereka telah dihadang oleh dua naga Kutai yang menjaga Sungai Mahakam sehingga terjadi pertarungan dan kedelapan naga asing tersebut kalah dan melarikan diri ke arah laut Balikpapan yang saat itu belum bernama Balikpapan.

Dikisahkan di Laut Balikpapan, kedelapan naga asing tersebut juga kalah bertanding dengan dua naga Kutai itu. Akhirnya, kedelapan naga asing tersebut balik melarikan diri ke arah samudera. Adapun cahaya gemerlap yang tak lain adalah Kemala yang mereka cari itu, timbul tenggelam dalam keadaan ketakutan dan pada akhirnya tedampar di pinggir pantai berubah ujud menjadi sebuah pulau kecil yang disebut Pulau Tokong. Dalam bahasa Kutai, Tokong itu berarti halus/ kecil. Sebagai contoh, ayam kate, orang Kutai menyebutnya “ mano tokong ”  (ayam kecil).

Setelah terusirnya delapan ekor naga asing itu, datanglah Aji Betara Agung Dewa Sakti dengan beberapa punggawanya melihat-lihat tempat pertarungan dan tempat berbaliknya kedelapan ekor Naga asing itu. Setelah Aji Betara Agung Dewa Sakti mengetahui tempat kedelapan ekor naga asing itu berbalik menuju arah samudra, di tempat atau di tengah laut itulah dinamai oleh Aji Betara Agung Dewa Sakti dengan sebutan laut Balik Delapan yang akhirnya lambat laun menjadi Balikpapan.

Kemudian Aji Betara Agung Dewa Sakti pergi menuju pantai tempat Kemala itu terdampar yang telah berubah wujud menjadi pulau kecil atau Pulau Tokong. Aji Betara Agung Dewa Sakti langsung menghambur wija kuning atau beras kuning serta membakar dupa laki bini yang diilustrasikan pada Gambar 2. Disaat itulah pulau jelmaan atau pulau kecil itu diberi nama Pulau Tokong atau Tukung. Aji Betara Agung Dewa Sakti langsung bersemedi dan menciptakan seekor ikan yang besarnya tiada terkira untuk menjaga perairan tempat Pulau Tokong atau Tukung itu berada. Tempat bertarak tapa  Aji Betara Agung Dewa Sakti sendiri disinyalir di landasan hellipad,  di dekat Benua Patra. Berikut ini, gambar-gambar yang mengingatkan pada peristiwa Aji Betara Agung Dewa Sakti bertarak tapa  (memohon petunjuk kepada Dewa secara spontan) pada Gambar 1 yaitu landasan hellipad yang berada pada tanda lingkaran merah, kemudian menghambur beras kuning serta membakar dupa laki   bini  di sepanjang Pulau Tokong pada Gambar 1 yang dideskripsikan melalui perayaan Erau oleh Sultan Kutai.

Gambar 1 Landasan  Hellipad   (tanda lingkaran merah, disinyalir sebagai tempat Aji Betara Agung Dewa Sakti Bertarak Tapa). Gambar 2 Sultan Berjalan ke arah Pulau Tokong (disinyalir sebagai Lokasi Pertempuran antara Delapan Naga Asing dan Dua Naga Kutai serta Tempat AJI Betara Agung Dewa Sakti Menghambur Beras Kuning dan Membakar Dupa Laki Bini)

 

Jika diperhatikan cerita legenda yang dipercaya oleh masyarakat Kutai tersebut yang disampaikan melalui Erau Balik Delapan, hal itu mempunyai benang merah dengan cerita Sejarah Kerajaan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang disusun oleh Sultan Adji Mohammad Parikesit mulai lahirnya Aji Betara Agung Dewa Sakti yang merupakan titisan Dewa, Putri Karang Melenu yang lahir setelah seekor naga menenggelamkan diri di Sungai Mahakam sampai kedatangan Raja Cina yang kebetulan layarnya sobek di Jaitan Layar, tempat kekuasaan Aji Betara Agung Dewa Sakti bertahta.

Selain itu, di dalam cerita yang disusun oleh Sultan Aji Mohammad Parikesit juga disebutkan beberapa daerah yang sekarang berada di bawah pemerintahan Kota Balikpapan yaitu pada cerita saat dieraukannya Aji Betara Agung Dewa Sakti. Saat itu orang-orang yang diundang, yakni orang Ungkal, orang Kenangan, orang Sembera, orang Merang Kayu, orang Santan, orang Santan Dalam, orang Bontang, orang Kaniungan, orang Beras Basah, orang Pandan Sari, orang Gunung Kemuning, orang Rijang dan orang Tanjung Semat.

Pandan Sari merupakan salah satu daerah yang disebutkan dalam cerita tersebut dan merupakan wilayah yang menjadi salah satu distrik   Kota Balikpapan sekarang.

Hal ini menunjukkan Balikpapan waktu itu sudah dikenal dan menjadi salah satu daerah yang terkait dengan Kutai melalui daerah tertuanya yaitu Pandan Sari. Selain Pandan Sari, juga disebutkan daerah lain di Kota Balikpapan yang  juga daerah tua kota ini.

Daerah tersebut diceritakan berkaitan dengan dieraukannya Putri Karang Melenu pada Sejarah Kerajaan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang disusun oleh Sultan Adji Mohammad Parikesit halaman 9. Dikisahkan saat itu orang-orang yang diundang untuk menghadiri perayaan Erau Putri Karang Melenu, yakni orang Binalu, orang Sembaran, orang Penyuangan, orang Senawan, orang Sanga-Sangaan, orang Kembang, orang Sungai Samir, orang Dondang, orang Manggar, orang Sambuni, dan orang Tanah Malang.

Dari penjelasan tersebut ada dua daerah yang saat ini masuk dalam distrik   Kota Balikpapan yaitu Dondang yang sekarang adalah Samboja dan Manggar. Hal ini mulai menampakkan suatu keterkaitan cerita legenda asal usul Balikpapan yang dirangkum oleh Lembaga Adat Kutai Balikpapan dimulai pada Zaman Batu Muda Neolitikum Masehi yang disampaikan melalui Erau Balik Delapan dan mengaitkannya dengan Sejarah Kerajaan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang disusun oleh Sultan Adji Mohammad Parikesit.  (Baca Selanjutnya : Keterkaitan Kesultanan Kutai dalam Erau Balik Delapan)

Baca Sebelumnya : Metode Penelitian  Tulisan ini (bagian 3)

Penulis : Ulum Janah
Editor : Akhmad Zailani

ULUM JANAH adalah dosen universitas Balikpapan. Ulum Janah lahir di Kota Malang, menyelesaikan S1 double degree jurusan Sastra Indonesia dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang tahun 2007 dan S2 jurusan Magister Ilmu Susastra Indonesia Universitas Diponegoro tahun 2016. Comfort penelitian di bidang sastra budaya dengan 4 hasil penelitian yang dua diantaranya telah dipublikasikan serta 2 hasil pengabdian satu diantaranya telah dipublikasikan

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan