”The ”The

B. KAJIAN PUSTAKA  

1.   Wujud Kebudayaan

Tindakan dan aktivitas manusia terangkai dalam suatu perbuatan yang berpola. Sebagai suatu sistem ide dan konsep dari serangkaian kerangka tindakan dan aktivitas manusia, tindakan tersebut menurut Parson, dkk. (Wiranata, 2011) dapat dirumuskan, yakni: ideas , activities , dan artifacts .  

Ideas merupakan wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks, dari ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan. Sifat ini sesuai demean wujud dasarnya masih merupakan sesuatu yang abstrak dan tidak dapat digambarkan secara nyata. Sebagian masih berupa kerangka pemikiran dalam otaknya.

Sebagian lain berupa kerangka perilaku yang ideal, yang memberikan corak dan jiwa, serta tatanan kehidupan yang serasi, seimbang, dan selaras. Sistem demikian ini tidak lain berupa tatanan norma ideal, pada beberapa masyarakat disebut sebagai adat atau adat istiadat, bersifat umum, dan turun temurun. Apabila dilanggar, akan menimbulkan suatu rasa yang tidak enak pada benaknya. Kalangan antropolog dan sosiolog menyebutnya sebagai sistem budaya.

Activities  merupakan wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Termasuk dalam kategori ini adalah tatanan manusia dalam hidup bersosialisasi dan berkomunikasi serta bergaul di antara sesamanya. Berbeda dengan sistem budaya, wujud kebudayaan berpola ini sangat gampang dilihat, bahkan dapat didokumentasikan karena ia tampak nyata dalam perilaku.  

Artifacts merupakan wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud kebudayaan ini lebih konkret lagi dan cenderung tidak memerlukan penjelasan apa pun. Benda hasil kerajinan, misalnya, dapat dirasa, disentuh, dan difoto.

2.   Adat Istiadat

Adat istiadat menurut Koentjaraningrat (2003) memiliki tiga sistem, yaitu: sistem nilai budaya, pandangan hidup, dan ideologi. Dari ketiga sistem tersebut, sistem nilai budaya merupakan tingkat tertinggi dan paling abstrak dari adat istiadat sebab nilai budaya terdiri dari konsep-konsep mengenai segala sesuatu yang dinilai berharga dan penting oleh warga suatu masyarakat, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman orientasi pada kehidupan para warga masyarakat yang bersangkutan. Walaupun nilai-nilai budaya berfungsi sebagai pedoman hidup warga suatu masyarakat, sebagai konsep sifatnya sangat umum, memiliki ruang lingkup yang sangat luas, dan umumnya sulit diterangkan secara rasional dan nyata, hal itu membuat nilai budaya berada dalam daerah emosional dari alam  jiwa seseorang. Suatu sistem nilai budaya seringkali merupakan suatu pandangan hidup, walaupun demikian kedua istilah itu sebaiknya tidak disamakan.

Pandangan hidup umumnya mengandung sebagian dari nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, yang telah dipilih secara selektif oleh individu-individu dan golongan-golongan dalam masyarakat. Dengan demikian, apabila “sistem nilai” merupakan pedoman hidup yang dianut oleh suatu masyarakat, “pandangan hidup” merupakan suatu pedoman yang dianut oleh golongan -golongan atau bahkan individu-individu tertentu dalam suatu masyarakat. Konsep ideologi juga merupakan suatu sistem pedoman hidup atau ciri-ciri yang ingin dicapai oleh para warga suatu masyarakat, namun yang sifatnya lebih khusus daripada sistem nilai budaya. Ideologi dapat menyangkut seluruh masyarakat (dalam kenyataan tentu ada pengecualian), tetapi dapat juga hanya golongan-golongan tertentu saja dalam masyarakat yang bersangkutan. Sebaliknya, istilah ideologi umumnya tidak digunakan dalam hubungan dengan individu.

3.   Unsur-unsur Kebudayaan

Clyde Kluchohn. foto ist

Unsur-unsur kebudayaan di dunia ini menurut Kluckhohn ada tujuh unsur, yakni: (1) sistem kepercayaan; (2) sistem kekerabatan dan organisasi sosial; (3) sistem mata pencaharian hidup; (4) peralatan dan perlengkapan hidup atau teknologi; (5) bahasa; (6) kesenian; dan (7) sistem pengetahuan. Sistem kepercayaan atau religi merupakan  s emua aktivitas manusia yang berkaitan dengan kepercayaan atau religi didasarkan pada suatu getaran jiwa, getaran jiwa ini disebut emosi keagamaan atau religious emotion . Emosi keagamaan ini umumnya pernah dialami oleh setiap orang, walaupun mungin hanya berlangsung beberapa detik saja. Religious emotion itulah yang mendorong orang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religi.

Apabila seseorang telah dihinggapi emosi keagamaan, maka suatu benda suatu tindakan, atau suatu gagasan menjadi keramat atau dianggap keramat. Bahkan sesuatu yang umumnya tidak keramat ( Profan) , bila dihinggapi emosi keagamaan maka benda, tindakan, dan gagasan tadi menjadi keramat. Suatu religi dalam suatu kebudayaan selalu mempunyai ciri-ciri untuk memelihara emosi keagamaan di antara pengikut-pengikutnya.

Emosi keagamaan mendorong tindakan-tindakan religi dalam hal sistem keyakinan, sistem upacara keagamaan, dan umat yang menganut religi. Sistem kekerabatan dan organisasi sosial merupakan   tatanan berupa adat-istiadat dan aturan-aturan masyarakat. Tatanan ini muncul untuk menjaga kesatuan dalam masyarakat.

Kesatuan sosial yang paling dekat dan mesra adalah kesatuan kekerabatan, yaitu keluarga inti dan kaum kerabat yang lain. Kemudian, ada kesatuan-kesatuan di luar kaum kerabat, tetapi masih berada dalam lingkungan komunitas, yaitu organisasi sosial. Sistem kekerabatan terdiri atas individu-individu yang mempunyai hubungan keturunan atau hubungan darah baik bilateral atau parental maupun unilateral.

Sedangkan organisasi sosial memiliki identitas kolektif yang tegas, daftar anggota yang terperinci, dan program kegiatan yang jelas. Sistem mata pencaharian hidup , merupakan perhatian para ahli antropologi terhadap berbagai macam mata pencaharian atau sistem ekonomi terbatas pada sistem yang bersifat tradisional saja. Perhatian ditujukan pada keterkaiatan antara mata pencaharian demean kebudayaan sesuatu suku bansa secara menyeluruh.

Sistem mata pencaharian tersebut, yakni: (1) berburu dan meramu; (2) berternak; (3) bercocok tanam di ladang; (4) menangkap ikan; dan (5) bercocok tanam. Kelima sistem mata pencaharian tersebut, banyak dilihat dari sudut ekonominya yaitu: sistem produksi lokalnya (termasuk sumber alam dan cara mengumpulkan modal), cara pengerahan dan pengaturan tenaga kerja, teknologi produksi, sistem distribusi di pasar yang dekat, dan proses konsumsinya.

Peralatan dan perlengkapan hidup atau teknologi , bermula manusia membuat perlengkapan hidup atau teknologi sangat sederhana. Alat-alat yang dibuat cukup untuk dapat membantu pekerjaan pada masa itu. Banyak peralatan dibuat dari batu, tulang, dan kayu.

Peralatan dan perlengkapan hidup atau teknologi dibagi dua, yakni: (1) peralatan dan perlengkapan hidup masa berburu dari kapak perimbas, alat serpih, dan alat tulang; dan (2) peralatan dan perlengkapan hidup masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pertanian terdiri dari alat-alat produksi, senjata, wadah, serta makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung dan perumahan, juga alat transportasi.

Bahasa  merupakan alat komunikasi. Dengan bahasa sebagai alat komunikasi, semua yang berada di sekitar manusia: peristiwa-peristiwa, binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan, hasil cipta karya manusia, dan sebagainya, mendapat tanggapan dalam pikiran manusia, disusun dan diungkapkan kembali kepada orang-orang lain sebagai bahan komunikasi.

Komunikasi melalui bahasa ini memungkinkan tiap orang menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisik dan sosialnya. Bahasa memungkinkan manusia mempelajari kebiasaan, adat istiadat, kebudayaan, serta latar belakangnya masing-masing.

Fungsi bahasa dapat diturunkan dari dasar dan motif pertumbuhan bahasa itu sendiri. Dasar dan motif pertumbuhan bahasa itu dalam garis besar dapat berupa: (1) alat untuk menyatakan ekspresi diri; (2) alat komunikasi; (3) alat mengadakan integrasi dan adaptasi sosial; dan (4) alat mengadakan kontrol sosial.

Kesenian  adalah karya cipta, rasa, dan karsa manusia untuk memberi rasa nikmat atau keindahan. Karya seni yang dimaksud adalah seni rupa, seni pertunjukan, dan sastra, yang dapat dinikmati oleh manusia demean mata dan telinga. Pembagian kesenian ini berbeda-beda sesuai demean kebutuhan dan perkembangannya.

Prof. Dr. Koentjaraningrat (lahir di Sleman, 15 Juni 1923 – meninggal di Jakarta, 23 Maret 1999 pada umur 75 tahun) adalah antropolog Indonesia.

Menurut Koentjaraningrat (2002) seni drama adalah keseluruhan pembagian kesenian di atas disebabkan lapangan seni drama meliputi: seni lukis, seni rias, seni vokal (musik), seni tari, dan sastra. Sistem pengetahuan ,   merupakan pedoman manusia dalam kehidupan.

Banyak suku bangsa di muka bumi tidak akan dapat hidup jika mereka tidak mengetahui pada musim-musim apa berbagai jenis ikan pindah ke hulu sungai dan pada musim-musim apa jenis ikan lain pindah ke hilir sungai. Manusia juga tidak akan dapat bertahan hidup jika manusia tidak mengetahui secara teliti, ciri-ciri dari bahan mentah yang mereka gunakan untuk membuat peralatan.

Setiap kebudayaan selalu mempunyai seperangkat pengetahuan tentang alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, benda, dan manusia sekitar. Pengetahuan itu berasal dari pengalaman-pengalaman yang diabstrasikan menjadi konsep teori dan pendirian.

Para ahli antropologi menyadari bahwa suatu masyarakat, betapapun kecilnya, tidak mungkin dapat hidup tanpa pengetahuan mengenai alam sekelilingnya dan sifat-sifat dari peralatan yang dipakainya.

Pada pokok bahasan ini, kita menggunakan istilah pengetahuan ( knowledge ), bukan ilmu pengetahuan ( science  = ilmu pengetahuan; knowledge  = pengetahuan), yang tersusun secara sistematis, menggunakan pemikiran dan dapat diperiksa secara kritis (obyektif).

Sistem pengetahuan memiliki cabang-cabang pengetahuan setiap suku bangsa, yakni: pengetahuan tentang alam sekitar, pengetahuan tentang alam flora di daerah tempat tinggalnya, pengetahuan tentang alam fauna di daerah tempat tinggalnya, pengetahuan tentang zat-zat, bahan mentah, dan benda-benda dalam lingkungannya, pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia, serta pengetahuan tentang ruang dan waktu.

4.   Kebudayaan Folk

Kebudayaan Folk oleh Redfield dianggap berada dalam masyarakat petani pedesaan pada umumnya (yaitu  peasant society ), tetapi juga pada penduduk kota yang bersifat rakyat umum, yaitu penduduk yang tidak termasuk golongan elite atau yang berkedudukan tinggi (Koentjaraningrat, 2002).

Selain itu Redfield juga merumuskan mengenai konsep kebudayaan folk dalam emat tipe komuniti yang disebut: city  (kota), town  (kota kecil),  peasant village (desa petani), dan tribal village (desa terisolasi).

Cara Redfield menerangkan masyarakat folk dilakukan dengan membandingkannya demean masyarakat terisolasi, dan dinyatakan dengan kalimat-kalimat yang positif (lebih ini-itu) maupun dengan kalimat negatif (kurang ini-itu), seperti kurang terisolasi, lebih beraneka warna, lebih ada pembagian kerja, lebih terbuka ekonominya, kurang keramat, kurang banyak kegiatan keagamaan, kurang pengawasan kekerabatan, lebih banyak pranata-pranata berasas guna, kurang menganggap sakit sebagai akibat pelanggaran pantangan adat istiadat, lebih percaya kepada sihir dan guna-guna, lebih banyak memberi kesempatan kepada individu untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Secara singkat, semua sifat komparatif itu dapat diringkas menjadi tiga ciri, yaitu: (1) pengenduran adat istiadat; (2) sekularisasi; dan (3) individualisasi.

Hal tersebut juga ditunjukkan oleh penelitian Mayer yang berupa proses kajian komuniti demean pendekatan analisis jaringan sosial dapat menelusuri kehidupan sosial dalam komuniti yang bersangkutan dari dalam, dan dari sudut perasaan, sikap, dan pandangan para individu yang menjadi warganya.

Pendekatan ini tentunya berbeda dengan pendekatan yang konvensional (dari luar) yang dilakukan sebelumnya, yang umumnya dilakukan dalam penelitian antropologi, yaitu penelitian terhadap satu komunitas sebagai satu kesatuan sosial holistik yang tertutup dan terisolasi dari komuniti-komuniti lain atau dari kata-kota sekitarnya.

Suatu komuniti seperti itu secara nyata tentu tidak ada. Semua komuniti dan komunitas tentu melakukan hubungan dengan satuan-satuan sosial lain di sekitarnya, baik melalui warganya sebagai individu, maupun melalui saluran-saluran resmi sebagai kesatuan.

Hal ini telah diterangkan oleh Redfield dengan panjang lebar, dan zaman ketika para ahli antropologi memberi perhatian khusus pada sifat terisolasi dari masyarakat itu, sekarang sudah lewat (Koentjaraningrat, 2002).

5.   Interdisiplin Sejarah dan Foklor

Endraswara (2009) menyatakan sejarah terkadang bersifat fiktif, penuh rekayasa. Hal tersebut dikarenakan sejarah sebenarnya mirip kisah. Kisah boleh dibuat-buat. Begitu pula sejarah dalam folklor.

Folklor dengan sendirinya sudah bersifat imajinatif. Tentu saja dalam folklor penuh serentetan peristiwa yang imajinatif pula, meskipun bersangkut-paut dengan sejarah.

Mempelajari sejarah lewat folklor, mirip belajar sejarah lewat babad. Folklor dan babad adalah senada. Keduanya memuat sumber kisah. Agar sumber kisah itu lebih terpercaya, pencipta babad dan folklor sering memasukkan tokoh, tempat, dan setting sejarah.

Pada situasi semacam ini, berarti folklor dapat dimanfaatkan sebagai sumber sejarah. Ahli folklor yang telah banyak membeberkan teori analisis sejarah dalam folklor adalah Vansina.

Asumsi dasar dari wilayah kajian ini dalam dua jilid buku yang dia tulis berjudul Oral Tradition A Study in Historical dan  Methodology Oral Tradition as History  adalah, folklor merupakan sumber sejarah.

Folklor diciptakan tidak lepas dari sejarah lingkungan sosial budaya. Oleh sebab itu, mengungkapkan folklor sama halnya juga menangkap aspek sejarah. Berkiblat dari Vansina, memang ada metode tersendiri yang semestinya dilakukan oleh peneliti folklor dari aspek historis.

Vansina menegaskan, khususnya dalam bidang tradisi lisan dapat diingat atau dianalisis secara sastra etnologi. Maksudnya, teks folklor sebagai pembawa pesan kisah rakyat.

Dari penggabungan folklor dan etnologi, yyaitu ilmu tentang etnik (bangsa), nilai historis akan terungkap. Berbagai ragam folklor dapat dijadikan berbagai sumber sejarah, seperti testimoni (kesaksian). Testimoni dalam folklor lisan amat penting, umumnya dilakukan oleh informan.

Testimoni dalam folklor dapat digali melalui berbagai tipe, antara lain slogan, ajaran, ritual, puisi, nama-nama tempat, nama pribadi, mitos, dan sejumlah keterangan dan kesaksian. Seluruh hal tersebut dapat dijadikan sumber sejarah lisan.

Bahkan, hal-hal yang berisi takhayul pun amat menarik sebagai sumber sejarah. Intinya, penelitian folklor dan aspek sejarah merupakan interdisiplin yang penting dalam mewujudkan peta keilmuan.

Kebenaran imajinatif pun sulit dipandang remeh karena telah lahir dari kesaksian. Kesaksian folklor dapat dilakukan oleh individu, maupun kolektif. Atas dasar ini, berarti tugas peneliti adalah mengungkap sekian banyak testimoni, yang dikaitkan demean sejarah. Mungkin sekali, sejarah tersebut sebagai sejarah lokal. Mungkin pula hal tersebut terkait dengan sejarah nasional dan internasional. (Baca bagian pertama sebelumnya : Menelusuri Sejarah Asal Mula Balikpapan Melalui Perayaan Erau Balik Delapan 1)

Penulis : Ulum Janah
Editor : Akhmad Zailani

ULUM JANAH adalah dosen universitas Balikpapan. Ulum Janah lahir di Kota Malang, menyelesaikan S1 double degree jurusan Sastra Indonesia dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang tahun 2007 dan S2 jurusan Magister Ilmu Susastra Indonesia Universitas Diponegoro tahun 2016. Comfort penelitian di bidang sastra budaya dengan 4 hasil penelitian yang dua diantaranya telah dipublikasikan serta 2 hasil pengabdian satu diantaranya telah dipublikasikan

”The ”The

Tinggalkan Balasan