Kaltim Ampunku, 15 September 2010

                                                                                Catatan : H Syaharie Jaang

SAMA dengan open house lebaran tahun-tahun sebelumnya, ribuan masyarakat Samarinda dari berbagai lapisan masyarakat datang ke rumah kecil kami di Perumahan Citra Griya Sungai Kunjang. Tak hanya pejabat, pegawai di lingkungan Pemkot Samarinda dan berbagai lapisan masyarakat  banyak terlihat berdatangan.

                Masyarakat yang datang ke rumah saya tersebut, tak hanya berasal dari lingkungan sekitar saya tinggal, tapi banyak yang berasal dari pinggiran kota. Seperti dari Lempake, Sungai Siring, Bantus, Bukuan, Pinang Seribu, Tanah Merah, Sindang Sari, Makroman, Pulau Atas, Air Putih dan kelurahan-kelurahan lainnya.

                Alhamdulilah, saya bersyukur dan senang bisa bersilatuhrahmi dengan masyarakat dari berbagai lapisan. Sekalipun ada kebahagiaan saat bertemu dengan masyarakat, namun saya tak bisa memungkiri; di hati saya ada perasaan sedih.  Saya sedih, inilah open house lebaran terakhir sebagai wakil walikota Samarinda dan ayahanda  H Achmad Amins dengan masyarakat Samarinda. Sekalipun memang, untuk bersilatuhrahmi tak ada dinding yang membatasi.  Saya sedih, apakah nanti bila tak lagi menjabat sebagai Wawali Samarinda, para pejabat, pegawai dan masyarakat Samarinda masih mau datang ke rumah kami yang sederhana? 

                Kesedihan saya, sama halnya dengan kesedihan saat berpisah dengan ramadhan. Apakah nanti saya masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan ramadhan berikutnya? Apakah saya masih diberi umur panjang atau maut lebih dulu menjemput? Semuanya itu sudah digariskan-Nya. Dan, tak ada satu pun yang lebih maha mengetahui selain Allah SWT.

                Waktu terasa begitu cepat berlalu. Di ramadhan lalu, baik ketika berbuka puasa, atau shalat tarawih, atau usai shalat lainnya dan berbagai acara serta kegiatan lainnya dengan masyarakat, saya telah menyampaikan; inilah ramadhan terakhir saya sebagai Wawali Samarinda. Kecuali bila Allah SWT merestui, dan masyarakat Samarinda memberikan kepercayaan saya sebagai Walikota Samarinda, tentu kita akan bertemu lagi.

                Dalam kesempatan itu, sebagai manusia yang serba kekurangan, dan hanya Allah SWT yang memiliki kelebihan, saya  mohon maaf lahir bathin, minal aidzin wal faidzin karena ada banyak kekurangan selama menjabat sebagai Wawali mendampingi ayahanda saya H Achmad Amins.

                Tak lupa, saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat Samarinda yang telah mendukung  saya dan ayahanda H Achmad Amins untuk perbaikan Samarinda ke depan yang lebih baik.  

                Biarlah kami bersedia jadi gudang caci maki dan berbagai kejelekan lainnya dari warga Samarinda yang tak puas dengan kota Samarinda sekarang. Kami juga tak berharap berbagai pujian dari masyarakat lainnya, yang jujur menyebutkan Samarinda telah mengalami kemajuan pesat, dan bukan lagi kampung besar yang selama ini disebut-sebut.

                Saya kagum dengan Ayahanda H Achmad Amins, yang merupakan pekerja keras. Beliau gila kerja. Banyak terobosan-terobosan yang tujuan akhirnya untuk kepentingan masyarakat. Kenapa ayahanda H Achmad Amins adalah pekerja keras gila kerja? Karena keinginan beliau yang mulai membangun pembangunan proyek-proyek besar, seperti pembangunan jembatan Mahkota II, pembangunan pelabuhan peti kemas, pembangunan bandara Internasional, relokasi warga dan penataan Sungai Mahakam dan Sungai Karang Mumus.  Beliau juga yang pertama melakukan terobosan berobat gratis untuk masyarakat. Tak hanya itu, warga yang melahirkan dan meninggal dunia juga diberikan santunan. Perhatian lain juga diberikan kepada para Ketua RT yang jumlahnya hampir mencapai 2000 orang, ratusan penjaga masjid, tukang sampah hingga tukang mandikan jenazah serta anggota masyarakat lainnya.

                Ayahanda H Achmad Amins juga welcome terhadap para investor di berbagai bidang usaha.  Suasana kondusif dan damai kota Samarinda terus terjaga dengan baik, memudahkan masyarakat berusaha untuk mencari rezeki. Seperti halnya kota besar, yang tumbuh menuju kota metropolitan, berbagai masalah sosial selalu ada. Seperti gula yang dirubung semut, kaum urban yang umumnya masyarakat kelas menengah ke bawah berdatangan mencari kerja di Samarinda. khmad zailani/mc pro rakyat

Editor : Dinda Az-zahra Mahaghita

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan