Kaltim Ampunku, 23 Agustus 2010

   Jaa,nur Ramadhan, datangnya cahaya di bulan kemulian

INGAT film “Mendadak jadi Dangdut” (MjD)? Di bulan Ramadhan ada pula yang Mendadak Jadi Dai (MjD). Memberi ceramah lewat televisi. Alhamdulilah. Biar pun hanya musiman karena ada muatan politis untuk kekuasaan. Menjelang ramadhan, para penyair dadakan pun ramai mengirim SMS (Short Message Service) ucapan selamat melaksanakan ibadah puasa dengan kalimat-kalimat  puistis. Subhanallah, indahnya Ramadhan.

Semoga yang  mendadak jadi dai tetap di jalurnya. Tak hanya dikarenakan tahun ini Pemilukada Samarinda bertepatan dengan ramadhan. Dai, atau pun ulama lainnya tentu saja tak akan ‘cemburu’ merasa tersaingi, karena ini untuk kebaikan ummat.  Bila pun masih menjabat sebagai wakil rakyat, tentu saja jangan melupakan tugas utamanya, membela kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi, keluarga atau kelompoknya saja. Ataupun bila sudah diberi amanah sebagai wakil rakyat, jangan lantas ingin diberi amanah lain lagi. Nanti Allah SWT akan murka kepada hambanya yang tidak pernah puas dengan apa yang telah diberikan.

H Syaharie Jaang, bukanlah dai, kiai atau ulama. Syaharie Jaang adalah umara, karena saat ini menjabat sebagai Wakil Walikota Samarinda. Diberi amanah sebagai umara, Jaang berupaya melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Karena kepercayaan itu, Jaang hingga dua periode (10 tahun) diberi amanah masyarakat Samarinda. Bersama H Achmad Amins, sudah banyak yang dilakukan Syaharie Jaang. Berbagai terobosan pembangunan dilakukan.  Hasil secara umum, kota Samarinda mengalami kemajuan yang pesat dan masuk katagori sebagai  kota besar di Indonesia. Bukan lagi sebuah kampung yang besar.

Penceramah kondang dari Kalsel KH Achmad Bakeri atau biasa disebut Guru Bakeri ketika ceramah di Islamic Center mengatakan, masyarakat harus bisa bersyukur. Jangan hanya karena kesalahan kecil, maka sesuatu yang sudah banyak dilakukan pemimpin untuk masyarakat jadi terhapuskan.

‘’Pandai-pandai lah mensyukuri apa yang telah kita rasakan dan nikmati,’’ ujar Guru Bakeri yang di kesempatan berikutnya juga berpesan ‘titip Pak jaang dan Pak Nusyirwan di Pemilukada Samarinda’ ini.

 Sebagai kota besar, hal wajar bila Samarinda didatangi para  pendatang. Dan umumnya yang datang adalah masyarakat kecil, yang setiap tahun menambah deretan warga miskin dari Jawa dan Sulawesi. Dan alhamdulilah, para perantau ini banyak juga yang berhasil. Mereka mencari rezeki di berbagai bidang di kota Tepian ini. Tak bisa juga disalahkan, bila di antara mereka juga ingin menjadi pemimpin.

Pemimpin yang baik hanyalah orang yang bisa melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Tanggung jawab pemimpin akan terlaksana jika dia selalu adil. Dan terwujudnya keadilan bisa dilihat jika seorang pemimpin mengutamakan kesejahteraan rakyatnya daripada dirinya atau keluarganya. Inilah pentingnya keadilan seorang pemimpin. Dalam kitab al-Amwal, karya al-Qasim bin Salam disebutkan bahwa amalan satu hari yang dilakukan oleh pemimpin yang adil itu lebih baik dari amal ibadah seseorang untuk keluarganya selama 100 atau 50 tahun. Maka pemimpin yang baik adalah orang yang paling berkualitas.

Di antara kandidat Walikota Samarinda, Jaang-Nusyirwan adalah kandidat yang berkualitas. Baik berkualitas diri karena akhlak dan moralitas yang baik. Maupun berkualitas karena track record (rekam jejak) dan pengalaman  yang baik di pemerintahan selama ini. Pasangan nomor urut 2 yang banyak mendapat dukungan masyarakat ini memiliki keinginan kuat untuk membangun Samarinda ke depan yang lebih baik. Kenapa ulama banyak yang mendukung Jaang-Nusyirwan, salah satunya karena kedua figur pemimpin inilah yang mengajak masyarakatnya bershalawat dan berzikir memuji Allah SWT dan Nabi Besar Muhamma SAW.

Bila kita salah memilih figur pemimpin, sama halnya kita tidak memiliki pemimpin (yang baik). Maka tidaklah berlebihan jika banyak tokoh-tokoh bijak pandai (hukuma) berkata; : “Agama adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga. Segala yang tidak berpondasi, niscaya akan hancur. Dan segala yang tidak mempunyai penjaga, pasti akan hilang”. Senada dengan pendapat tentang keharusan adanya pemimpin yang ditaati, Ibn al-Mu’tazz berkata: “Rusaknya rakyat karena tidak adanya pemimpin adalah seperti rusaknya badan tanpa ruh”. (Abu ‘Abdillah al-Qal’i, Tahzib al-Riyasah wa Tartib al-Siyasah, Maktaba al-Mannar, Yordan, ed. Ibrahim Yusuf dan Mustafa). Akhmad zailani/mc pro rakyat.

Editor Sulthan Abiyyurizky P

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan