Belum di pemerintahan sudah menghalalkan segala cara

Ketua RT Digiring-giring, Wajah Tokoh Dijadikan Iklan

Kaltim Ampunku, catatan Akhmad Zailani (1 Oktober 2010)

Ustad Muhammad bersama Syaharie Jaang di rumah Syaharie Jaang saat lebaran Idul Fitri belum lama ini Foto Akhmad Zailani

KASIHAN masyarakat. Terutama masyarakat pendukung yang menginginkan figur perekat semua etnis, agama dan golongan, yaitu pasangan pro rakyat H Syaharie Jaang dan H Nusyirwan Ismail terpilih sebagai Walikota-Wakil Walikota Samarinda 2010-2015. Masyarakat—yang paling banyak Ketua RT–banyak yang direkayasa, digiring-giring seakan-akan mendukung pasangan calon tertentu. Di antaranya, ustadz  H Muhammad Tang, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayullah Samarinda.

                Bahkan, wajah ustadz ramah ini sempat dipajang beberapa hari di bulan ramadhan untuk dijadikan iklan di sebuah harian lokal, yang menyatakan bahwa dirinya mendukung pasangan calon tertentu. Ketika itu ustaz Muhammad Tang,  memang ditanya tentang perubahan, dan dirinya mendukung perubahan Samarinda ke depan yang lebih baik. Tapi jangan lantas diartikan, dirinya  mendukung pasangan calon tersebut.

                Ustadz Muhammad Tang sempat repot, dan tidak enak hati dengan Syaharie Jaang. Dirinya pun sempat ke bagian Humas Pemkot Samarinda untuk minta bantuan klarifikasi. Bahkan kabarnya, Muhammad Tang juga datang ke Walikota Samarinda H Achmad Amins, namun disarankan Amins, diselesaikan secara baik-baik saja, dengan calon bersangkutan.

                Pimpinan Pondok Pesantren Hidayullah ini pun “menyerah”. Usai ramadhan, dirinya dan keluarga bersilatuhrahmi ke rumah Jaang. Itulah salah satu contoh, masyarakat yang “dibajak”, dipaksa-paksa untuk mendukung pasangan calon tertentu, sementara hatinurani masyarakat Samarinda dari berbgai etnis, agama dan golongan lebih ke pasangan Jaang-Nusyirwan.

                Para Ketua RT begitupula. Hanya tanda tangannya saja yang diharap. Namun setelah dicermat-cermati ternyata kontrak politiknya masih ada celah bagi pasangan calon tersebut untuk berkelit atau beralasan, bila terpilih tapi janjinya tidak bisa dilaksanakan.

                Demi mengejar target, bukan Ketua RT yang bertanda tangan tidak apa-apa. Asalkan ada bendahara atau sekretaris bolehlah. Sayangnya, masyarakat atau warga RT banyak yang kurang setuju.

                Tokoh lain yang “direkayasa” adalah Habib Ali dan KH Sa’ad Idjan. Dalam sebuah kegiatan keagamaan kedua tokoh agama ini difoto oleh pasangan calon tertentu, lantas dimasukkan koran. Menghalalkan segala cara untuk mengejar jabatan walikota-wawali ini membuat masyarakat akhirnya tidak simpatik. Masyarakat lebih bersimpati kepada pasangan nomor urut 2, yang nyata-nyata banyak tokoh agama, tokoh suku, dan tokoh masyarakat lainnya yang menyatakan mendukung dan siap memenangkan pasangan merakyat ini.  Tapi ada hikmahnya juga, KH Sa’ad Idjan menjadi semakin dekat dengan Syaharie Jaang setelah “direkayasa” difoto dengan pasangan calon tertentu lantas dimasukkan koran.  mc pro rakyat.

Editor Dinda Az-Zahra Mahaghita

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan