‘’Kita Tidak Butuh Pemimpin Banyak Pender’’

‘’Kita Tidak Butuh Pemimpin Banyak Pender’’

Kaltim Ampunku, catatan Akhmad Zailani (20 September 2010)

Komentar ustadz Habib Ahmad Al Habsy tentang Figur Jaang-Nusyirwan (2-habis)

USTADZ Habib Ahmad Al habsy menilai, figur Jaang-Nusyirwan bukanlah tipe pemimpin yang banyak bicara. Dia sempat bertanya apa kalimat yang tepat menurut orang Samarinda mengenai orang yang lebih banyak bicara daripada bekerja tersebut. Pendukung  pasangan nomor 2 ini menyebut; banyak pender. Ada juga yang menyebut artinya Pembualan.

————————–

                Acara halal bihalal Jaang-Nusyirwan bersama masyarakat Samarinda, yang diselenggarakan Koalisi Rakyat Bersatu (KRB) ini dihadiri sejumlah tokoh. Termasuk para tokoh non Islam.  Di antara tokoh yang hadir, yakni BS Suba (Ketua Ikatan Keluarga Tana Toraja Kaltim), H Djaffar Haruna (mantan Ketua KPU Kaltim), Ketua PPP Kaltim H Khairul Fuad, tokoh KSSS  H Mahmud dan istri Hj Andriani Mahmud (mantan anggota DPD RI), A Galib Aziz, Andi Fathul Khair (Ketua PBR Kaltim), praktisi hukum Supriyana, Ketua PKS Samarinda Sarwono, Ketua PHM Kaltim H Udin Mulyono, tokoh wanita Hj  Antung, Rosidah, anggota DPRD Samarinda dari partai pengusung dan pengurus parpol pengusung serta sejumlah pengurus Ormas. Berikut ini lanjutan dari komentar ustadz Habib Ahmad Al habsy mengenai figur Jaang-Nusyirwan;

                ‘’Seperti yang beliau (Syaharie Jaang)  katakan. Kita tidak butuh pemimpin yang yang banyak omong. Pemimpin pembohong, yang membohongi masyarakat, apalagi dengan janji akan memberikan uang hingga seratusan juta rupiah.. Kita butuh pemimpin yang cerdas, dengan sejumlah program pembangunan yang bermanfat buat masyarakat. Bukan pemimpin yang hanya bisa menjanjikan dalam bentuk jumlah uang tertentu. Kita sudah dewasa. Tentu kita bisa memilah pemimpin yang baik, pemimpin yang mampu membawa kebaikan bagi semua ummat.

                Masyarakat Samarinda butuh pemimpin yang seiya sekata. Dan saya lihat, insyaallah ini ada pada pasangan Syaharie Jaang dan Nusyirwan Ismail. Amin. Beliau telah banyak berbuat, namun tak mau banyak pandir.  Ada calon yang belum terbukti, tapi sudah merasa paling mampu.

                Saya juga bangga, Samarinda ini seperti Indonesia mini, yang terdiri dari beragama suku, agama dan golongan, yang semuanya bisa hidup rukun dan damai. Harapan kita semua, suasana rukun dan damai ini terus dijaga. Saya kira, figur beliau (Jaang-Nusyirwan) sebagai figur pemerekat kerukunan dan kedamaian tersebut akan mampu menjaga suasana aman dan tentram untuk masyarakat Samarinda.

                Demikianlah apa yang disampaikan oleh Habib Ahmad Al Habsy tentang Jaang-Nusyirwan, figur pemimpin yang paling siap memimpin Samarinda dan layak serta pantas didukung oleh masyarakat Samarinda untuk menjadi Walikota dan Wakil Walkota Samarinda periode 2010-2015.

Saya menilai figur Jaang lebih baik, karena dia bisa bersyukur dengan mengucapkan terima kasih atas dukungan masyarakat Samarinda yang telah mempercayakan dirinya sebagai Wakil walikota Samarinda. Ini menunjukkan, beliau (Syaharie Jaang) bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT atas jabatan sebagai Wakil walikota.  Permintaan maaf beliau (karena ada masyarakat yang kurang puas dengan hasil pembangunan yang telah dicapai) menurut saya juga sungguh mulia, karena menyadari kekurangan. Manusia memang penuh kekurangan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.

                Di bagian selingan ceramahnya, habib Ahmad sempat menyampaikan, dalam waktu dekat rencananya buku yang ditulisnya, berjudul; Ada Sorga di RumahMu, akan beredar di pasaran. Isi buku tersebut menggambarkan, untuk apa jauh-jauh, mengeluarkan biaya besar, tenaga dan sebagainya untuk mengejar masuk surga, bila jalan masuk sorga tersebut ada di rumah kita sendiri.

                Habib mencontohkan, seorang dermawan yang menyumbang milyaran rupiah untuk masjid, tapi pelit hanya untuk memberi satu juta rupiah kepada orang tuanya. Atau, orang yang naik haji ke Mekkah  agar bisa masuk sorga,sementara dia melupakan orang tuanya. Contoh lain, banyak yang begitu hormatnya menciumi tangan, pipi dan dada ulama atau ustadz, sementara untuk mencium tangan, kening atau kaki ibunya sendiri enggan dilakukan.   

                Pendek kata, isi buku Habib Ahmad ini berisikan contoh mencari jalan ke sorga salah satunya di rumah sendiri, dengan hormat kepada orang tua. Bila orang tua sudah meninggal, maka setiap hari tak lupa mendoakan dan berusaha untuk menjadi anak yang sholeh. Akhmad zailani/mc pro rakyat

Editor : Adella Azizah Maharani

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: