Maaf, Rumah Kalah Besar Sama Garasi

Maaf, Rumah Kalah Besar Sama Garasi

Kaltim Ampunku, catatan Akhmad Zailani (16 September 2010)

DI bagian pertama tulisan saya menyinggung tentang rumah saya yang kecil di perumahan Citra Griya Sungai Kunjang. Banyak yang bertanya-tanya, kenapa saya tak pindah ke perumahan elit seperti Villa Tamara, misalnya. Selain saya merasa cocok dengan lingkungan sekitar, saya juga lebih terbiasa ingin hidup sederhana. Saya ini berasal dari anak keluarga petani dari hulu mahakam. Biasa hidup susah. Saya sudah tinggal di rumah saya itu sebelum saya menjadi anggota DPRD Samarinda  2 tahun, lantas Wawali samarinda selama 10 tahun.

                Namun sekalipun rumah saya kecil, namun selalu cukup menerima tamu ratusan orang hingga seribun orang dari berbagai lapisan masyarakat. Dari tukang ojek hingga pengusaha sukses. Dari pegawai honorer terendah hingga pejabat tinggi. Bagi saya, siapapun tamu saya maka harus saya layani dengan baik. Ruang tamunya, terpaksa saya meminjam jalan di perumahan di depan rumah saya.   

                Salah satu tamu yang berkenan hadir di rumah saya yang kecil adalah kanda Luther Kombong, seorang pengusaha sukses dan anggota DPD RI. Kebanggaan bagi saya, didatangi tokoh seperti kanda Luther. Sekalipun beliau pengusaha sukses, namun bagi saya beliau  termasuk guru politik saya.

                Kaitan Luther dengan rumah saya yang kecil sebenarnya sudah saya ungkapkan di sebuah silatuhrahmi bersama tokoh Sulselbar di Hotel Golden beberapa waktu lalu. Saat itu kanda Luther juga hadir. Setengah bercanda, saya kembali mengulang apa yang dikatakan kanda Luther, bahwa rumah saya kalah besar dibandingkan dengan garasi beliau.  Saya tahu kanda Luther tak menghina saya, sekalipun kalimat itu sindiran bagi saya. Itu cambuk untuk memotivasi dan memberi semangat, bahwa kita harus bekerja keras. Seperti para perantau sukses karena bekerja keras.

                Memang masih banyak yang tak percaya, dengan harta kekayaan yang saya miliki. Namun itulah faktanya. Niat tulus bukan sekedar mencari materi inilah yang melatar-belakangi saya menerima dukungan masyarakat maju sebagai kandidat Walikota Samarinda 2010-2015. Saya memang pernah menjadi anggota DPRD Samarinda sekitar 2 tahun, dan Wawali 10 tahun. Selama itu tak ada keinginan saya mau macam-macam. Selama menjabat Wawali saya memback up tugas ayahnda H Achmad Amins. Saya lebih fokus kepada kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan, selain tugas-tugas seremonial di Pemkot, mewakili walikota.

                Saya mensyukuri yang ada, sekalipun rumah saya kecil dan bila dibandingkan dengan pasangan calon lainnya bukan di urutan terkaya, namun alhamdulilah dengan sedikit harta yang saya miliki saya selalu menyisihkan sebagian setiap tahun untuk membayar zakat, infaq dan sedekah kepada masyarakat lapisan bawah, seperti anak-anak kurang mampu dan para orang tua di pinggiran-pinggiran kota Samarinda.  (akhmad zailani/mc pro rakyat).

Editor : Sulthan Abiyyurizky

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: