Sekitar 1.850 an Ketua RT Masih Setia Mendukung Nomor 2

Kaltim Ampunku, catatan Akhmad Zailani (3 September 2010)

Perhatian Jaang Terhadap Ketua RT Sudah Lama (1)

TIM Jaang-Nusyirwan mengakui, memang ada beberapa Ketua RT yang mendukung pasangan calon lain. Namun jumlahnya sangat sedikit dibandingkan jumlah keseluruhan Ketua RT yang ada di Samarinda. Yaitu sebanyak 1.910 Ketua RT. Bukan 1.700 seperti yang disebutkan orang yang tak paham tentang RT.

‘’Memang ada beberapa Ketua RT yang mendukung pasangan calon lain di Palaran dan ada beberapa Ketua RT yang ikut kontrak politik dengan pasangan calon lain. Namun jumlahnya tak seberapa dibandingkan Ketua RT yang mendukung pasangan pro rakyat ini. Warganya banyak yang ke pasangan nomor 2. Ketua RT di Samarinda masih kompak mendukung pasangan Jaang-Nusyirwan. Jumlahnya sekitar 1.850 an Ketua RT,’’ ungkap salah seorang anggota Media Center Jaa,Nur Pro Rakyat H Akhmad Zailani kemarin.

Menurut Zailani, kenapa banyak Ketua RT di Samarinda yang masih setia mendukung  Jaang karena Jaang sudah sejak lama memperhatikan masyarakat, seperti Ketua RT, pengurus dan penjaga rumah ibadah maupun perbaikan atau pembangunan rumah ibadah.

‘’Di Indonesia, di Samarinda inilah yang pertama kali memberikan insentif, yang dimulai sejak tahun 2001 lalu. Saat itu jumlahnya memang sedikit. Namun, jumlah tersebut terus meningkat hingga sekarang menjadi Rp 300 ribu,’’ ujar Zailani.

Zailani masih ingat, karena dirinya bersama H Setia Budi, salah seorang Ketua RT di Kelurahan Temindung Permai Samarinda Utara yang memasukan usulan pertama kali agar Ketua RT diberikan insentif tahun 2001 lalu.

Saat itu Zailani yang ngepos sebagai wartawan di DPRD Samarinda menyarankan Setia Budi salah seorang Ketua RT membuat usulan agar Ketua RT diberikan insentif. Tujuannya, selain memacu semangat Ketua RT untuk bekerja lebih baik, juga agar tak terjadi pungutan terlalu banyak kepada masyarakat, saat meminta surat keterangan RT, atau urusan lainnya.

Setia Budi pun, yang saat itu termasuk tim sukses Achmad Amins-Syaharie Jaang bersama Zailani membuat usulan dan dibawa ke DPRD Samarinda. Kebetulan di dewan sedang membahas anggaran. Saat itu, wartawan leluasa meliput pembahasan anggaran dan duduknya di bangku deretan belakang.

Saat membahas anggaran tersebut, tak ada satupun anggota dewan yang “berselera” untuk menyuarakan agar Ketua RT diberikan insentif. Alasan anggaran terbatas, sedangkan jumlah Ketua RT cukup banyak.

‘’Karena yang boleh bersuara saat itu hanya anggota dewan, sementara saya dan haji Budi duduk di bangku kosong yang anggota dewannya tidak hadir ikut rapat. Kami yang duduk tepat di belakang salah seorang anggota dewan Pak Masykur Sarmian lantas mencolek punggungnya, agar perlunya insentif Ketua RT diberikan segera disampaikan, dan diusulkan masuk anggaran tahun 2001 tersebut. Masykur, yang berasal dari Fraksi PKS lantas bersuara, ’’ cerita Zailani.

Menurut Zailani, saat itu dirinya menyarankan Setia Budi, yang selain Ketua RT juga Ketua Partai Uni Demokrak Indonesia (PDI) Samarinda, pimpinan Sri Bintang Pamungkas agar menuliskan jumlahnya Rp 250 ribu per bulan. Saat itu pula Haji Budi untuk sementara ditunjuk sebagai Ketua Forum RT se Kota Samarinda. Karena tujuannya baik dan untuk kepentingan Ketua RT, penujukan jabatan itu bukan masalah besar. Pembahasan tentang insentif RT itu pun terus dipantau, hingga akhirnya dengan alasan keterbatasan anggaran hanya disetujui Rp 50 ribu. Itulah awalnya insentif Ketua RT, yang diusulkan tim sukses Amins-Jaang pertama kali. (mc pro rakyat/bersambung).

Editor : Desinta Syarifah Mahadewi

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan