Wawancara : Media Center Setelah Pasangan Jaanur Terpilih

* Balas Kepercayaan Masyarakat dengan Bekerja Sungguh-Sungguh

* Selanjutnya, Terserah Masyarakat Menilai

* Jangan Seperti Kacang yang Lupa Kulitnya

ADA bagian dari tim di balik kemenangan pasangan H Syaharie Jaang dan H Nusyirwan Ismail sebagai Walikota-Wakil Walikota Samarinda 2010-2015– selain ratusan relawan yang terhimpun dalam sekitar 50 an organisasi masyarakat (Ormas)– yaitu Media Center.  Bila pasangan calon lain, media centernya ada yang sampai dua, dan merangkul wartawan di berbagai media dengan modal besar, sebaliknya Jaang-Nusyirwan hanya punya satu media center, yakni Media Center Pro Rakyat. Berikut bincang-bincang Direktur Media Center Pro Rakyat Jaang-Nusyirwan, H Akhmad Zailani dengan Koran Kaltim berikut ini.

Bagaimana perasaan Anda setelah terpilihnya pasangan Jaang-Nusyirwan?

Perasaan saya lega. Setelah hampir delapan bulan konsentratrasi membentuk opini-opini melalui pemberitaan di koran-koran. Saat itu ada empat koran utama sebagai mitra pemuatan kampanye media, yaitu Kaltimpost, Samarinda Post, Koran Kaltim dan Tribun Kaltim. Saya lega, dengan keterbatasan dana pemuatan di koran dibandingkan pasangan calon lain, kita mampu mengimbangi di segi pemberitaan.

Gimana kok bisa bergabung di  Media Center Jaang-Nusyirwan?

Sebenarnya saya sudah lama kenal dengan Pak Syaharie Jaang. Sejak beliau menjadi anggota DPRD Samarinda tahun 1999 lalu. Saat menjabat sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan dan Ketua Komisi D yang salah satu tugasnya pengawasan pembangunan, beliau sering menghubungi saya bila turun lapangan untuk publikasi. Saya saat itu juga masih semangat-semangatnya sebagai wartawan Suara Kaltim. Setelah Pak Jaang setahun menjadi anggota dewan, Tahun 2000 bersama Pak H Achmad Amins, beliau  maju sebagai Cawali.  Saat bincang-bincang santai bersama Pak Fuad Arieph, Ketua DPRD Samarinda ketika itu di Hotel Tepian,  beliau minta masukan dari saya, di antara calon pasangan H Achmad Amins, yaitu Rusman Ya’kub dari PPP, Yayan Aliansyah dari PAN dan Syaharie Jaang dari PDIP siapa yang dianggap terbaik dari ketiganya. Saya saat itu menyebutkan, Pak Syaharie Jaang. Karena figurnya, yang santun, hormat pada yang lebih tua, tidak arogan, faktor ini yang lebih diperlukan agar bisa bekerja sama dengan Walikota Samarinda. Selain berbagai pertimbangan lainnya. Mungkin Pak Fuad ingin tahu pendapat saya, selain tentu saja pendapat Bapak H Achmad Amins sendiri dan beberapa orang lainnya.

Saat itu, saya lah satu-satu wartawan yang membela, membantu dan mendukung pasangan Amins-Jaang. Saat itu di Kaltim hanya ada dua koran harian lokal Manuntung dan Suara Kaltim. Ketika itu koran Suara Kaltim dikenal sebagai koran yang berita dan tulisannya tajam. Bila ingin mencari berita kasus, atau  maka orang lebih suka beli Suara Kaltim.

Saat itu kepala daerah masih dipilih anggota DPRD Samarinda.  Saingan cukup berat, yakni pasangan incubent H Lukman Said dan Kasmiruddin. Saya kala itu juga tak hanya sebagai penulis berita, tapi juga tukang lobi. Karena saya wartawan politik, maka saya ngeposnya di dewan. Semua anggota dewan saya kenal. Tak hanya kegiatan, tapi juga alamat rumahnya. Saya juga sebagai penghubung. Seperti misalnya, Pak Amins ingin bicara dengan anggota dewan maka saya menghubungkan komunikasi keduanya melalui handphone.

Saat Amins-Jaang maju sebagai walikota dan wakil walikota perode kedua 2005-2010, saya kembali menjadi di media centernya.

Sebenarnya keterlibatan saya di tim sukses kepala daerah bukan hanya di Samarinda saja. Sebagai wartawan politik, saya pernah ikut jadi provokator atau  membangkitkan semangat  pak H Achmad Hafidz, Bupati Nunukan. Saya berkenalan dengan salah seorang tim beliau di Samarinda setelah beliau gagal menjadi anggota dewan.  Beberapa kali beliau mendemo anggota dewan Nunukan, dan saya yang beritakan. Ratusan korannya kemudian dikirimkan ke Nunukan. Hampir setiap hari ketika itu, hingga Pak Achmad Hafidz berniat maju sebagai calon Bupati. Saya juga pernah terlibat di suksesi Berau dan beberapa daerah lainnya.

Karena sudah cukup lama kenal dengan Pak Syaharie Jaang itulah, saat ketemu di haul Guru Bangil di Pasuruan Jawa Timur saya diminta lagi untuk membantu di media center. Ada juga pasangan calon lain yang mengajak saya bergabung, tapi saya sudah terlanjur bergabung ke Media Center Jaa,nur.

Apa suka dukanya di media center?

Dukanya di  media center ini, karena selalu saja ada lawan. Bagi pasangan calon, setelah terpilih tak ada lawan abadi. Cuman bagi kita, tentu saja ada perasaan tidak enak. Saat pilkada 2005-2010, saya di media center Amins-Jaang. Koran harian tempat saya bekerja, tidak mendukung, yang penting ABA, Asal Bukan Amins. Karena saya sendirian saya dimusuhi. Beberapa hari menjelang pencoblosan, ibu saya mendadak meninggal dunia, satu orang teman wartawan tempat saya kerja tak ada yang datang. Sejak itu saya putuskan berhenti. Pak Amins dan Pak Jaang tidak tahu ini.

 Yang saya sesali, saya tak menyempatkan banyak waktu untuk bertemu ibu saya di akhir-akhir kepergian beliau, karena kesibukan di media center. Saya bahkan pulang hingga tengah malam. Karena tugas media center ini, bukan hanya mengikuti pasangan calon, setelah kegiatan atau acara selesai, di situlah wartawan yang meliput mulai kembali bekerja. Mungkin pasangan calon sudah di rumah sambil minu kopi nonton TV atau sudah tidur kala itu. Bila kegiatannya malam selesai jam 10 atau jam 11 malam, maka setelah itu kita mbuat berita. Bagi yang mengerti kerja wartawan, pasti bisa memahami.

Sedangkan suka, bila pasangan calon yang kita dukung itu bisa terpilih.

Gimana kerja Media Center Jaang-Nusyirwan ini?

Sebenarnya kerja kerja bukan hanya mengikuti pasangan calon lalu menuliskan beritanya, tapi kita juga mengarahkan berita, menangkis berita yang menyudutkan dan sekali-kali menyerang. Kita juga memberikan masukan, saran agar berita yang dinaikkan mengena.

Salah satu faktor pendukung kemenangan Jaang-Nusyirwan ini karena banyaknya relawan, yang terhimpun dalam ormas. Relawan itu tidak dibayar. Saya melihat potensi yang besar dari tim relawan ormas. Tahap awal, saya ingin memberikan semangat dan lebih menekankan kalau cari duit tak ada yang diharapkan dari pasangan calon ini. Opini itu yang pertama saya mainkan dan bentuk di koran-koran. Saya datangi sejumlah Ormas, di antaranya bersahaja, BP2SJ, Gema Satu, Syaroja. Ratusan relawan Inilah modal besar yang tak dimiliki pasangan calon lain. Makanya langkah awal kami di media center, memotivasi dan menumbuhkan kebanggaan dan semangat ormas-ormas ini dalam setiap pemberitaan. Selain juga sejak awal menampilkan figur-figur keunggulan Jaang-Nusyirwan. Seperti pasangan santun, ramah, hormat pada orang tua dan ulama, religius, taat dan mendukung kegiatan keagamaan, berpengalaman di pemerintahan dan bersih dari kasus KKN dan bermoral baik, sederhana dan  putra daerah pemersatu etnis. Ini yang selalu kami sisipkan dalam setiap tulisan. Kami juga mengenalkan jargon-jargon, paling siap ketika pilkada diulur-ulur, pasangan pro rakyat, pilkada damai satu putaran hemat anggaran. Kalimat-kalimat itu terus kami mainkan, dengan sumber  tokoh-tokoh agama dalam berbagai kegiatan. Di bagian selanjutnya  lalu kita mainkan  penyampaian program, yakni program gratis yang dirasakan masyarakat saat ini. Sambil sesekali kami mengkritik program pasangan calon lain. Di bagian akhir mendekati masa tenang, kami melempar isu-isu menyerang. Ketika lawan memainkan isu perlunya pemimpin baru, maka kita imbangi dengan duet kepemimpinan pasangan baru. Ketika lawan getol dengan program RT, maka kita lumpuhkan dengan kritik-kritikan, dengan menyodorkan program gratis yang sudah nyata dan terbukti.  IIncumbent biasanya diserang dengan kegagalan dan ketidakpuasan, tapi kini kita yang lebih agresif. Seperti prinsip petinju Muhamad Ali, cara bertahan yang baik adalah menyerang.

Apa yang didapat dari Media Center?

Tak banyak yang saya dapat. Satu peserpun saya taka pa-apa dari Pak Nusyirwan. Biasanya rekan seperjuangan itu kerap dilupakan, setelah ada teman baru yang membawa keuntungan. Kalau soal proyek, saya ikut lelang dan berusaha menang sendiri. Bahkan, saya sering dirugikan oleh tim Amins-Jaang baik melalui anggota DPRD pengusung ataupun orang-orang yang baru belakangan dan mengaku tim sukses. Tapi biarlah. 

Di media center ini pun sebenarnya saya rugi, buang waktu. Di bulan ramadhan tadi saya tak sempat berdagang pakaian. Teman-teman saya di Pasar Tanah Abang beberapa kali menghubungi saya mengajak bergabung, tapi saya tak bisa ke sana. Saya masih sibuk di media Center akhirnya saya bisa memenuhi ajakan teman tersebut. Rencananya, selain menjualn busana dan perlengkapannya, kami akan memprodyksi sendiri khusus baju koko untuk disebarkan di seluruh Indonesia. Saat ramadhan, pasar Tanah Abang memang ramai, pembeli dari berbagai daerah Indonesia berdatangan.

Sebelumnya saya menjual busana muslim di Mall Mesra Indah dan Mall Lembuswana, namun berhenti. Selain berdagang, saya juga memiliki beberapa angkot dan rumah kontrakan. Usaha Itulah yang menghidupi keluarga kami.

Apa harapan pasangan Jaang-Nusyirwan setelah terpilih?

Kita berharap, dan tentu juga harapan masyarakat, jangan sombong dan angkuh.  Tetap santun, ramah dan murah senyum kepada masyarakat.  Seperti motto bekerja melayani rakyat dengan hati. Kita harapkan, Pak Jaang dan Pak Nusyirwan juga berhati-hati dalam mengambil kebijakan, berani melakukan terobosan-terobosan pembangunan yang berpihak ke masyarakat. Harapan kita, semoga pasangan Jaang-Nusyirwan tak melupakan kawan seperjuangan yang telah membantu dan mendukung dirinya.  Pak Jaang-Nusyirwan juga harus berani merombak dan memulai pemerintahan yang baru, yang tak ada sangkut pautnya dengan kepentingan lama. Bila memang kurang loyal dan kinerjanya buruk ganti dengan pegawai lain rekam jejaknya baik.

Selain Almarhum Pak Kadrie Oening, yang saya tahu hasil kerjanya, saya juga menganggumi Bapak H Achmad Amins, yang di zamannya  berani melakukan terobosan dengan ide-ide gila dan meletakkan dasar pembangunan Samarinda menuju Kota Metropolis, dengan membangun proyek-proyek besar, seperti pelabuhan, bandara, jembatan dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Kami berharap Pak Jaang dan Pak Nusyirwan bisa menghasilkan karya yang baik yang nantinya bisa terus dikenang. Semoga  keduanya bisa menyelesaikan kepemimpinan lima tahun dengan baik, tidak bermasalah dan tidak masuk penjara.

Editor : Sulthan Abiyyurizky

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan