ABDI SANG MALAM

ABDI SANG MALAM

CERITA PENDEK : INNI INDARPURI

SEBAGIAN  besar transmigran sudah memutuskan menjual  lahannya kepada pengusaha batu bara lalu kembali ke tempat asalnya, pulau Jawa.  Sebagiannya lagi memilih menunaikan ibadah haji terlebih dahulu kemudian mencoba peruntungan menjadi buruh kasar pada perusahaan batu bara yang membeli ladangnya.  Potensi perut bumi Kalimantan rupanya lebih menjanjikan untuk digali ketimbang menggarap lahan permukaannya yang miskin unsur hara, apalagi kini keberadaan emas hitam itu dihargai dengan jumlah rupiah menggiurkan. Diantara eforia perubahan kepemilikan lahan itu ada segelintir transmigran yang masih mempertahankan tanah garapannya, salah satunya mbokku. Namun jika melihat tanah sekeliling  yang mulai dikeruk oleh ekskavator dengan suara deru mesin yang membelah kesunyian ladang siang dan malam, sampai seberapa lama mbokku bisa bertahan?  Menurutku, mbok mestinya berpikir cepat mengikuti arus yang nyata-nyata lebih kuat menariknya.

Lahan seluas dua hektar didapat mbok saat mengikuti program transmigrasi dari pulau Jawa ke Kalimantan. Pada lahan seluas  itu  ia tanami padi dengan sistem lahan kering dan berharap mendapatkan air pada  tadahan hujan, suatu sistem yang ia pelajari dari penduduk pedalaman Kalimantan yang  menyikapi alam dengan menanam padi jenis varietas gunung.  Perkarangan rumahnya yang setengah hektarnya   lagi, ia lengkapi dengan  tanaman  jagung, lombok, buncis, mentimun, terong dan kacang panjang. Meskipun ia mengerjakannya sendiri tanpa  bapak yang telah berpulang lima tahun yang lalu, semangatnya sebagai petani ladang tak pernah pupus.

                Menjelang matahari meninggi siang ini, tergopoh kutemui mbok  yang sedang memilah rumput diantara tanaman mentimun yang mulai bermunculan buahnya.  Cahaya matahari memandikan tudung kepala yang ia kenakan.  Aku mempunyai dua tujuan menemuinya, menitipkan anak-anakku, dan merayu mbok agar bersedia menjual ladangnya, lalu pulang ke Jawa dengan membawa serta anak-anakku. Tentu saja keinginan  itu bukan karena uang puluhan juta rupiah yang bakalan kami terima, namun tak lebih pada beban pribadi yang tak sanggup kupikul kini, aku ingin menyelamatkan anak-anakku.

 Dikomandoi Aksan anak sulungku, kelima buah hatiku menghambur kearah perkarangan di samping rumah si mbok,  adik-adiknya  langsung menyerbu gundukan tanah yang dipenuhi berbagai tanaman. Amin anak keduaku  malah sudah asik memilah rumput. Anak-anakku memang paling senang bermain di ladang atau perkarangan.  Rumah kami di kota yang merupakan rumah susun sewaan, hampir – hampir tidak mempunyai  halaman untuk bermain. Terikan-teriakan mereka yang riang seakan menggemakan dunia kanak-kanak yang tak lekang, meskipun mereka tumbuh dengan keprihatinan.

 Mbokku tersenyum melihat tingkah mereka. Nampak sekali kebahagiaan terpancar pada wajahnya yang tirus dan berhias  banyak keriput. Bersegera kucium tangan mbok yang masih terbalut tanah, tapi aku tak perduli, mbok adalah manusia tersuci yang aku punya di dunia ini.

Endi bojomu nduk? “katanya setelah memeluk dan menciumi satu persatu cucunya,  mestinya mbok tak perlu  bertanya hal yang sama,  karena nyata-nyata  mas Pram sudah tak pernah mengantar kami kemanapun, termasuk mengantar sowan ke rumah mbok. Sebagaimana biasa aku  memberi alasan bahwa mas Pram sangat sibuk,  anak-anakku sudah semakin besar, semakin banyak biaya yang harus dipikul mas Pram, tentu ia tak punya waktu untuk keluarga  karena harus mencari banyak uang.

            “Kami sewa angkot mbok, tapi mas nitip salam buat mbok”  jawabku cepat, pikiranku membias kepada sesosok yang sedang tidur menelentang sekalipun matahari sudah meninggi,   ia takkan perduli kemana hari ini kami mencari sesuap nasi.

“Ya”  mbok mengiyakan, ku tak bisa memastikan apa yang berlaku di hatinya. Apa mbok percaya saja dengan ucapanku yang selalu tersendat jika menyebut nama mas Pram,   tapi aku tak perduli.

Hembusan angin dari dua  cekukan  bukit yang mengapit perkarangan di rumah mbok, membuat  hatiku sedikit  nyaman. Meskipun ladang, perkarangan dan rumah mbok ini bukan kampung halamanku, tetapi ia tempat yang selalu kurindu.  Sejak tahun lima puluhan ketika program transmigrasi pertama kali dilaksanakan di bumi Kalimantan, aku dan keluargaku  termasuk yang mengadu nasib melalui jalur ini. Meskipun kami menjadi angkatan yang datang tiga puluh tahun sesudahnya dan pada waktu itu usiaku baru satu tahun, menjadi transmigrasi dimasa itu bukan serta merta membuat kami nyaman. Kami sempat pesimis  menghadapi kenyataan bahwa tanah di Kalimantan yang berjenis topsoil merah kuning  ternyata miskin unsur hara, tidak sesubur  tanah di pulau Jawa.

 Kami ditempatkan di sebuah kampung yang bernama  Sejari, Lokasi 2 transmigrasi atau disingkat L2,  berjarak 45 kilometer dari ibu kota provinsi. Tidak terlalu jauh memang, hanya saja kondisi jalan menunju kampung transmigrasi yang kami tempati  tidak pernah diurus pemerintah, itu membuat kampungku sulit ditempuh.

Kondisi ini diperparah dengan ketiadaan kendaraan jenis angkutan penumpang, sehingga terkadang kami merasa terisolir. Untungnya beberapa penduduk yang mempunyai modal,  memanfaatkan mobil pick up pengangkut hasil bumi menjadi  angkutan manusia.  Pada bak belakang sengaja disusun potongan papan kayu sebagai alas duduk. Di atasnya dibuatkan tutup darurat dari tenda bekas. Setelah sekian tahun, infrastruktur jalan menuju kampung transmigrasi L2 tidaklah  membaik. Kendaraan dan alat-alat berat kegiatan tambang batubara kian membuat jalan porosnya berlubang-lubang besar, khas daerah-daerah di pelosok Kalimantan. Dengan kondisi demikian lalu mengapa mbok masih mempertahankan ladang yang sudah dikepung moderenisasi pertambangan?

 “Banyak kenangan yang tersimpan di ladang ini nduk, ladang ini amanah bapakmu, perjuangan kami ketika pertama kali tiba di Kalimantan”

“Aku paham mbok, tapi kalau  mbok menjual ladang, mbok  bisa pulang ke Jawa, kan di Jawa juga banyak kenangan bersama bapak. Anak-anakku akan ikut mbok ke Jawa, mereka akan bersekolah di sana ” kataku untuk kesekian kali.

Mbok memilih diam, menjual ladang memang pokok masalah yang selalu kami perbincangkan akhir-akhir ini, aku paham mbok berat berpisah dengan aktivitas hari-harinya, terutama kenangan akan bapak. Mereka adalah pasangan luar biasa, yang didalam mimpikupun aku tak akan bisa meraihnya bersama mas Pram. Namun kenyataan bahwa di sepanjang areal ini telah terkepung industri pertambangan,  mengharuskannya  berpikir ulang. 

 “ Oya mbok,  hari ini aku pulang cepat, aku dan mas Pram mau merayakan pesta mbok, pesta berdua” kataku mengalihkan pembicaraan.

“Pesta? pesta opo” akhirnya mbok angkat bicara.

Mbok hari iki aku  wes ndadi bojone mas 10 tahun, njadi mas ambe aku arep ngerayano pesta kawin aluminium, besyukur karo Gusti Allah bahwa aku wes nikah 10 tahun. Semacam bulan madu kedua mbok”

Mbok  manggut-manggut.

“Aku nitip anak-anak ya mbok, “

Mbok manggut-manggut lagi.

Yo owes, mbok ndak keberatan kok kalau nambah cucu lagi” akhirnya mbok berucap riang, diluar pembicaran ladang ia selalu riang. Aku terseyum, ku cium pipi mbokku, kubelai tangannya dengan khusuk. Angin sepoi di ladang memilin hatiku,  tergetar hatiku  berujar, maafkan Lies mbok, maafkan kebohongan ini, semua demi anak-anak.

Tentu di mata mbok perkawinanku  baik-baik saja, Pram yang mengaku  pemborong saat melamarku menjadi istrinya di hadapan mbok dan bapak kala itu,  disangka pekerja keras dalam menghidupi aku dan anak-anak.  Mbok  tak pernah tahu sejak tahun pertama perkawinanku,  aku menjadi buruh upah cucian dan upah menggosok pakaian dari satu rumah ke rumah lain. Anak-anak terkadang kubawa  mengiringiku. Lakon itu  sudah memasuki sepuluh tahun kini, sementara  lelaki yang ternyata pengangguran itu  hanya bisa menadah upah kerja kerasku untuk mabuk-mabukan. Aku terpidana  pada perkawinanku, dan pada usia perkawinan ke sepuluh lelahku berada pada puncaknya. 

***

Masih terdengar dengkuran lelaki yang genap mendampingi hidupku selama satu dasawarsa ini,   rupanya ia belum juga terbangun sejak kuantar anak-anak ngungsi ke rumah si mbok. Pun masih tergolek tak tersentuh langkah kakiku. Syukurlah,  aku  lega. Kupastikan  bahwa sejauh ini segalanya  berjalan seperti yang kurencanakan.

Melihat posisi  tidurnya,   menelentang dengan perut tambun yang kian menggelembung saja, aku meringus. Sungguh ia  kelelahan setelah pesta awal yang kami gelar tadi malam, dengan menyelesaikan berkali-kali adegan brutal.  Dulu, hari-hari pertama  menemukan suamiku menyimpang tak terkendali, fisikku tersakiti, jiwaku tercabik.  Itu terjadi sepanjang malam.

Di hari berikutnya aku  mencoba berkompromi dengan nasib. Dan tadi malam,   aku menikmatinya. Inikan  hari ulang tahun perkawinan kami. Tentu saja. Aku harus membuatnya senang. Itu tujuan pestaku. Aku tersenyum hangat, awal pembuka yang menyenangkan, tiada pernah ia mendapatkan pada  malam-malam sebelumnya. Sempat kutangkap bidikkan curiga pada matanya yang binal,  aku menjawab dengan ungkapan ku, “Aku tak akan mengecewakan kali ini, percayalah. Aku berjanji. Aku akan melayani sepenuh hati” .  Sampai ia kelelahan  hingga  tidur tak beralas bantal.

Dengkurnya kian nyaring saja. Anggap saja sebuah kidung pembuka pertunjukan. Tabulah  segala  nyeri apalagi tangis. Kubayangkan ada bulan bundar  kesiangan di atas sana, lalu menyelinap dibalik keindahan latar panggungku yang hampir sempurna. Tidak, ku tiada akan mengutuk sang malam  yang dulu kuanggap kejam, untuk malam terakhir tadi   aku tulus mengabdi padanya.

Kupastikan sekali lagi kado kejutan di ulang tahun perkawinan ini.  Perlahan kuraih  kado terbaik sepanjang  pernikahanku yang kusembunyikan di bawah ranjang.  Perkawinanku, ah, perkawinanku. Hatiku sesak menyadari perpaduan dua insan yang sudah menelurkan  5 buah hati yang malang. Terlahir atas keterjajahan. Yang hidupnya hanya  bersaksi pada kekerasan. Akhsan yang berumur sembilan tahun, kelas 3 SD tetapi  lebih banyak bolos ketimbang sekolah, disusul Amin  kelas satu SD di usianya ke tujuh tahun, Arif  lima tahun yang belum disekolahkan.  Kiki yang berjarak kurang satu tahun dari abangnya dan si bungsu Rizal  satu setengah tahun.

Perlahan kuangkat benda paling berharga malam ini, kunaikkan sembilan puluh derajat ke  atas permukaan,  jari tanganku tergetar, terlepas kado itu di atas kasur. Kasur yang selama sepuluh tahun ini  saksi kepedihan tak tertandingi.   Kuangkat  kembali benda dingin itu. Kali ini aku harus kuat.  Ini  kado yang pantas diterima oleh seorang lelaki hebat, pendamping hidupku. 

Suara telepon hampir membuat kadoku terlepas lagi. Segera kuraih gagang telepon,  kubawa ke dapur,  jangan sampai suara ini mengusiknya.

 “ Ya mbok, ono opo?”  kataku setengah berbisik.

 “ Mbo ndak ngerti nduk, tadi sewaktu memandikan Arif, mbok temukan banyak lebam-lebam di tubuhnya, ternyata ada pula di tubuh Kiki dan lainnya. Ketika  mbok tanya Aksan,  jawabannya membuat mbokmu ini binggung. Katanya kalau pulang Pram selalu memukuli kalian. Mbok ndak ngerti nduk. Ono opo toh nduk ? Kamu dan Pram baek-baek wae kan?”  Aku tertawa terbahak, namun sumbang.

Mbok ndak usah kuatir, anak-anakku banyak berkhayal mbok,  maklum pengaruh sinetron televisi. Iku bekas berenang kemaren mbok, terkena  lantai kolam renang yang dangkal. Wes, ndak usah ditanggapi, wong aku sedang bulan madu kok, opone seng ndak apik?”

Yo wes. Mbok percaya. Oya nduk tadi pengusaha tambang iku teko meneh, ia memastikan kesediaan mbok untuk menjual ladang. Mbok ikuti saranmu nduk. Mbok akan pulang ke Jawa bersama anak-anakmu”. Seketika ada serpihan perih bersemilir di hatiku, sekalipun itu keputusan yang kutunggu-tunggu, menyadari perpisahan dengan anak-anakku  akan menjadi nyata, membuat hatiku sedih. Meskipun mereka terkadang membuat gerakku sempit  dan tidur malamku terbatas, namun di sudut hatiku terdalam, tak sekalipun aku  ingin berjarak dengan mereka.

“Iya mbok  terimakasih banyak. Aku sayang mbok”

Yo wess, ndak usah dipikir, rayakan saja pesta opo iku,…”mbok berusaha mengingat nama pesta yang kusebut ketika di ladang tadi, “Pokoke beres, mbok  akan  jaga anak-anakmu “ ujar mbok mengulanginya lagi “Oya nduk, lek ngasi mbok bayi meneh, seng ‘wedo lo nduk” mbok  menggodaku. Aku tersenyum. Wajahku hampa.

Membayang lagi di pelupuk mata kelima jagoanku yang malang. Aku harus menegakkan niatku. Sebentar lagi  tak akan ada   pandangan  nanar, sikap ketakutan, dan persembunyian dibalik pintu kala mas Pram  pulang. Tak sabar untuk memberitakan kepada mereka akan lakon yang berlaku hari ini. Sang Abdi menjelma menjadi Dalang.

Kugenggam erat kado yang ujungnya masih terikat pita merah jambu. Sebelum kuhadiahkan padanya, kuputar lagi ribuan kenangan yang mempertontonkan semua kebengisan. Aku meringis, hatiku tertusuk sembilu. Darah segar itu terasa mengucur  disemua pori-pori, menggigil ku tempel jariku pada   perban yang baru kemaren menutup luka yang masih menganga. Kubuka perban yang membalut payudaraku, kukuatkan untuk menyaksikan  luka  itu sekali lagi. Sayatan yang masih merah menarik nanah yang perih. Ia telah membuat  cacat permanen bagian tubuh kebanggaan wanita,   memacuku untuk menyudahi malam-malamku sebagai abdi.

Perlahan kubersegera menghampirinya, masih tersisa bau wiski menyeruak dari seprei alas kasur, bercampur bau muntah di kaos hitamnya yang belum sempat kubereskan. Itu  adalah parfum yang melingkupi dirinya sebelum mengumuliku. Segera kubuka baju kaos yang ia kenakan. Matanya masih rekat. Ribuan kenangan itu berputar-putar lagi.

Tak lepas dari lilitan  pita merah jambu   kado itu pun mengenai  sasarannya, berkali-kali. Sekali ia membuat gerakan menepis. Namun kontrol memori di otakku tak  sedikitpun memberi jeda. Tekatku bulat.  Pada hari ini akan kuambil  hati yang tersembunyi dalam dadanya. Ingin memastikan, Gusti Allah membuat hati mahluk ini dari apa. Mengapa hanya hinaan dan pukulan bertubi-tubi  yang kuterima sebagai balasan istri yang mengabdikan diri dalam gelap malam. Menempatkanku  tak lebih sebagai ladang tambang, dimana makluk serakah  dengan leluasa menghunuskan hasratnya. (Tamat), (Borneo, 20 Nopember 2011)

Klik VERSI PDF

Sumber : Buku Antologi 22 Cerpen Borneo Pilihan 2012

Editor : Adella Azizah Maharani



”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: