Hijrah

Hijrah

Cerpen: Saifun Arif Kojeh

Repot. Sibuk. Itulah yang saya rasakan kini. Karena, banyak pekerjaan dan bertumpuk-tumpuknya tugas yang harus diselesaikan. Gara-gara Nanik cuti hamil. Segala persoalan dilimpahkannya pada saya. Habis bos percayanya sama saya. Loyalitas dan bertanggung jawab. Itu membuat saya kerja lembur. Biasanya pulang jam empat sore. Sudah berkumpul dengan sanak keluarga. Istri dan dua anak saya, Tata dan Nini. Selalu setia menyambut saya di depan pintu. Dengan mukanya yang cerah, lalu menanyakan oleh-oleh untuknya. Kini, saya sampai ke rumah pukul sembilan malam. Istri saya Marina mulai curiga. Saya dituduhnya selingkuh. Tuduhan yang terlalu mengada-ngada. Walau saya sudah berusaha menjelaskannya bahwa lembur saya disebabkan banyak pekerjaan dan tugas. Yang harus diselesaikan dari si bos. Sebab saya menggantikan pekerjaan Nanik yang cuti hamil. Dianya tidak percaya. Tetap ngotot menuduh saya yang bukan-bukan.

Kadang kala ribet juga urusannya dibuat Marina seperti ini. Selingkuh terus yang jadi depakannya. Padahal selingkuhkan adalah SEnang LINGKUngan Haram. Mana mungkin saya mau terjerumus pada hal begitu. Karena, saya punya keyakinan dan iman. Kegunaannya sebagai pengontrol dari tindakan menyimpang. Entahlah, kalau iman saya silaf bisa saja terjadi. Tapi saat ini, alhamdulillah saya masih belum tergoyahkan dengan hal seperti itu. Tuhan masih mencintai saya. Dia masih sayang dengan saya. Saya masih dipeliharanya, sesuai mengikuti ajaran-Nya. Istri saya tetap bersikeras. Sampai-sampai dia melontarkan bahasa mengiris ranting kalbu saya. 

“Bang Pray, kurang apa sayangnya saya padamu? Dulu kamu tidak begitu. Kini, kamu mulai pandai bermain serong. Apakah saya sudah tidak cantik lagi di matamu, Bang? Atau apakah pelayanan saya selama ini kurang sip? Apakah sudah pudar cinta abang sama saya?”

“Sudahlah Mar. Kamu ini melantur terus. Saya kan sudah bilang bahwa saya tidak pernah selingkuh. Saya tidak pernah punya niat meninggalkanmu. Kamu dan anaklah permata saya satu-satunya. Sudahlah Mar, saya tidak mau berdebat lagi. Kalau kamu ingin faktanya yang jelas atau kamu masih penasaran dengan tuduhanmu itu, kamu cek saja kebenarannya ke kantor saya.”

Itulah yang bisa saya sampaikan padanya. Akhirnya, istri saya hanya bisa tergamam. Apa yang saya katakan sebuah tantangan untuknya? Sebuah pembuktian atau pembenaran untuk semua yang dituduhkannya.

Nanik? Nanik? Nanik? Berapa lama kamu harus cuti hamil? Apakah kamu juga sekaligus cuti melahirkan? Wah, akan lama cutimu. Semakin banyak dan lamalah saya dipenuhi dengan kesibukan. Kadang kala membuat saya kesal. Habis kalau ada yang salah dari pekerjaan, siap-siap saya dapat omelan dari bos. Walau dia percaya sama saya untuk mengerjakannya. Kalau sekali diomeli bisa tahan, tapi tiap kali diomeli kadang kala ada timbul rasa jengkel dan kesal. Semua kesalahan itu terletak pada kerjaan di bidangmu, yang kini kamu tinggalkan. Namun, apa hendak dikata saya hanya bisa menahan rasa. Beginilah nasib orang bawahan. Selalu dipurukkan dan terhina. Saya mencoba berusaha dan bersabar. Mungkin ini adalah sebuah perbaikan dalam langkah kehidupan saya. Saya harus bisa berpikir positif agar dapat membetulkan setiap kesalahan yang saya lakukan, serta berusaha untuk melahirkan sebuah keyakinan, apa yang saya lakukan semata-mata demi Allah, dan juga untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya, yang merupakan tanggungan bagi saya. Biar semua yang saya lakukan bernilai ibadah.

Bisa-bisa dengan keyakinan itu akan memantapkan dan obat untuk menenangkan jiwa dan sanubari saya. Biar tidak punya prasangkaan jelek terhadap siapapun, tapi selalu berprasangka baik terhadap apapun, dan mungkin saja di semua kejadian atau peristiwa ini ada mutiara hikmah yang akan saya dapatkan. Dengan konsep seperti itu, saya mulai dapat mengerjakan tugas dengan sebaik mungkin. Sedikit saja melakukan kesalahan. Bos mulai baik sama saya, malahan beliau memuji pekerjaan yang saya lakukan, baik. Beliau semakin senang saja. Saya beruntung. Sebab bos sudah tidak marah-marah lagi, bisa tersenyum rembulan yang bersimpuh di pelaminan langit membiru. Selain itu, istri saya mulai paham atau mengerti dengan tugas yang saya lakukan. Walau saya pulang malam dia sudah tidak curiga lagi dan menuduh saya yang bukan-bukan. Malahan saya dapat kehangatan dan kebahagiaan sikap darinya. Mungkin ini adalah sebuah anugerah dari-Nya juga. Hingga saya berkenang.

Inikah buah dari kesabaran itu. Mungkin? Saya juga berharap. Nanik. Kamu lama-lama lagi cutinya. Biar saya dapat terus merasakan kebahagiaan ini. Karena, saya merasa belum sepenuhnya mereguk kebahagiaan ini.

***

Ada satu kejadian aneh yang saya rasakan. Mungkin tidak tahulah. Apakah itu adalah faktual atau fatamorgana? Mukzizat atau sekadar ilusi tak bertepian?

Malam itu sehabis menyelesaikan proposal tender pembangunan jalan. Saya mengemasi semua peralatan dan merapikannya. Saya mengunci pintu kantor dan bergegas pulang. Sebab takut terlambat nantinya. Sebab jam tangan saya sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Di depan kantor semua nampak sepi. Tiada lagi terlihat lalu lalang kendaraan. Hanya sekali saja. Itu pun kendaraan becak yang membawa penumpang Mbok penjual nasi rames di simpang tiga. Mau pulang ke rumahnya sehabis berjualan seharian suntuk. Mboknya tidak saya kenal.

Di wajah mereka terpancarkan kebahagiaan. Secerah purnama meniduri selimut malam dalam peraduan cakrawala yang kelam. Begitu pula si tukang becak bersemangat mengayuh becaknya menyongsong malam untuk sampai ke tempat tujuan. Guna melepaskan kepenatan seharian bekerja demi penghidupan untuk keluarganya. Dapat istirahat, mempersiapkan tenaga untuk kerja besok pagi.

Saya hanya tersenyum dan sedikit gelisah. Sebab kendaraan umum sudah tidak ada lagi. Saya mau pulang ke rumah pakai apa? Di rumah anak istri sudah menunggu. Jalan kaki, sungguh sangat jauh. Puluhan kilometer jarak kantor ke rumah. Bisa-bisa kalau dipaksakan saya yang  pingsan atau semaput. Atau bisa jadi saya koitan. Kalau hanya sepuluh dan lima belas kilo, saya akan terobos dengan jalan kaki. Karena, sudah hukum terpaksa. Tapi ini, aduh! Wah, saya semakin gelisah.

Jam terus berjalan senangnya, membawa langkahnya mantap menuju zenit percumbuan kasihnya yang abadi. Puncak teratas dari segala jalannya. Bukan tempat pemberhentian. Tapi hanya tempat percumbuannya saja dengan waktu. Biar semakin nikmat dan sedap.

Tak terasa saya lihat arloji di tangan saya menunjukkan pukul dua belas tepat. Wah, saya membuka mulut dan mengeluarkan kuapan. Habis sudah mengantuk. Saya mencoba bertahan dan terus berpikir. Inisiatif apa yang dapat saya ambil. Walau tidak bisa pulang malam ini, tapi subuh saja.

Oh ya, mata saya memandang kebiruan langit menggantung di orbitnya yang teduh. Bintang berkeluaran semua mengapung di kepulan pegangannya. Banyak sekali sehingga memunculkan jiwa artistik, menghiburkan diri yang gelisah ingin pulang. Saya terperangah. Saat melihat di kanan saya ada gugusan bintang paling indah, yang membentuk tulisan alquran. Akhirnya, semua pandangan saya tertuju ke arah gugusan bintang tersebut. Mulailah saya mengeja huruf apa yang tertulis di sana. Rupanya yang tertulis adalah huruf alif sampai yaa. Huruf hijaiyah. Huruf itu membentuk lingkaran setengah bulan sabit penuh. Selebihnya huruf yang tampak adalah ayat alquran yang berbunyi “In kullu nafsin dzaikatul maut” dan “Laa illaha illullah” yang membentuk lingkaran bulat penuh. Terletak di dekat lengkungan perut bulan sabit penuh yang dibentuk dari huruf alif sampai yaa.

Wah, sungguh menakjubkan dan luar biasa. Dengan kemunculan ini pertanda apa ya? Keajaiban apa atau keistimewaan apa buat saya? Atau mungkin pandangan mata saya yang pudar, maklum sudah larut malam. Saya kucak-kucak mata saya. Lalu saya pandangi lagi gugusan itu. Tetap seperti biasa saya lihat.  Berarti saya tidak bermimpi atau pandangan saya tidak  kabur.

Oh ya, mata saya yang tadinya mengantuk jadi menyalang dengan memandang gugusan bintang bertuliskan alquran itu. Makin terang. Terang. Seterang pantulan lampu neon bermerek phillip. Sungguh terang dalam menerangi satu ruangan penuh.

Bertanya-tanya hati saya, apa maknanya dari semua ini? Apa maknanya huruf alif sampai yaa, in kullu nafsin dzaikatul maut, dan laa illaha illullah? Saya harus bisa mengetahuinya ini dari siapapun. Akan saya tanyakan ini dengan pak kiai.

Semakin asyik saja saya memandangnya. Apalagi dia menimbulkan pendar hijau lalu berganti kuning lalu berganti putih seperti lampu kerlap-kerlip atau lampu disko. Membuat saya tambah betah. Terus asyik memandangnya. Melupakan kegelisahan saya untuk pulang ke rumah. Melupakan kegelisahan apa yang bisa saya alaskan untuk menjawab pertanyaan  istri saya. Mengapa abang tidak pulang malam ini? Melupakan keresahan dan kepenatan saya sehabis bekerja lembur.

Saat ini seakan-akan saya memperoleh suatu ketenangan dan kedamaian yang melupakan semua hal memberatkan saya, menjengkelkan saya, dan menggelisahkan jiwa saya. Alam kedamaian yang sungguh menyenangkan. Damai nan damai. Damai yang memberikan saya mereguk susu kemanisan. Telah merasakan lezatnya suatu kehidupan. Sehingga lupa pada semuanya. Yang terfilmkan hanyalah kedamaian dari puasnya jiwa memandang keindahan tersebut. Yang juga flash backnya memberikan keindahan pada kita.

Azan subuh bergema. Saya tersentak dari lamunan. Suara azan itu mengerogoti jiwa saya untuk memenuhi panggilan Allah. Mendorong saya untuk mengadakan sambung rasa dengan Allah. Menyatakan tunduk bakti pada-Nya. Bersamaan itu gugusan bintang yang indah juga menghilang seketika. Saya hanya dapat berdehem. Wah, sungguh ajaib.

Sesaat kebingungan bernyanyi di ranting jiwa saya. Suara azan itu darimana? Padahal di dekat kantor ini tidak ada yang namanya masjid. Kalaupun mau salat, saya harus naik sepeda motor menempuh jalanan sepanjang delapan kilometer. Barulah ada masjidnya. Itulah masjid terdekat. Mengenai musala juga jauh. Pokoknya yang namanya suara azan tidak pernah sampai di kantor. Dia hanya singgah di tempat lain, yang bisa dijangkaunya. Ini adalah hal yang aneh.

Belum sempat saya mengomentari keganjilan ini dengan logika. Tahu-tahu saya sudah berada di tempat perwuduan. Di samping saya, orang-orang sudah banyak berwudu. Siap melaksanakan salat subuh berjamaah. Sungguh keajaiban dan kebingungan terus membuntal saya. Siapa yang memperjalankan saya sampai ke sini? Kok, hanya ingin mengomentari jawaban atas keanehan itu, saya sudah diberikan  jawaban sebuah keanehan lagi. Tapi keanehan yang nyata. Sudah ah, saya berwudu secepatnya dan melaksanakan salat subuh berjamaah.

Selesai shalat subuh. Ada orang yang menawarkan jasanya mengantarkan saya pulang. Alhamdulillah. Ada orang baik. Saat ingin diberi ongkos pengganti dia mengantar saya, dia hanya menggelengkan kepalanya. Malahan dia mengucapkan terima kasih.

“Saya sudah beruntung bisa mengantar Anda. Saya tidak perlu bayaran. Karena, bayarannya bukan berupa uang tapi bayaran saya berupa kemuliaan Anda. Sudah saya terima selama perjalanannya. Terima kasih, Pak! Saya pamit dulu.”

Ditariknya tangan saya lalu diciumnya. Saya berteriak mencegahnya.

“Tunggu dulu Bang?”

Tapi dianya sudah menghilang. Saya kali ini betul-betul bergeleng kepala ria. Saya tersadar. Sebab istri saya sudah berada di depan pintu. Rupanya, istri saya telah mendengar teriakan saya memanggil orang tersebut.

Jangan-jangan istri saya akan marah. Wah, gawat ini.

 Ternyata terbalik. Dia malah menyambut saya dengan senyuman segar. Baru kali ini saya melihat senyumannya yang sungguh manis.

“Masuklan Bang Pray. Mungkin abang capek,” katanya sungguh lembut penuh kasih sayang. Dia tidak menanyakan tentang mengapat saya pulang subuh? Sungguh luar biasa kejadian ini. Apakah ini hikmah dari kepuasan jiwa saya memandang keindahan gugusan bintang bertuliskan alquran itu? Sehingga saya begitu dimuliakan seperti ini. Entahlah saya belum bisa memastikannya. Nantilah saya tanyakan kejelasannya. Sekaligus menanyakan arti tentang tulisan alquran itu pada Pak Kiai atau syekh atau alim ulama atau orang yang ahli dalam bidang agama.

***

Selayak biasanya. Seyogia ketentuan umum. Saya tetap menjalankan tugas dari bos dengan baik dan terselesaikan dengan baik. Makin tambah percaya bos pada saya. Menimbulkan keirian teman sekantor.

“Tuh, lihat si Pray terus ada tempat di hati bos. Jangan-jangan dia pakai ilmu pengasihan. Hingga bos begitu sayang dengan dia.”

“Bisa jadi. Dulukan dia sering dimarah si bos, karena kerjanya tidak beres. Tapi kini malahan dia jadi anak emas si bos. Pandai cari muka lagi, puiiiihhhh,” timpal Baret bersemangat.

“Ih, kalian ini sirik saja dengan orang lain. Itu tidak baik. Pray, tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Saya tahu betul wataknya. Dia betul disayang bos, karena prestasi kerjanya. Sepantasnyalah dia mendapatkan kemuliaan seperti itu. Impaskan,” Agus angkat bicara.

“Whuhhhh. Kamu tahu apa?”

“Saya tahu banyak mengenai Prayer. Kalian tahunya hanya menjelekkan orang saja. Tidak bisakah kalian senang dengan kebahagiaan orang lain. Baret dan Metil, sirik itu tandanya orang tak mampu.”

“Kamu menghina kami ya?” gelegar Baret dan Metil, merasa terpanaskan.

Dia dijatuhkan oleh Agus, malukan? Padahal selama ini dia selalu merasa dan menganggap dirinya yang paling unggul. Unggul dari semua karyawan yang ada di situ. Sehingga banyak karyawan tidak senang dengan tabiatnya. Paling banter bergaul hanya mereka berdua. Karyawan lain pada menjauhinya. Karena, mereka orangnya usil. Karyawan di luar sudah pada maklum mendengarkan gelegar itu. Pasti Baret dan Metil merasa tak terima atau merasa dikalahkan. Lawan berdebatnya pasti si Agus, yang suka membela orang yang diusili Baret dan Metil.

Saya yang berada di ruang dalam, keluar mendengar gelegar itu. Ada apalagi ini? Baret dan Metil nampak merah wajahnya. Mereka sedang marah.

“Ada apa ini?” tanya saya pada semuanya.

Semuanya tidak ada yang bersuara. Baret dan Metil hanya menundukkan wajahnya. Tidak berani beradu pandang dengan saya. Dia hanya berani di belakang saja. Karena tidak ada jawaban, saya dekati Baret dan Metil. Mereka berdua gemetar. Marahnya tidak tersalurkan, mereda.

Tunggu saja pembalasannya nanti, Gus. Itu mereka ucapkan dalam hati.

“Ret, Met, kamu teriak tadi mengapa? Kamu berkelahi lagi dengan Agus?”

“Tidak Pak Pray.”

“Habis apaan? Kemasukan roh halus?”

“Tidak juga Pak Pray,” kata Metil, berani bicara.

“Kami hanya ingin mengeluarkan sampah dalam tenggorokan. Sampahnya menyangkut di jalur pernapasan, sakit sekali. Untuk itulah, kami berteriak. Biar sampahnya lolos ke perut. Begitulah Pak Pray,” bohong Baret.

“Tapi kan kamu tahu ini kantor?”

“Tahu Pak Pray.”

“Seharusnya kalau ada sampah yang menyangkut di tenggorokan, diceloki atau dikeluarkan dengan alat lain, bukan dengan berteriak. Mengusik ketenangan orang saja. Tapi, sudahlah kalau begitu urusannya. Lain kali jangan lakukan hal seperti ini lagi,” kata saya masuk ke ruangan. Baret dan Metil hanya mengangguk pelan.

***

Waktu bos memanggil saya ke ruangannya. Kalbu dan jantung saya berdentang sekencang deburan ombak dan secepat gilasan angin topan melibas pepohonan besar yang menghadang.

Dukkk… Dukk… Ada apa ya?

Saya ketuk ruang bos dengan pelan. Suara dari dalam menyuruh saya masuk dan mempersilakan saya duduk di depannya. Kalbu saya masih belum tenang sebelum saya mengetahui keperluan bos memanggil saya mendadak seperti begini. Tiada biasanya hal ini dilakukan bos. Kalau ada keperluan, beliau memanggil saya secara langsung. Tapi pemanggilan ini melalui bagian personalia yang barusan menghadapnya. Inikan menimbulkan pertanyaan saja?

“Pray, saya senang dengan hasil pekerjaanmu. Karena, hasil dari pekerjaanmu yang baik perusahaan ini semakin dikenal orang. Keuntungan perusahaan kita semakin bertambah. Perusahaan kita semakin hari semakin banyak pelanggannya. Tentu semuanya ini tidak terlepas dari andilmu. Oleh karena itu, saya bermaksud memberikan bonus atas keberhasilanmu. Selain itu, saya juga berpikir dan merenungkannya secara dalam bahwa kamu sangat cocok mendampingi saya. Saya ingin kamu menggantikan posisi Nanik menjadi sekretaris. Posisimu akan diduduki oleh Nanik. Kalau kamu setuju. Masalah pertukaran posisi ini secepatnya akan Bapak bicarakan dengan Nanik,” kata bos dengan berwibawa dan jelas. 

Ah, saya terkejut. Inikah maksud dari bos memanggil saya. Saya termenung sebentar.

“Bagaimana Pray, apakah kamu setuju dengan tawaran ini?” pertegas bos meminta kepastian.

Saya tidak boleh menohok kawan sendiri, walau di mata bos hal itu adalah benar. Tapi di mata saya hal itu sama saja menghancurkan kehidupan kawan. Masak, Nanik yang sudah enak-enakan mendampingi bos, menggeluti pekerjaan itu sudah lama. Saya rebut dalam waktu tiga bulan. Pasti orang akan curiga pada saya. Pasti orang akan menuduh saya yang bukan-bukan. Saya pakai ilmu pelet atau ilmu apa saja hinggga bos sayang dengan saya. Tidak. Saya tidak boleh seperti itu. Keputusan itulah saya ambil. Untuk itu, saya tidak boleh berdiam diri. Saya harus bicara agar bos tahu apa yang saya pikirkan.

“Bos, saya berterima kasih atas kepercayaan yang bos berikan. Tapi maaf bos, saya tidak bisa menerima tawaran bos semulia ini. Karena, saya tidak ingin membuat kecewa di hati kawan atau menyabotase pekerjaannya. Jadi biarkanlah Nanik tetap menjadi sekretaris bos.”

“Tapi Pray? Itu bukan sabotase namanya. Tapi itu adalah hal wajar untuk mencapai kesuksesan. Langkah gemilang dalam meraih masa depan yang cerah.”

“Apapun namanya bos. Maaf ya bos, saya tidak bisa menerimanya.” Hening sejenak. Sebentar suara saya bernyanyi mengusik kesunyian ini.

“Maaf ya bos, kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya pamit dulu untuk bekerja lagi.” Saya pun meninggalkan ruangan bos.

“Tunggu dulu Pra?” cegah bos. Saya berhenti melangkah ke luar ruangan bos.

“Ada apalagi bos?” sahut saya masih melihatnya.

“Bonusnya mengapa tidak diambil,” kata bos menyerahkan amplop berisi uang.

“Terima kasih bos. Maaf bos, saya tidak bisa menerimanya,” jawab saya lalu menghilang dari balik pintu ruangan bos. Bos memandang saya dengan tatapan sedikit kecewa. Namun, beliau mencoba tersenyum dan berusaha mengerti apa yang telah saya lakukan.

***

Saya terkenang lagi dengan apa yang telah saya pandang di malan itu. Rasanya saya ingin mengulanginya lagi. Alhamdulillah, kejadian itu terulang lagi pada saya sampai tujuh kali. Kejadiannya tetap sama. Karena, telah mengalami kejadian itu sampai tujuh kali maka kejadian itu tidak menjadi aneh lagi buat saya. Saya berkenang. Mungkin ini hidayah dari Allah. Mungkin ini kemuliaan dari Allah. Makin memantapkan keyakinan saya bahwa hanya Allahlah yang bisa mengobati kegelisahan hati saya. Hanya Allahlah yang bisa memberikan ketenangan di saat kekalutan saya. Tapi, yang belum saya pahami adalah mengenai arti tulisan alquran itu dan kegunaannya untuk apa? Apa arti warna-warna berpendarannya yang terus berganti dari hijau, kuning, dan putih? Apakah arti lingkaran yang berbentuk bulan sabit dan bulatan penuh yang mereka buat? Apakah semuanya itu mempunyai arti yang sama?

***

Tata dan Nini, saya ajari membaca bintang bertuliskan alquran itu. Tak ketinggalan  istri saya juga saya ajari ayat tersebut. Sehingga Tata dan Nini selalu menjadi juara sejak mengamalkan ayat tersebut. Istri saya juga menjadi orang yang baik dan taat beribadah.

Sifatnya yang dulu suka marah dan curiga, sudah berganti dengan sifat sabar dan berpikiran positif. Bahkan kini dia menjadi pemberi semangat dalam kehidupan saya untuk terus bersabar, menabahkan hati, dan berbuat baik. Walau orang lain selalu memusuhi saya. Karena, mereka iri dengan kehidupan saya yang selalu akur dan damai. Meskipun uang yang saya peroleh cukup untuk kebutuhan hidup, dan tidak akan membuat kami menjadi orang kaya. Kehidupan keluarga saya tetap akur dan damai. Saya tambah rajin mendekatkan diri pada-Nya, sejak mengamalkan ayat tersebut.

Suatu saat saya menemukan Kiai untuk menanyakan keganjilan hati saya mengenai bintang bertuliskan alquran. Sudah saya lihat selama tujuh kali di tampilan langit nyata, bukan di alam mimpi.  Oh ya, Kiai itu adalah orang yang bergelar Syekh Nurhakim. Dia punya murid sangat banyak. Dari semua lapisan dunia. Ada dari Bali, Jawa Barat, Australia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan masih banyak lagi. Pokoknya kalau saya kaji mendalam, dia adalah orang yang sudah matang dengan ilmu pengetahuan agama. Seluk-beluk agama sampai pernik agama yang terhalus. Apalagi pengalamannya sudah banyak. Seringnya dia mengelilingi dunia dalam rangka dakwahnya. Ini mungkin orang yang tepat untuk mendengarkan pengaduan saya.

Sehabis pengajian atau ceramah agama darinya. Semua peserta pulang ke rumahnya masing-masing. Saya memburunya.

“Syekh, bisa saya mengobrol sebentar dengan Syekh. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan, penting sekali!” kata saya.

“Oh, boleh saja Prayer. Dengan senang hati. Sebaiknya kita lesehan di tikar saja. Biar bicaranya leluasa dan santai,” ajaknya lemah lembut dan penuh kearifan.

Saya mengikutinya, duduk. Kami saling berhadapan. Begitu dekat. Saya melihat Syekh itu tenang dalam pembawaannya. Wajahnya bersih selalu berkilauan cahaya putih gemilang. Senyumannya segar membuat hati saya terasa damai. Tatapan matanya begitu sejuk membuat jiwa saya merasa tenang, seakan berada di suatu tempat keindahan yang penuh aneka warna bunga bermekaran dan menaburkan keharuman yang khas. Merasuki sanubari dan menetap dalam keluasan samudera kalbu saya. Sungguh kharisma Syekh Nurhakim tidak diragukan lagi. Tidak heranlah banyak orang menyenanginya. Beruntunglah saya bisa bertatapan muka sedekat sekarang ini dengannya.

“Begini Syekh…,” kata saya mulai mengutarakan maksud keinginan saya menemuinya.

Saya mulai menceritakan kejadian yang saya alami itu. Kejadian aneh tapi nyata. Bahwasannya saya melihat gugusan bintang di langit membentuk lingkaran bulan sabit penuh, yang dibentuk dari tulisan alif sampai yaa. Selain itu, juga terdapat ayat in kullu nafsin dzaikatul maut dan laa illaha illullah membentuk lingkaran bulat penuh terletak di lengkungan perut bulan sabit. Lingkaran tersebut memancarkan cahaya hijau, kuning, dan putih. Setiap kali selalu bergantian. Gugusan bintang ajaib itu menghilang kalau azan subuh menjelang. Kala itu, saya juga heran. Karena, saya sudah berada di masjid untuk menunaikan salat subuh berjamaah bersama orang-orang.

Terlihatlah Syekh Nurhakim merenung dan manggut-manggut sebentar. Tangannya yang dilingkupi jubah mengelus jenggotnya yang panjang berjuntai, layaknya ribuan sarang tawon menggantung.

“Alhamdulillah,” serunya dengan tampilan segar.

“Prayer, setiap tanggal berapa kamu mengalami kejadian tersebut?” tanya Syekh Nurhakim untuk memastikan. Agar sesuai dengan analisis yang ada dalam otaknya.

“Tanggal tujuh belas Syekh. Tapi tidak setiap waktu. Hanya dalam waktu tertentu saja,” jawab saya.

“Maha Benar Allah. Maha Agung Allah.”

Makin serak keluar suara Syekh Nurhakim. Dia menyeka mukanya yang kejatuhan butiran keringat, sedikit menetes. Dia gemetar.

Yaa Allah, rupanya pertanda itu sudah dekat di ambang mata bahwa akan terjadi kehancuran besar-besaran nantinya. Agar selamat, semua insani harus melakukan pendekatan diri tulus ikhlas pada-Mu, dan menjauhi larangan-Mu yang diprakarsai setan, untuk menjerumuskan insani ke jurang kebinasaan.

“Jadi apa maknanya Syekh?” tanya saya geregetan. Penasaran dan ingin tahu.

“Prayer, alhamdulillah. Maknanya sangat bagus. Bersyukurlah kamu bisa menyaksikan hal tersebut. Karena, apa yang kamu saksikan itu adalah sebuah hidayah dan petunjuk dari-Nya. Lingkaran bulan sabit penuh yang dibentuk dari huruf alif sampai yaa melambangkan bahwa kita harus menyerahkan diri kita seutuhnya pada Allah dari permulaan sampai akhirnya kehidupan. Huruf alif dan yaa terdapat dalam alquran mengisyaratkan bahwa kita harus berpegang teguh pada alquran kalau ingin selamat dunia akhirat. Selain itu, isi kandungan alquran sedapat mungkin kita amalkan dalam kehidupan ini, dengan tidak lupa minta petunjuk pada Allah agar selalu diberikan kekuatan untuk mengarungi kehidupan ini. Alquran tetaplah dijadikan pedoman hidup kita dalam bertindak dan bertingkah laku. Sedangkan arti dari tulisan in kullu nafsin dzaikatul maut adalah semua mahluk yang bernyawa akan merasakan kematian. Mengajarkan kepada kita bahwa suatu saat di manapun, di tempat apapun, yang namanya kematian akan datang menjemput kita. Untuk itu, kita harus betul memahaminya. Dengan memahami hal semacam itu memberikan pelajaran pada kita untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian dengan amalan-amalan yang baik, agar kematian kita tidak sia-sia.  Arti tulisan laa illaha illullah adalah tiada Tuhan selain Allah yang patut kita sembah. Allah yang telah memberikan kehidupan pada kita. Allah yang memberikan kematian pada kita. Allah yang telah memberikan kenikmatan pada kita. Sebelumnya Dia juga telah memberikan kesusahan pada kita, untuk mengetahui sejauhmana ketabahan kita menghadapi cobaan-Nya. Karena semakin tinggi tingkat keimanan kita, semakin tinggi pula cobaan yang kita hadapi. Agar selamat dari semua itu. Selalulah bersyukur akan nikmat yang telah diberikan-Nya dan tetap berpegang teguhlah pada ajaran-Nya. Jadikanlah Dia sebagai penolong kita dalam setiap saat dan setiap waktu. Dengan cara begitulah perjalanan kita akan selamat dunia akhirat. Dari gugusan bintang bertuliskan alquran membentuk lingkaran bulan sabit penuh dan lingkaran bulat penuh menunjukkan suatu lambang Islam. Berarti agama yang harus kita pegang adalah agama Islam sampai akhir hayat kita. Dengan melakukan aktivitas sesuai dengan tuntunan agama Islam dan menjauhi segala hal yang dilarang agama tersebut. Dengan kegiatan utama atau terpenting dalam agama tersebut adalah melakukan salat lima waktu yang berjumlah tujuh belas rakaat. Sesuai dengan apa yang kamu lihat setiap tanggal tujuh belas. Karena, salat adalah sarana komunikasi langsung antara kita dengan Allah. Selain itu, salat merupakan bukti nyata ketundukpasrahan kita terhadap-Nya. Untuk itu, kita harus melakukan salat lima waktu dengan sebaik mungkin dan tidak menyia-nyiakannya sedikitpun. Karena, kalau kita menyia-nyiakan kesempatan itu maka kita akan termasuk golongan orang merugi. Jadi makna dari keseluruhan rentetan kejadian aneh tapi nyata yang kamu alami itu adalah janganlah kita melepaskan pegangan hidup dalam agama kita (Islam) yaitu Alquran. Seringlah dia dibaca dalam setiap waktu dan mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari dan selalulah melaksanakan shalat lima waktu tepat waktunya. Ingatlah dengan kematian, supaya dengan kematian tersebut kita dapat mengambil iktibarnya. Agar kita mempunyai kesiapan untuk mengumpulkan bekal di kehidupan selanjutnya. Dengan membekal suatu semoga kita dalam menghembuskan napas kematian dengan kalimah LAA ILLAHA ILLULLAH. Biar kita termasuk orang yang paling beruntung. Camkanlah itu baik-baik Prayer.

Mengenai warna yang selalu berganti hijau, kuning, dan putih. Maaf ya, saya belum bisa menguraikannya. Karena, sebatas ini kemampuan yang saya miliki. Prayer, berita ini harus kamu beritahukan pada orang banyak. Urusan mereka tidak menerimanya, janganlah kamu pedulikan. Terpenting, kamu sudah menyampaikannya. Ini sekaligus amanah dari saya. Semua itu terlaksana atas perkenan dari-Nya.”

Syekh Nurhakim menutup penjelasannya. Sungguh panjang lebar. Saya pun bisa memahami penjelasannya.  Amanah yang diberikan Syekh Nurhakim insya allah, akan saya laksanakan dengan baik.

“ Prayer, kalau kamu mengalami kejadian itu lagi beritahu saya. Saya ingin sekali melihat kejadian aneh tapi nyata itu,” kata Syekh Nurhakim sebelum berpisah.

“Ya Syekh. Tapi bagaimana caranya memberitahu Syekh, sedangkan alat komunikasi di antara kita tidak punya, seperti telepon atau HP, yang bisa cepat berkomunikasinya. Jadi pakai apa saya mengontak Syekh,” kata saya.

“Dengan izin Allah, semoga saja Prayer. Alat komunikasi ini dapat menghubungkan komunikasi kita. Alat komunikasi itu adalah doa. Jadi kamu cukup membaca doa ini. Insya Allah dengan izin Allah saya akan hadir di hadapanmu. Doanya adalah Allahumma, Yaa Allah. Marhaban Bii Habibii Qurrata ‘Aini Muhamaddur Rasulullah.”

”Semoga saja Syekh, perkenan Allah selalu tercurahkan pada kita,” jawab saya. Kemudian, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Saya mulai menghapal doa komunikasi kami tersebut. Alhamdulillah sebentar saja saya sudah hafal. Akhirnya kami berpisah.

***

Amanah Syekh Nurhakim saya laksanakan. Sesuai uraian yang dijabarkannya. Pertama, saya memberitahukan pada sanak keluarga saya. Dia langsung percaya dan makin bertambah mantap tingkat keimanannya. Istri dan anak saya tambah rajin salat. Salat lima waktu tidak dilupakannya. Saya juga begitu. Anak-anak saya, Tata dan Nini semakin cerdas saja serta semakin disenangi teman-temannya. Karena, mereka selalu baik hati dengan siapapun. Lalu amanah itu saya sampaikan pada semua orang yang saya jumpai. Sehingga bermacam-macamlah orang menanggapi hal tersebut.

Ada percaya dengan apa yang saya utarakan. Ada yang memandang sinis. Ada yang melecehkan bahkan keluar kata makian memedaskan. Ada mengecap saya orang gila. Semua serba bervariasi. Bermacam-macam. Bunga rampai. Semua itu terserah apa kata mereka. Terpenting saya sudah melaksanakan amanah yang diembankan Syekh Nurhakim.

Dengan kehebohan itu. Saya dituduh membuat berita sensasi untuk mencari popularita atau nama besar dengan mengarang cerita mengada-ngada. Mana ada gugusan bintang bisa dibentuk dari tulisan alquran? Mustahil.

***

Saya diciduk polisi dengan tuduhan telah mengusik ketenangan dan kenyamanan masyarakat. Dikategorikan melakukan tindakan kriminalitas. Sebelum saya dijebloskan ke penjara. Pertolongan datang. Pertolongan Allah. Syekh Nurhakim membela saya dengan mengatakan pada aparat polisi bahwa yang saya katakan adalah kebenaran, bukan berita mengada-ngada atau kabar angin dihembuskan burung bersama dentingan waktu. Aparat polisi dapat menerima hal tersebut. Apalagi yang menjelaskan dan menjamin saya adalah Syekh Nurhakim yang terkenal warak, jauh dari kebohongan. Orang sudah kenal nama besar beliau. Disegani oleh banyak orang, karena kealimannya. Aparat polisi meminta maaf atas kesalahan tersebut. Dari peristiwa itu, saya tetap tabah menyampaikan amanah dari Syekh Nurhakim. Selain itu, saya tidak sakit hati dengan orang-orang yang telah menjebak saya. Praduganya, mungkin yang melakukan ini adalah orang-orang yang tidak suka dengan hadirnya berita ini. Mungkin mereka adalah orang berduit. Dengan dalih dan duit, mereka bisa saja menjebloskan orang. Saya makin bersyukur karena selamat  dari jepitan mereka. Semua ini berkat kemurahan tangan Syekh Nurhakim dan kelembutan tangan halus Allah.

***

Wah, di malam ini saya gelisah dan gelisah. Entah apa yang digelisahkan. Tak pernah terbaca oleh pikiran. Saya menyudahi kerja dan meninggalkan ruangan kantor. Seperti biasa. Saya adalah orang terakhir ke luar kantor. Semua karyawan lain sudah pada pulang. Saya sendirian yang kerja lembur. Nanik rupanya tambah cuti lagi, sebab sakitnya berlarut dan dia dioperasi. Nanik terbaring lemas di rumah sakit. Jadi pekerjaan Nanik masih diembankan pada saya untuk mengerjakannya. Sesudah mengunci pintu kantor, saya beranjak pulang. Di depan kantor, saya begitu girangnya bisa melihat gugusan bintang bertuliskan alquran itu. Semuanya tetap sama. Saya teringat pesan Syekh Nurhakim untuk memberitahunya kalau saya mengalami kejadian aneh tapi nyata itu lagi. Saya panjatkan doa yang digunakan sebagai alat komunikasi atau kontak dengannya.

Allahumma, Yaa Allah. Marhaban Bii Habibii Qurrata ‘Aini Muhammadur Rasulullah.

Bergema di tengah malam percumbuan waktu mencapai kasihnya. Bergelora. Sesaat saya menunggu. Akhirnya Syekh Nurhakim muncul di hadapan saya.

“Ada apa Prayer, kamu memanggil saya? Mengenai hal itukah?”

“Benar Syekh! Coba Syekh lihat ke atas. Itulah barangnya,” tunjuk saya ke atas. Syekh Nurhakim menengadahkan mukanya dan melihat apa yang saya tunjukkan.

“Masya Allah. Alhamdulillah. Subhanallah. Allahu Akbar,” ujarnya sambil tunduk bersimpuh. Dia menangis. Saya jadi bingung sendiri. Mengapa Syekh menangis melihat hal tersebut? Padahal dia sekali saja melihatnya. Bukankah saya sudah berkali-kali melihatnya, tidak menangis! Tidak bersedih seperti dia. Sebenarnya apa yang ditangiskannya?

Saya saja sudah enam belas kali dan tujuh belas kali ini melihatnya tidak sekhusuk Syekh. Tapi saya mencoba mengikuti gerakan yang dilakukan Syekh. Kami berzikir memuji kemahabesaran-Nya. Airmata Syekh terus mengalir. Tak terasa mata saya juga mengalir. Kami terus saja berzikir. Dengungannya terus berlantun berpacu dengan kucuran airmata kami terus menghujan, membanjiri bumi, dan membentuk danau cekungan, berkumpul jadi satu dengan warna airnya begitu jernih dan bening. Syekh menghentikan zikirnya dan berdiri serta mengusut airmatanya. Saya melakukan kegiatan yang sama.

“Prayer, sebelum fajar menjelang kita harus melakukan hijrah dari sini. Sekarang!” kata Syekh Nurhakim tegas.

“Hijrah dari sini Syekh,” sahut saya. Terkejut. “Hijrah untuk keperluan apaan Syekh?” tanya saya selanjutnya.

“Nantilah kamu tahu sendiri. Mari Prayer. Waktunya tinggal sedikit. Mari kita hijrah saja duluan,” ajak Syekh Nurhakim.

“Tidak mau Syekh! Saya tidak bisa.”

“Mengapa Prayer?”

“Anak istri saya Syekh. Saya harus membawanya. Saya tidak mau melakukan hijrah sendirian tanpa adanya mereka. Karena, mereka juga tanggungan saya. Kalaupun mau hijrah harus bersama mereka. Kalau tidak bisa membawa mereka. Lebih baik saya tidak ikut. Karena, saya akan merasa berdosa meninggalkan mereka sendirian.”

“Oh begitu maumu, Prayer. Baiklah saya akan coba mengadakan hubungan sambung rasa dengan mereka. Semoga saja mereka bisa hijrah bersama kita,” ujar Syekh Nurhakim kemudian.

Syekh Nurhakim memejamkan mata dan mulutnya berkomat-kamit merapalkan doa. Entah doa apa yang dibacanya, saya tidak tahu. Hanya terlihat jenggotnya saja bergerak dan desiran suaranya bersenandung. Saya hanya melakukan kegiatan menunggu. Seketika ada percikan warna hijau, kuning, dan putih menghampiri kami. Saya tergamam, tidak bisa berkata-kata. Dari warna tersebut membentuk wajah istri saya Marina dan kedua anak saya Tata dan Nini. Syekh membuka matanya.

“Bang Pray” kata istri lemah lembut penuh kasih sayang.

“ Ayah,” seru Tata dan Nini menghampiri saya. Kami berangkulan dengan mesranya.

“Alhamdulillah. Prayer, keluargamu sudah berkumpul semua. Mari kita segera melakukan hijrah,” kata Syekh Nurhakim membuyarkan kehangatan pelukan kasih sayang kami.

“Mari Syekh!” sahut saya mantap untuk melakukan hijrah. Karena, saya sudah berkumpul dengan istri dan anak-anak saya. Tapi, rasa penasaran saya mau hijrah ke mana masih mengganjal di hati saya. Untuk itu, saya memberanikan diri bertanya kepada Syekh Nurhakim.

“Syekh, sebenarnya kita mau hijrah ke mana?”

Syekh Nurhakim sekilas memandang saya dengan penuh kearifan dan kedamaian. Setelah itu, dia berbicara. “Prayer, kita akan hijrah ke Gunung Wahidun Akbar!”

“Di mana gunung itu berada Syekh?”

“Kamu ikuti saja saya. Nanti juga kamu akan tahu sendiri di mana Gunung Wahidun Akbar itu berada!” kata Syekh Nurhakim.

Kakinya melangkah dengan mantap dan penuh keyakinan. Saya juga mengikutinya dengan mantap sembari memboyong anak dan istri. Sekilas saya masih sempat memandang gugusan-gugusan bintang itu di langit. Tersenyum sumringah pada kami dalam hijrah ini.

Balai Berkuak, April 2004

******

Klik VERSI PDF


Sumber : Buku Antologi 22 Cerpen Borneo Pilihan 2012

Editor : Adella Azizah Maharani



”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: