Cerita Pendek : Habolhasan Asyari

MATAHARI yang garang bersinar penuh di dada langit. Panasnya meluluhkan rumput dan perdu, hingga terkulai tanpa daya. Daun pepohonan pun hanya mampu terdiam lemas, tak kuasa menampik sengatan panas.

Meski sesekali angin utara  berembus, tak juga bisa mengusir gerah nan lara. Sebaliknya angin yang datang malah menerbangkan debu-debu liar yang kemudian hinggap bergelayutan di ranting dan dedaunan. Membuat kusam batang-batang pohon.

            Namun dera panas yang luruh menikam bumi, tak menyurutkan langkah bocah kecil itu. Kakinya yang  tanpa alas itu terus terayun menyusuri jalan dengan hamparan batu padas.  Bocah itu seolah tak merasakan permukaan batu yang kasar dan tajam. Mungkin saja, lantaran hampir tiap hari melewati jalan ini, menjadikan kulit kakinya kebal dan tak mempan  gigitan batu padas yang terhampar sepanjang puluhan kilometer.

Kini angin garing yang  liar  datang menerpa  dan menampar wajahnya. Memupurkan debu pada rambut gimbalnya yang kumal, sehingga nampak semakin dekil.  Kusut masai. Tapi bocah itu masih tak hirau.

Trottt, trotettttt……

Suara lengking klakson dump truck pengangkut kayu  terdengar menggema dari arah belakang. Meski jaraknya masih sekitar satu kilometer dari bocah laki-laki itu. Namun lengkingnya sangat jelas terdengar. Menggema di sela-sela pepohonan yang masih tersisa dan belum ditebang. Bagai raung raksasa yang berhasil mengalahkan mangsanya, seperti pernah dia dengar melalui legenda.  Tapi kendaraan berukuran besar itu bukan legenda. Sebuah kenyataan yang kini hadir di tengah kehidupan mereka.

Bocah itu masih melenggang, mengayun langkah dalam irama yang bagai tanpa rasa. Santai namun pasti.

Suara klakson kembali terdengar dan semakin dekat. Berikut diiringi deru mesin dump truck yang memiliki 12 ban diiringi derak badan kendaraan yang memuat 6 kayu gelondongan sepanjang 4 meter dan rata-rata berdiameter 80 centimeter.  Dekat dan semakin dekat.

Kini bocah itu menghentikan langkah, seraya merapikan berangka yang dipanggul di pundak. Dia pun menolehkan wajahnya ke arah datangnya kendaraan berat yang oleh masyarakat sekitar disebut loging. Istilah yang salah, namun mereka tentunya tidak peduli. Yang penting kendaraan yang membawa kayu gelondogan itu punya nama dan mudah disebut. Mengingat kendaraan tersebut menurut keterangan digunakan mengangkut kayu log maka mereka pun menyebutnya loging.

Moncong loging  itu nampak muncul di kelokan jalan. Suara mesinnya semakin  jelas menderu.  Menerbangkan debu jalanan yang diam di permukaan batu padas.  Debu-debu itu berubah menjadi ganas, berputar-putar sebelum hinggap membalut batang pohon, daun perdu dan rumput liar di tepi jalan.

Dua orang kernet loging dengan santai duduk di atas kayu gelondongan yang diikat dengan kawat seling meneriaki bocah tersebut. Kemudian melemparkan kaleng bekas minuman ke arahnya. Bocah laki-laki itu bukannya gusar, tapi malah senang. Wajahnya yang disaput debu nampak berbinar. Dia segera memburu ke arah kaleng minuman, sesaat setelah loging tadi berlalu. Dipungutnya kaleng bekas itu, dan dengan cekatan memasukkan ke dalam berangka.

Kini dia kembali mengayun langkah. Menyusuri jalanan yang berbatu dan berdebu.

Sekitar 500 meter  berjalan, dia melihat beberapa anak sedang duduk di bawah pohon mahang yang cukup rindang. Dia pun segera mendekat dan bergabung dengan anak-anak sebayanya itu.

“Odoy, awak sudah dapat berapa kaleng?”

Seorang anak berambut lurus kecoklatan melontarkan pertanyaan kepadanya.

“Sudah dapat sebelas. Awak berapa, Jan?” jawabnya seraya balik bertanya.

“Aku baru dapat tujuh. Sedangkan Akup, Kuwen dan Angai masing-masing cuma tiga.”

“Lantas sekarang kita  akan ke mana? Pulang?” 

            “Ya, kita pulang saja. Sudah tengah hari,” sambut Angai.

“Sudah lapar…” timpal Akup.

“Kalau aku sih, ingin mandi. Badan ini sudah gatal karena keringat” sambut Jan.

“Betul, kita mandi dulu di tempat biasa. Setelah itu baru pulang ke rumah”.  Odoy memberikan pendapat. Usulan itu  langsung di-iya-kan oleh teman-temannya.

Ke lima bocah tanggung itu segera beranjak dari bawah pohon Mahang yang telah memberikan mereka kesejukan. Dan kini, tamparan cahaya matahari yang tepat di ubun-ubun terasa menyengat. Batu jalanan pun berubah panas.  Tapi karena mereka sudah terbiasa, permukaan jalan yang panas itu tidak terlalu mengganggu.

            Beberapa warga berpapasan dengan mereka. Ada yang datang dari ladang.  Sebagian lagi masuk ke hutan  untuk mencari rotan atau kayu bakar. Warga tersebut tak menyadari betapa berbahayanya menggunakan jalan milik perusahaan kayu dimaksud. Karena setiap saat melintas kendaraan berat yang mengangkut kayu log. Pihak perusahaan berulang kali mengingatkan dan meminta warga tidak menggunakan jalanan yang mereka sebut ‘jalan HPH’  tersebut. Terhadap larangan itu, sebagian besar warga malah  protes dan menilai perusahaan tidak adil. Pasalnya, sebelum perusahaan pemegang HPH itu beroperasi, jalan itu hanya berupa jalan setapak dan selalu mereka gunakan untuk ke ladang maupun ke hutan. Persoalan itu kemudian dimusyawarahkan dengan kepala adat. Akhirnya disepakati, warga boleh menggunakanya asalkan berhati-hati dan jangan sampai menghalangi kegiatan pengangkutan kayu yang dilakukan kendaraan berat milik  perusahaan. Jika terjadi kecelakaan akibat kelalaian warga, maka pihak perusahaan tidak akan bertanggung jawab penuh. Mereka berjanji hanya akan memberikan uang simpati yang jumlahnya terbatas.

Terhadap perjanjian yang jelas-jelas sangat merugikan itu, warga pun terpaksa harus menerima.  Warga menganggap perusahaan masih bermurah hati memperkenankan mereka menggunakan ‘jalan HPH’. Sikap ‘menerima’ serupa ini memang tak bisa dielakkan. Sama halnya dengan ganti rugi tanah mereka yang sudah hampir delapan tahun ini belum juga tuntas. Baru sebagian yang dibayar perusahaan. Sisanya masih berupa janji yang entah sampai kapan baru dipenuhi. Ataukah mungkin tidak akan pernah direalisasikan selamanya? Sampai akhirnya perusahaan hengkang setelah kayu-kayu di belantara lepas habis ditebang.

Semenjak kehadiran perusahaan pemegang HPH, Kampung Tepian Batu ini memang menjadi lebih ramai. Banyak pekerja dari luar daerah berdatangan ke mari memburu rezeki. Dalam hal ini, lagi-lagi masyarakat setempat tidak mendapat tempat.  Memang ada beberapa orang yang diterima sebagai pekerja. Hanya beberapa orang. Sementara warga yang lain masih mengandalkan penghasilan dari bercocok tanam, membuka huma dan ladang. Nasib dan kehidupan mereka tidak lebih baik dibanding sebelum perusahaan HPH itu ‘memprorak-poranda’ hutan belantara yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka. Menjadi tempat berburu binatang, mencari rotan dan  damar.

Odoy dan kawan-kawannya sudah hampir sampai di ujung jalan yang berakhir di dermaga perusahaan. Sekitar 300 meter dari kamp perusahaan, mereka berbelok ke kiri, ke arah hulu  sungai Mahakam. Tak jauh dari belokan itu, terdapat sebuah jembatan ulin yang menghubungkan dua tepi anak sungai. Jembatan ini merupakan batas lokasi camp perusahaan dengan permukiman penduduk.

Sesampai di atas jembatan ulin tersebut, Odoy segera membuka baju. Selanjutnya menceburkan diri ke dalam sungai. Teman-temannya pun mengikuti. Dengan penuh riang, bocah-bocah itu bermain di air sungai yang warnanya kekuning-kuningan. Kondisi ini muncul, lantaran bagian hulu sungai dirambah alat-alat berat milik perusahaan HPH. Padahal air sungai ini masih menjadi tumpuan sebagian penduduk untuk keperluan hidup sehari-hari.

***

Selepas makan siang, Odoy pun merebahkan tubuhnya di ruang depan rumah mereka. Rumah yang seluruhnya dari bahan kayu itu hanya dibagi dua, ruang depan dan ruang tengah.  Seluruh anggota keluarga tidur di ruang tengah tersebut. Tak ada kamar tidur yang membatasi. Mereka hanya dipisahkan oleh kelambu dari kain  kaci. Dengan demikian, kelambu menjadi tempat yang paling pribadi bagi para penghuni rumah.

Dengan penuh rasa bangga, Odoy menatap kaleng-kalang kosong bekas minuman yang berhasil ia kumpulkan. Jumlah sudah ratusan buah. Hampir menutup salah satu bidang dinding  ruang depan rumah mereka.

“Kalengku sudah banyak. Tinggal 7 buah lagi jumlahnya menjadi empat ratus. Mudah-mudahan besok aku bisa mendapatkan lebih banyak lagi,”  bisik hati Odoy penuh harap.

Dari ratusan kaleng bekas miliknya itu, beberapa buah diantaranya buatan luar negeri. Ada yang dari Jepang, ada pula yang buatan Amerika. Rata-rata pada kaleng minuman keluaran luar negeri itu terdapat tulisan dalam bahasa Inggris.

“Andai aku bisa bahasa Inggris, pasti bisa memahami apa yang tertulis pada kaleng itu.”  Bisik hati Odoy.

Keinginan itu  membuat Odoy akhirnya terbuai dalam lamunan. Ia menyesali tak bisa melanjutkan sekolah setelah menamatkan Sekolah Dasar dua tahun lalu. Untuk melanjutkan ke SMP, dia meski ke kota kecamatan yang bisa dicapai melalaui jalur sungai. Sekitar satu perjalanan dengan ketinting, yakni perahu bermesin yang menjadi alat transportasi vital masyarakat daerah ini. 

Dengan jarak yang cukup jauh itu, tak mungkin  Odoy harus pulang pergi. Sedangkan tinggal di kota kecamatan  seperti beberapa orang temannya dengan cara menyewa rumah atau kamar,  juga sulit diwujudkan. Orangtuanya tak punya biaya untuk itu. Akhirnya mereka sepakat,  untuk sementara Odoy tak usah melanjutkan sekolah. Bisa tulis baca saja sudah untung. Tapi kalau keadaan sudah memungkinkan nanti, tak ada salahnya Odoy bersekolah lagi. Begitu pertimbangan dan janji orang tuanya.

Sebetulnya di Kampung Tepian Batu ini ada sekolah tingkat SMP. Terdapat  di lingkungan kamp milik perusahaan. Tapi yang bersekolah di sana, khusus anak-anak para karyawan. Sedangkan lulusan SD dari Kampung Tepian Batu tidak ada yang diterima. Ditolak dengan berbagai alasan yang sulit diterima.

Meski tokoh masyarakat setempat pernah mengajukan permohonan disertai beberapa pertimbangan.  Tapi semua itu tak menggoyahkan hati pihak manajemen perusahaan.

“Ini sudah menjadi kebijakan kantor pusat di Jakarta. Kami di daerah tak bisa berbuat banyak. Tapi permohonan yang bapak-bapak ajukan tadi akan kami tampung untuk diteruskan kepada pimpinan. Semoga mereka bisa mempertimbangkannya.”

Begitu kalimat yang disampaikan oleh pria berkacamata tebal yang disebut-sebut sebagai manajer camp. Nada bicaranya terdengar cukup lembut di kuping. Mengalir tenang seperti permukaan Mahakam. Padahal di balik ketenangannya  tersembunyi ulak ganas dahsyat yang mematikan. Begitu pula kalimat yang disampaikan sang manajer  secara tak langsung sudah mematikan harapan masayarakat. Janjinya akan menyampaikan kepada pimpinan di kantor pusat, tak lebih sekadar basa-basi. Buktinya, hal itu sudah berulang kali terjadi. Bahkan hingga sekarang tak seorang pun anak-anak lulusan SD dari Tepian Batu yang diterima di sekolah milik perusahaan. Kenyataan itu menjadikan masyarakat menjadi muyak menuntut. Warga  tak mau lagi merengek-rengek pada perusahaan HPH yang terus mengeruk kekayaan  di tanah kelahiran mereka.

Kenyataan serupa juga terjadi dengan tanah warisan mereka. Sampai sekarang persoalan ganti rugi tak kunjung selesai. Pemerintah maupun wakil rakyat di DPRD yang berulang kali diminta membantu  menyelesaikan dan memperjuangkan tuntutan warga, juga hanya memberikan jawaban yang sama: ditampung. Bahkan sudah hampir sepuluh tahun hingga sekarang, usulan dimaksud masih tetap tersimpan di  “penampungan”.

“Seandainya perusahaan mau menerima, berarti aku sudah kelas tiga SMP sekarang,” ujar Odoy dalam hati.

Pikirannya pun mengembara.  Ingat pada Ingai, teman sebangkunya waktu di SD. Dia bersekolah di kota kecamatan, tinggal di rumah pamannya yang pegawai Kantor Camat. Temannya itu jauh lebih beruntung dibanding dirinya. Kadang ada perasaan iri menjelma.  Namun segera ditepisnya.

“Tidak perlu merasa iri pada Ingai. Bukankah sekarang kamu juga sudah di kelas 3 SMP? Ayo Doy, jangan melamun terus”.

Odoy tersentak dan segera mengangkat wajah. Seorang wanita berparas bersih berdiri di depannya, seraya menggerai senyum. “Kenapa Doy? Ada yang aneh? Aku Ibu Tari, guru matematikamu”.

Mendengar kalimat yang dilontarkan wanita berparas bersih itu, Odoy menjadi terkesima. “Ibu guru?” tanyanya seakan tak percaya.

“Iya, aku ibu gurumu? Memangnya apa yang sedang kau pikirkan? Jangan melamun, Doy. Sekarang sedang jam pelajaran. Lihat teman-temanmu, sedang mencatat pelajaran yang ibu berikan”.

“Oh…” Odoy tergeragap.

Dia mengarahkan pandangan ke seliling tempat duduknya. Benar, sekarang dia berada di sebuah ruang kelas. Nampaknya beberapa teman sebayanya sedang tekun menulis. Ada Jan, Akup, Kuwen dan Angai. Selanjutnya Unai, Atul, Mimi, Asmin dan beberapa bocah perempuan se kampungnya juga ada di sana. Mereka duduk duduk di bangku depan, sedang menyalin tulisan yang tertera di papan tulis.

“Kalau saat jam pelajaran, mestinya kau konsentrasi dan memusatkan perhatian. Jangan melamun, Doy. Nanti  kamu tertinggal dari teman-temanmu.”  Ibu guru Tari memberikan nasehat.

“Bukankah kamu ingin menjadi seorang insinyur kelak?” tanya Ibu guru Tari.

“Benar, Bu. Aku ingin menjadi orang yang pintar. Aku ingin membangun desa kita ini maju dan tidak tertinggal,” jawab Odoy mantap.

“Bagus. Cita-citamu itu sangat bagus. Desa kita memang memerlukan tenaga-tenaga muda yang siap membawa pada kemajuan. Dan itu harus putra daerah sendiri. Kita tak bisa berharap dari  orang luar,” tegas ibu guru Tari.

“Bu Tari yakin kalau saya bisa mewujudkan harapan tersebut?”

“Kenapa tidak, Doy. Asalkan kau memang punya keinginan. Punya kemauan”.

“Terima kasih bu. Bu Tari telah menumbuhkan semangat dalam diriku. Semoga berkat doa ibu, aku bisa  meraih impian yang telah lama menjadi dambaan”.

“Pasti, Doy!”

Api semangat yang dikobarkan Ibu Guru Tari, membuat langkah Odoy terasa ringan dalam perjalanan pulang. Hatinya terasa bungah dan dipenuhi bunga-bunga mimpi tentang masa depan yang lebih baik. Odoy pun nampak lebih ceria diantara teman-temannya saat mengayun tapak menuju kampung.

“Kita mandi dulu Doy?” tanya Jan sewaktu mereka sampai di jembatan ulin yang menjadi  batas lokasi camp perusahaan dengan permukiman penduduk.

“Tidak, aku ingin pulang. Aku ingin belajar. Ingin mewujudkan impianku menjadi seorang insinyur,” tampiknya.

“Nanti malam masih bisa belajar”.

“Lain kali saja….”.

“Tidak, Doy. Kamu harus ikut mandi bersama kami sekarang!,” kata Jan tegas.

“Benar, Doy. Kita mandi sekarang,” timpal Kuwen.

“Ayo, Doy, mari kita sama-sama mencebur ke sungai.” Tandas Angai yang langsung menarik tangan Odoy ke arah tepi sungai. Odoy meronta dan berusaha melepaskan cengkeraman Angai. Teman-temannya yang lain kemudian ikut membantu Angai, memegang kedua tangan Odoy. Odoy pun terus meronta dan berusaha melepaskan diri. Dia tak ingin melakukan hal yang sia-sia dan tak bermanfaat. Bukan waktunya untuk bermain sekarang.

“Lepaskan lepaskan aku…” teriaknya.

“Tidak Doy, kamu harus mandi di sungai bersama kami,” tandas Kuwen.

Menyadari teman-temannya  akan melakukan tindakan nekad, ingin menceburkan dirinya yang masih mengenakan seragam sekolah  ke dalam sungai, maka Odoy mengerahkan seluruhnya tenaganya untuk  berontak. Pegangan temannya-temannya punterlepas. Tubuh Odoy melayang ke belakang.

Krompang!!!!

            Suara gaduh mendadak memenuhi gendang telinga Odoy. Beberapa benda kemudian terasa menghantam jidatnya. Sakit.  Rasa kesal yang mendadak membeludak dalam dada.  Dia pun segera membuka mata, ingin menumpahkan rasa kesal  kepada teman-temannya yang telah berlaku kurang ajar. Odoy membuka mata seraya bangun dan mengepal tinju erat-erat.

            Kini Odoy mengedarkan pandangan ke sekeliling. Hups. Tak ada Jan, tak ada Kuwen, Angai dan Akup. Taman-temannya yang tadi ingin menceburkan dia  ke dalam sungai, sirna dari depan matanya. Dan ternyata, Odoy tidak berada di tepian sungai. Odoy masih berada di ruang depan rumahnya. Rupanya dia barusan tertidur dan bermimpi.

            Dengan hati lara, Odoy pun terhenyak di lantai. Matanya sayu menatap  ratusan kaleng-kaleng kosong yang kini berserakan di lantai. Kaleng-kaleng itu rupanya telah tertendang kakinya pada saat pulas. Bahkan kaleng-kaleng bekas itu pula yang tadi menimbulkan suara gaduh: krompang… !!! **

•           Kali Pasir-Jakarta, 2000

Klik VERSI PDF

Sumber : Buku Antologi 22 Cerpen Borneo Pilihan 2012

Editor : Adella Azizah Maharani

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan