Cerita Pendek : Hajriansyah

Azan subuh menggema. Sebeh sudah menyelesaikan pekerjaannya, sudah merapikan semuanya. Tarbang sudah dibungkus kain hitam. Segala penganan dari yang 41 macam itu sudah dihabiskan. Dibagikan. Dan, anak kecil dengan perut kembung di kamar itu sudah dimandikan. Sebeh bersiap pulang. Tuan rumah menghampirinya, berterimakasih sekalian menyelipkan sesuatu di tangannya ketika bersalaman. Amplop kumal itu segera dimasukkannya ke saku teluk belanganya, dan ia pamit pulang.

Beriringan dengannya, di jalan, beberapa orang sedang menuju masjid. Beberapa menganggukkan kepala padanya. Sebeh tersenyum, lalu mempercepat langkah kakinya. Di sisi jembatan itu ia sempat melirik ke sungai di sebelah kanannya, ke kain kuning yang membungkus rapat tiang ulin duapuluh-duapuluh di tengah percabangan sungai kecil yang gelap. Ia berhenti sebentar, menghirup udara lebih dalam sambil memejamkan mata, dan mengangguk sekali. Ia menoleh sebentar lagi, lalu meneruskan jalannya menyisir tepian. Meniti titian dengan perlahan.

Ketika anaknya yang perempuan membukakan pintu diserahkannya amplop hadiah dari tuan rumah yang berhajat tadi. Ia langsung menuju belakang sesudah meletakkan tarbang di lemari tak berkaca dekat dapur. Sebeh mengambil air, membasuh mukanya, tangannya, dan kakinya. Ia menghirup udara agak dalam sekali lagi, memandang sungai kecil di belakang rumahnya itu. Memandang berkeliling, tatapannya berhenti di batang jingah tua di ujung sungai. Pohon itu mungkin lebih tua dari umurnya. Ranting terkecilnya menjuntai ke permukaan sungai, tak mampu lebih jauh untuk sekadar membasahi daun-daunnya. Kulit pohonnya kering, pecah-pecah di beberapa bagian, tapi kerindangannya masih bisa diharapkan untuk sekadar menaungi pengalur sungai yang kelelahan mengayuh jukung. Sebeh tersenyum, nasibnya tak menang jauh dari pohon itu. Kurang lebih sama saja getah getirnya.

Sebeh merebahkan badan di kamarnya yang tak berpintu, kecuali sehelai kain yang menirai membatasi sekadar privasinya yang tak seberapa. Kamar itu tak berjendela. Gelap tak berlampu. Penerangan yang bisa diharapkan hanyalah sebuah lampu teplok di atas lemari buruk. Dan pagi itu sinar matahari menembus celah-celah papan tua yang rapuh di belakangnya yang sedang menelantang menghadap ke arah barat, mengencong sedikit dari arah kiblat. Heahhh! Udara terasa lebih berat lagi.

Ehemm! Dehemnya mengisyaratkan sesuatu. Dan, anaknya yang tadi terdengar langkah kakinya membawakan kepadanya segelas air putih. Ia merasa lega sedikit. Sebeh memejamkan matanya. Kenangan berpendar melintas di pejam matanya. Terbayang lagi masa mudanya, saat ia rajin mengikuti pamannya, Jamhar, yang terkenal sebagai Palamutan, keliling kampung, membawakan tarbangnya. Ia senang duduk di sisi pamannya, saat itu. Menyender di tawing halat, sementara pamannya khusuk menyanyi-menokohkan Lamut, Labai, Anglung, Anggasina, dan seterusnya. Ia menekuni tepuk-tingkah tarbang itu, mendengarkan dengan seksama bagian demi bagian dari kisah Raden Bungsu, Raden Kasanmandi, Bujang Maluwala, hingga Bujang Jaya, dan kerajaan demi kerajaan yang mereka kunjungi dan jelajahi. Semua itu disambutnya antusias sebagaimana orang-orang yang berkerumun di antara mereka. Ia menghayati semuanya sejauh ini. Menerima segalanya, meski perubahan zaman tak terelakkan lagi seiring radio, lalu televisi, lalu hape yang tak pernah memisah dari tangan orang-orang. Ah, seberapa dekat benda-benda itu menjauhkan orang-orang satu sama lain, pikirnya. Ia bahkan tak bisa berbicara panjang lebar bersama ponakan-ponakannya. Ia tak bisa berkisah lebih jauh, kecuali saat menunaikan hajat orang lain dalam satu pergelaran yang tak lagi akrab dengan anak-anak muda. Semuanya mengabur, dan Sebeh tua tertidur.

* * *

Udin tahu apa yang dilakukannya. Dari informasi yang diberikan Ka Agus, ia meneruskan motornya arah ke Teluk Tiram. Di sebuah simpangan melewati jalan beraspal tak sempurna yang tak terlalu lebar, ia masuk ke Banyiur Dalam. Ini daerah pinggiran kota yang cukup padat, pikirnya, tak banyak beda dengan Kelayan tempat ia menghabiskan masa kecilnya dulu sebelum pindah ke tempat yang lebih longgar di Handil Bakti. Agak jauh, ia sampai di jembatan yang di sisi kirinya ia dapat memandang teluk sungai yang lebar. Pemandangan yang lama tak dilihatnya semenjak pulang dari Jawa empat tahun yang lewat.

Muara sungai Martapura mencabang ke anak sungai di bawah kakinya. Hari masih pagi, dan masih banyak yang mandi. Jamban, lanting yang mengapung tempat para wanita mencuci pakaian, para lelaki mandi bergayung mengubuy badan, anak-anak yang sedang libur sekolah berloncatan menerjang gelombang dari jejak klotok yang melaju dengan suara mesin diesel memekakkan telinga orang yang asing terhadapnya. Keceriaan pagi hari bersama deru motor yang tak kalah cepat di atas jembatan. Udin takjub lagi pada semua itu, seakan ia tak pernah mengalaminya selagi kecil dahulu.

Udin mematikan mesin kendaraannya. Menyandarkannya di sisi warung yang tengah (cukup) ramai. Para orang tua yang beberapa masih memakai kopiah dan baju teluk belanganya sedang bercakap ramai. Udin mengangguk pada mereka, mengambil tempat di ujung bangku kayu panjang berwarna kecoklatan sementara cat kebiruannya telah pudar dan beberapa koyak di sudut-sudutnya.

“Teh, Cil!” teriaknya, seakan orang kampung yang telah akrab dengan penjaga warung. Dan, seorang perempuan muda berkulit kuning langsat membawakannya air kecoklatan di dalam gelas tinggi yang menguapkan panas. Ia mengangguk lagi pada orang tua di sampingnya sebelum menyeruput dengan cepat setegukan yang ngingir di tenggorokan. Udin mengambil sebungkus rokok filter dari saku di dadanya. Ia menawarkan rokok pada yang lebih muda di samping orang tua di bangku sisi kiri bangku yang didudukinya, yang kelihatan diam sedari tadi sementara bungkus rokoknya terlihat telah kosong. Yang ditawari menyambutnya dengan senyum, mengambil sebatang dan berterima kasih. Giliran Udin kemudian meminjam korek gas di tangan orang itu. Udin menghisap dengan sedotan awal yang panjang dan dalam. Mengembuskan asap rokoknya dengan nikmat. Lalu menyeruput lagi manis air teh yang masih panas.

Memulai usaha pengakrabannya, Udin mengomentari perbincangan terakhir di antara para tua itu.

Inggih pak, lah. Walikota kita dasar “bumi” orangnya.”

Para tua itu tertegun sejenak. Seseorang di antaranya memberanikan diri bertanya. “Bumi apanya, sanak?” Yang lain menunggu jawaban.

“Bungul tapi rami!”

Dan, semuanya pun tertawa. Beberapa mengulum senyum, karena merasa belum terlalu akrab. Upaya Udin berterima. Suasana pun mencair. Keakraban berbalas keakraban.

Urang mana, pian, Pak?” si lelaki yang tadi diberi rokok mencoba mengakrabkan diri juga. Meski umurnya nampak dari penampilan, dan terutama mukanya, lebih tua dari udin, ia sadar Udin berpakaian selayaknya orang yang pantas duduk di tawing halat. Berkemeja tangan pendek, rapi dengan ikat pinggang, dan sebuah tas kecil menyelempang di bahunya, Udin jelas lebih berpendidikan dibanding si penanya yang berkaos biru bergambar wajah seorang tokoh dengan tulisan slogan kampanye di bawahnya.

“Dulu asal Kelayan, pang. Tapi sekarang ulun di Handil Bakti. Urang Banjar jua, Pak ai.” Dan Udin tersenyum ramah sekali lagi. Dan inilah kesempatan baginya, pikirnya, untuk hajatnya hari itu. “Oya. Jar, di sini ada palamutan, lah?”

“O, Sebeh, tu!” jawab orang tua di sisinya.

Udin mengarahkan badannya pada si orang tua.

“Rumahnya di dalam sana,” kata si orang tua membalikkan badan menunjuk ke titian sepanjang tepi sungai kecil yang berujung pada jalan setapak yang dapat dilalui sepeda motor di belakang mereka. Udin tak perlu lagi bertanya arah yang akan ditujunya.

“Di dalam, di mana rumahnya, Pak?” Udin mencoba meyakini letak tepatnya.

“Nah, pas belokan itu ke kiri. Nanti ada belokan, ada sekolah yang di seberangnya ada pekuburan, terus, lalu ke kiri lagi… Tanya aja di sana, hampir semua yang di sana itu keluarganya.”

“O, ya, makasih.”

Si orang tua tersenyum, Udin menghadap ke mejanya lagi. Mengambil gelas yang sudah mulai dingin dan menghabiskan setengah isinya.

“Di sini masih seringlah, Pak, belamut?” Udin memalingkan mukanya ke orang tua.

Bah, jarang sudah, Nang ai. Kecuali, ada yang dipipitnya baru orang-orang memanggil palamutan. Itupun bagi yang masih percaya. Sekarang, kan, pengobatan sudah canggih semua. Puskesmas ada di mana-mana. Dokter-dokter muda itu, sudah lebih dipercaya orang-orang, ketimbang harus memanggil palamutan yang tak banyak lagi berguna. Kakanakan sekarang juga lebih suka hiburan di kota daripada menonton Lamut. Kecuali, kami-kami ini yang sudah uzur, mana ada yang bisa menikmati Lamut semalam suntuk.”

“O…. Tapi, di kota sekarang orang-orang mulai suka menonton Lamut lagi.”

“Oh, di mana tu?”

“Di Taman Budaya, Pak, ai.”

“Di mana?”

“Di Kayu Tangi.”

“Ooo…!” semuanya seperti heran mendengar ujaran Udin.

Anang, pang, suka juga nonton Lamut?”

“Ya.”

“Artinya, tahu wan Labai, Anglung, Anggasina, Kasanmandi, jua lah…”

Udin cukup tersenyum saja menanggapi pernyataan terakhir.

“Sekarang penting untuk menghidupkan kembali Lamut.”

“Kenapa?” hampir semua orang di warung bertanya, meski beberapa hanya nampak dari perubahan roman muka mereka. “Tivi, kan, lebih menghibur. Belum lagi kalau jalan-jalan ke Duta Mall. Jar orang, bioskop-bioskop itu lebih rami lagi. Belanja atau tidak belanja, kalau ke Duta Mall orang-orang sini pasti suka.”

Pian pernah ke Duta Mall, kah, sudah?”

Hampir semua yang tua di situ ingin menggeleng. Kecuali, yang diberi rokok tadi dan acil warung yang masih muda itu, yang sedari tadi turut mendengarkan, tersenyum lebih bangga. Udin tersenyum.

“Duta Mall tu sama saja dengan pasar-pasar di sini, Pak ai.”

“Tapi barang-barangnya, kan, lebih bagus. Pemandangannya juga lebih rapi dan mewah. Biar, harga-harga di sana lebih mahal, tapi rasanya lain dengan belanja atau jalan-jalan di pasar.” Acil muda yang duduk di belakang rak berkaca penuh dengan kue semacam cucur, pais, gegatas, lapat, dan tumpukan mie bungkus instan, yang mengikuti perbincangan, ikut bicara.

Udin mencoba memandang wajah si acil yang dibiaskan kaca di depannya. Udin tersenyum padanya. Perempuan muda itu tersipu, merapikan pakaiannya yang baik-baik saja.

“Benar juga, jar acil nih,” Udin mematikan rokoknya dengan menggintaskannya di sisi bangku dan melemparnya ke tempat sempah dari kayu di depan warung. Batang rokok yang menghitam ujungnya itu tepat jatuh di dalam bak, bergemeresek jatuh di atas bungkus bekas mie instan. “Tapi kalau sekadar membeli barang, di pasar tentu lebih murah dan lebih mudah dijangkau, kalo, lah.”

Para tua yang lain itu pun tersenyum lebih bangga, menyetujui apa kata Udin.

“Nah, kembali ke Lamut lagi… sekarang ini penting untuk menghargai apa-apa yang menjadi warisan budaya kita. Ini zaman globalisasi, kalo, lah? Semua yang kita nikmati hari-hari di tivi dan menjadi pakaian kita sekarang ini hampir semuanya datang dari tempat yang jauh. Kita hampir tidak mengenali lagi identitas budaya kita yang sebenarnya. Kreatifitas kita tumpul, dan sebatas menjaja dan memakai barang orang tu, pang, kebisaan kita. Nah, makanya dengan mengadakan penelitian tentang Lamut ini lah ulun berharap bisa membuka tabir ketidakmengertian dan kealfaan kita terhadap tradisi kita. Sukur-sukur, bisa memicu dan memacu kreatifitas seni budaya yang lebih baik lagi….”

Sampai di sini mengertilah orang-orang di warung itu tentang tujuan Udin untuk mengadakan penelitian, meski sejak semula mereka tak paham banyak apa yang dikatakannya.

“O, kalau mau mengkaji…” si orang tua hampir tak paham apa yang dikatakannya. “Mengaji kalo, lah, maksud Anang ni?” Udin tersenyum. Si orang tua agak bangga, dan lalu menunjuk ke si penerima rokok, “Mat, antarkan sidin ini ke rumah Sebeh!”

“Siap, ja, ulun!” Dan, yang ditunjuk segera berdiri, mengambil sebatang rokok lagi dari bungkus yang diletakkan Udin di hadapannya sembari tersenyum ke Udin. Udin mengangguk, dan mereka segera bersiap.

* * *

            Nyoya Lie agak masygul. Di kamarnya yang gelap, ia memikirkan kembali apa yang dimusyawarahkan keluarga besarnya, terutama bersama anak-anaknya, dua malam yang lalu. Ia hampir tak ingin menyetujui keputusan yang dibuat. Tapi apa daya, hampir semua yang berkumpul menyepakati untuk memutus tradisi keluarga mereka sejak lama di Banjar ini.

            Ia mengenangkan lagi bagaimana kakeknya mengakrabkan keluarganya dengan Lamut. Pergelaran semalam suntuk. Pengobatan tradisi, sembari dengan senang dan suntuk ia menghapal nama-nama tokoh semacam Lamut, Labai…. Terutama Kasanmandi, betapa ia digandrungi para perempuan! Sesudah selesai pergelaran ia akan lebih senang lagi menikmati rupa-rupa kue banyaknya. Ia bisa mencicip satu demi satu, meski dengan setengah bersembunyi dari tatapan tajam kakeknya. Ya, ia memang harus berbagi selayaknya. Itu mendekatkan keluarga mereka dengan orang-orang di kampung.

Ia sendiri pernah merasakan dipipit Lamut. Entah bagaimana, padahal ia tak merasa salah makan apa-apa dan berbuat apa-apa yang bisa membuat dirinya sakit, tiba-tiba saja malam itu ia demam tinggi. Keluarga mereka bukan orang kekurangan. Tapi meski dibawa beberapa kali ke dokter Belanda, juga beberapa kali ke tabib cina, demamnya tak juga berkurang. Kakeknya yang bijaksana segera paham situasinya. Orang tua pengambil keputusan tertinggi di keluarganya itu tanpa meminta persetujuan orang tua Lie kecil memanggil Palamutan yang diketahuinya. Terbaring dengan kompres di kepala di balik dinding kamar, ia merasakan keceriaan yang imajinatif dari syair yang mengalun, tentang Bujang Maluwala, di ruang tengah. Bukankah pangeran kecil itu, si Bujang, mampu melalui kesedihan-kesedihannya terpisah dari kedua orang tuanya. Dan bukankah Lamut selalu menjaga keluarga itu.  Mengapa ia harus merasa sendirian di kamar ini. Ah, bahkan asap dupanya sudah merasuki napasnya. Ia harus sehat, harus seceria Bujang yang tak pernah merasa kesepian.

Di pecinan yang tua ini, di sisi sungai Martapura yang air kecoklatannya pasang surut menaiki halaman rumah mereka, Nyonya Lie sudah merasa bagian dari kebudayaan orang Banjar yang dinamis itu. Keluarganya berdagang dengan jujur dan dekat dengan orang kampung. Mereka bahkan membiarkan beberapa perantau dari Madura yang datang kemudian itu memakai tanah mereka yang tak terpakai di Kampung Gadang. Bahkan, hingga hari ini, Nyonya Lie tak pernah menuntut kepada orang-orang yang sudah seakan merasa bahwa tanah itu adalah milik keluarga mereka. Ia tak pernah ambil pusing. Anak-anaknya telah dewasa, cucu-cucunya bahkan sudah ada yang berumah tangga, dan membangun rumah beton yang besar di sisi perkampungan orang-orang dari Madura yang agak kumuh itu. Yang ia tak habis pikir, mengapa cucu-cucunya bersikeras menghapus Lamut dari kenangan keluarganya yang akan datang. Ia pun harus turut percaya kemajuan dalam dunia kedokteran hari ini.

O, kemajuan ini memang tak dapat dihindari. Sebagaimana pasang air sungai Martapura yang menaiki serambi rumahnya di suatu waktu yang lalu, ia menginsafi perkataan bijak Fu Xi yang didaras keluarganya sejak dulu. Bukankah bintang-bintang pun berkitaran dalam bentuk-bentuknya yang memengaruhi keadaan tanah di bumi. Dan keberuntungan pun selalu begitu bukan, pikirnya. Ah, biarlah. Di telinganya, samar-samar dendang tarbang tadi malam masih mengalun. Sembari menyisipkan amplop di tangan Sebeh tadi malam, ia dengan sedih membisikkan, “Selamat jalan….”

* * *

Ayangilaaah… Balalu takisah,

Lamut begitu gundah sore ini. Badai yang bergayut di awan gelap di muara kali ini nampaknya akan lebih hebat, bahkan, dari yang diturunkan Kasanmandi sewaktu mereka akan menjemput Junjung Masari dulu. Labai, Anglung, dan Anggasina sudah diikat kuat-kuat di tiang layar. Mereka tak berkedip seperti halnya Lamut.

Nyatalah, bahwa raksasa-raksasa yang datang kali ini lebih hebat, bahkan dari Aliuddin atau Ali Bahar sekalipun. Aji-aji yang mereka kuasai lebih canggih dan mutakhir. Tunggangan mereka kapal baja dan burung besi. Senjata mereka uang. Modal yang sangat besar.

Lamut bergeming, tapi sayup-sayup didengarnya suara kakaknya, Dewa Pandi Rudiah, memanggilnya dari kahyangan dewata. Ia memang harus pulang….

Risi-risi ujarku manyugi landak

kukura katup di barumahan

paramisi paramisi aku bamandak

tarbang  basatup suara batahan*

* * *

 Amat mengetok pintu, sementara Udin menyandarkan sepeda motornya. Anak perempuan Sebeh yang membuka pintu. Amat menyampaikan maksud kedatangan mereka. Udin tersenyum mengangguk pada tuan rumah yang masih muda dan jelita itu. Mereka dipersilakan masuk.

Udin menerangkan lebih lanjut maksud kedatangannya, di ruang tamu. Ia mencoba meyakinkan pentingnya kedatangannya, meski si perempuan muda itu telah mengatakan bahwa ayahnya baru saja tidur. Kelelahan, dari semalam suntuk menggelar Lamut di Veteran. Tapi ia yang terpana dengan penjelasan Udin, meminta tamunya berdua itu untuk duduk sebentar, sementara ia mencoba membangunkan ayahnya di kamar.

Di ruang tamu yang sederhana itu, sementara si gadis masuk ke dalam, Udin menyapukan pandangan ke dinding tripleks berwarna hijau muda pudar di sisi kanannya. Nampak beberapa piagam penghargaan. Tak alang kepalang, salah satunya dari Presiden Republik Indonesia, bertulisan “Maestro Seni Tradisi”. Juga, potongan berita dari sebuah koran lokal dan nasional yang dibingkai sederhana. Lainnya, foto seorang tua dengan kumis melintang di atas bibirnya yang tebal. Amat sempat menjelaskan bahwa orang tua di foto hitam putih itu adalah Jamhar, guru dan paman dari Sebeh. Udin hanya terpana, setengah bergumam ia berkata, “sayangnya, lah, hampir tak terperhatikan pemerintah kita…” Amat mengangguk rendah.

Tenggorokan Udin mulai kering. Tuan rumah tak juga keluar menyambut mereka. Tak dinyana-nyana, dari dalam terdengar suara histeris. “Ayaaahh…!”

Amat dan Udin saling berpandangan, sedari mulanya mereka bingung, lalu sama paham dan menggumam, “Innalillah…

Juni – Juli, 2011

Catatan: Lamut adalah sebuah pergelaran sastra lisan masyarakat Banjar. Menurut Gusti Jamhar Akbar, satu-satunya pelamutan yang masih aktif bergelar di Banjarmasin, asalnya dari Amuntai dibawa oleh pedagang Cina dari Sriwijaya. Konon, masyarakat yang senang menanggap Lamut selain orang Banjar sendiri, juga masyarakat keturunan Cina yang banyak bermukim di Pecinan, (jalan) Veteran.

*Pantun penutup, dikutip dari naskah Lamut dalam Catatan oleh Mukhlis Maman, dari yang dituturkan oleh pelamutan Gusti Jamhar Akbar .

_________________________________________________________________

Gusti Jamhar Akbar, seniman Lamut.

Seniman kelahiran Alalak, Kalimantan Selatan, 7 November 1972 ini masih setia balamut (memainkan seni lamut). Jamhar menjadi pelamutan (orang yang menyampaikan cerita lamut) sejak umur 10 tahun. Ia menekuni kesenian ini selama 54 tahun. Kepandaian balamut dia dapatkan karena sejak kecil selalu diajak bapaknya bermain lamut.

Maestro Lamut Banjar Gusti Djamhar Akbar. Sumber foto banjarmasin post. Foto diolah “diutak-atik” Akhmad Zailani.

Dalam keluarga Jamhar, kesenian ini diwariskan secara turun-temurun. Dia adalah keturunan keempat. Pertama kesenian lamut dikuasai oleh datunya (buyut), Raden Ngabe Jayanegara dari Yogyakarta. Raden Ngabe belajar lamut saat menjadi utusan Kerajaan Banjar yang bertugas di Amuntai, kini ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Masa keemasan Jamhar mulai tahun 1960-an hingga 1985-an. Saat itu, setiap kali ia memainkan lamut, penonton berdesakan. Mereka tak beranjak semalam suntuk mendengarkan kisahnya. Pada masa itu hampir setiap malam ia diundang warga untuk balamut. Undangan tak hanya di Kalsel, tetapi dia berlamut sampai ke Jakarta, Surabaya, dan beberapa kota di Kalimantan Tengah.

Pada masa itu Jamhar hanya bisa istirahat pada malam jumat. Cerita lamut yang dibawakan Jamhar bisa dimainkan bersambung selama 27 malam. Cerita dia kembangkan berdasarkan perjalanan hidupnya.

Belakangan ia hanya balamut untuk satu malam, selama sekitar lima jam. Dalam balamut, ia sisipkan pesan moral, kritik, dan saran.

_________________________________________________________________

Editor : Sulthan Abiyyurizky

 

 

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan