Menanti Tamu Lebaran

Menanti Tamu Lebaran

Cerita Pendek : Mahmud Jauhari Ali

CAKRAWALA  di atas Banjarmasin yang eksotis tampak cerah. Warna birunya bak latar lukisan naturalis bernilai artistik. Tak ada awan kelabu segores pun. Apalagi comulunimbus yang ganas. Yang ada hanyalah beberapa larik awan putih yang terlihat bersih dalam bait cinta. Sementara cahaya yang disemburkan matahari jingga menghujani seluruh wajah dearah ini. Tepatnya sebuah wajah daerah perbatasan. Menciptakan siluet indah di balakang objek yang memikat.

Sedikit saja seseorang melangkahkan kakinya dari tempat ini, dia sudah keluar dari Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Ya, dia telah memijakkan kakinya di sebuah kabupaten yang terkenal dengan permatanya.

Di sini ramai rumah-rumah, penduduk, juga arus lalu-lintasnya yang cukup mengepulkan asap knalpot campur debu. Dan, di antara rumah-rumah itu, terlihat sesosok lelaki tua berjaket kain beludru duduk di sebuah kursi rotan. Tepatnya kursi di teras depan sebuah rumah yang ukurannya panjang. Mirip rumah Betang khas Suku Dayak Ngaju yang memiliki makna filosofis tinggi: berbeda-beda tapi satu jua. Sebab, rumah Betang dihuni oleh beberapa kepala keluarga dengan rukun. Sungguh, salah satu wujud khas yang berkearifan lokal di Bumi Borneo, bukan?

Lelaki berusia enam puluhan tahunan itu masih duduk. Tatapanya datar. Tanpa suara. Tanpa gerak tubuh yang berarti pula. Diam membisu bak seseorang yang sakti mandraguna sedang bertapa di sebuah bukit suci. Entahlah apa yang sedang dipikirkannya. Yang jelas, dia tampak berpikir serius tentang sesuatu. Sesuatu yang mungkin sangat berharga dan tak bisa diremehkan.

Tak lama kemudian, meluncurlah sebuah kalimat yang ditembakkan dari moncong mulut seorang wanita di dalam rumah panjang itu.

“Ajaklah kakekmu makan kue di sini, Sayang!”

Diksinya sederhana, tapi gemanya memantul-mantul di relung jiwa. Anak kecil yang menjadi lawan bicaranya itu bergerak. Langkahnya tak terburu. Tapi, tidak juga seperti jalannya seorang pengantin yang lamban.

Terus di dekatinya sosok seorang lelaki tua. Ya, seorang lelaki yang tak lain ialah sang kakek yang sedang duduk membisu beku itu. Sorot mata lelaki itu masih datar. Entah sebenarnya apa yang sedang dipikirkannya hingga tatapannya seperti itu. Tampaknya hati kakek itu juga digayuti perasaan miris. Sementara janggutnya yang panjang dan putih bergerak-gerak lincah diembusi angin sendalu dari luar.

“Kek, ayo kita makan kue bersama nenek!”

Mendadak suara cucunya itu membuat jantungnya berdetak kencang.

Jidatnya yang berkerut kini sangat jelas terlihat oleh cucunya. Ditatapnya lekat-lekat anak kecil di hadapannya. Senyumnya pun tiba-tiba merekah indah dari kedua bibirnya yang tak muda lagi itu. Rupanya cucunya ialah obat mujarab atas rasa sedih di hatinya.

“Ayo! Siapa takut?” tantang sang kakek dengan nada bercanda.

Sambil tertawa kecil, mereka berjalan ke arah seorang wanita yang sedang makan kue buatannya sendiri. Langkah mereka setengah terburu, tapi sangat terkesan akrab antarkeduanya.

“Sini, Kek, kita makan kue bersama!” ajak wanita itu ramah kepada suami tercintanya.

Kakek itu pun makan bersama dengan istri dan cucunya. Mereka terlihat sangat akrab di hari kemenangan yang suci tahun ini. Sesekali istrinya membuat cucunya tertawa dengan cerita yang lucu. Sang kakek pun ikut tertawa kecil melihat cucunya yang bahagia mendengarkan cerita dari bibir istrinya yang masih terlihat cantik.

***

Kakek bertubuh tinggi itu disapa dengan panggilan pak Bakran. Masyarakat sini menyapanya dengan nama itu. Nama lengkapnya cukup panjang, Muhammad Bakran Husaini Shaleh. Dulu, dia seorang camat dan kini sudah pensiun. Sehabis melaksanakan salat Idul Fitri dan bermaaf-maafan dengan jamaah lainnya di tanah lapang, dirinya duduk sendiri di kursi teras depan rumahnya itu. Duduk dan duduk. Jiwanya kadang berkata-kata.

“Ada apa dengan lebaran tahun ini? Lebaran yang sedang kuhadapi kali ini sungguh membuat hatiku sedih. Mereka belum juga ada yang menyambangi rumahku. Sudah terasa panas pantatku ini menunggu mereka.” ucap sang kakek dalam hati  dengan raut muka yang sedih.

Dahulu saat sang kakek masih menjadi camat, banyak bawahannya yang bertamu dan meminta maaf kepadanya. Tak jarang pula ada di antara bawahan itu datang dengan membawa bingkisan dengan beragam isi. Sang kakek selalu menerima bingkisan mereka tanpa berprasangka apa-apa. Ya, seakan hanya bawahan-bawahanlah yang mempunyai kesalahan kepada atasan mereka. Sunggung sebuah fenomena yang terkesan aneh, bukan?

Akan tetapi, hari ini berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya. Sudah dua jam sang kakek menanti kedatangan mantan bawahan-bawahannya itu, namun belum ada juga satu pun dari mereka datang menyambangi dirinya. Untunglah cucunya menawarkan rasa sedihnya. Tanpa pikir panjang, diiyakannya saja ajakan cucunya makan kue bersama.

Kini sang kakek masih mengunyah kue bersama istri dan cucunya. Sesekali dia termenung.

“Pak Udin, pak Dayat, bu Mira, ada di mana kalian saat ini? Aku mengharapkan kehadiran kalian di sini. Apa kalian sudah melupakanku?” sang kakek kembali berkata dalam hatinya.

“Kek, mengapa melamun?” tanya istrinya, “Pada hari kemenangan yang bahagia ini, sebaiknya kakek jangan melamun!” tambah istrinya lagi.

Belum sempat sang kakek bicara, cucunya ikut bertanya,

“Kakek tadi melamunkan jalan-jalan di pantai ya?”

“Ah kakek tidak melamun kok. Tadi kakek hanya berpikir, mengapa lebaran kali ini belum ada satu pun mantan anak buah kakek datang bertamu di rumah kita.”

“Mungkin mereka sedang sakit perut, Kek.” kata cucunya sambil tertawa kecil.

“Kata Erni ada benarnya, Kek. Mungkin di antara mereka ada yang sedang sakit. Sebagiannya lagi mungkin ada kesibukan lain.” istrinya mencoba menenangkan hatinya.

Sang kakek diam saja, lalu melanjutkan makan kue bersama istri dan cucunya di ruang santai sambil menonton acara televisi.

Waktu telah berjalan satu jam sejak azan Zuhur berkumandang dari menara-menara cinta. Matahari bulat memancar terlihat terus beringsut menuju ufuk barat. Dan,  sang kakek kedatangan tamu dari tempat yang jauh. Ya, jauh. Pak Zaki sekeluarga sengaja datang dari tempat yang jauhnya 30 kilometer lebih hanya untuk silaturahmi dan bermaaf-maafan dengan sang kakek.

Keduanya adalah kakak beradik. Sang kakek merupakan kakak kandung pak Zaki. Mereka memang akrab sejak kecil. Wajah mereka pun tak jauh beda sehingga tak heran jika ada yang menyangka mereka ialah saudara kembar.

“Sudah berapa banyak tamu yang telah datang di rumah ini?” pak Zaki membuka percakapan saat sang kakek terdiam tanpa alasan yang jelas.

“Mungkin kamu akan terkejut jika kuberi tahu jumlahnya.” kata kakek itu, “Jumlah tamu lebaran hari ini jauh berbeda dengan jumlah tamu saat hari lebaran tahun-tahun sebelumnya.” tambahnya.

“Tambah banyak ya, Kek, jumlah tamunya?” cucu kandung pak Zaki tiba-tiba ikut bicara.

Sang kakek menghela napas sejenak mendengar pertanyaan anak kecil itu.

“Tidak bertambah banyak, Sayang. Malahan baru kalian yang datang.” ucap sang kakek dengan nada sedih.

“Sudah kuduga seperti itu.” pak Zaki menyela.

”Maksudmu?” sang kakek terlihat penasaran.

 ”Maksudku, sudah menjadi kenyataan seorang pejabat didatangi dan diberi bingkisan oleh para bawahannya saat dia masih memiliki jabatan itu. Akan tetapi, dia tidak akan dikunjungi apalagi diberi bingkisan oleh seluruh mantan bawahannya saat dia sudah pensiun atau turun jabatan. Kalau pun ada, hanya satu atau dua orang yang masih mau melakukannya secara ikhlas. ”

Seketika saja wajah sang kakek memerah. Kata-kata adiknya itu seperti bola panas yang memantul-mantul di rongga hatinya. Lalu membakar seluruh jiwanya.

”Kalian tahu? Saat ini hatiku sangat jengkel! Ingin rasanya aku memarahi mereka semua.”

“Sabar, Kek?!” istrinya mencoba meredeakan kemarannya.

”Tapi, aku benar-benar tak bisa menerimanya. Inikah balasan dari orang-orang yang dulu pernah mendapatkan kebaikan dariku?! Dahulu aku begitu dihormati dan disanjung pula oleh setiap bawahanku. Kini, mereka sudah menampakkan wajah asli mereka.” luapan emosi sang kakek tak terbendung lagi.

”Sabar, sabar.” kini giliran pak Zaki yang mencoba menenangkan hati sang kakek.

”Bagaimana aku bisa sabar sementara mereka setega ini kepadaku?! Mereka tak mengerti perasaanku saat ini. Aku yakin, kaupun akan seperti diriku jika berada di posisiku saat ini.”

Istighfar, Kek.” ucap istrinya.

Sang kakek menghela napas panjang.

Beberapa waktu mereka saling diam. Sorot mata sang kakek masih memancarkan kemarahan di hatinya.

”Sabar ya, Kek” sekali lagi istrinya mencoba menenangkannya.

”Hatiku benar-benar sakit.” ucap sang kakek sambil menatap istrinya tajam.

Beberapa waktu mereka saling diam.

”Sejujurnya, aku ingin mereka datang ke sini. Aku ingin bercengkrama dengan mereka. Sekaligus juga melepaskan rasa rindu ini kepada semuanya.” ungkap sang kakek tulus.

”Aku bisa memahaminya, Kek. Tapi, saat ini Kakek perlu bersabar. Marah-marah tikak baik untuk kesehatan Kakek.” ucap istrinya pelan.

Tak lama kemudian azan Asar berkumandang lantang. Sehabis menunaikan salat Asar dan berdoa, sang kakek duduk sendiri di teras depan sambil memandangi barisan semut yang berduyun-duyun dengan teratur. Sambil duduk, sang kakek pun berkata dalam hati,

“Aku iri dengan semut-semut yang begitu akrab di hari yang suci ini. Aku manusia, tetapi tidak dapat seakrab itu dengan para mantan bawahanku di hari yang suci ini setelah aku pensiun. Sungguh aku malu kepada diriku sendiri. Aku mantan pemimpin yang gagal. Pemimpin yang sukses selalu dikenang para bawahannya seperti pahlawan kemerdekaan, bukan seperti diriku ini yang telah mereka lupakan.”

Kemudian dia menarik napas panjang dengan mata yang terpejam.

“Ah! Ada apa denganku? Seharusnya aku bersyukur sudah diberi Allah swt nikmat kehidupan yang masih kurasakan pada hari ini. Banyak kerabatku yang sudah tidak dapat menikmati indahnya lebaran seperti diriku. Walaupun bawahan-bawahanku tidak datang, aku masih memiliki para tetangga dan keluarga yang menyayangiku. Aku masih ingat begitu baiknya sikap mereka di masjid tadi kepadaku. Astaghfirullah! Astaghfirullah!” ucap sang kakek lagi dalam hati.

Perlahan raut wajahnya terlihat cerah. Kabut tebal yang tadi menggumpal hebat di wajahnya, kini telah hilang.

“Betah sekali, Kek, duduk di sini.”

Mendadak sang kakek dikejutkan istrinya yang muncul secara tiba-tiba dari balik pintu utama rumah itu. Beberapa saat mereka saling berpandangan mesra. Senyum keduanya bertaut di antara angin yang terus berembus pelan.

Lalu mereka terlibat dalam perbincangan yang hangat. Kadang-kadang mereka tertawa kecil dengan hal yang mereka perbincangkan. Kini lesu di wajah sang kakek benar-benar sirna. Dan, waktu pun tak terasa berlalu dengan cepat. Cahaya matahari yang tadi bersinar terang, kini pun redup. Mereka masuk ke rumah yang sudah lama mereka diami itu dengan langkah yang tak terburu, tetapi menyiratkan keharmonisan keduanya.

***

Kertak Hanyar, 2008

Klik VERSI PDF

Sumber : Buku Antologi 22 Cerpen Borneo Pilihan 2012

Editor : Adella Azizah Maharani

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: