Cerpen : Wahyu Yudi

Malam menua. Menusuk sekujur tubuh. Perasaanku tak karu-karuan malam ini. Tidak seperti biasanya. Mencekam. Malam ini merupakan malam terakhirku di rumah ini, karena besok kami sekeluarga harus meninggalkan rumah kesayangan. Rumah yang selama tigapuluh tahun kami diami, semenjak aku dan saudara-saudaraku lahir, dibesarkan, hingga beranjak dewasa.

Akhirnya dengan terpaksa, kompleks ini akan tergusur oleh lajunya pertumbuhan kota. Tuntutan zaman yang tidak bisa dielakkan lagi. Padahal, sudah delapan tahun terakhir ini kami para penghuni kompleks memperjuangkan hak-hak agar tak tergusur. Mengingat kompleks ini mempunyai nilai-nilai sejarah yang semestinya tidak hanya dihargai dengan segepok uang, tapi juga dari segi moral dan nilai-nilai perjuangan.

Sudah hampir tiga jam lebih aku mengutak-ngatik Ipad,  sebuah mesin canggih yang sedang ngetren saat ini. Hasil jerih payahku selama aku bekerja. Namun tak satu pun ide yang berhasil kutuang ke layar di hadapanku. Bahkan sudah lebih dari tiga cangkir kopi kureguk untuk melancarkan proses peracikan obsesiku.

Nyatanya, masih saja belum ada tanda-tanda yang menggembirakan kalau-kalau ide itu akan menjadi sebuah ujud yang transparan.

Sedari tadi kursor itu hanya bergerak turun naik, maju mundur. Terus begitu, tanpa ada yang bisa dibentuk. Kalau saja bisa bicara pasti ia akan mengeluh dan memaki. Itulah resikonya. Nasib sudah terancang dan terprogram. Mau berontak tak mungkin. Takut tersisihkan dari peradaban modern. Zaman yang serba canggih, selalu di bawah kendali sang konseptor.

Aku benar-benar sangat penasaran dengan perubahan dan situasi yang terjadi pada diriku, sepertinya ada sesuatu keinginan yang ingin kumuntahkan. Sesungguhnya keinginanku sukar dimengerti dan dinilai dengan apapun. Namun sangat berarti sekali bagi diriku. Untuk sementara ini belum dapat aku gambarkan. Kalau pun bisa, entahlah apa yang bisa kuperbuat lebih lanjut. Pastinya hati kecilku akan merasa plong.

Barangkali saja, ini menyangkut harkat dan martabat kebanyakan wong cilik. Orang yang haknya selalu dihimpit dan diinjak-injak wong gede, orang yang merasa berbudaya dan memiliki moral santun. Nyatanya nyeleneh dan bejat.

Sekali lagi, kureguk kopi tadi hingga tinggal tetes terakhir. Sampai detik ini juga apa yang menjadi obsesiku belum lagi menjadi kenyataan. Tidak biasa-biasanya terbelenggu dalam benak. Seperti rahasia tak terpecahkan. Wujudnya tak tampak. Hanya bisa dirasa. Hawa di luar sana terasa kian menusuk tubuh, terasa dingin. Apalagi dinding kamar ini hanya terbalutkan seng saja, itupun masih untung bisa berdinding. Rumah ini  berbentuk kopel. Satu bangunan dijadikan dua rumah. Rumah tetangga sebelah sudah terlebih dulu dibongkar. Biasanya kamar ini tidak pernah disentuh matahari. Mau tidak mau aku harus merasakan bagaimana panasnya kalau siang dan dinginnya kalau malam.

Pemborongnya pun sudah tak sabaran, ingin cepat-cepat merobohkan bangunan. Rumahku pun tak luput dari gedoran godam-godam. Membuat sebagian dari dinding kamar nyaris runtuh. Wajar saja, karena waktu bagi mereka sangat berharga. Waktu adalah uang, mundur sedetik saja bagi mereka sudah dianggap merugikan.

Malam kian menua, pucat rembulan tertunduk lesu. Sayup-sayup gerai daun Kedondong pecahkan heningnya suasana. Sesekali lolong anjing liar menambah kontrasnya irama malam. Berbayang bulan tiga perempat digenggam risau burung hantu. Kopi terakhir pun ludes. Manisnya tak nyata lagi direguk angan yang samar.

Tiba-tiba seperti ada sesuatu yang aneh. Sebuah kekuatan gaib menarik-narik alam bawah sadarku. Begitu kuatnya hingga sukar kuelakkan. Halusinasi. Bukan! Pikiranku terhipnotis terjebak hitam pekatnya kemilau dunia maya. Semua inderaku kaku. Tanpa perlawanan yang berarti, ragaku, sukmaku dibungkamnya, mengikuti apa yang menjadi kehendak kekuatan supranatural itu. Perlahan demi perlahan ujud halusku beranjak meninggalkan wadagnya, dan kekuatan itu kini membimbing rohku menuju ke sebuah alam yang asing, alam yang belum pernah kukenali sebelumnya.

Pemandangan dan suasana di tempat itu begitu sunyi.Menyeramkan. Berhias kabut tipis berwarna kehijau-hijauan. Nampak sederetan rumah berbentuk kopel, sepertinya ini adalah tangsi militer peninggalan kolonialisme Belanda, bisa dilihat dari bentuk serta corak arsitektur bangunannya. Ada sekitar 50an rumah. Hanya saja tak ada tanda-tanda kehidupan di sana, suasana  aneh yang kudapati.

Dan tepat pada sebuah pojok rumah, letaknya paling ujung sekali, ada sebuah kolam besar. Mungkin bekas pemandian serdadu-serdadu kala itu. Di sampingnya ada sebuah pohon Beringin tua. Pohon itu kekar bagai raksasa. Kutaksir umurnya kira-kira satu abad.

Samar-samar kulihat di rumah yang paling ujung tadi, ada seberkas cahaya berwarna kemerah-merahan, berkedip-kedip. Seperti mata iblis.  mengisyaratkanku untuk segera ke sana. Dengan hati was-was dan bercampur rasa penasaran, kuberanikan diri untuk mendekati cahaya tadi. Ternyata cahaya tersebut berasal dari sebuah lampion usang, yang tergantung tepat di tengah teras.

“Jangan takut Anak Muda! Mendekatlah kemari, aku ingin bercerita sesuatu kepadamu. Paaling tidak dapat kau jadikan bekal dan petunjuk jika engkau kembali ke alammu nanti,” sebuah suara mengagetkanku.

Entah dari mana datangnya suara tadi, kucoba mencari, tapi tak satu pun orang yang kutemui di sekitar sini. Kecuali cahaya kemerah-merahan itu, lantaran di sekelilingku gelap gulita.

“Anak Muda aku di sini, akulah si cahaya merah itu!” panggilnya.

Aku terkejut dan terkesiap sejenak. Kulihat cahaya itu berkedip-kedip lagi. Aku tahu, jika cahaya itu berkedip-kedip lagi berarti dia bicara padaku. Mengapa lampion itu bisa bicara ? Rasanya mustahil, namun itulah kenyataan yang sedang kuhadapi.

“Kemungkinan selalu bisa terjadi, Anak Muda! Rohku berada di lampion tua ini. Sebenarnya aku dulu juga seperti ayahmu, seorang Serdadu. Serdadu yang terlupakan. Kehidupanku penuh penderitaan, tidak seperti kehidupan yang dirasakan kawan-kawan seperjuanganku, yang sempat menikmati kemewahan. Malang nian nasib ini, karena aku terlampau idealis,”  kata suara itu lirih.

“Aku dulu juga pernah tinggal di sini. Ini adalah gambaran masa lampau dari kompleks yang kalian huni. Bertahun-tahun kami memperjuangkan keberadaan rumah-rumah ini, demi penerus kami kelak, nyatanya perjuangan kami tak pernah di hargai.”

Aku hanya bisa terdiam. Membisu. Emoh untuk menjawab,  tanpa aku jawab pun suara itu seakan tahu jalan pikiranku, apa yang ingin kuungkapkan bisa dibacanya. Jadi lebih baik diam saja.

“Aku merasa dikecewakan oleh kondisi yang terjadi di masamu. Rumah-rumah yang seharusnya kalian pelihara dan pertahankan karena memiliki nilai historis, dengan begitu gampangnya digusur hanya lantaran diiming-imingi kertas berharga. Budaya macam apa ini ? Di manakah penghargaan dan rasa hormat kalian terhadap kami ? Pendahulu-pendahulu kalian yang memperjuangkan semua ini hingga bisa kalian nikmati. Kalian selalu memikirkan harta saja, tapi lupa apa makna perjuangan,” artikulasinya semakin membesar. Memekakkan telingaku.

“Tapi inikan demi pembangunan, dan pengembangan kota. Kemajuan kota dirasa sudah kian mendesak,” aku mulai buka bicara.

“Benar katamu, Anak Muda! Tapi ingat, semuanya harus dipertimbangkan baik buruknya, dampaknya terhadap hak-hak dan rasa keadilan kalian juga. Apakah tidak ada alternatif lainnya, agar tidak perlu menggeser nilai-nilai sejarah, yang dengan susah payah kami pertaruhkan,” suara itu selalu saja membuatku tak berdaya, mati kutu.

Kini aku kembali bungkam. Diam, mencerna kata-katanya tadi.

“Kau tahu, sebentar lagi semuanya ini akan berubah menjadi puing – ya – puing. Puing selalu ada di mana-mana, selalu dihadirkan tangan manusia,” kembali suara itu mengeluh.  Miris.

Aku terhenyak. Benar juga perkataanya tadi, tak lama lagi rumah ini akan berubah menjadi puing. Ke mana kami harus pergi. Sampai detik ini kami pun belum mendapatkan penggantinya.

“Puing, di zaman yang serba moderen ini, di mana globalisasi melanda dunia, terkadang selalu muncul dan direkayasa dari kecurangan-kecurangan manusia semata, yang selalu mengatas namakan rakyat demi kepentingan pribadi. Banyak kejadian yang bisa kita ambil hikmahnya, kebakaran yang melanda rumah-rumah, pertokoan, pabrik, kondominium, dan masih banyak lagi. Apa yang mereka inginkan? Mau tahu, mereka hanya mengharapkan klaim dari selembar kertas bernilai, yang kerap mereka sebut dengan “asuransi”. Puing identik eksesnya dengan keserakahan manusia,” kata-katanya makin sinis. Penuh  sindiran. Sepertinya mewakili suara hatiku yang gundah.

Lagi-lagi aku hanya bisa berdiam diri. Otak ini kian beku.

“Satu lagi, ini berkenaan dengan gusur-menggusur. Biasanya para penghuni selalu menjadi bulan-bulanan, dan kerap dirugikan, moril maupun materil. Sementara si pembeli atau pemborong bertindak sewenang-wenang. Semau gue. Tanpa kenal kompromi, lantas tergusurlah hak-hak manusia. Terkadang, setelah menjadi puing, reruntuhannya akan dijadikan asset sekumpulan orang yang dijuluki pemulung. Tadinya nasib dan hak mereka juga sama dengan kalian. Tergusur! Puing berganti wajah, dijadikan pusat perbelanjaan, swalayan, mall, hotel, kondominium, atau bahkan dijadikan lapangan golf,” lama-kelamaan ucapannya membuat darahku mendidih. Aku pun limbung.

“Celakanya lagi, jika yang menjadi puing adalah hati dan perasaan para penghuni, yang merasa dirampas haknya. Masa depan mereka dipatahkan dan diperkosa oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab, lantaran disumpal segepok fulus. Sudah jatuh ketimpa tangga, sudah sengsara semakin menderita pula,” suara itu makin mengeras. Sekujur tubuhku menggigil dibuatnya.

“Puing, dari puing akan lahirlah sebuah elegi tentang penderitaan manusia, terciptalah syair-syair kemelaratan. Puing, yang sengsara tetap saja yang di bawah…,” pandanganku mulai nanar. Pekat. Sekelilingku terasa gulita. Tak ada lagi yang bisa kurasa saat ini.

“Aaaakkkhh …,” erangku berkelonjotan. Cahaya berwarna kemerah-merahan itu serasa mencekik leherku. Aku coba melawan dan berontak, namun sia-sia. Tubuhku melayang jauh. Jauh sekali. Kembali menuju alam nyata.

“Nak…. nak…sadarlah! Istighfarlah !” seseorang mengguncangkan tubuhku. Ibu rupanya.

“Astagfirullahal’adzim!”

Aku tersadar dari tidurku. Memandang sekelilingku. Aku bingung seketika lantaran dinding kamarku sudah bobol, rumah pun sudah ambruk. Puing-puing berserakan di mana-mana. Kulihat, ibu, bapak, dan adik-adikku berdiri tertunduk lesu.

Seberkas sinar kecewa terlukis di raut mereka. Mereka benar-benar menderita. Aku hanya bisa diam. Tak mampu mengeluarkan kata-kata.

Dan, kemudian terdengarlah sebuah orkestra dukana. Komposisi iramanya tertata apik dari bunyi-bunyian yang ada di sekitar kami. Ada suara godam, linggis, dan puing-puing berjatuhan. Namun terasa sumbang di hati, hatiku, dan hati semua penghuni kompleks ini.*

Klik VERSI PDF

 

Sumber : Buku Antologi 22 Cerpen Borneo Pilihan 2012

Editor : Adella Azizah Maharani

 
”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan