DALIA

DALIA

Cerita Pendek    Soson Jan A.k @ Sjan Jhan

ROH  adalah kehidupan meski tubuh bercerai dari nyawa namun roh tetap hidup. Hidup sepertimana pada mulanya dijadikan. Tetap utuh dengan bentuknya tersendiri. Roh ada di mana-mana. Melihat dan mendengar. Hidup walau tak bersuara. Seperti angin yang berhembus di alam yang terbentang luas. Sepi adalah hembusan angin dingin menyentuh sukma, utus suara berbisik dalam diam sepanjang hayat , di dalamnya ada roh yang hidup. Sepi yang tak berpenghujung tidak ada jalan kembali yang aman dan sejahtera kecuali lena rindu di ribaanNYA setelah redha memutih sinar di dada jiwa.

Senja kemerah-merahan.Awan-awan bergerak perlahan menyasar jauh membawa haluan. Gerimis menitis renyai-renyai gugur pada kelopak-kelopak mawar di sekitar banjaran gunung-gunung sekeliling. Suhu yang sentiasa dingin semakin terasa. Para petani-petani desa, kelihatan sedang berjalan di lereng-lereng gunung sambil menjinjing bakul-bakul yang dipenuhi dengan hasil-hasil tanaman. Rumah-rumah yang terdapat disekeliling kawasan pergunungan kelihatan mulai samar-samar di bawah kabus dan sinar senja. Matahari berinsut pergi dan malam mulai menebarkan sayap hitamnya.

Dalia mempercepatkan tugasnya.  Bunga-bunga yang telah dipetik segera dikumpul dalam sebuah bakul rotan. Ada bunga mawar, ada bunga melati, ada bunga matahari, anggerik, kemboja, kenanga dan banyak lagi. Tapi dalam semua itu, bunga mawar adalah yang paling disukainya. Kesemua pohon-pohon bunga yang ada tertanam di dalam kebunnya, beranika bentuk dan penuh berwarna-warni. Sepeti biasa semua bunga-bunga hidup itu akan dibawa balik ke rumah. Jika banyak akan digubah terlebih dahulu sebelum di bawa ke kawasan pondok-pondok jualan yang berderet disepanjang jalan menuju ke bandar kecil Kundasang. Hasil jualan bunga-bunga sedikit sebanyak menambah hasil pendapatan kedua ibubapanya yang telah menjadi petani sejak sekian lama.

Kabus malam yang dingin semakin tebal menyelimuti rumah papan sederhana besar berbentuk moden yang terletak di lereng gunung itu.

Malam itu Dalia membuat gubahan bunga-bunga lagi. Sambil melakukan tugasnya, terdengar suara lunak Dalia tak henti bernyanyi-nyanyi kecil. Dari sebuah lagu ke sebuah lagu terdengar mendayu-dayu alunan suaranya turun naik di bawah angin malam yang dingin.  Cuaca yang semakin dingin membuatkan ibubapa Dalia yang sejak tadi berada di luar segera masuk ke dalam.

“Bagaimana? Sudah kaufikirkan?” Soal Ibu Dalia seraya duduk di sisinya.

Dalia diam. Jari jemarinya terus bekerja menyusun bunga-bunga dalam jambangan.  Kenapa tiada sesiapapun yang pernah mengerti bahawa keikhlasan adalah nilai yang tiada tandingannya? Bukankah ikhlas itu suci? Yang lahir dari sumur naluri yang bersih dan jernih? Seperti mana dia menyintai Sahari. Alangkah indahnya saat itu. Pertemuan pertama ketika mereka sama-sama berada di kebun bunga. Dan sejambak bunga mawar merah pemberian Sahari itu juga yang telah membuka tirai hatinya lalu merasa betapa indah hidup dan penuh cinta!

“Ibu tidak memaksa.” Sambung ibunya.

Tapi bukankah ibu sangat mengharap? Mengharap sebuah jawapan yang boleh menyenangkan perasaan ibu dan bapa? Dan tugas Dalia adalah untuk menyenangkan perasaan ibu dan bapa. Begitu hukum alam. Begitu juga hukum adat dan agama di daerah itu. Tapi dimana hukum tentang keikhlasan?

“Orangnya baik dan beriman. Segak dan serba cukup.”Ibu Dalia bersuara lagi.

Dalia bangun mengangkat gubahan bunga-bunga dan meletakannya di depan veranda luar. Embun malam boleh menyegarkan gubahan bunga-bunga hidup sampai besok pagi. Atau siapa mampu menduga jika Sahari akan muncul lagi esok seperti saat-saat dulu dan mereka akan jalan beriringan di perbatasan kebun-kebun bunga di lereng-lereng gunung sambil memintal benang-benang kasih suci.

“Tapi jika kausudah ada pilihan lain. Ibu tidak keberatan.”

Dalia masih diam. Suasana di ruang tengah tiba-tiba terasa sangat hening.

“Perkara yang lalu tidak usah difikirkan lagi. Mengharap yang tak mungkin hanya membuang waktu.” Bapanya tiba-tiba bersuara.

Kedinginan malam semakin terasa. Di luar pekat gelap. Angin  malam yang bertiup menyusup hingga ke tulang sumsum. Dalia terbaring di dalam kamar tidur. Selimut tebal ditarik menutupi tubuhnya. Jika saja takdir boleh ditulis dengan tangan sendiri. Tapi itu tidak pernah akan terjadi.  Namun apa yang berlakupun bukan jua kemahuan sendiri. Bukan dipinta. Tidak pernah direncana. Siapa yang benar? Siapa yang salah? Memang bukan Dalia, tapi tidak juga Sahari. Bagi Dalia pengalaman pertama itu telah tumbuh hingga ke akar umbi jiwanya. Di saat puput mawar mulai berkembang di suatu pagi yang terindah dalam hidupnya titik pertemuan menjadi begitu cukup bermakna. Tiada dapat diungkapkan dengan kata-kata kecuali merasa alam telah menjadi milik bersama. Terasa ingin berteriak lantang di atas puncak gunung ganang, biar seluruh penghuni dunia tahu bahawa bahagia sedang bertaktha di mahligai jiwanya.

Masa yang setiap detik berlalu dirasakan begitu terik membakar ladang-ladang impiannya. Namun masih saja kenangan itu tidak pernah pergi begitu saja. Bahkan setiap detik dan ketika, Dalia seolah-olah dapat melihat Sahari sedang berjalan di lereng-lereng gunung bersama mawar-mawar segar digengamannya. Mana mungkin Sahari akan pergi begitu saja. Tidak! Dalia percaya, Sahari masih sama seperti dulu. Dalia yakin Sahari akan datang jua menjemputnya satu hari kelak. Dalia akan menunggu. Dan akan terus menanti biar seribu tahun harus menjadi penunggu pada sebuah kehadiran yang tidak pernah menjanjikan apa-apa.

Seperti biasanya, setelah menghantar jambangan-jambangan bunga yang telah siap digubah dan bunga-bunga segar yang baru dipetik ke pondok jualan di kaki gunung, Dalia akan segera beredar ke kebun bunga. Sambil melangkah dalam suhu dingin dan segar ingatannya tidak pernah luput pada kenangan lalu. Ketika itu mereka selalu bersama. Setelah menyiram pohon-pohon bunga mereka akan duduk di sebuah bangku kayu yang panjang menghadap ke arah kebun-kebun bunga. Matahari pagi atau petang kelihatan sangat indah di lereng-lereng pergunungan itu. Bahkan ketika tengahari sekalipun, cuaca sentiasa dingin dan segar.

“Aku takut jika kau pergi dan tidak akan kembali lagi.” Kata Dalia ketika mereka sedang duduk di bangku kayu sambil menatap matahari pagi yang bersinar.

“Aku tidak pernah menyesal kerana datang ke daerah ini. Bahkan aku telah menemui hidupku di sini. Kaucahaya! Kausinar bak sebutir permata yang menerangi seluruh jiwaku.”

“Tapi aku cuma gadis desa. Duniaku, cuma sebuah dunia desa. Sedangkan kau dari kota yang besar.”

“Tapi jiwamu? Katakanlah, bahawa jiwamu hanya ada aku.”

“Selamanya….Tidak akan pernah ada duanya. Dan aku tidak mengerti, apakah semua ini? Mengapa harus begini? Merasa sebuah makna hidup, menyinta dan tiba-tiba merasa takut kehilangan.”

“Kaulihat bunga-bunga mawar di hadapan kita. Dan selagi pohon-pohon mawar masih wujud dan terus berkembang di dunia ini, selagi itu kau berada dalam hatiku.”

“Aku mahu seluruh mawar-mawar yang ada di pergunungan ini sentiasa mekar dan berkembang.”

“Aku ingin hidup seribu tahun lagi, bersamamu mawar hatiku.”

Sewaktu rombongan keluarga Sahari tiba, Dalia masih duduk diam di dalam kamar. Perbualan ramai di luar mula-mula kendengaran rancak. Semakin lama semakin berlarut-larutan. Soal jawab, gelak canda bertambah panjang. Tiba-tiba sepi. Tiba-tiba hening. Dalia masih diam menanti.  Rombongan keluarga Sahari tiba-tiba saja balik. Perasaannya berdebar kencang. Apa yang telah terjadi? Dalia tidak mengerti. Dan sejak itu Sahari tidak pernah muncul lagi. Sahari telah pergi tanpa sepatah kata. Sahari telah balik ke kota tanpa sebarang pesan. Sekali lagi Dalia tidak mengerti. Dalia tidak percaya kalau Sahari sanggup pergi begitu saja. Dan sejak itu Dalia sering kelihatan duduk seorang diri di lereng-lereng gunung setia menanti matahari pagi dan senja merisik khabar pada sepoi angin yang diam membisu seribu bahasa.

Masa berlalu silih datang dan pergi. Dan Dalia tidak pernah jemu-jemu melewati tiap lereng-lereng gunung mencari bekas-bekas kenangan lalu. Apa yang tinggal hanyalah bayang-bayang kenangan, bertaut pada kabus menyeru pada segala kudrat alam untuk sedetik harum kembang kasih yang hilang. Tiada. Tiada walau secebis angin melerai damba. Tiada. Tiada walau sejalur sinar yang terlihat lagi. Tapi, selagi bunga-bunga mawar mekar berkembang di lereng-lereng gunung, Dalia pasti kenyataan itu hanyalah sebuah mimpi buruk. Iya sebuah mimpi buruk! Bukan kebenaran tapi sebuah mimpi buruk!! Sebuah mimpi buruk yang pasti akan berakhir jua. Dan Sahari akan muncul jua nanti di lereng-lereng gunung dalam kebun bunga. Lalu penantian akan berakhir dengan kebenaran cinta! Keyakinan itu tertanam kukuh dalam jiwa raganya. Lalu kehidupan menjadi setia pada penantian yang dia sendiri tidak tahu bila akan berhujung. Namun kenangan itu tetap hidup bersama langkahnya setiap pagi mengintai banyang di balik lereng-lereng gunung dan pohon-pohon mawar. Dan setiap kali senja beradu, Dalia yang masih menanti di situ dengan tatapan kosong melangkah longlai tersungkur di kaki malam yang dingin.

Masa beredar tanpa dapat disekat-sekat lagi.Siang berganti malam dan malam meniti subuh. Dan doa-doa panjang yang tiada pernah berpenghujung sering mengutus salam dalam hening sebuah rindu. Percintaan angin pada roh adalah jiwa yang tiada mati. Tetap suci, bersih, tulus, mulus dan mendaki ke puncak redha dan sabar. Dan hidup nyata hanyalah kesementeraan yang harus diterima dengan lapang dada. Meski luka dan  berdarah mengalir menjadi laut kehidupan. Kenangan dan bayang-bayang terus mengiringi langkahnya menyusuri harapan demi harapan yang semakin jauh tak tercapai tangan. Namun keyakinan tetap saja mekar bagai kuntum-kuntum mawar di kebun bunga.

Beberapa hari saja lagi, Nani akan menyambut hari lahirnya yang ke 15 tahun. Nani akan menyampaikan berita gembira itu kepada makcik Dalia.  Setiap kali lepas balik dari sekolah Nani sering ke pondok-pondok jualan atau mengikuti makcik Dalia di kebun bunganya. Nani suka melihat makcik Dalia mengubah jambangan bunga.  Jika mereka berada di kebun bunga pula, makcik Dalia sering bergurau senda dengannya. Semua itu menjadikan hubungan mereka semakin akrab. Kadang-kadang Nani membawa bekalan makanan dari rumahnya dan mereka akan makan bersama di lereng-lereng gunung. Bagi Nani makcik Dalia terlalu baik dan sangat ramah padanya.

Namun siang itu Nani merasa hairan. Kenapa makcik Dalia tidak ada di pondok jualan. Bukankah makcik Dalia sudah berjanji akan menyiapkan gubahan bunga yang cantik untuk harijadinya? Beberapa hari lepaspun makcik Dalia sudah berjanji akan datang pada pesta harijadinya nanti. Nani mahu makcik Dalia turut bergembira di pesta itu nanti. Nani tidak mahu makcik Dalia hanya asyik duduk di kebun bunga setiap pagi dan petang.

“Semalam Pakcik ada melintas di depan rumahnya. Tapi gelap. Mungkin dia ke pekan seberang tempat anak saudaranya. Kadang-kadang dia bermalam di sana.” Kata Haji Arshad.

“Berapa banyak jambangan bunga yang kautempah darinya?” Soal Hajah Salmah pula.

“Tidak banyak makcik. Cuma dua jambangan. Yang lain mawar dan anggerik.” Jawab Nani.

“Ada orang kahwinkah?” Soal Hajah Salmah lagi.

“Tidak. Hanya untuk hiasan rumah ketika menyambut harijadi ku. Lagipun atok aku akan datang bercuti ke sini.” Jawab Nani.

Hari semakin tinggi. Nani harus balik dulu. Esok Nani akan datang lagi. Kalau makcik Dalia tidak ada juga, Nani mahu naik terus ke lereng-lereng gunung tempat dia selalu bersembang-sembang dengan Makcik Dalia. Setibanya di rumah Nani tersenyum gembira. Atoknya sudah tiba.

“Mana jambangan bunga?” Soal atok Nani sambil memeluk Nani.

“Ah! Atok. Makcik tu tidak adalah. Tapi esok Nani akan ke sana lagi.” Jawab Nani sambil membuka bungkusan hadiah-hadiah yang dibawa oleh atoknya.

Wanita tua yang dikenali dengan panggilan makcik Dalia sehari semalam tidak kelihatan. Mungkin sakit, fikir jiran-jiran. Biasanya pagi-pagi lagi makcik Dalia sudah kelihatan membawa bakul berisi gubahan bunga-bunga. Hari masih terlalu pagi ketika Nani berlari-lari kecil di lereng-lereng gunung terus menghala ke rumah makcik Dalia. Di depan pintu, Nani tercungap-cungap seketika. Pintu diketuk. Tiada jawapan. Nama makcik Dalia dipanggil bertalu-talu. Juga tiada jawapan. Nani memandang sekeliling. Senyap dan sunyi. Tiada siapa-siapa di situ. Nani segera melangkah ke kebun-kebun bunga yang terletak  di lereng-lereng gunung. Nani tahu makcik Dalia selalu duduk di situ sambil memerhatikan mawar-mawar kesayangannya mekar berkembang.

Dari jauh kelihatan makcik Dalia  duduk seorang diri di atas bangku kayu. Nani merasa gembira dan segera berlari mendekatinya.

“Makcik Dalia! Makcik Dalia!” Sapa Nani, tidak sabar untuk memeluk tubuh wanita itu.

Tiada jawapan. Nani tiba-tiba merasa cemas. Dia melangkah lebih dekat dan duduk disebelah makcik Dalia. Nani tiba-tiba tersentak. Mata makcik Dalia terpejam dan wajahnya pucat kaku. Nani cuba menggerakan tubuh makcik Dalia. Namun makcik Dalia sudah tidak bernafas lagi.  Di sebelahnya ada sejambak mawar  masih tersimpan  di dalam bakul raga. Nani tersentak. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang. Nani berlari sekuat tenaganya menuruni lereng-lereng gunung untuk mendapatkan pertolongan dari jiran-jiran sekeliling.

Sepertimana yang pernah dikehendakinya, jasad makcik Dalia telah disemadikan di lereng gunung itu juga di dalam kawasan kebun mawar milik makcik Dalia sendiri.

Beberapa hari berlalu. Pagi itu Nani mengajak atoknya berjalan ke lereng-lereng gunung sambil menziarahi pusara makcik Dalia. Atok Nani membaca doa yang agak panjang. Nani menabur bunga-bunga mawar di atas tanah pusara. Atok Nani turut melakukan hal yang sama.  Desir angin bertiup lembut dan dingin. Pohon-pohon sekeliling dan kelopak-kelopak mawar bergetaran dihembus angin. Awan berlalu permai. Puncak gunung membias sinar kemilau.

“Atok, kenapa makcik Dalia tidak dapat hidup bersama kekasihnya?” Soal Dalia tiba-tiba, sambil mengesat butiran air yang gugur di pipinya.

Suasana hening seketika. Deru angin mulai terdengar lembut menerbangkan daun-daun yang luruh di sekeliling. Resah menyua di lubuk diam. Bagai ada gerimis sedang meluruh di tangkai kalbunya.

“Kerana takdir sudah mengkehendaki begitu. Dan kerana lelaki itu adalah bapa saudaranya sendiri yang telah dipelihara oleh keluarga lain sejak kecil. Ayuh kita balik sekarang.” Haji Sahari menarik tangan Nani sambil berlalu pergi.

Klik VERSI PDF

Sumber : Buku Antologi 22 Cerpen Borneo Pilihan 2012

Editor : Adella Azizah Maharani

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: