‘Slamet Hari Natal’, Begitulah Nama Pria Beragama Islam Asal Malang Ini

MALANG, Kaltim Ampunku– Anda tidak dilarang mengucapkan “kalimat ini”, karena ini bukan ucapan selamat merayakan natal bagi mereka yang merayakan natal, tapi ini nama lengkap orang. Seorang lelaki asal Malang, yang beragama Islam.

Baru-baru ini seorang pria asal Malang ini tiba-tiba viral di media sosial karena memiliki nama yang unik dan langka. Ya, pria beragama Islam ini mempunyai nama asli Slamet Hari Natal.

Karena namanya yang unik, teman-temannya kerap memanggilnya dengan nama Slamet Yesus, bahkan juga Natal. Namun oleh keluarganya, ia akrab disapa Slamet.

Usut punya usut, nama tersebut diberikan pada dirinya karena hari kelahirannya bertepatan pada perayaan Natal, pada 25 Desember 1962 silam.

Nama tersebut tercetus dari bidan yang membantu ibunya dulu ketika proses persalinan di rumah Welasasih atau Bu Kis Kiyo. Diketahui bidan di Desa Kebonsari, Tumpang itu memang beragama Kristen Jawi Wetan.

Setelah melahirkan, bidan tersebut memberi saran agar anak kedua dari pasangan Ngatinah dan Syamsuri itu diberi nama Selamat Hari Natal, karena pada hari itu merupakan perayaan Natal dan agar mudah diingat.

Ibu dan bapak Slamet pun menyetujui saran tersebut, hingga akhirnya memberikan nama tersebut padanya. Masih lekat dengan logat Jawa, kata ‘Selamat’ akhirnya berubah menjadi ‘Slamet’.

Slamet dulu bersekolah di SDN Wonomolyo dan SMPN Tumpang. Meski orang tuanya memberikan nama unik, ia tidak menyesali hal tersebut.

Bagi dirinya, nama hanyalah sebuah tanda yang melekat pada diri seseorang. Sedangkan baik atau buruknya seseorang itu bergantung pada sikap, perilaku dan tutur kata ketika berbicara.

Kini, Slamet Hari Natal dikaruniai tiga orang anak, di antaranya bernama Arif Wendi Yunianto Frediansyah, Nova Dewi Nur Ayomi Ayu, Guruh Tedy Prasetyo Susanto. Anak bungsunya, Guruh merupakan prajurit TNI Angakatan Darat yang berdinas di Kalimantan.

Dalam kesehariannya, Slamet menjalani aktivitas sebagai tenaga pemungut sampah di lingkungan tempat tinggalnya.

Setiap dua hari sekali, ia mengambil sampah di rumah-rumah warga bersama temannya yang bernama Suryono, untuk dibawa ke TPA.

Jaraknya cukup jauh, sekitar 5 kilometer dari kediamannya. Tugas tersebut sudah ia jalani sejak 4 tahun terakhir usai memilih pensiun menjadi sopir truk antar kota.

Kini ia kerap mengemudikan mobilnya untuk mengangkut sampah yang akan dibuang ke TPA Paras Poncokusumo. RP

Editor : Adella Azizah Maharani

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan