”The ”The

MALANG, Kaltim Ampunku – Banyak kasus pencabulan terjadi di Jawa Timur sepanjang 2019. Berbagai kasus yang terjadi melibatkan oknum guru, orang tua, hingga kerabat dekat. Bahkan beberapa kasus, mulai dari di Malang, Mojokerto, hingga Banyuwangi cukup menonjol dan menghebohkan.

1. Oknum Guru Cabuli Murid

Kasus pertama terjadi pada Februari 2019. Pencabulan melibatkan seorang guru di sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Jalan Wahid Hasyim Gang II, Kelurahan Kauman, Klojen, Kota Malang.

Illustration of happy man holding cage with naked child in it. sumber www.sciencephoto.com molestation.www.sciencephoto.com

Oknum guru olahraga berinisial IM melakukan pencabulan dengan memegang alat kelamin dan payudara, saat pergantian jam pelajaran usai pelajaran olahraga. Ia melakukan aksi bejatnya selama rentang waktu Desember 2018 hingga Februari 2019.

Kepada petugas IM mengaku khilaf melakukan aksinya lantaran menduda 14 tahun. IM telah dtahan Polres Malang Kota sejak 27 Maret 2019.

2. Pencabulan Berujung Kebiri

Berlanjut ke Mojokerto, seorang pemuda bernama Muhammad Aris diamankan Polres Mojokerto lantaran melakukan pemerkosaan dan pencabulan kepada Sembilan anak di bawah umur.

Pelaku mendapat vonis kebiri oleh Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. “Perkara Aris ini ada dua perkara di Kota Mojokerto dan Kabupaten Mojokerto. Yang merekomendasikan hukuman kebiri di Kabupaten Mojokerto,” ungkap Humas PN Kabupaten Mojokerto, Erhamuddin.

3. Siswa SD dan SMP Perkosa Siswi SMA hingga Hamil

Bergeser ke Probolinggo, siswa SD dan SMP memperkosa siswi SMA hingga hamil. Pelaku berinisial MMH yang duduk di bangku kelas VI SD dan korban berinisial ZA yang notabene masih kerabatnya sendiri dan tinggal serumah dengan pelaku. MMH memaksa ZA untuk berhubungan badan. Meski sempat ditolak ZA, namun korban tak bisa berbuat banyak lantaran MMH mengancam akan diusir dari rumah orang tua.

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Tak hanya itu saja, MMH pun mengajak temannya MWS yang duduk di bangku SMP untuk ikut ‘turut andil’. Kedua pelaku ini menyetubuhi ZA berkali-kali saat rumah dalam kondisi sepi pada medio awal April 2019.

Aksi bejat keduanya baru berhenti setelah ZA mengaku tengah berbadan dua. Benar saja saat dilakukan pemeriksaan korban tengah mengandung lima bulan. Polres Probolinggo sendiri telah mengamankan dua pelaku pemerkosaan yang masih di bawah umur ini.

4. WN Australia Cabuli Anak di Bawah Umur

Pada medio bulan Agustus 2019, warga Banyuwangi juga dihebohkan dengan pencabulan yang dilakukan Warga Negara (WN) Australia berinisial LD (38). Ia mencabuli remaja laki-laki berinisial MI (15) warga Kecamatan Kabat, Banyuwangi.

LD mengawali aksinya dengan mengajak korbannya melihat film dewasa, akibatnya pelaku yang tengah bergairah tega mencabuli korban di rumah kontrakannya di kawasan perumahan di Rogojampi.

“Karena libidonya naik akhirnya pelaku memaksa korban untuk melakukan aksi bejatnya itu. Orang tua korban melaporkan ke kami. Kita sita ponsel yang ada film dewasanya untuk jadi alat bukti,” ujar Wakapolres Banyuwangi Kompol Andi Yudha.

Polisi sendiri menjerat LD dengan UU Perlindungan Anak nomor 35 tahun 2014.

5. Ayah Perkosa Anak

Naluri seorang bapak yang melindungi anak kandungnya tak berlaku bagi SS (44) asal Lumajang. SS tega memperkosa anak kandungnya sendiri selama empat tahun lamanya.

Anak kandungnya yang berusia 19 tahun ini merupakan hasil dari pernikahan keduanya. Istrinya saat itu menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). SS sendiri telah menikah lima kali dengan rincian tiga kali menikah secara sah dan dua kali menikah siri.

ilustrasi documentarytube

Akibat ulahnya SS sempat ‘dihadiahi’ bogem mentah oleh sejumlah tahanan lainnya saat mendekam di Polres Lumajang. Oleh para tahanan lainnya SS dianggap terlalu ‘bejat’ memperkosa anak kandungnya sendiri, sehingga membuat para tahanan geram.

SS sendiri ditahan oleh Polres Lumajang pada medio akhir Juli 2019 dan dijerat dengan UU Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014.

6. Dokter Kandungan Cabuli Anak di Bawah Umur

Pada medio November 2019, seorang dokter spesialis kandungan di Mojokerto dilaporkan lantaran melakukan pencabulan terhdap seorang perempuan yang masih di bawah umur.

Ilustrasi. (Foto: Okezone)

Oknum dokter berinisial AND (60) dilaporkan orang tua dan korban, ia disangkakan melakukan perbuatan cabulnya di sebuah tempat prakteknya di Kecamatan Mojosari.

Polres Mojokerto sendiri telah memeriksa sejumlah saksi. Namun hingga menjelang akhir Desember 2019 belum ada kelanjutan lebih lanjut dari kasus ini

7. Guru BK Suruh Siswa SMP Marturbasi

Kasus pencabulan lain yang menyita perhatian dilakukan oleh oknum guru Bimbingan Konseling (BK) di salah satu SMP Negeri di Kepanjen, Kabupaten Malang, berinisial CH (38). Ironisnya, CH melakukan aksi bejatnya selama dua tahun sejak Agustus 2017 hingga Oktober 2019 di ruang BK sekolah tersebut saat pulang sekolah.

CH mengawali perbuatannya dengan memanggil muridnya yang dijadikan korban. Ia meminta sang murid menghadapnya di ruang BK sepulang sekolah. Saat pulang sekolah dengan kondisi sepi tersebut, CH melakukan pencabulan dengan meminta para muridnya bermasturbasi.

Dengan dalih penelitian disertasi S3-nya, CH mengambil sampel mengenai kenakalan remaja, ia meminta sampel sperma, bulu ketiak, bulu kelamin, bulu kaki, dan ukuran alat kelamin laki-laki. Total ada 18 siswanya yang telah melaporkan menjadi korban aksi pria dengan seorang istri dan anak ini.

Saat ditelusuri riwayat pendidikan CH, jangankan pendidikan S3, S1 yang dienyam CH belum lulus. Bahkan Polres Malang menemukan adanya pemalsuan surat lamaran dengan melampirkan ijazah S1 palsu dari sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Malang.

“Yang bersangkutan saat melamar pada 2015 lalu menggunakan ijazah S1 BK Universitas Kanjuruhan Malang. Setelah kita cek di kampus tersebut, tidak pernah mengeluarkan ijazah atas nama yang bersangkutan. Kita duga membuat ijazah palsu ke sekolah. CH ini kuliahnya hanya sampai semester 4 jurusan BK, tidak sampai lulus,” jelas Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung.

Penulis : Avirista Midaada

Editor : Adella Azizah Maharani

.

”The ”The

Tinggalkan Balasan