Mengenang Abah Guru Sekumpul (2), Berganti Nama Karena Sebuah Isyarat

”The

BANJARMASIN, Kaltim Ampunku – KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul semula diberi nama Ahmad Qusyairi, namun karena sebuah isyarat, kemudian diganti nama menjadi Muhammad Zaini.

Seperti dikutip dari buku “100 karomah dan kemuliaan Abah Guru Sekumpul”.Cerita itu bermula pada sebuah malam, Abah Guru Sekumpul bermimpi bertemu dengan dua orang pemuda berwajah tampan yang mangaku bernama Sayidina Hasan dan Sayidina Husin putra Imam Ali Karomallahuwajhah.

Dalam mimpi itu, Abah Guru Sekumpul terlibat perbincangan dengan keduanya. Di ujung pembicaraan, keduanya memberi gelar “Zainal Abidin” kepada Abah Guru Sekumpul.

“Zainal Abidin” yang berarti “Perhiasan Ahli Ibadah” adalah gelar luar biasa yang semula disematkan kepada Imam Ali anak dari Sayidina Husein.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (1), Kejadian Ganjil Saat Dilahirkan

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (3), Waktu Kecil Diasuh “Wali Majezub”

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (4), Mengumpul “Dua Mutiara dari Tanah Banjar”

Tuan Guru Marzuki. Foto: Muhammad Bulkini

Tidak hanya memberi gelar, keduanya juga memasangkan jubah dan dan selendang (Libas Sufiyah) kepada Abah Guru Sekumpul.

Perihal mimpi itu kemudian diceritakan Abah Guru Sekumpul kepada Sang Ayah (Abdul Ghani). Sang Ayah yang memahami isyarat itu kemudian mengubah nama Ahmad Qusyairi menjadi Muhammad Zaini. 

Sebelum berganti nama, ada kejadian yang terbilang unik. Sebagaimana diceritakan KH Syaifuddin Zuhri, seorang ulama sepuh di Martapura kala itu (Tuan Guru Marzuki), menjenguk ke kediaman Abah Guru Sekumpul pagi-pagi.

Abah Guru menyambut Tuan Guru Marzuki dengan mencium beliau dari ujung rambut sampai ujung kaki, mengambil berkah Tuan Guru yang kesehariannya disibukkan dengan ilmu dan ibadah itu.

Abah Zuki lantas bertanya, “Ikam wayah ini bangaran Zainal Abidin kah (Kamu sekarang bernama Zainal Abidin ya)?”

Baca Juga: 85 Tingkatan, Pangkat dan Jumlah Wali Allah

Abah Guru Sekumpul hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Sebab, mimpi yang notabene sangat pribadi bagi Abah Guru tersebut, ternyata diketahui oleh Tuan Guru Marzuki.

Tuan Guru Marzuki, masih menurut cerita KH Syaifuddin Zuhri, tidak pernah tercatat menunaikan haji, meski demikian beliau kerap terlihat jemaah haji di Tanah Suci. Beliau adalah ulama wara, murid dari Hadratus Syekh Kasyful Anwar Al Banjari yang lebih dulu ‘alim di bandingkan rekan-rekannya yang lain.

Makam beliau berada di belakang kubah Hadratus Syekh Kasyful Anwar di Kampung Melayu, Martapura.

Baca Juga: Wali Katum atau Gusti Muhammad Ramli, Rajin Membaca Al Qur’an, Konon Bisa Ke Mekkah dalam Sekejap

Editor: Muhammad Bulkini/apahabar

”The

Tinggalkan Balasan

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: