Skip to content

Mengenang Abah Guru Sekumpul (5), Ejekan yang Menjadi Doa

 

BANJARMASIN, Kaltim Ampunku – Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul memiliki masa kecil yang memprihatinkan. Namun, kemiskinan itu menempa kepribadian beliau, hingga menjadi sosok besar di kemudian hari.

Diceritakan dalam buku ‘Figur Karismatik Abah Guru Sekumpul’, rumah keluarga beliau yang berada di desa Keraton sudah berumur tua dan lapuk. Atap rumah yang banyak bocornya, membuat Abah Guru sekeluarga harus bernaung ke sisi rumah yang lebih terlindungi ketika hujan.

Sang Ayah –Al Arif Billah Abdul Ghani-, hanyalah seorang buruh penggosok intan yang bergaji kecil. Gaji yang didapat tidak mencukupi untuk makan sehari-hari. Bahkan selama 14 tahun, keluarga beliau hanya makan berkuah sayur dari batang pisang.

Abah Guru di masa kecil pun ikut membantu perekonomian keluarga dengan menjadi buruh penggosok intan, dan menjajakan nasi bungkus bikinan Sang Ibu, Hj Masliyah. Dari pendapatan itu, mereka bisa makan 1 nasi bungkus untuk 4 orang; Ayah, ibu, Abah Guru, dan sang adik (Siti Rahmah).

Makan satu bungkus nasi dibagi empat ini dialami keluarga Abah Guru selama 8 tahun.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (1), Kejadian Ganjil Saat Dilahirkan

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (2), Berganti Nama Karena Sebuah Isyarat

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (3), Waktu Kecil Diasuh “Wali Majezub”

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (4), Mengumpul “Dua Mutiara dari Tanah Banjar”

 

Kemiskinan yang membelit kehidupan keluarga Abah Guru dihadapi beliau sekeluarga dengan sabar. Sang Ayah mengajarkan untuk tidak mengeluh dengan keadaan, tidak ingin kepahitan itu diketahui orang, dan tidak ingin berutang.

Ketika mendapat anak ketiga Ahmad Ghazali, Sang Ayah sempat mencoba peruntungan merantau ke pulau seberang, Jakarta. Namun hasilnya nihil. Beliau pun pulang ke kampung halaman, mencoba membangun kembali penghidupan dengan menjadi buruh penggosok intan.

Sesampainya di rumah, Sang Ayah dikejutkan dengan wafatnya anak bungsu mereka, Ahmad Ghazali.

Kondisi memprihatinkan masih berlanjut saat Abah Guru berusia sekolah. Abah Guru selalu menjadi bahan ejekan dan pelecehan sebagian teman sepermainannya.

Lebih-lebih, Abah Guru hanya memiliki pakaian yang hanya melekat di badan dan dipakai setiap hari. Sehingga menimbulkan bau yang kurang sedap, sehingga banyak yang menutup hidung ketika berpapasan dengan beliau.

“Dasar bau, kada kawa ai (memang bau, mau bagaimana, red)?” ujar Abah Guru, ketika menceritakan kisah hidup beliau di majelis.

Selain soal pakaian seperti sarung, baju, dan peci, Abah Guru Sekumpul juga memakai sandal dari kayu. Sehingga beliau kerap mendapat ledekan, “Assalamu’alaikum ya Waliyyallah.”

Ejekan yang menjadi doa.

Editor: Muhammad Bulkini/apahabar

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan

Designed using Unos. Powered by WordPress.

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: