Skip to content

Mengenang Abah Guru Sekumpul (7), Angin Menjadi Ribut Ketika “Dihukum” Sang Ayah

 
 
 
 

 BANJARMASIN, Kaltim Ampunku – Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari atau Abah Guru Sekumpul dididik dengan aturan ketat oleh Sang Ayah Al Arif Billah Abdul Ghani. Di mana Abah Guru, dan sedang melakukan apa, dipantau dengan baik oleh Sang Ayah.

Ketika masih kanak-kanak, Abah Guru layaknya anak biasa, yang asyik berteman dan bermain. Namun, di bawah bimbingan Sang Ayah, Abah Guru memiliki batasan-batasan yang tak bisa dilanggar.

Suatu ketika diceritakan dalam buku “Figur Karismatik Abah Guru Sekumpul”, Abah guru diajak seorang teman berjalan-jalan ke Pasar Martapura, yang tak begitu jauh dari kediaman beliau di Desa Keraton Martapura.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (1), Kejadian Ganjil Saat Dilahirkan

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (2), Berganti Nama Karena Sebuah Isyarat

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (3), Waktu Kecil Diasuh “Wali Majezub”

Setelah sampai di Pasar Martapura, Abah Guru dibujuk Sang Teman untuk masuk ke bioskop. Namun, bujukan itu ditolak. Sang Teman kembali membujuk, dan kembali ditolak oleh Abah Guru. Hingga orang itu memaksa beliau masuk. Akhirnya, Abah Guru pun terpaksa masuk ke dalam bioskop.

Namun ternyata, -entah ada kaitannya dengan keberadaan Abah Guru- listrik di bioskop itu padam seketika, sehingga Abah Guru tak sempat melihat film apa yang diputar.

Kendati tak sempat melihat pemutaran film di bioskop, kabar itu sampai ke telinga Sang Ayah. Ketika Abah Guru sampai di rumah, beliau diikat di tiang rumah. Sementara dupa dinyalakan di dekat wajah beliau, sehingga Abah Guru merasakan panas.

Saat Abah Guru dihukum oleh Sang Ayah akibat masuk bioskop itu, alam menjadi ganjil. Angin berhembus sangat kencang.

Nenek beliau (Salbiyah) yang diketahui memiliki pengetahuan yang berbeda (majezub), memandang ada kaitan ganjilnya cuaca dengan dihukumnya Abah Guru. Beliau pun kemudian meminta hukuman itu disudahi saja pada anaknya, Al Arif Billah Abdul Ghani.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (4), Mengumpul “Dua Mutiara dari Tanah Banjar”

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (5), Ejekan yang Menjadi Doa

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (6), “Kebaikan” yang Dinilai Tak tepat oleh Sang Ayah

Dan benar, saat Sang Ayah menghentikan hukuman itu atas permintaan ibunya, cuaca menjadi normal. Angin yang semula berhembus sangat kencang, tiba-tiba menjadi tenang.

Selain di bawah bimbingan Sang Ayah, orang yang turut memperhatikan Abah Guru adalah Ibu Hj Masliyah, Nenek Salbiyah, dan Sang Paman, Syekh Semman Mulya atau Tuan Guru H Seman Mulya.

Editor: Muhammad Bulkini/apahabar

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan

Designed using Unos. Powered by WordPress.

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: