Skip to content

Mengenang Abah Guru Sekumpul (8), Pernah Dikeroyok di Usia Sekolah

 

 
 
 

Kaltim Ampunku– Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul memang mengalami masa-masa sulit di masa kecilnya. Tidak hanya terpaan kemiskinan, beliau juga menjadi objek kekerasan orang-orang yang dengki.

Kemiskinan yang membelit keluarga Abah Guru kala itu tak membuat beliau patah arang dalam menimba ilmu. Keinginan beliau yang kuat mencari ilmu dibuktikan dengan lulusnya beliau di Pondok pesantren Darussalam Martapura dengan kondisi perekonomian yang memprihatinkan.

“Istirahat bulik ke rumah minum banyu putih aja, bulik pulang ke sekolahan. Handak ai kaya urang, cuma duit kadada.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (1), Kejadian Ganjil Saat Dilahirkan

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (2), Berganti Nama Karena Sebuah Isyarat

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (3), Waktu Kecil Diasuh “Wali Majezub”

(waktu istirahat sekolah, beliau pulang ke rumah minum air putih saja. Kembali lagi ke sekolah. Sebenarnya juga ingin seperti orang duduk di warung makan, cuma tidak punya uang, red),” ujar Abah Guru ketika mengenang masa kecil beliau, di Majelis Ar Raudhah Sekumpul.

Abah Guru lulus di Pondok Pesantren Darussalam dengan nilai tertinggi. Dalam ijazah disebutkan, nilai yang beliau peroleh “Jayyid Mumtaz” dengan nilai rata-rata 10.

Abah Guru, menurut KH M Ansyari El Karim –penulis Buku Figur Karismatik Abah Guru Sekumpul- di masa kanak-kanak sudah terlihat kecerdasan dan tekad menuntut ilmu yang kuat. Di samping itu, beliau juga dibantu oleh Allah SWT melewati masa-masa sulit di setiap kehidupannya.

Abah Guru, tulis KH M Ansyari dalam bukunya, pernah menceritakan keganjilan yang dialami beliau menjelang ulangan. Beliau mengaku selalu diberi mimpi tentang soal-soal yang akan diujikan esok hari.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (4), Mengumpul “Dua Mutiara dari Tanah Banjar”

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (5), Ejekan yang Menjadi Doa

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (6), “Kebaikan” yang Dinilai Tak tepat oleh Sang Ayah

Uniknya, mimpi itu juga membeberkan semua jawabannya. Sehingga, Abah Guru mudah menjawab soal yang diujikan ketika ulangan, dan mendapat nilai sempurna.

Rupanya, nilai ulangan yang diperoleh Abah Guru itu memicu kedengkian sebagian teman. Sehingga beliau dikira “main mata” dengan wali kelas, karena selalu mudah menjawab soal-soal dan mendapat nilai tertinggi.

Sebagian teman yang didalam hatinya bersarang kedengkian pada Abah Guru mulai memusuhi beliau. Bahkan, mereka pernah mengeroyok beliau hanya karena kesalah-pahaman tersebut.

Abah Guru tidak melawan kekerasan yang dialami beliau dengan balasan serupa. Bahkan beliau memaklumi kesalah-pahaman teman-temannya itu dan memaafkan kesalahan mereka, sebelum mereka meminta maaf.

Baca Juga: Mengenang Abah Guru Sekumpul (7), Angin Menjadi Ribut Ketika “Dihukum” Sang Ayah

Editor: Muhammad Bulkini/apahabar

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan

Designed using Unos. Powered by WordPress.

ArabicEnglishIndonesianMalay
%d blogger menyukai ini: