Dua putra KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani yang akrab disapa Abah Guru Sekumpul, Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali memimpin prosesi haulan di Mushollah Ar Raudhah Komplek Sekumpul usai shalat Maghrib, Ahad (1/3/2020) malam.

MARTAPURAKaltim Ampunku– Haul ulama besar Al ‘Alim Al ‘Allamah Al ‘Arif Billaah As Syaikh Maulana Muhammad Zaini bin Abdul Ghani ke -15 tahun 2020 ini diperkirakan dihadiri jutaan jamaah dari berbagai daerah dan negara tetangga. Jumlah jamaah setiap tahun terus meningkat atau bertambah.

Dua putra KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani yang akrab disapa Abah Guru Sekumpul, Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali memimpin prosesi haulan di Mushollah Ar Raudhah Komplek Sekumpul usai shalat Maghrib, Ahad (1/3/2020) malam.

Jamaah dari luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam hingga ulama dan para habaib dari Timur Tengah juga menghadiri haul ulama kharismatik asal Martapura, ibukota Kabupaten Banjar, Kalsel.

Dua putra KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani yang akrab disapa Abah Guru Sekumpul, Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali memimpin prosesi haulan di Mushollah Ar Raudhah Komplek Sekumpul usai shalat Maghrib, Ahad (1/3/2020) malam.

Acara dimulai pembacaan Al Qur’an, Surah Yunus ayat ke-62. Lalu dilanjutkan pembacaan Maulid Habsy dan tahlil, dengan berdzikir nasyid.

 

Dua putra KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani yang akrab disapa Abah Guru Sekumpul, Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali memimpin prosesi haulan di Mushollah Ar Raudhah Komplek Sekumpul usai shalat Maghrib, Ahad (1/3/2020) malam. foto ist
Dua putra KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani yang akrab disapa Abah Guru Sekumpul, Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali memimpin prosesi haulan di Mushollah Ar Raudhah Komplek Sekumpul usai shalat Maghrib, Ahad (1/3/2020) malam. foto ist

Jamaah ada yang datang dengan berjalan kaki, menggunakan kendaraan roda 2, mobil, kapal, hingga pesawat pribadi. Selain Jamaah,  tuan rumah para relawanan – tak hanya warga masyarakat Kalsel, tapi juga Kaltim, Kalteng dan Kalbar  tak kenal lelah menyediakan makanan, tumpangan, hingga sekadar tambal ban gratis.

Di Kaltim sendiri, ada beberapa rest area. Di Samarinda, di depan kebun raya Samarinda ada rest area. Rombongan dari Sangata, Bontang dan sekitarnya nampak singgah untuk beristirahat. Ada makanan dan minuman yang disuguhkan.

Lalu di Penajam dan sepanjang jalan arah menuju ke Kalsel. Ada ratusan rest area dengan jarak puluhan meter. Ribuan jamaah tak akan kelaparan dan kehausan. Makanan dan minuman selalu tersedia. Dan gratis.

Banyak warga, khususnya yang baru pertama kali mengikuti haul, merasa terharu. Benar apa yang dikatakan orang yang pernah mengikuti haul sebelumnya. Warga yang tulus ikhlas bergotong royong, mengumpulkan sumbangan untuk menyediakan makanan gratis di sepanjang jalan menuju Martapura. Dapurdapur umum dan penginapan gratis disediakan untuk jamaah haul abah guru sekumpul.

”Saya dari Sulawesi. Saya mencoba lewat darat dari Kaltim. Ternyata benar, di semua tempat yang bertulis rest area, makan dan minum gratis. Saya membuktikan sendiri, bahwa masih ada orang baik, warga biasa yang ihlas. Betapa kami merasa sangat dihargai,” kata warga dari Makassar.

Salah seorang jamaah asal Reza Yyank, menceritakan pengalamannya menuju haul Abah Guru Sekumpul di Martapura. Dari perjalanan yang dilaluinya saja, dia mencatat ada 108 rest area.

“Singgah paman bawa makan dulu bawa istirahat sini ulun bantu nyebrang. Makan acil jangan baarit kalu haus di jalan bungkus minuman makanan paman acil ” itu kalimat yng murni ikhlas keluar dari mulut warga di posko haul makin banyak jamaah yang makan makin nampak gembira  wajah warga yang disinggahi jamaah.

Anda bayangkan jutaan umat yang hadir ke Martapura dan dari jutaan tersebut tak satu pun pernah bercerita kelaparan di jalan. ” Di kawasan Bebulu Darat Penajam terpantau,  panitia sampai bingung memasak karena warga yang mengirim logistik sangat banyak.  Bayangkan puluhan kilo ayam dan ratusan kilo ikan dari nelayan dikirim ke posko demi berbagi dan berharap ridho allah,” cerita Reza.

Di Tabalong sampai ada satu posko yng suka rela membeli satu ekor sapi demi mencukupi kebutuhan makan jamaah dan melayani 1×24 jam

Di Kandangan, anggota TNI  turun ke jalan mengajak anak dan istri membagikan makanan termasuk juga posko anggota Polri yang setiap jam  berpatroli mengurai kemacetan.

Di Binuang didirikan tenda tenda raksasa khusus untuk warga rehat makan minum dengan berbagai jamuan makan tak terbatas dan tak pernah habis. Ada juga tambal ban gratis

”Di rest area Binuang saya bertemu paman umur sekitar 55 tahun beserta istrinya. Pian dari mana paman? Amuntai jawab sidin. Banyaknya mambawa rambutan ba karung karung kamana manjua? Di jawab sidin sagan di bawa ka haul nak ae kada di jual.  Kalo ada nang handak mamakan.  Di rumah kada tamakan. Masya allah,  perjalanan ratusan kilo beliau iklas membawa sekarung rambutan padahal usia beliau sudah tua semua terasa tanpa beban kalau di balut iklas,” kisah Reza.

Ketika melintas di Astambul sekitar pukul 1.30 dini hari udara sangat dingin dan ada rintik rintik hujan pada sebuah tikungan tajam subahannallh ada seorang kakek duduk memakai jas hujan dengan lampu penerangan seadanya. Kakek itu  mengatur lalu lintas. 

”Saya mampir dan bertanya kai pian saurangan ajakah. Dan di jawab sidin aku nak ae sengaja bajaga disini.  Karena tikungannya tajam.  Kalo kada di jaga banyak nang kecelakaan di sini apalagi orang jauh ujar sidin sambil menyeka air rintik hujan di muka tuanya subhannallah beliau duduk membawa kursi dari rumah karena lelah berdiri, kata Reza.

 

Penulis : Akhmad Zailani

Editor :  Adella Azizah Maharani

 

 

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan