Sekilas Riwayat Hidup Habib Ali Bin Muhammad Alhabsyi, Pengarang Maulid Simtud Duror

Pada haul Syekh KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang akrab disapa Abah Guru Sekumpul  ke 15, selain membaca yasin dan Nasyid Syekh Seman, juga pembacaan Maulid Habsy Simtud Duror. Pembacaan dibuka oleh sang buyut pengarang Simtudduror, yaitu Habib Muhammad bin Abdul Qodir dari Tarim, Hadhramaut, Yaman.

Siapa Habib Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi?

***

HABIB Ali bin Muhammad Alhabsyi dilahirkan di desa Qosam (Hadramaut). Ayah kandungnya adalah seorang alim dan ulama besar yaitu Habib Muhammad bin Husein Alhabsyi lahir di Seiwun sedangkan ibunya adalah juga seorang alim dan pendakwah yang bernama Hababah Alawiyah binti Husein bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri lahir di Syibam.

Ada sebuah kisah menarik tentang ayah Habib Ali. Pada waktu itu ayah Habib Ali menyewa rumah seharga 100 qursyi setahun. Suatu hari pemilik rumah datang untuk meminta uang sewa rumah. Ayah Habib Ali kemuadian berkata kepada kakaknya Habib Ali : “Wahai Ahmad, naiklah keatas, ambil uang uang 100 qursyi di laci dan bawa kesini!”.

BACA JUGA :
 

Ahmad berkata dalam hati, “setiap hari laci itu kubuka dan didalamnya tidak ada uang”. Ahmad lalu naik ke atas. Setelah membuka laci dan tidak menemukan apa-apa, lalu ia kembali menemui ayahnya, “Wahai ayah laci itu kosong, tidak kutemukan uang disana.”

“Kau tidak melihatnya, Ayo ikut aku, akan kutunjukkan kepadamu,” kata ayah Habib Ali.

Setelah itu mereka berdua naik keatas dan membuka laci. Ternyata disana ada sebuah kantong berisi uang 100 Qursyi, “Berikanlah pemilik rumah itu uang ini agar ia tenang.”

“Wahai ayah, kami telah tenang dari pemilik rumah, namun kita sama sekali tidak memiliki uang untuk membeli makanan,” kata Ahmad (kakak Habib Ali).

“Wahai anakku. Dia yang memberi uang untuk membayar sewa rumah ini tentu akam memberi kita makan,” jawab ayah Habib Ali.

Tak lama kemudian ada surat dari Sultan Gholib bin Muhammad beserta uang 100 Qursyi. Rupanya Sultan ini salah satu murid ayah Habib Ali, “Wahai anakku, perhatikanlah bagaimana Allah memudahkan rezeki kita,” kata ayah Habib Ali (Habib Muhammad bin Husein Alhabsyi).

BACA JUGA :

Mengenang Abah Guru Sekumpul (1), Kejadian Ganjil Saat Dilahirkan

Mengenang Abah Guru Sekumpul (2), Berganti Nama Karena Sebuah Isyarat

Mengenang Abah Guru Sekumpul (3), Waktu Kecil Diasuh “Wali Majezub”

Mengenang Abah Guru Sekumpul (4), Mengumpul “Dua Mutiara dari Tanah Banjar”

Mengenang Abah Guru Sekumpul (5), Ejekan yang Menjadi Doa

Mengenang Abah Guru Sekumpul (6), “Kebaikan” yang Dinilai Tak tepat oleh Sang Ayah

Mengenang Abah Guru Sekumpul (7), Angin Menjadi Ribut Ketika “Dihukum” Sang Ayah

Mengenang Abah Guru Sekumpul (8), Pernah Dikeroyok di Usia Sekolah

Mengenang Abah Guru Sekumpul (9), Melarang Murid Memberi Minum Saat Mengajar

Mengenang Abah Guru Sekumpul (10), Sempat Mau Dibunuh Ketika Mengajar

Nasab Habib Ali bersambung kepada Rasulullah SAW, melalui jalur Sayidina Husein, lengkap yaitu Habib Ali bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Syeikh bin Abdullah bin Muhammad bin Husien bin Ahmad Shohibusy Sy’ib bin Muhammad Asghor bin Alwi bin Abubakar Al-Habsyi berlanjut terus sampai kepada Sayyidan Ali bin Abi thalib dan Sayyidatina Fatimah Az-Zahra.

Penampilan Habib Ali, beliau berkulit sawo matang penuh cahaya. Perawakannya tinggi besar, kekar, berdada bidang, berperut kecil. Wajah bulat berisi, berdahi lebar, dan berjanggut pendek.

Diantara guru-gurunya adalah kedua orangtuanya sendiri, Al-Allamah Sayyid Umar bin Hasan Al-Hadad, Sayyid Abdullah bin Husein bin Tohir, Sayyid Abdullah bin Husein bin Muhammad, Syeikh Muhammad bin Ibrahim, Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, Habib Ali bin Idrus bin Syihabudin, Imam Umar bin Abdurrahman bin Syahab, Habib Ahmad bin Muhammad Al-Mudhar (Imam para Saadah yang mulia), Habib Abubakar bin Abdullah Al-Athas dan banyak lagi lainnya.

Diantara para gurunya tersebut Habib Abubakar bin Abdullah Al-Athas adalah guru yang paling berkesan bagi Habib Ali. Dalam kitab Tajul A’ros disebutkan Habib Abubakar bin Abdullah Al-Athas mendidik Habib Ali sejak dia masih berada di alam buthun (perut) hingga berada di alam zhuhur (dunia).

Ketika Habib Ali masih anak-anak terjadi kejadian aneh di Masjid Jami Qosam, pada waktu itu pakaian Habib Ali tertinggal di dalam masjid tersebut lalu Habib Ali bersama ibunya keluar untuk mengambil baju itu. Sesampainya di masjid, Habib Ali masuk sendiri ke dalam Masjid sedangkan ibunya menunggu di luar.

Tetapi bajunya tidak ditemukan di tempatnya, tiba-tiba salah satu tiang masjid tersebut terbelah dan dari dalam tiang tersebut keluar seorang pemuda dengan jenggot tebal, berkulit putih berkata : “Wahai Ali, ambilah pakaianmu ini. Ketika melihatnya tertinggal, aku menyimpannya untukmu.”

Kemudian Habib Ali segera mengambilnya. Pada usia 17 tahun pergi ke Mekah, dimana saat itu ayahnya berada di sana dalam rangka berdakwah, Habib Ali berada di sana selama 2 tahun. Kemudian setelah itu beliau kembali ke Seiwun sebagai seorang alim dan ahli dalam pendidikan. Habib Ali pernah melakukan perjalanan ke Pulau Jawa selama 5 bulan pada tahun 1315 H atas perintah ayahnya.

Pada usia 37 tahun Habib Ali membangun Ribath (Pondok Pesantren) yang pertama di Hadramaut untuk para penuntut ilmu dari dalam dan luar kota. Ribath itu menyerupai masjid dan terletak di sebelah timur halaman Masjid Abdul Malik. Para orang yang tinggal dan menuntut ilmu di ribath tersebut biayanya beliau tanggung sendiri.

Menurut Syeikh Salim bin Muhammad Syamaakh, seorang pencinta beliau, Habib Ali menanggung setiap hari selain para tamu adalah 150 orang; 50 orang di ribath, 50 orang di rumah dan 50 orang di Anisah. Adapun jumlah tamu setelah Isya adalah sekitar 15-20 orang. Selain itu Habib Ali juga membangun Masjid yang dinamakan Masjid Riyadh, pada waktu beliau berusia 44 tahun.

BACA JUGA :

Abah Guru Sekumpul Teladan Bagi Orang yang Kaya

 

Masjid berdampingan dengan dan bahkan menjadi satu dengan Ribath. Habib Ali berkata :”Dalam Masjid Riyadh terdapat cahaya, rahasia dan keberkahan Nabi Muhammad SAW.

Wafatnya Habib Ali

PADA tahun-tahun terakhir kehidupannya, penglihatan Habib Ali semakin kabur, dan dua tahun sebelum wafatnya, beliau kehilangan penglihatannya. Menjelang wafatnya, tanda yang pertama kali tampak adalah isthilam. Isthilam ini berlangsung selama 70 hari, hingga kesehatan beliau semakin buruk.

Akhirnya, pada waktu Dhuhur, hari Minggu, 20 Rabiuts Tsani 1333 H, ruh beliau yang suci terbang menuju “Illiyyin.” Dan pada waktu Ashar keesokkan harinya, jenasah beliau diantarkan ke kubur dalam suatu iring-iringan yang tidak ada awal dan akhirnya. Jenasah beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Riyadh. Habib Ali meninggalkan 5 orang anak, 4 putra dan 1 putri dari 2 orang wanita, yang pertama seorang wanita Qosam (bernama Abdullah) dan Syarifah Fatimah binti Muhammad Maulakhela (Muhammad, Ahmad, Alwi dan Khadijah).

BACA JUGA : Kapan Habib Ali Menulis Maulid Simtud Duror?

Diantara anaknya itu ada yang menetap di Solo, Indonesia, yaitu Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi (ayah dari Habib Anis bin Alwi AlHabsyi).

Habib Ali mempunyai banyak murid, diantara adalah anak-anaknya sendiri, adiknya Habib Syeikh bin Muhammad, Sayyid Abdullah bi Umar Asy-Syathri, Sayyid Jakfar dan Abdul Qodir bin Abdurrahman Asseggaf, Sayyid Muhammad bin Hadi bin Hasan Asseggaf, Sayyid Muhsin bin Abdullah bin Muhsin Asseggaf, Sayyid Abdullah bin Alwi bin Zien AlHabsyi, Sayyid Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur, Sayyid Umar bin Tohir Al-Haddad dan banyak lagi yang tidak dapat disebutkan.

(Sumber Sekilas Tentang Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, karya Habib Novel Muhammad Alaydrus, Penerbit Putera Riyadi)

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan