Besar Mertokusumo, Advokat Pertama Pembela Pribumi yang Jasanya Terlupakan

 

Menjadi Advokat pertama di Indonesia Besar Mertokusumo selalu terdepan saat membela pribumi di Landaard atau pengadilan. Meski demikian hingga kini namanya belum dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Mertokusumo bukan nama yang populer di kalangan advokat saat ini. Jasanya saat membela pribumi seakan-akan dilupakan.

Lahir di Brebes, 8 Juli 1894 dari keluarga seorang priyai. Martokusumo termasuk anak yang beruntung. Keluarganya yang terpandang membuatnya tidak sulit mengenyam bangku pendidikan.

TOKOH : Beberapa Tokoh di Samarinda yang Berjuang di bidang Pendidikan Zaman Pemerintah Hindia Belanda

Sekolah pertamanya adalah Europeesche Lagere School (ELS) yang hanya diisi oleh kalangan tertentu saja. Kemudian ia naik jenjang di sekolah menengah Hogere Burger School (HBS).

Sayangnya, ia tidak mampu menamatkan pendidikan di HBS karena memilih pindah ke Recht School yang dikenal sebagai sekolah hukum atau kehakiman.

Setelah lulus dari Recht School pada tahun 1915 ia ditempatkan sebagai pegawai di Pengadilan Negeri di Pekalongan.

BACA JUGA : Maradja Sajoethi Loebis, Tokoh Sarekat Islam yang Pertama Kali Menerbitkan Surat Kabar Lokal di Kaltim Tahun 1922

Empat tahun kemudian ia dipindahkan ke Pengadilan Negeri Semarang. Di tempatnya bekerja Mertokusumo melihat betapa rendahnya kaum pribumi di hadapan orang-orang Belanda.

Ketika itu ada seorang terdakwa pribumi yang diduga melakukan kesalahan, Mertokusumo menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, pribumi tersebut harus duduk di lantai dengan wajah penuh ketakutan.

Mertokusumo sadar, tindakan tersebut benar-benar merendahkan kaum pribumi. Meskipun ia bukan termasuk murid yang pintar di bidang hukum, tetapi mulai saat itu ia bertekad akan membantu para rakyat miskin di pengadilan.

Tekadnya tidak bisa diganggu gugat lagi. Ia mulai menabung agar bisa melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum, Universitas Leiden, Belanda. Tahun 1923 ia lulus dan kembali ke Hindia-Belanda.

Tidak seperti kawannya yang lain, setelah pulang dari Indonesia, Mertokusumo justru membangun kantor dan praktik di Tegal. Ia berhasil membangun kantor tersebut berkat gelar Mr. yang disandangnya selepas pulang dari Belanda.

Tapi tahun 1942 berbarengan dengan bubarnya Hindia-Belanda yang kemudian diduduki oleh Jepang, para birokrat ditangkap dan dimasukan ke dalam kamp.

Mertokusumo diselamatkan dengan pengangkatannya sebagai Wali Kota Tegal dan Residen Pekalongan. Jabatan tersebut dimanfaatkan kaum pribumi mengambil senjata Jepang.

Saat menjadi Sekretaris Jenderal Kehakiman, ia mendapat ide membuat Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Indonesia dari seroang praktisi muda yang berkuliah di Australia, yaitu Adnan Nasution. Ide dan pembahasan tersebut merupakan awal terbentuknya LBH.

Meski begitu, jasa-jasa Mertokusumo seakan hilang begitu saja. Namanya juga belum terdengar menjadi sebuah nama jalan di Indonesia sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya selama masa penjajahan.

Mertokusumo wafat pada tanggal 23 Februari 1980 dimakamkan di Makam Giritama, Bogor. (Anita/Ryv)

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan