Kitab Puisi Norak Nala Arung, Nyeleneh, Lucu dan Noraknya Bercorak

Kaltim AmpunkuPADA zaman dahulu kala, kurang lebih 9 tahun yang lalu, di tahun 2011, seorang pemuda dari Kutai Kartanegara mengeluarkan kitabnya. Namanya Kitab Puisi Norak Nala Arung, Efpei I’m In Love. Bergambar kartun, seorang gadis berbaju merah membawa mikropon. Gambar satunya, pemuda berbaju putih, berkopiah putih membawa pentungan. Dilihat dari cover kitabnya, kayak komik. Tapi bukan. Isi dalamnya semua puisi. Buku itu dijual. Pertama kali saya melihatnya di Gramedia Lembuswana. Tapi saya nggak beli. Beberapa minggu kemudian. Ketika saya ke Gramedia Lembuswana lagi, buku itu masih ada. Sisa ada satu. Bukan karena kasihan, enggak atau belum laku, tapi karena saya suka puisi, saya pun beli satu buku. Untuk koleksi.

 

Saya pun membuka bukunya. Setelah tiba di rumah. Umumnya kan ada kata pengantar atau prakata. Di buku norak Nala Arung, malah ada Surat Al Norakiyyah. Saya berpikir. Nyambung juga nih. Ini kan buku puisi norak, maka ada surah noraknya. Di bawah nama Nala Arung ada keterangan jabatan dia, yaitu pemimpi Aliran Jamaah Norakiyah. Pemimpi, huruf n nya memang gak ada.

Jammah Al Norakiyah yang Manis Manja , begitu Nala Arung membuka khutbahnya. Isi khutbahnya berzikir menyebut nama teman-temannya, sambil mengucapkan terima kasih. Saya langsung saja ke alinea terakhir, kenapa Nala Arung menerbitkan buku puisi. Sebenarnya dia sendiri yang bertanya. Lalu dia sendiri pula yang menjawabnya. ” Karena saya menginginkan dan alhamdulilah tidak ada yang melarangnya”.

Setelah Nala Arung menuliskan khutbahnya yang tidak menarik, bagi saya. Dan tidak bermanfaat, bagi saya. Kecuali bagi Nala Arung sendiri. Maka, di halaman selanjutnya, nah ini yang menarik. Ada imam besar The Panasdalam, Pidi Baiq. Mudah-mudahan Ini Kata Pengantar, judul halaman Pidi Baiq.

Pada waktu saya tulis kata pengantar ini saya sedang ada di sini, di Kalimantan, yaitu Kalimantan Timur yang panas, yang punya sungai besar namanya Mahakam, tepatnya di daerah Tenggarong di Kabupaten Kutai Kartanegara, dengan kode pos 755117. Itu Kalimat pembuka Pidi Baiq.

Cukup saya tulisan itu saja. Capek menyalinnya. Tapi saya lanjutkan saja. Intinya, menurut Pidi, buku Nala Arung, tidak salah lagi, adalah buku kumpulan puisi. Walaupun anak SD akan bingung ketika membaca isinya. Puisi-puisi Nala Arung enggak sama dengan puisi-puisi di buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia.

Ketika anak SD bertanya kepada gurunya, maka menurut guru puisi yang benar itu seperti puisi Chairil Anwar, seperti puisi Sutan Takdir Alisjahbana, seperti puisi Ramadhan KH. Sedangkan puisi Nala Arung, seperti puisi main-main saja.

Sadar bahwa puisi-puisinya akan masuk dalam kategori yang berpotensi disebut norak oleh masyarakat umum, maka Nala Arung lebih baik mengaku lebih duluan. Biarin aja, toh kalau yang sekarang dianggap norak, kelak juga apabila sudah menjadi umum, ia tidak akan lagi dianggap norak, insya Allah.

Sama seperti Pidi Baiq, saya suka Nala Arung mau berkarya. Daripada yang lain ribut-ribut tapi nggak ada karyanya. Daripada nggak ada karyanya, lebih baik nggak usah ribut-ribut.

Nala Arung menawarkan bentuk lain dari sebuah puisi yang berbeda dari puisi umumnya. Kalau diterima ya oke, kalau tidak diterima ya dia sendiri yang akan menerimanya, tulis Pidi Baiq.

Buku puisi Nala Arung ini termasuk langka. Khususnya di Kaltim. 5 Tahun, atau 10 tahun atau berpuluh tahun lagi, belum tentu ada penyair yang menerbitkan buku kumpulan puisi sendiri. Puisi seperti hidangan makanan yang basi. Nggak menarik lagi. Tapi percayalah, puisi nggak akan mati-mati. Buku langka Nala Arung ini tentu saja akan tercatat dalam sejarah puisi di Kaltim, dan di dunia. Puisi akan tetap hidup di diri manusia. Itu menurut saya.

Dan maaf, saya enggak mengajukan maaf, hanya basa basi, takut nggak dimaafkankan oleh jamaah al norakiyah. Karena saya menuliskan ini, setelah membeli bukunya 9 tahun yang lalu, di tahun 2011 masehi, lalu saya menuliskan ini di tahun 2020 masehi sekarang ini di Samarinda. Bukan di Tenggarong.

Baiklah. Ini beberapa puisi Nala Arung, yang saya pilih secara acak, lalu saya ketik dengan agak malas-malasan. Menurut saya, setelah membaca sekedarnya, ada juga puisi yang nggak norak. Sedikit serius. Sebutlah satu dia antaranya; Siapa yang Bisa Melawan Rindu, Kukirimkan Sepasang Matamu, atau puisi serius lainnya, yang nanti saya cari dulu dalam bukunya.

Tapi saya nggak ingin mengetikkan puisi itu di sini. Puisi yang lain saja. Yang pendek-pendek saja. Kalau yang panjang capek menyalinnya.

Hari Ke Tujuh Setelah Kita Bertemu dan Berpisah


Di hari ketujuh setelah kita bertemu
Kau sempatkan singgah di hatinya

Di hari ke tujuh setelah kita berpisah
Ku teluh hatinya dengan sebaik doa

Selamat menikmati  yang sama, sayang

(2009).

 

Curhat Penyair Joblo

Kemaluan sudah ada
Kemauan sudah ada

Jalan
Itu yang belum ada

(2010)

 

Hidup Itu Memang Indah

Banyak lelaki tak tahu berterima kasih pada perempuannya
Banyak perempuan tak tahu cara bersyukur pada keistimewaannya

Banyak waria tak tahu keistimewaan saya

(2010)

 

Pelajaran Tentang Kelamin

Seorang gadis kecil bertanya kepada bapaknya :

kenapa bapak kencing berdiri?
sebab bapak punya burung

kenapa bapak punya burung?
sebab bapak orang penyayang

kenapa ibu kencing jongkok?
sebab ibu tak punya burung

kenapa ibu tak punya burung?
kalau punya kamu tak ada

 

(2006)

Kesah Bahari

Kesah bahari kenangan betemu hodengan

Puhun rambutan disitu etam betemuan

Maseh kuingat calon mentuha kegawaian

Rambutan urang nyawa puti’i kan sogo’an

 

Betahun tahun pegi merantau ke seberang

Ngumpuli pitis kan persiapan bekawinan

Mulang ke kampong ndengar habar mandik keruan

Hodengan sayang dah dijadikan bini urang

 

Aer mata belelehan

Hodengan dialak urang

 

Mita hak kesah kenangan waktu maseh bujang

Kawa diingat kan dijadikan pelajaran

 

(1999)

 

Pesan Seorang Istri Kepada Suaminya Melalui Layanan Pesan Pendek

 

Pulang!!!

(2009)

 

TIDUR

“Tidur Nak, sudah malam”

Itu kata Emak waktu Halimah masih bocah

 

“Tidur Pah, sudah malam”

Ini kata Halimah waktu lakinya minta jatah

(2009)

Tuhan Tolong Jangan Kabulkan Doaku

 

Itu tadi cuma karena kesal saja

Aku minta Engkau memberi siksa

Pada dia yang bertopeng muka

Bikin putus simpul tali saudara

Kami di adu kami di domba

Agar tegap dia punya citra

 

Tuhan tolong jangan kabulkan doaku

Tapi kalau sudah terlanjur apa boleh buat

Aku tahu keputusanMu tak bisa dianggau gugat

 

(2009)

Sekadar Kau Tahu Saja

:: kantata prasasti mahakama

 

Kalau sudah saatnya kau lego perawanmu

Bijaksanalah memilih pasangan

Sebab

Sekadar kau tahu saja :

 

Dokter kulit belum tentu kulitnya bagus

Dokter mata belum tentu matanya bagus

Dokter jantung belum tentu jantungnya bagus

Dokter kandungan belum tentu kandungannya bagus

Dokter kelamin belum tentu kelaminnya bagus

 

(2009)

 

Demikianlah,  sesungguhnya itu saja dulu yang bisa saya ketikkan, di waktu-waktu saya nggak ada kerjaan.   Ada banyak puisi dalam kitab milik Nala Arung ini. Dibagi dalam tiga babak. Babak satu ada 42 puisi. Babak dua ada 38 puisi. Babak tiga 35 puisi.  Puisi Efpei, i’m in love ini ditaruh di babak tiga di bagian terakhir. Bermacam tema puisi. Bukan hanya tentang kelamin saja. Ada cinta dan rindu, yang serius dan lain-lain.

Seperti buku-buku umumnya, buku ini juga ada beberapa orang yang memberikan kalimat endorsement atau dukungan.  Nala Arung mengistilahkannya  : Provokasi Teman Teman. Saya mengambil dua orang saja. Maksud mengambil ini, mencuplik kalimat dukungan itu tadi. Pertama mantan pacarnya : Saya suka yang nyeleneh tapi nggak aneh. Lucu tapi nggak lugu. Norak tapi nggak bercorak. Buku ini nyeleneh. Lucu dan noraknya bercorak. Satu aja yang kurang saya suka, penulisnya genit! (Ika Puspita Sari Icha)Mantan Pacar. Mungkin setelah 9 tahun masih istri Nala Arung. Semoga.

Lalu satu lagi, dari Firdan. Kenapa saya cuplik endorsementnya, mungkin dia teman saya. Asli Waloeh ! (Firdan – Tukang Baliho).

Sudah itu aja.

 

BACA JUGA CERPEN :

Pisau di Bawah Bantal

P U I N G

ABDI SANG MALAM

INTAN KARAMUNTING

 

Penulis : Akhmad Zailani

Editor : Adella Azizah Maharani

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan