”The ”The

Situasi perang membuat kegiatan pendidikan di Jepang lumpuh. “Di sekolah, sejak memuncaknya peperangan pada awal tahun 1944 hampir-hampir tidak ada kuliah. Mahasiswa-mahasiswa dipekerjakan di pabrik senjata, misalnya di Tachikawa. Juga untuk latihan ketentaraan banyak mahasiswa yang dikirim ke medan perang,” tulis Omar Barack, pelajar asal Samarinda yang belajar ekonomi politik di Universitas Waseda.

 

Jepang melibatkan pelajar Indonesia dalam Perang Dunia II. Namun, bukan berarti semuanya membeo kemauan Jepang.

 
 Para pelajar Indonesia di Jepang bersama dwitunggal, Sukarno dan Hatta. (Repro Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang Sekitar Perang Pasifik 1942-1945).
 

PARA pelajar Indonesia memainkan peranan, terutama dalam membantu balatentara Jepang, di masa Perang Dunia II. Sudjono, pemimpin Serikat Indonesia, diminta turut serta armada perang menuju Jawa.

“Anda penting untuk menghubungi pemimpin-pemimpin Indonesia di sana,” tulis Sudjono menirukan Nakayama, kolonel yang menjemputnya, termuat dalam Mr. Sudjono: Mendarat dengan Pasukan Jepang di Banten 1942. Sudjono di kemudian hari menjadi penghubung militer Jepang dengan tokoh-tokoh Indonesia sesampainya di Banten, tempat pendaratan pertama pasukan Jepang.

Mohammad Juli, asal Batu Sangkar, Sumatra Barat, yang belajar teknik pembuatan keramik di Seto, Aichi, diminta menjadi penyiar radio. Dia siaran selama 30 menit setiap malam sejak akhir 1941 sampai tibanya pasukan Jepang di Jawa pada Maret 1942. Dari bilik studio di Tokyo, Juli menyiarkan kepada rakyat Hindia bahwa tentara Jepang datang sebagai pembebas.

Namun, bukan berarti semuanya membeo kemauan Jepang. Oemarjadi Njotowijono, pelajar ilmu bisnis di Universitas Hitotsubashi yang memimpin Serikat Indonesia selepas Sudjono pulang ke Jawa, kritis terhadap ajakan perang Jepang. Bahkan jauh-jauh hari sebelumnya dia menaruh curiga bahwa Jepang tak beda dari negara-negara Eropa dan Amerika yang menindas bangsa Asia. Dia berkaca kepada sikap Jepang yang mengobarkan perang dengan Tiongkok, sesama bangsa Asia. Dalam majalah Kakushin edisi Agustus 1939, dia menulis: “Sebelum meletus Perang Jepang-Tiongkok, rakyat yang tertindas dari daratan Asia kita ini pernah menganggap Jepang sebagai satu-satunya negara yang menolong diri mereka dari keadaan susah.”

Situasi perang membuat kegiatan pendidikan di Jepang lumpuh. “Di sekolah, sejak memuncaknya peperangan pada awal tahun 1944 hampir-hampir tidak ada kuliah. Mahasiswa-mahasiswa dipekerjakan di pabrik senjata, misalnya di Tachikawa. Juga untuk latihan ketentaraan banyak mahasiswa yang dikirim ke medan perang,” tulis Omar Barack, pelajar asal Samarinda yang belajar ekonomi politik di Universitas Waseda.

Ketika makin terdesak dalam perang, Jepang mau tak mau menambah serdadu. Pada akhir 1944, lewat Kokusai Gakuyukai (sekolah bagi seluruh pelajar asing yang belajar bahasa Jepang), pemerintah mengumumkan kesempatan masuk akademi militer. Mereka diizinkan masuk Rikugun Shikan Gakko atau Rikushi, Akademi Militer Angkatan Darat, berpusat di Sobudai, sekira 60 kilometer di sebelah barat Tokyo. “17 pelajar Indonesia dari Jawa dan Sumatera mengajukan diri untuk masuk ke Akademi Militer tersebut,” tulis Saari Ibrahim dalam Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang.

Saari yang asal Lampung baru saja menyelesaikan pendidikan bahasa sebelum masuk akademi militer. Di Sobudai, dia diajari keterampilan perang seperti menggunakan light machine, gun, rifle, revolver, dan granat tangan. Pelajar dari luar Jawa dan Sumatra juga mengikuti akademi militer namun ditempatkan dalam yurisdiksi Angkatan Laut.

Jepang bertekuk lutut setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom Amerika.

Setelah Perang Usai

Perang membuat banyak sekolah tutup. Namun menurut Hassan Shadily, pelajar asal Pamekasan di Universitas Kyoto yang juga pernah ikut Akademi Militer di Sobudai, banyak pelajar Indonesia enggan meninggalkan Jepang. Mereka tak akan pulang sebelum membawa gelar.

Menurut data yang dihimpun Persada Senior, jumlah mahasiswa yang belajar di Jepang sebelum perang dan sekitar 1942-1945 sebanyak 94 orang. “Tentu saja bahwa di luar daftar ini masih ada beberapa putra Indonesia yang ada di Jepang ketika itu,” tulis Hassan yang kelak lebih dikenal sebagai penyusun Kamus Bahasa Indonesia-Inggris.

Di kemudian hari, para pelajar yang sempat menuntut ilmu di Jepang berkarya di tanah air. Selepas Indonesia merdeka, Sudjono bekerja di bagian hukum di Kementerian Luar Negeri Indonesia. Oemarjadi menjadi duta besar di Jenewa, Swiss dan pernah juga menjabat sekretaris jenderal ASEAN. Omar Barack menjadi ketua Copra Selling Pool in Japan yang bertanggung jawab menyuplai kopra ke Jepang. Mahjuddin Gaus sendiri, setelah lulus dari kedokteran Universitas Jikei, membuka praktik di Singapura.

Zaman telah mengantarkan para pemuda yang mestinya belajar justru menjadi tenaga perang. Sebagian bahkan yakin Jepang adalah pembebas Indonesia dari penjajah Belanda. Seperti ditulis sejarawan Ken’ichi Goto, antara tentara Jepang dan pelajar kala itu seperti suami-istri yang tidur sebantal namun berbeda mimpi.

Fajar Riadi/historia

”The ”The

Tinggalkan Balasan