”The ”The

PADA 26 Oktober 1957, puluhan pejuang kemerdekaan se-Karesidenan Bogor berkumpul di rumah Bupati Bogor, R.E. Abdoellah, di Jalan Panaragan No. 31. Secara aklamasi, mereka menyepakati bahwa gedung di Jalan Cikeumeuh No. 28 (sekarang Jalan Merdeka) sebagai Museum Perjoangan.

Kartinah Muslihat, istri almarhum Kapten Muslihat, melantik dewan pengurus Yayasan Museum Perjoangan Bogor (YMPB) pada 10 Nopember 1957. Tak lama berselang, muncul surat keputusan Pelaksana Kuasa Militer Daerah Res. Inf 8/III-No. Kpts/3/7/PKM/57, yang berisi arahan kepada pengurus YMPB untuk mempersiapkan dan mengusahakan gedung Museum Perjoangan agar dapat diwujudkan dan diresmikan pada 17 Agustus 1958

 
KALTIM AMPUNKU— Gedung Museum Perjoangan Bogor di Jalan Merdeka, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, tidak hanya menyimpan koleksi peninggalan para pejuang namun bangunan ini juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Bogor.
 
Banyak yang menyangka bahwa gedung ini didirikan pada 10 November 1957. Pasalnya angka, bulan, dan tahun tersebut tertulis pada bagian depan bangunan. Namun ternyata gedung ini jauh lebih tua dari yang tertulis.
 
 
Pemandu Museum perjoangan Beny mengungkapkan, 10 November 1957 merupakan penanda bahwa gedung ini mulai direncanakan untuk difungsikan sebagai museum perjoangan, bukan merupakan tahun pendirian bangunan. 
 
“Gedung ini dibangun bertingkat dua yaitu pada tahun 1879, bukan 1957. Itu (1957) merupakan tahun bahwa gedung ini akan dijadikan museum dan dikelola oleh Yayasan Museum Perjoangan Bogor,” ujar Beny, Kamis (15/8/2019).
 
 
Dia mengatakan, gedung ini dibangun oleh seorang pengusaha Belanda bernama Wilhlhm Gusta Af Wisner yang dipergunakan sebagai gudang perusahaan export komodite pertanian ekspor ke Eropa.
 
Menurut Beny, kala itu Jalan Merdeka masih bernama Tjikeumeuh Weg dan gedung ini terletak persis berhadapan dengan kuburan Belanda Momentomeri.
 
Pada tahun 1935 gedung ini kemudian dijadikan sebagai markas oleh Partai Indonesia Raya (Parindra) yang merupakan salah satu partai politik masa pergerakan nasional yang ikut berjuang menentang kekuasaan pemerintah kolonial Belanda.
 
Selanjutnya pada masa Pendudukan Jepang museum Perjoangan difungsikan sebagai gudang oleh tentara Jepang untuk menyimpan barang-barang interniran Belanda.
 
Kemudian pada tahun 1945 gedung digunakan oleh pejuang sebagai markas untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
 
 
“Museum ini juga pernah digunakan untuk kegiatan media masa Gelora Rakyat dan di lantai dua gedung ini pernah digunakan Dewan Pertahanan Keresidenan Bogor sebagai tempat rapat untuk mengatur serangan dimana kedudukan musuh,” kata Beny.
 
Pada tahun 1946, ketika masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan telah berakhir, gedung sempat dikosongkan. Lalu pada tahun 1958 sempat digunakan sebagai sekolah rakyat hingga akhirnya dijadikan Museum sampai saat ini.
 
“Museum dibentuk berdasarkan putusan hasil rembuk para pejuang, tokoh-tokoh masyarakat yang menginginkan adanya sebuah museum untuk menyimpan peninggalan para pejuang Bogor agar diketahui oleh para generasi selanjutnya,” tukas Beny.
 
Koleksi senjata rampasan perang , di antara barang yang dipamerkan. http://www.inilahduniakita.net

Dari Dispoarbud Jabar juga disebutkan,  museum perjuangan Bogor didirikan melalui musyawarah para tokoh Pejuang Karesidenan Bogor yang meliputi Kota dan Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur dan Depok.

Diprakasai dan diresmikan oleh Mayor Ishak Djuarsah PEKUMIL. Daerah Res. INF. 8 Suryakancana Devisi III Siliwangi, pada tanggal 10 Nopember 1957. Pendirian museum dmaksudkan untuk mewariskan semangat dan jiwa juang serta nilai – nilai ’45 kepada generasi sekarang dan yang akan datang.


Gedung yang digunakan sebagai museum, sebelumnya adalah milik seorang pengusaha Belanda yang bernama Wilhelm Gustaf Wissner. Dibangun pada tahun 1879 yang pada awalnya digunakan sebagai gudang ekspor komoditas pertanian sebelum dikirim ke negara-negara di Eropa. Pada masa pergerakan gedung ini digunakan oleh PARINDRA pada tahun 1935 dengan nama gedung PERSAUDARAAN, dan digunakan sebagai tempat kegiatan pemuda dibawah panji-panji Kepanduan Indonesia yaitu Pandu Suryawirawan. Pada tahun 1942 digunakan sebagai gudang tentara Jepang untuk menyimpan barang – barang milik interniran Belanda, kemudian digunakan untuk menyambut dan mempertahankan kemerdekaan RI pada tahun 1945. Diantara tahun 1945-1950 dipergunakan oleh KNI Karesidenan Bogor, Gelora Rakyat, Dewan Pertahanan Karesidenan Bogor, Call Sigen RRI Perjuangan Karesidenan Bogor, GABSI Cab. Bogor, dan Kantor Pemerintah sementara Kabupaten Bogor.

Pada tahun 1052-1958 dimiliki dan ditempati oleh Umar Bin Usman Albawahab Baru pada tanggal 20 Mei 1958 gedung ini dihibahkan dari pemiliknya yang terakhir yaitu Umar Bin Usman Albawahab menjadi Museum Perjuangan Bogor.

Koleksi Museum


Koleksi museum terdiri atas macam-macam senapan yang digunakan para pejuang saat merebut kemerdekaan, juga terdapat senapan hasil rampasan dari Jepang dan Inggris, mata uang serta dilengkapi dengan diorama yang menggambarkan pertempuran di daerah Bogor dan sekitarnya. Selain itu, museum ini juga memiliki koleksi pakaian pejuang yang sebagian di antaranya memiliki noda darah asli.

Lokasi: Jl. Jalan Merdeka No.56, Kelurahan Cibogor, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor 16124
Koordinat : 6° 35′ 35″ S, 106° 47′ 16″ E
Telepon: (0251) 8326377, Fax (0251) 8326377

Aryono/AyoBandung

disparbud.jabarprov.go.id

Foto foto hipwee

”The ”The

Tinggalkan Balasan