Pada setiap 23 Oktober, Pontianak merayakan hari jadinya. Ibu kota provinsi Kalimantan Barat, ini akan berusia ke-249 tahun. di tahun 2020  ini.  Meskipun tergolong sebagai kota yang tidak muda, tetapi belum banyak orang yang mengetahui asal-usul kota ini.

Bahkan, berbagai sumber pun seringkali memaparkan latar belakang yang cukup berbeda. Salah satunya berhubungan dengan sosok hantu perempuan yang ada karena meninggal saat melahirkan, yaitu : kuntilanak.

Berikut ini adalah latar belakang yang kami temukan. Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan pembukaan hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar. Tempat tersebut pada kemudian hari berdiri balai dan rumah tinggal.

Kemudian, pada tahun 1778 (1192 H), Syarif diangkat menjadi Sultan Pontianak pertama. Berdirinya Masjid Jami’, yang kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman dan Istana Kadariah yang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur menjadi penanda letak kekuasaannya. 

Dalam buku “Borneos Wester Afdeling”, V.J. Verth, seorang sejarawan Belanda menuliskan sejarah kota Pontianak yang isinya sedikit berbeda dengan cerita yang banyak beredar saat ini. 

Sebuah kanal di perkampungan Pontianak, sekitar 1920-an.
Sebuah kanal di perkampungan Pontianak, sekitar 1920-an/Mahandis Yoanata Thamrin.
 
 

Menurut Verth, Belanda masuk ke Pontianak pada tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi) dari Batavia. 

Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman merupakan putra ulama dari Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie, atau dalam versi lain dikenal sebagai Al Habib Husin. Syarif meninggalkan kerajaan Mempawah dan mulai hidup merantau. 

Saat berada di wilayah Banjarmasin, Syarif menikah dengan adik sultan Banjar, Sunan Nata Alam dan dilantik sebagai Pangeran. Ia berhasil dalam kegiatan berdagang dan mengumpulkan modal yang cukup banyak untuk mempersenjatai kapal pelancang dan perahunya. 

Wisma Residen Pontianak pada 1940-an. Barangkali Ida Pfieffer menginap di rumah ini. Dia diterima ol
 
Wisma Residen Pontianak pada 1940-an. Barangkali Ida Pfieffer menginap di rumah ini/Mahandis Yoanata Thamrin

Tidak lama setelah itu, ia memulai perlawanannya terhadap penjajahan Belanda. Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif berhasil membajak kapal Belanda yang berada di dekat Bangka serta kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Pasir.  

Setelah itu, Syarif menjadi orang yang berkecukupan dan mencoba untuk mendirikan permukiman di sebuah pulau di Sungai Kapuas. 

Ia juga menemukan cabang dari Sungai Landak yang kemudian ia kembangkan menjadi pusat perdagangan yang makmur. Wilayah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Pontianak. 

Asal Usul Pontianak

Tugu Khatulistiwa, Pontianak.
Timur Samofeev/Getty Images/iStockphoto
Tugu Khatulistiwa, Pontianak.

Pontianak telah dikenal sebagai kota khatulistiwa yang dilalui garis lintang nol derajat bumi. Karena berada di posisi langka, maka dibangunlah sebuah monumen atau tugu khatulistiwa di Siantan. 

Tidak hanya itu, kota yang memiliki luas wilayah 107,82 kilometer persegi ini juga menyimpan sebuah legenda yang berawal dari mitos mistis masa lalu. 

Berdasarkan beberapa sumber, nama Pontianak bermula dari kisah Syarif yang sering diganggu oleh hantu berwujud kuntilanak saat dirinya sedang menyusuri Sungai Kapuas. 

Awalnya, tempat tersebut bernama Khun Tien yang banyak dihuni oleh etnis Tionghua di sepanjang pesisir Sungai Kapuas. 

Ketika sampai di daerah pertemuan Sungai Kapuas Besar dan Sungai Landak, Syarif merasa sangat terganggu dengan kuntilanak, sehingga ia melepaskan tembakan meriam untuk mengusirnya. Sosok kuntilanak ini digambarkan berwujud perempuan dengan rambut panjang dan berbaju putih.

Ilustrasi Kuntilanak.
chainatp/Getty Images/iStockphoto
Ilustrasi Kuntilanak.

Selain cerita tersebut, sebagian masyarakat juga percaya bahwa asal usul Pontianak berasal dari legenda masyarakat Melayu dengan mengambil nama dari kata pohon-pohon punti, yang berarti pohon-pohon tinggi. Pada masa itu, wilayah Pontianak memang dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi. 

Hal ini diperkuat dengan bukti catatan sejarah, sebuah surat antara Husein bin Abdul Rahman Al-Aidrus (Rakyat Negeri Pontianak) kepada Sultan Syarief Yusuf Al-Kadrie.

Sedangkan lainnya mengatakan bahwa Pontianak berarti “pintu anak” karena daerah tersebut menjadi gerbang pembatas antara Sungai Kapuas dan Sungai Landak. 

Nesa Alicia/nationalgeographic

Editor : Adella Azizah Maharani

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan