oleh : Syafruddin Pernyata

 

KALTIM AMPUNKU – Ansarullah Ansar adalah nama di media sosial fesbuknya. Nama sebenarnya adalah Ansarullah. Dia adalah seorang di antara 9 saudaraku. Aku nomor tiga, dia nomor empat.

Masa lalunya, sebagaimana masa laluku, dijalani cukup berat karena ayah kami hanya seorang tukang cukur. Jadi, biaya sekolah harus cari sendiri. Ansor berpengalaman jual es juga berpengalaman termosnya jatuh di sungai Mahakam, tepatnya di dermaga Pasar Pagi. Saat itu, semua kapal ke ulu Mahakam, maksudku hingga Kota Bangun, bertambat di sini, termasuk ke bagian hilir seperti ke Sungai Mariam, Anggana dan Sanga-Sanga.

Mudah-mudahan dia tidak marah bila membaca postingan ini sebab Ansor bahkan pernah menjadi pemulung. Waktu itu, hanya alumunium dan Kuningan yang bisa dijual di pasar loak THG (sekarang Citra Niaga). Ia mengais-ngais sampah. Sebagai kakak, aku tak melarangnya. Kuanggap saja itu usaha.

Ansor, begitu biasa kami memanggilnya, sangat berbeda denganku. Ia mudah senyum, ramah dan mudah sekali ‘hanyut’ oleh penderitaan orang lain. Mungkin, itu pula sebabnya ayahku memberi nama Ansor, atau penolong.

Saat ia menjadi Lurah Karang Anyar, ia pernah kehabisan bensin sepeda motornya dan terpaksa menelpon sahabatnya Misman Rsu, pegiat gerakan membersihkan Sungai Karang Mumus itu, minta bantuan uang untuk beli bensin ketengan (botolan).

Aku sempat menegurnya, agar bila berjalan, ada sangu di dompet, setidaknya untuk beli bensin itu. Ansor diam saja. Sekali waktu terulang lagi, uang di dompetnya yang tidak seberapa ia berikan kepada seorang lansia yang tidak punya sanak saudara, sementara lansia itu sedang sakit dan tidak punya apa-apa.

Setamat SMA dia harus memilih, apakah bekerja atau kuliah. Jika dia memilih kuliah, tak ada biaya. Maka, dia memilih kerja karena BKKBN Kaltim memerlukan tenaga penerangan dan motivasi.

Ia menekuni tugasnya dan kalau aku tak salah ingat, ia terpilih sebagai juru penerang KB tingkat Provinsi hingga mewakili Kaltim ke tingkat Nasional.

Bersama isterinya, Rusdiana Ansarullah, dia ‘memulai’ mengubah wajah kelurahan Karang Anyar (kelurahan pemekaran), menjadi desa yang lebih rapi dan tertata. Dia kemudian dipercaya sebagai Camat Samarinda Seberang hingga pensiunnya.

Aku sudah lama ingin menulis tentang adik yang kusayangi sekaligus kukagumi ini, tapi terhalang karena dia beberapa waktu lalu ingin mengabdikan dirinya sebagai kandidat bakal calon wakil walikota Samarinda melalui jalur independent. Aku kuatir, tulisanku dianggap ‘kampanye’.😊 Ia tidak bisa melanjutkan ke tahap berikut karena tak cukup jumlah dukungan yang harus dipenuhinya.

Jika aku sekarang aku menulis tentang Ansor, sudah tidak ada beban lagi. Maka tatkala kulihat dia berfoto dengan kawan sepengajiannya saat tinggal di jalan Lambung Mangkurat saat remaja, Pak Barkati, Wakil Walikota Samarinda, hasrat untuk menulis tentang adikku ini akhirnya tersampaikan.

Kulihat Ansor senyum-senyum saja pasca seleksi jalur independent dan dia tidak memenuhi jumlah kuota pendukung. Aku senang ia tetap ceria. Tak berubah. Mengapa? Aku takut Ansor menyesali jerih payahnya.

“Saya hanya sedih mendengar sebagian pendukung yang menyatakan tidak akan menggunakan hak pilih karena pilihan mereka sudah kalah.” Kata Ansor.

“Tidak boleh begitu. Mereka harus menggunakan hak pilih pada saatnya.” Kataku seraya meminta Ansor untuk datang menemui pendukungnya.

“Jika dulu kamu datang pada mereka, saat gagal pun harus menemui mereka. Tidak ada juga biayanya, kecuali sedikit lelah.” Kataku pada Ansor. Dia menganggukkan kepala. Aku tidak tahu, apakah dia akan menuruti nasihatku atau mengabaikannya.

Ansor yang pernah bertugas di Teluk Lerong, Loa Bakung dan Seberang ini memang adikku tapi aku tidak bisa mempengaruhi sikap hidupnya. Itu sejak dulu. Akan tetapi, sebagai kakak, aku tak punya halangan juga untuk menyarankan agar selepas pensiun, dia mengisi hari-harinya ke habitatnya saat remaja, melukis, main drama, mendongeng dan mengisi hobinya dengan hal-hal yang bermakna.

Semua saudaraku tinggal di kota Samarinda. Seorang di Cirebon dan seorang di Samarinda Seberang. Yang di seberang itulah Ansor yang pernah berpindah-pindah karena tak punya rumah sendiri dari Mangkupalas ke Sungai Keledang dan sekarang menetap di Rapak Dalam. Sebentar, apakah gang Melati itu masuk Rapak Dalam? Aku tidak tahu juga. Aku tidak pernah jadi lurah di Samarinda Seberang juga di mana pun di Indonesia.😊😄

Judul Asli : Anak Seberang

Editor : Adella Azizah Maharani

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan