KALTIM AMPUNKU – Bangunan klenteng Toa Pek Kong, saksi gelombang awal Komunitas Tionghoa di Kota Tarakan

Keberagaman di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, nyaris serupa dengan wilayah perkotaan lainnya di Indonesia.

Berbagai kelompok suku, agama dan ras hidup berbaur di Bumi Panguntan, sebutan Kota Tarakan.

Dulunya Tarakan sebagai sebuah wilayah kepulauan yang terpisah dari pulau besar Kalimantan, adalah basis pertahanan militer Kolonial Belanda pada masa perang dunia kedua.

Bahkan jauh sebelumnya tepatnya di tahun 1800an, Belanda telah mendirikan pengeboran minyak dan membangun kota.

Hingga pada tahun 1940an terjadi perpindahan kekuasaan ke tangan Jepang dan puncaknya terjadi perang di tahun 1943 sampai 1945.

Tak hanya Belanda dan Jepang, pasukan Australia sebagai kelompok sekutu Amerika Serikat juga secara besar-besaran pernah mendarat di pulau Tarakan.

 

Juga terlibat peperangan dengan Jepang dan meninggalkan jejak-jejak sejarah.

Tetapi ketiga negara ini sudah angkat kaki dari Tarakan, di era pasca kemerdekaan ini kekuasaan penuh dalam pengelolaan Kota Tarakan ada di bawah Pemerintah Daerah.

Hanya saja pembangunan di Tarakan ada pula turut andil para pendatang yang mengadu nasib di kota terbesar Kalimantan Utara ini.

Satu diantaranya yakni warga dari komunitas Tionghoa.

Menulusuri jejak awal kehadiran komunitas Tionghoa di Tarakan, rasanya kurang pas jika tak membahas Kelenteng Toa pek Kong yang terletak di Jl Teuku Umar.

Kelenteng yang dibangun tahun 1906 ini menjadi saksi kehadiran komunitas Tionghoa awal.

Berdasarkan catatan sejarah Roedy Haryo Widjono AMZ, Direktur Nomaden Institute Cross Cultural Studies yang dilansir dari akurasi.id, gelombang pertama komunitas Tionghoa di Kalimantan Timur itu tiba pada abad ke-19 tepatnya antara tahun 1871-1908.

Penjaga Kelenteng, Suwarno (73), saat menunjukan patung Dewa Toa Pekong yang dibuat pada tahun 1906 silam, Jumat (17/1/2020)
Penjaga Kelenteng, Suwarno (73), saat menunjukan patung Dewa Toa Pekong yang dibuat pada tahun 1906 silam, Jumat (17/1/2020) (Tribunkaltim.Co/Alfian)

Mereka berasal dari suku bangsa Kim Moy yang semula bermukim di wilayah kepulauan Provinsi Fujian hingga mereka tiba di wilayah Kalimantan dan bermukim di Balikpapan, Berau, Tenggarong, Tarakan kemudian ke Samarinda.

Kedatangan komunitas Tionghoa ini awalnya sebagai pekerja di perusahaan minyak milik Belanda Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM).

Selanjutnya mulai mencoba peruntungan di berbagai pekerjaan lain termasuk berniaga.

“Atas inisiasi komunitaslah maka didirikanlah Kelenteng Toa Pek Kong pada tahun 1906,” ucap penjaga kelenteng Toa Pek Kong, Suwarno (73), saat ditemui, Jumat (18/1/2020).

Hingga kini Kelenteng pertama di Tarakan ini sudah menginjak usai 114 tahun, berbagai perbaikan telah dilakukan.

Suwarno menjelaskan Kelenteng telah direnovasi sebanyak dua kali, tetapi tidak mengubah bentuk aslinya.

Renovasi pertama yakni pada 1985 dan yang kedua pada tahun 2007 lalu.

“Bentuknya tetap sama Cuma yang berubah bagian atap ditinggikan lagi dan banguna dimundurkan waktu pelebaran jalan,” ucap Suwarno sambil memperlihatkan foto Kelenteng dalam bentuk aslinya.

Di dalam kelenteng juga masih terdapat berbagai interior peninggalan bangunan awal.

Seperti papan nama, sejumlah tiang kayu dan juga patung-patung Dewa.

Terdapat tiga patung dewa di Klenteng tersebut, yakni Dewa Kwan Kong, Dewi Kwan Im, serta dewa utama yakni Dewa Toa Pekong.

Patung ketiga dewa yang dibuat pada tahun 1906 masih tersimpan baik.

Patung Toa Pekong dan Kwan Kong berukuran setinggi 30 cm, sementara patung Dewi Kwan Im berukuran lebih kecil yakni hanya setinggi sekitar 5 cm.

“Semuanya masih ada dan ini terbuat dari kayu, meskipun pengelola sudah membuat yang lebih besar,” kata Suwarno sambil menunjukan peninggalan patung lama yang bersampingan dengan patung baru.(*)

 

Alfian/Samir Paturusi/tribunnews/akurasi.id,

Editor : Adella Azizah Maharani

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan