KALTIM AMPUNKU– KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (akrab disapa Abah Guru Sekumpul) dikenal luas sebagai seorang ulama’ yang ramah dan penuh kasih sayang. Siapa saja yang datang selalu disambut dengan penuh penghormatan, terlebih para ulama’ dan para habaib. Tamu Guru Sekumpul datang dari berbagai pelosok Nusantara, bahkan dari berbagai penjuru dunia.

Karena namanya masyhur di berbagai penjuru Nusantara, ada banyak juga yang iri dengan Abah Guru Sekumpul. Sudah resiko menjadi masyhur, sehingga juga banyak yang iri atau meragukan karomah dan kewalian Guru Sekumpul. Semua itu tak membuat Guru Sekumpul geser sedikitpun, karena beliau tetap selalu menghormati dan mendoakan semua yang bersama beliau atau iri dengan beliau. Guru Sekumpul mengamalkan ajaran Nabi agar selalu mendoakan siapa saja, termasuk pada orang yang benci sekalipun.

Baca juga : 12 Di antara Karomah Abah Guru Sekumpul, Mengambil Rambutan dari Balik Punggung

Saat itu, berita kemahsyuran Abah Guru Sekumpul sampai keluar pulau Kalimantan, tepatnya daerah pulau Jawa. Ada seorang habaib yang setiap hari selalu mendengar kehebatan Abah Guru Sekumpul yang diceritakan orang orang Banjar yang merantau di pulau Jawa.

Mendengar selalu nama Abah Guru Sekumpul yang diceritakan, Habib inipun merasa jengkel. Kejengkelan habib tersebut lama-lama membuat sang habib penasaran, dan berkata dalam hati “apa sih hebatnya Guru Sekumpul ini”, sehingga hal ini membuat beliau berencana ingin menemui Abah Guru Sekumpul.

Tibalah sang habib di kota Martapura dengan pakaian biasa (tidak menggunakan gamis dan imamah) dengan maksud agar tidak diketahui Abah Guru siapa dirinya.

Sesampai di depan rumah Abah Guru, sang habib langsung diterima Abah Guru dengan senyuman, sambil berkata:

“Selamat datang, silahkan masuk ya Habib”

Betapa kaget nya sang habib, padahal beliau berpakaian hampir tidak menyerupai seorang habib. Abah Guru sebelumnya memang sudah mengetahui bahwa akan datang tamu darah zuriat Rasullullah.

Di saat sambil berbincang dengan tamu yang lain karena kebetulan Abah Guru juga menerima tamu lain pada hari itu, tiba-tiba Abah Guru berucap, “Bib tolong pian ambil 1 atau 2 batu di luar sana sebesar jari kelingking saya. Mau di teras atau di halaman Mushola”.

Baca Juga : Karomah Abah Guru Sekumpul: Ketajaman Batin Beliau Mengalahkan Alat Kedokteran USG

Habib pun mengambil batu sesuai permintaan Abah Guru dan diserahkan kepada Abah Guru. Saat batu tersebut diterima, Abah Guru nampak mengelus elus baru tersebut dengan jarinya dan seketika itu batu tersebut berubah menjadi intan permata. Sambil berucap Abah Guru kepada Habib:

“Bib ini intan permata asli buat pian, Bib. Silahkan ambil dan bawa pulang.”

Habib pun merasa malu kepada diri beliau sendiri, karena sudah merasa ragu atas kewalian Abah Guru. Pertama Abah Guru mengetahui bahwa beliau seorang Habaib, yang kedua Abah Guru membuktikan keraguan tersebut dengan merubah batu menjadi intan pertama dan sejak itu Habib tidak pernah lagi membahas karomah Abah Guru ketika diceritakan orang orang Banjar yang merantau di daerah Jawa.

Baca Juga : Abah Guru Sekumpul Teladan Bagi Orang yang Kaya

Mudah-mudahan berkat Rasullullah, berkat wali wali Allah, dengan tetap mengharap ridho dan rahmat Allah swt, serta senantiasa mengharap syafaat baginda Rasullullah dan semoga terkumpul di dalam surga bersama Abah Guru Sekumpul.

Aamiin ya Robbal ‘aalamiin.

 

Mukhlisin/bangkitmedia

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan