KALTIM AMP{UNKU WHO mengingatkan semua negara untuk menahan diri memakai obat-obatan yang belum terbukti efektif sembuhkan virus Covid-19.

Virus Corona baru atau Covid-19 telah menginfeksi lebih dari setengah juta orang dan menewaskan lebih dari 20.000 orang di seluruh dunia

Hal ini disampaikan Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Jumat (27/3/2020) seperti dikutip Wartakotalive.com dari Straitstimes.

Kepala WHO juga mengimbau agar selalu utamakan alat pelindung diri (APD) bagi staf medis yang bekerja untuk menyelamatkan jiwa pasien corona.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendesak negara-negara untuk menahan diri dari menggunakan obat-obatan yang belum terbukti efektif melawan Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus.

“Kekurangan global yang kronis dari alat pelindung diri sekarang menjadi salah satu ancaman paling mendesak bagi kemampuan kita bersama untuk menyelamatkan jiwa,” kata Tedros dalam konferensi pers di Jenewa.

“Petugas kesehatan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah layak mendapatkan perlindungan yang sama dengan yang ada di negara-negara terkaya,” katanya, seraya menambahkan bahwa badan PBB mengirim lebih banyak pasokan.

Dr Mike Ryan pakar kedaruratan utama WHO, mengatakan, dunia bergerak ke masa depan yang tidak pasti.

“Anda melihat banyak negara di dunia baru saja memulai siklus pendemi virus corona ini,” ujar Ryan.

“Beberapa negara telah melalui siklus epidemi seperti Singapura dan Cina dan sekarang mati-matian berusaha untuk tidak menambah kasus baru virus corona dan menimbulkan gelombang infeksi lain karena impor penyakit, ” imbuh Ryan.

Orang lanjut usia dan mereka yang memiliki kondisi medis yang mendasari adalah yang paling banyak terkena Covid-19

“Namun data terbaru 10-15 persen orang di bawah usia 50 tahun memiliki infeksi sedang hingga parah, ” kata Ryan.

Usia muda tidak imun Covid-19

Selama ini kaum usia muda dikabarkan kelompok yang kuat terhadap virus corona. 

Namun menurut Ryan, kelompok usia muda tetap bisa kena virus Covid-19 dengan gejala ringan.

“Bagi kebanyakan orang itu adalah infeksi yang sangat ringan, kebanyakan orang muda. Tetapi untuk sebagian kecil orang antara usia 20-60 yang signifikan ini adalah infeksi yang signifikan. ”

“Apa yang sebenarnya muncul adalah persepsi bahwa penyakit ini, walaupun tidak berakibat fatal dan tidak menyebabkan penyakit kritis pada kelompok usia yang lebih muda, menyebabkan penyakit parah pada banyak orang,” kata Ryan.

Setiap infeksi Covid-19 menghadirkan peluang untuk penyebaran selanjutnya, kata Dr. Maria van Kerkhove.

“Jadi, bahkan dalam populasi orang muda, jika memiliki penyakit ringan dan Anda pikir itu bukan masalah besar, itu salah, ” ujar Kerkhove.

Meski penyakitnya ringan justru dapat menularkan kepada orang lain yang mungkin menjadi bagian dari populasi yang rentan  dan bisa semakin parah serta menimbulkan kematian.

Data menunjukkan bahwa mayoritas anak-anak yang terinfeksi covid-19 mengalami penyakit ringan.

“Tapi kami punya laporan, dan ada beberapa publikasi sekarang yang menggambarkan penyakit parah pada anak-anak. Kami memiliki laporan kematian pada anak-anak. Ada satu di China, dan saya percaya satu di Amerika Serikat juga,” kata Kerkhove.

Pemerintah Indonesia pesan obat Chloroquine

Presiden Joko Widodo mengatakan, Chloroquine bukan obat utama untuk mengobati pasien Covid-19.

Ia menyadari bahwa belum ada obat atau antivirus bagi Covid-19.

Namun, Jokowi mengatakan, chloroquine sukses menekan laju pertumbuhan virus corona di beberapa negara. 

“Saya sampaikan bahwa chloroquine bukan obat first line, tetapi obat second line. Karena memang obat Covid-19 ini belum ada dan juga belum ada antivirusnya,” ujar Jokowi di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020).

“Tetapi, dari pengalaman beberapa negara, chloroquine ini sudah digunakan dan banyak pasien Covid-19 sembuh dan membaik kondisinya,” lanjut Presiden.

Ia pun mengingatkan masyarakat bahwa chloroquine bukan obat bebas yang bisa dibeli di apotek tanpa resep dokter.

Ia mengatakan, obat tersebut hanya bisa dikonsumsi dengan resep dokter. Oleh sebab itu, pemberian obat tersebut hanya akan dilakukan oleh dokter yang merawat pasien Covid-19.

“Obat ini bukan obat bebas, jadi penggunaannya harus lewat resep dokter. Pemerintah telah memiliki stok chloroquine 3 juta,” kata Jokowi.

“Jadi untuk pasien Covid-19 yang ada di rumah sakit, jika dianggap dokter yang merawatnya chloroquine cocok, pasti akan diberikan,” lanjut dia.

Chloroquine Phospate bukan dari Kina

Guru Besar Bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Padjadjaran ( Unpad) Keri Lestari, mengklarifikasi terkait pemberitaan di media massa tentang zat Choloriquine Phospate atau kloroquin fosfat yang digadang-gadang bisa menyembuhkan pasien yang terinveksi virus corona.

Guru Besar Bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Padjadjaran, Keri Lestari.
Guru Besar Bidang Farmakologi dan Farmasi Klinik Universitas Padjadjaran, Keri Lestari. (KOMPAS.COM/PUTRA PRIMA PERDANA)

Keri menjelaskan, Chloroquine Phopate tidak berasal dari ekstrak kulit batang pohon kina.

“Chloroquine Phospate itu senyawa sintetis (kimiawi),” kata Keri saat ditemui di Pusat Unggulan Iptek Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Rabu (18/3/2020) seperti dikutip dari Kompas.com.

Lebih lanjut Keri menjelaskan, zat yang dihasilkan oleh tumbuhan kina bernama Quinine Sulfate atau Kuinin Sulfat.

Dalam kasus penyembuhan dan pencegahan malaria, Chloroquine Phospate mempunyai dasar struktur yang sama dengan Quinine Sulfate.

Keduanya mempunyai aktifitas antimalaria dengan mekanisme yang sama.

“Ternyata Chloroquine Phospate memiliki struktur dasar Quinoline yang sama dengan Quinine Sulfate. Ada kemiripan struktur,” jelasnya.

Menurut Guru Besar Unpad Keri menjelaskan, dalam hal penyembuhan infeksi virus corona, dari kajian yang dilakukan oleh Unpad secara multidisiplin melakukan critical appraisal terhadap hasil uji klinik muntisenter di China dan USA menunjukkan efektifitas Chloroquine Phospat.

Dan berlandaskan adanya kesamaan struktur dasar serta kesamaan aktifitas sebagai anti malaria dengan mekanisme yang sama maka quinine sulfat yang ada dalam pil kina berpotensi untuk terapi Covid-19.

“Tahun 1940 penggunaan Chloroquine pernah terjadi resistensi, akhirnya diganti dengan Quinine dan hasilnya sama-sama baik,” ujarnya.

Selain lewat kajian multidisiplin di Unpad, Keri mengatakan sebuah jurnal medis yang dipublikasikan pemerintah China belum lama ini telah mengatakan bahwa Chloroquine Phospate direkomendasikan digunakan untuk menyembuhkan orang-orang yang terjangkit virus corona.

Namun demikian, Chloroquine Phospate saat ini besar kemungkinan stoknya hanya tinggal sedikit karena bahan bakunya impor.

Sementara Quinine Sulfate akan lebih mudah didapatkan karena Indonesia mempunyai perusahaan dalam negeri yang masih terus memproduksi obat pil kina yang memiliki kandungan Quinine Sulfate tersebut.

“Chloroquine Phospate itu bahannya impor. Apalagi sekarang dengan kondisi lockdown beberapa Negara, membuat sulit bahan bakunya,” tuturnya.

Dipilihnya pil kina yang mengandung Quinine Sulfate sebagai obat pengganti Chloroquine Phospate menurut Keri merupakan bentuk dari re-purposing drugs.

, Keri mengatakan, penelitian pil kina sebagai pengganti Chloroquine Phospate harus dilakukan lebih lanjut dan sesegera mungkin dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat serta daerah.

Dosis yang tepat untuk pengobatan korona sedang dikaji para dokter ahli farmakologi Jika nantinya Kina direkomendasikan untuk menjadi pilihan obat yang berpotensi untuk pengendalian penyakit corona, menurut Keri Indonesia tidak perlu khawatir lantaran Quinine Sulfate bukan barang baru di Indonesia.

Profil obat yang meliputi aktivitas dan keamanan obatnya sudah diketahui sejak digunakan untuk kebutuhan medis 70 tahun silam.

“Untuk memerangi Covid-19 ini semua harus duduk bareng dan kolaborasi. Kita harus membuat semacam landasan berfikir untuk merekomendasikan obat mana yang paling berpotensi untuk mengatasi Covid-19. Lebih baik menggunakan senyawa yang sudah kita tahu ketimbang menunggu obat baru,” imbuhnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Jokowi: Chloroquine Bukan Obat Utama, tetapi Sukses Tekan Covid-19 di Beberapa Negara “

Dian Anditya Mutiara

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Jokowi: Chloroquine Bukan Obat Utama, tetapi Sukses Tekan Covid-19 di Beberapa Negara “

 

 

”The ”The ”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan