”The ”The
Tujuh penyakit yang ditakuti masyarakat Jawa kuno salah satunya impoten. Penyakit ini bisa menghancurkan rumah tangga.

 
 
KALTIM AMPUNKU – Salah satu pahatan relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur yang menunjukkan adegan beberapa orang sedang memberikan pertolongan pada seorang laki-laki yang sakit. Ada yang memijat kepalanya, menggosok perut serta dadanya, Juga ada seseorang yang membawa obat. (Wikimedia).
Kebetulan waktu itu Prabu Jayanagara sakit bengkak sehingga tak dapat keluar. Tanca disuruh memotong bengkak itu. Ia mendatangi tempat sang raja tidur. Dipotongnya bengkak itu oleh Tanca sekali, dua kali. Tapi tak mempan.  

Tanca meminta baginda raja meninggalkan baju zirahnya, yang kemudian diletakkan di sebelah tempat tidur. Berhasilah operasi Tanca, bengkak itu dipotongnya.

BACA : Kisah Calon Arang yang Membinasakan Orang-orang dengan Penyakit

Begitulah kisah akhir hidup Raja Jayanagara berdasarkan naskah Pararaton. Earl Drake dalam Gayatri Rajapatni: Perempuan Di Balik Kejayaan Majapahit, menafsirkan bengkak itu sebagai tumor. Sementara Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan menyebut penyakit itu bubuh atau bisul.

Setelah selesai mengoprasi penyakit Jayanagara, Tanca malah mengambil kesempatan itu untuk menikam sang raja. Dia kemudian ditikam balik oleh Gajah Mada.

Epigraf Universitas Gadjah Mada, Riboet Darmosoetopo dalam Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Abad IX-X TU menjelaskan, pada masa Jawa Kuno penyakit termasuk dalam wikaraartinya perubahan, khususnya keadaan tubuh dan mental yang lebih buruk dari biasanya.

BACA : Wabah Penyakit Menular yang Pernah Membunuh Sepertiga Penduduk Banten dan dua Pertiga penduduk Jawa Tengah

Berdasarkan data prasasti abad ke-9-10 dan kesusastraan, ada bermacam-macam wikara. Ada wikara yang disebabkan penyakit, wikara sejak lahir, wikara yang terjadi karena perubahan kejiwaan, dan wikara karena kena kutuk.

Wikara yang disebabkan penyakit adalah bubuhên atau wudunen (bisul)Lalu ada Bulêr atau sakit katarak dan sakit mata lainnya yaitu belek. Kemudian ada Humbêlên atau sakit pilek, wudug atau lepra, panastis atau sakit malaria, dan ulêrên atau sakit karena cacing.

Sementara yang termasuk wikara bawaan sejak lahir di antaranya bisu (tak dapat bicara), picêk (buta), pincak atau tumbung (indra pembau yang kehilangan daya bau), bule (albino), busung (berperut besar). Pun beberapa penyakit kelamin seperti burut atau wêlu (hernia), darih (impoten pada perempuan), dan kuming (impoten pada laki-laki). Kemudian beser (selalu buang air kecil), pandak (cebol atau kerdil), gambol (berpunuk), hayan (ayan atau epilepsi), mengi atau asma (bengek), wungkuk (bongkok), serta kdi (banci).

Adapula wikara yang disebabkan gangguan jiwa seperti buyan (gila) dan janggitan (sakit jiwa karena terkena kutuk).

Wikara yang disebabkan kena kutuk dapat bersifat jasmani maupun rohani. Prasasti Wiharu II (851 Saka atau 929) menyebut ada orang yang meninggal dunia karena perutnya membengkak (matya busunga). Prasasti itu juga mencatat penderita ayan (ayana), orang yang disambar petir padahal tak sedang hujan (samberen ing glap tanpa hudan), dan tenggelam di bendungan (klêmakên ring dawuhan).

Penyakit karena kutukan dibahas pula dalam Kitab Rajapatigundala, naskah undang-undang yang ditulis Raja Bhatati (nama lain Kertanagara) dan disusun kembali pada zaman Majapahit. Pada bagian sapatha disebut nama-nama penyakit yang akan menimpa orang jika tak mematuhi hukum.

“…, untuk orang yang tidak mematuhi, dia akan mendapat kesengsaraan,… hidup mereka akan tanpa mendapat kesehatan, mereka akan sakit kusta, tidak dapat melihat dengan sempurna, sakit gila, cacat mental, buta, bungkuk. Maka semua orang yang tidak mematuhi akan dikutuk oleh Raja Patigundala yang suci,” sebut kitab itu.

Pun dalam Kitab Korawacrama yang diperkirakan berasal dari abad ke-14. Dikisahkan Bhatara Guru terkejut ketika melihat banyaknya penyakit yang diderita manusia.

“ …, terkejutlah Bhattara guru ketika melihat manusia, ternyata banyak yang menderita sakit, ada wudug (lepra), ana buyan (gila), ana wiket (mempunyai banyak luka), pincang welu (hernia), beser (selalu ingin buang air), turuh (kerusakan pada salah satu organ tubuh), apus (kehilangan tenaga), wuta (buta), tuli (tuli), bisu (bisu), barah (lepra yang sudah parah), uleren (cacingan), umis (pendarahan), lampang (sejenis penyakit kulit), bule (albino), gondong (leher membengkak), amis antem (berbau amis), masegir (berbau tidak enak), apek (berbau apek), demikian keadaan manusia,…” tulisnya.

Kendati begitu, menurut Riboet, ada anggapan bahwa sebagian orang yang mempunyai cacat jasmani justru mempunyai kelebihan kekuatan rohaniah. Karenanya mereka dijadikan abdi dalem palawija atau abdi dalem ameng-amengan. Mereka itu tergolong watak i jro atau golongan dalam keraton. Mereka terdiri atas orang wungkuk (bongkok), bulepandak, wuta (buta), jenggi (berkulit hitam), pincang, dan kdi (banci).

Di antara macam-macam wikara itu, ada tujuh wikara yang sangat ditakuti oleh masyarakat Jawa Kuno, yaitu kuming (impoten), panten (banci), gringen (sakit-sakitan), wudug (lepra), busung (perut membengkak), janggitan (gila), dan keneng sapa (terkena kutuk).

Bahkan ada sejumlah wikara yang dapat menghancurkan kehidupan suami istri. Di antaranya kuming, panten, wudug, dan ayan.

Hal itu termaktub dalam teks hukum Agama atau Kutaramanawa yang berlaku, khususnya pada masa Majapahit. Isinya, seorang istri boleh membatalkan perkawinannya jika suaminya menderita beberapa penyakit tertentu, yaitu gila, batuk kering, ayan, impoten, dan banci.

Bila akhirnya istri tak suka kepadanya, sang istri diimbau untuk menunggu tiga tahun. Selama itu sang suami diberi kesempatan untuk berobat. Namun, jika selama tiga tahun tak sembuh, kata aturan itu, jangan salahkan istri kalau menikah lagi dengan orang lain. “Tukon (mahar) tak usah dikembalikan kepada suaminya. Menunggu dahan bertunas namanya,” tulis aturan itu.

Risa Herdahita Putri/historia

Editor : Adella Azizah

”The ”The

Tinggalkan Balasan