Pesta Makan Daging sebelum Puasa di Aceh

Daging. (Marcos Paulo Prado/Unsplash).

Makan daging menjadi tradisi orang Aceh menyambut Ramadan sejak dulu.

Oleh Risa Herdahita Putri/historia
 
 
 

Pada masa lalu, daging merupakan makanan mewah bagi orang Aceh. Sehari-hari mereka lebih banyak mengkonsumsi sayuran dan ikan. Mereka akan mengganti menu harian saat tiba bulan istimewa: Ramadan.

Masyarakat Aceh berusaha membeli daging pada hari mameugang untuk dimakan bersama keluarga. Tradisi turun-temurun ini membuat permintaan daging sapi atau kerbau menjelang Ramadan sangat tinggi.

Kebiasaan itu dijumpai Snouck Hurgronje ketika tinggal di Aceh dari 1857 hingga 1936. Ia mencatatnya dalam De Atjehers yang terbit pada 1893.

Sajian Khas

Bagi orang Aceh, puasa merupakan kesempatan untuk memakan makanan yang bergizi. Tiga hari menjelang puasa, mereka ramai-ramai membeli dan memakan daging. Sisanya diawetkan dengan garam dan cuka atau cara lain agar bertahan paling tidak hingga 15 hari.

Menurut Moehammad Hoesin dalam Adat Atjeh, daging kering khas Aceh yang diawetkan dengan garam, asam, dan dikeringkan, disebut Sie baluSedangkan Siemeutjuka adalah daging yang dimasak dengan cuka enau supaya tahan lama.

Biasanya orang Aceh juga menyiapkan bahan bubur kanji dari daun-daun kayu gunung yang disebut breueh kanji masam peudaih. Daun ini ditumbuk dan disimpan baik-baik sehingga tak masuk angin. Mereka juga membuat tepung beras ketan dan tepung beras biasa, serta gula dan agar-agar untuk buka puasa.

“Orang Aceh menganggap mempersiapkan pangan untuk puasa sebagai adat yang tak boleh diabaikan,” kata Hoesein.

Tiga hari sebelum bulan puasa, orang Aceh akan memastikan stok makanan cukup selama sebulan. Ini dilakukan agar tidak membeli makanan terlalu banyak selama bulan puasa. Pasalnya, bahan makanan yang dijual biasanya lebih cepat habis pada siang hari selama Ramadan. Pasar-pasar pun sepi selama tiga hari itu.

Bahkan, sebelum perang melawan Belanda akan ada pekan raya di Banda Aceh selama tiga hari sebelum puasa. Sebagian besar penduduk dari tiga sagi akan datang ke ibu kota kerajaan itu.

“Baik laki-laki maupun perempuan di Aceh sangat bersemangat melakukan kesibukan ini,” kata Snouck.

Kendati selama pekan raya itu banyak pedagang yang menjual beragam kebutuhan, daging tetaplah primadona. Karenanya stok daging menjelang sebulan berpuasa harus benar-benar dijaga.

Pada saat itu penduduk dari dataran tinggi turun membawa ternaknya untuk dijual. Ini demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging.

Menjaga Pasokan Daging

Sejak pertengahan Sya’ban biasanya para keuchi’ (kepala atau bapak gampong) dan teungku (seseorang yang dihormati karena memiliki kelebihan ilmu) memperkirakan seberapa banyak daging yang dibutuhkan masyarakat. Masing-masing penduduk ditanya berapa uang yang akan dibelanjakan untuk daging. Mereka juga akan menghitung berapa banyak ternak yang harus dibeli.

“Dua atau tiga kepala adalah jumlah perkiraan umum untuk setiap gampong,” catat Snouck.

Keuchi’ menunjuk seorang penduduk gampong untuk mengumpulkan uang warga. Ia menerima upah setelah pekerjaannya selesai.

Sebelum masa perang, upah itu biasanya ditunda sampai menjelang berakhirnya bulan puasa, saat penduduk dari dataran tinggi membawa ternaknya. Penyembelihan akan dilakukan untuk menyediakan daging bagi perayaan yang menandai berakhirnya puasa. Tapi kali ini tak sebesar yang pertama.

Snouck mengamati kebiasaan berbeda masyarakat di tiga sagi. Masyarakat Mukim XXII yang tinggal di bagian tengah dan selatan Aceh dan sebagian dari Mukim XXVI di bagian timur Aceh, biasanya menyembelih beberapa ekor sapi. Sementara masyarakat Mukim XXV di bagian barat yang tak masuk dalam tiga sagi, lebih suka menyembelih kerbau jantan.

“Diyakini terlalu banyak makan daging sapi akan mengakibatkan penyakit siawan atau sariawan, gejalanya kulit melepuh, gigi busuk, dan rambut rontok,” kata Snouck.

Menurut sejarawan Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatra: Antara Indonesia dan Dunia, hari kurban merupakan perayaan tahunan yang paling bermakna, namun perayaan sebelum dan sesudah bulan puasa juga diadakan secara besar-besaran.

“Di Aceh bulan puasa diawali dan diakhiri dengan suara mendentum yang keras dari meriam,” kata Reid.  

Hoesin menyebut puasa adalah masa ketika masyarakat menghabiskan waktu bersama keluarga. Mereka akan kembali ke pekerjaan masing-masing sesudah puas berhari raya dengan anak istri. Lazimnya sesudah puasa syawal.

“Mereka bersama keluarga hidup tenang selama puasa. Tak bekerja keras sebagaimana bulan lainnya,” jelasnya. Bahkan, pemerintah kolonial Belanda tak menyuruh orang kerja rodi saat bulan puasa. Mereka tahu keamanan akan terganggu bila menyuruh orang bekerja di bulan puasa.

Makan Daging Masa Jawa Kuno

Daging apa saja yang dimakan orang Jawa kuno?

 Ayam dan Babi dalam relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur.
 

Jamuan mereka sering kali sangat bersahaja, terdiri dari domba, kambing, atau seperempat sapi dan kerbau panggang. Dengan itu mereka mengadakan pesta besar-besaran.

Nasi ditumpuk begitu tinggi, setinggi bahu orang yang duduk bersila. Ayam dan unggas panggang, serta berbagai jenis makanan kering dari daging lembu, ditumpuk sebanyak-banyaknya, di mana-mana. Seolah itu merupakan pemborosan yang nista.

Namun tidaklah demikian. Begitu raja dan kaum bangsawan selesai makan, sisanya dipindahkan bersama tikarnya. Lalu diberikan semuanya kepada para pelayan raja. Bagi kaum bangsawan, jika ada yang tersisa, mereka membawanya pulang untuk dinikmati bersama anak-anak mereka atas tanggungan raja.

Begitulah kebiasaan dalam jamuan besar di Jawa sebagaimana dicatat Van Goens pada 1656. Duta VOC dari Batavia itu beberapa kali berkunjung ke Keraton Mataram di bawah Amangkurat I (1645-1677).

Dalam acara semacam itulah rakyat bisa makan daging. Seperti disebut Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Anginpenyediaan daging yang nampak berlebihan seperti ini bukan hanya menjadi ajang pamer kebesaran penguasa. Itu juga cara membagi-bagi persediaan daging yang terbatas kepada rakyat.

Ma Huan, penerjemah resmi yang mendampingi Laksamana Cheng Ho, terkejut dengan kebiasaan makan orang di Nusantara, khsususnya di Jawa. Dalam Yingya Shenglan, dia tercengang melihat makanan orang Jawa ketika datang pada awal abad ke-15. “Makanan penduduk sangat kotor dan buruk, contohnya ular, semut, dan semua jenis serangga serta cacing, mereka panaskan sebentar di atas api dan langsung dimakan,” katanya.

Di luar itu, rakyat jelata biasanya lebih sering makan ikan, baik tawar maupun laut, karena mudah didapat. “Ikan ini kelihatannya agak tersebar di berbagai tempat dan dengan demikian dapat dinikmati oleh orang kaya maupun miskin, priyayi, atau rakyat jelata,” jelas Reid.

Pada masa yang lebih kuno, raja juga punya kebiasaan menjamu rakyatnya makan beragam daging hewan dalam sebuah pesta, biasanya penetapan desa perdikan. Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan daging dan ikan dibedakan tegas dengan istilah serapan dari bahasa Sanskreta, yaitu mamsa untuk daging dan matsya untuk ikan.

Kakawin Nagarakrtagama mencatat jenis daging yang dihidangkan di Keraton Majapahit. Ada daging domba, kerbau, ayam, babi liar, lebah, ikan, dan bebek. Dijelaskan pula sederetan daging yang tidak dihidangkan kepada orang-orang yang taat pantangan Hindu, meskipun itu banyak digemari oleh rakyat biasa.

“Kodok, cacing, penyu, tikus, anjing, alangkah banyaknya orang yang menggemari daging-daging ini mereka dibanjiri daging-daging ini, sehingga mereka tampak sangat senang,” tulis Mpu Prapanca.

Berbagai daging yang sering dikonsumsi juga disebutkan dalam beberapa prasasti. Di antaranya babi ternak (celeng), babi hutan (wok), kerbau (kbo/hadangan), kijang (kidang), kambing (wdus), sapi (sapi), kera (wrai), serta dikenal juga kalong (kaluang).

Adapun yang masuk kategori unggas adalah bebek (andah), sejenis burung (alap-alap), angsa (angsa), ayam (ayam) dan telur (hanttrini), kemungkinan telur ayam.

“Mengingat ayam sudah dijinakkan sejak masa bercocok tanam, dan penggambarannya dapat dilihat pada relief Karmawibhangga (di kaki Candi Borobudur, red.),” tulis Kresno Yulianto Sukardi, arkeolog Universitas Indonesia, dalam makalahnya “Sumber Daya Pangan Pada Masyarakat Jawa Kuno: Data Arkeologi-Sejarah Abad IX-X Masehi”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV.

Seseorang tengah berburu burung dengan alat sumpit dalam relief Karmawibhangga.

Dalam panil relief yang sama digambarkan juga babi. Pada masa itu mungkin sudah diternakkan. Pasalnya berbagai jenis babi memang sudah ditemukan di hutan-hutan Asia Tenggara selama ribuan tahun, bahkan diternakkan paling tidak sejak 3000 tahun SM.

Ketersediaan Daging

Babi termasuk dalam daging yang paling banyak tersedia selain ayam dan kerbau. Kata Reid, babi adalah pengalih yang paling efisien dari padi-padian ke daging. Ia merupakan sumber utama daging di daerah di mana Islam belum masuk.

Sementara kerbau, meski banyak peternak cenderung enggan menyembelihnya karena lebih berharga sebagai hewan pembajak. “Kerbau yang lebih kuat ada di mana-mana tapi tingkat reproduksinya yang lambat, satu atau lebih anak tiap tiga tahun atau lebih,” jelas Reid.

Baik kerbau, kambing, maupun unggas, seperti itik sudah sejak lama telah diternakkan secara sungguh-sungguh. Hal ini dapat diduga berdasarkan Prasasti Sangsang (829 Saka/907 M). Isinya antara lain menyebutkan batas jumlah hewan yang tidak dikenai pajak bila dijual dalam wilayah sima: 20 kerbau, 40 sapi, 80 kambing, dan itik satu wantayan.

Soal perdagangan hewan juga tertulis dalam Prasasti Kubu Kubu (827 Saka/905 M). Selain kerbau, kambing, sapi, dan itik, ayam termasuk hewan yang dijual. “Hewan ini barangkali sengaja dijual untuk dimakan atau dipelihara oleh masyarakat pada masa itu,” jelas Kresno.

Orang sedang menyembelih kambing dalam relief Karmawibhangga.

Bukan cuma hewan yang masih hidup yang diperdagangkan. Arkeolog Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuno Abad VIII-XI Masehi menemukan kata hajagal dalam prasasti dan naskah. Itu merujuk pada pemotong hewan ternak atau tukang jagal.

“Sangat mungkin pada masa Mataram Kuno, selain hewan ternak telah dijual pula daging secara eceran,” lanjutnya.

Lagi-lagi, pembelinya tak sembarangan. Mengingat sampai masa kini pun, bagi penduduk desa daging masih merupakan makanan mewah untuk dikonsumsi sehari-hari. “Mereka mengkonsumsi daging hanya pada hari-hari besar seperti hari raya atau bila ada yang berkenduri,” kata Titi.

 

 

”The ”The ”The ”The

Tinggalkan Balasan